TRANSKRIPSI
PRESIDEN RI, DR. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
DALAM PENYERAHAN DUA WARTAWAN INDONESIA
YANG DIBEBASKAN DARI PENYANDERAAN DI IRAK

ISTANA MERDEKA, JAKARTA
24 FEBRUARI 2005

 

 

Presiden RI: Alhamdulillah, kita bersama-sama bersyukur ke hadirat Allah SWT, karena ridlo Allah, akhirnya yang sangat kita cintai Sdr. Budiyanto dan Sdr. Meutya Hafid, telah kembali dengan selamat dan berjumpa dengan yang sangat disayangi dan kembali berada di tengah-tengah kita, di tengah keluarga besar bangsa Indonesia yang terus berdoa siang dan malam agar mereka segera dibebaskan dan kembali dengan selamat ke Indonesia. Atas nama pemerintah, atas nama rakyat Indonesia, tentu disamping bersyukur ke hadirat Tuhan YME, saya juga mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada semua pihak yang telah dengan ikhlas, dengan gigih, berbuat sesuatu untuk menyelamatkan dan membebaskan kedua wartawan kita yang sangat saya cintai ini. Pertama-pertama saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Menteri Luar Negeri, termasuk Dubes RI di Amman, penghubung kita di Baghdad, Sdr. Triyono dari Tim Krisis, dan seluruh jajaran termasuk dari BIN yang atas nama pemerintah telah bekerja keras, dengan diplomasi dan melaksanakan semua upaya.

Yang kedua, saya berterima kasih kepada pihak Metro TV, sahabat-sahabat dari Metro TV yang peduli dan berusaha. Oleh karena itu saya memberikan penghargaan dan terima kasih. Juga kepada tokoh-tokoh lain, ulama kita, saudara-saudara kita, baik di Indonesia maupun di Timur Tengah yang berdoa, menyampaikan seruan, menyampaikan statement dengan berbagai cara agar Meutya dan Budyanto bisa selamat dan bebas dan kembali kepada keluarga dan saudara-saudaranya di Indonesia.

Atas semua itu saya ucapkan terima kasih dan penghargaan. Tanpa kerjasama, tanpa kegigihan kita semua, tidak selancar ini, tidak seberhasil ini dalam kita mengemban tugas yang mulia ini. Ini menunjukkan, seberat apapun masalah yang dihadapi oleh bangsa kita, kalau kita bersatu, kalau kita bersama, insya Allah selalu ada jalan keluar. Aceh juga demikian, berat, besar bencana itu, tapi karena bangsa Indonesia memiliki kesetiakawanan yang tinggi, solidaritas yang tinggi, Alhamdulillah kita dapat bersama-sama mengatasi bencana di Aceh. Sekarang Alhamdulillah keadaan sudah semakin baik dan menunggu proses rekonstruksi yang akan kita lakukan.

Demikian juga yang menimpa kedua saudara kita ini. Saya mengajak kita semua untuk memetik hikmah dan pelajaran, dan bagaimana kita memandang ke depan. Tugas wartawan sering berhadapan dengan resiko dan bahaya, apalagi di daerah konflik baik di tanah air maupun di luar negeri. Tapi jangan sampai dengan adanya episode ini melunturkan keberanian, semangat, dan kegigihan dari rekan-rekan wartawan untuk melakukan tugas jurnalistiknya. Wartawan juga menjadi bagian penting dari upaya menegakkan kebenaran, misi kemanusiaan, bahkan dalam pengembangan demokrasi di negara kita. Teruslah berjuang, teruslah berprofesi, untuk kepentingan kita semua.

Pelajaran yang kedua, memang untuk daerah-daerah tertentu, Aceh, Irak, dan lain-lain, saya minta rekan-rekan wartawan memahami resiko, ancaman, yang bisa datang. Kalau pemerintah memberikan warning lebih berhati-hati, waspada, lakukan komunikasi, semata-mata karena kami ingin melindungi, mengayomi, memproteksi rekan-rekan semua. Itu kewajiban pemerintah, bukan karena pemerintah rewel, tetapi seperti itu. Tetapi manakala ada bahaya, pemerintah bertanggung jawab, sebagaimana dilakukan dengan yang lain, untuk menyelamatkan, melindungi dan membebaskan. Inilah pelajaran besar yang kita petik bukan hanya untuk Meutya dan Budyanto tapi untuk semu teman-teman wartawan agar pelajaran berharga ini bisa ditarik intisarinya untuk bagaimana mengembangkan, menjalankan profesi yang mulia di masa yang akan datang.

Saya kira itulah yang dapat saya sampaikan, syukur kita, terima kasih saya, dan mudah-mudahan ini pelajaran yang bisa kita petik bersama. Saya kira akan menjadi bagian penting dalam biografi dalam sejarah kalian berdua suatu saat untuk menulis riwayat hidup. Dan tentunya kami lebih bersyukur karena orang tua, keluarga, anak tentunya lebih bersyukur, lebih berbahagia, terutama bagi Meutya dan bagi Budiyanto.

Sekian, Assalaamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.

Sekarang boleh mau cerita apapun.

Meutya: Sebelumnya kembali rasanya tidak cukup, entah berapa kali saya harus mengucapkan terima kasih kepada Bapak Presiden, karena betul-betul yang diminta oleh mereka yang kami sebut sebagai Mujahidin adalah pernyataan dari Bapak. Reaksi cepat dari Bapak sungguh membantu sekali proses penyelamatannya, sampai mereka berkata kepada kami betapa sayangnya Presiden kalian kepada anda. Kemudian ada statement-statement, bantuan-bantuan dari berbagai pihak, juga rekan-rekan dari media, tidak hanya media di Indonesia tapi juga asing, sehingga mereka sampai bingung dan bertanya kenapa negara begitu sayang kepada kalian. Dan kami tersentuh, bahwa solidaritas dari bangsa kita tidak pernah luntur sampai sekarang walaupun begitu banyak masalah yang sudah kita lalui bersama.

Ketika kami ditahan tidak pernah bercucuran air mata seperti ini. Walaupun sebelum tidur kadang-kadang ada air mata yang keluar. Tapi kami begitu terharu ketika kami keluar, ketika kami dengar semua pihak membantu, baik rekan pers, pemerintah, semua tokoh-tokoh politik dan agama. Sampai kami bingung begitu banyak nama yang disebut membantu kami termasuk juga petinggi-petinggi sunni di Irak. Sehingga kami menangis terharu bukan karena penyanderaan tapi terharu bahwa kita benar-benar bisa bersatu. Itu pelajaran terbesar yang bisa kita dapatkan dari sini. Mungkin Mas Budyanto ingin menambahkan.

Budiyanto: Terima kasih. Jadi sekali lagi yang harus disampaikan adalah ucapan terima kasih kepada Bapak Presiden, rakyat Indonesia, semua pihak, masyarakat Indonesia, pers dan semuanya sehingga mempercepat kami keluar. Betul yang disampaikan Meutya, yang ditunggu-tunggu adalah reaksi cepat dari Presiden, dan waktu itu setelah mendengar kabar sudah ada kabar dari Presiden kami berdua langsung menangis sesenggukan. Karena memang itulah yang kami butuhkan dan memang itulah yang menjadi tuntutan mereka. Memang untuk ke depan ada suatu hikmah yang harus saya ambil. Saya menempatkan posisi saya sebagai tamu, jadi karena mereka dari awal sudah ada sinyal ke arah yang baik akhirnya saya mencoba menjadi tamu yang baik. Jadi kami berdua praktis tidak disentuh siapa pun, barang-barang kita tidak diambil sesen pun. Itu yang membuat kita menjalani proses penyekapan kita dengan sabar sampai tahap pelepasan.

Kita mencoba menyatu dan berinteraksi dengan mereka. Kita mencoba membuat sebuah aktifitas baru, men-service mereka kadang-kadang, kita coba membuat teh untuk mereka, kita mencuci untuk mereka, walaupun tangannya dingin. Dengan segala aktifitas itulah mereka mulai melihat sebuah kebersamaan. Dan itulah saya pikir ke depan bahwa dalam kondisi panik, pressure, tertekan, kita mencoba menjadi tamu yang baik. Setelah itu kita terapkan di situ, ternyata itulah yang menjadi jawaban dan kita akhirnya bisa bertemu dengan Bapak Presiden.

Presiden RI: Berapa lama dalam penahanan mereka yang betul-betul bersama mereka itu?

Budiyanto: Tujuh hari di kamp, karena itu jaraknya cukup jauh, kita ditaruh di padang pasir. Jarak dari padang pasir, kita keluar dari situ membutuhkan waktu kira-kira satu jam, kemudian sebelum pelepasan kita sempat tidur semalam di satu tempat. Jadi kira-kira 8 malam.

Presiden RI: Terus, makanannya gimana, disantap tiap saat, ya?

Budiyanto: Salah satu itikad baik dari mereka, untuk makan kita praktis tidak terlantar. Jadi mereka menyiapkan terus sarapan pagi, kemudian kadang-kadang siang, kadang-kadang malam, kita siapkan. Kebersamaan adalah kita makan bersama, minum bersama, seperti keluarga.

Meutya: Pak Bambang, tidak ada satu pun jam makan yang terlewatkan. Tidak ada satu sen pun barang yang mereka ambil, dan tidak ada yang berani untuk menyentuh kami. Khusus bagi saya, karena saya perempuan, pemimpin mereka menyatakan bahwa siapa yang berani menyentuh saya akan dihukum mati di depan kami.

Presiden RI: Ibadah terus berjalan, ya?

Meutya: bersama-sama dengan mereka.

Presiden RI: Di perbatasan Jordania-Irak berapa lama kemarin?

Meutya: Kami tertahan satu malam, Pak Bambang, karena memang ada masalah yaitu perbatasan Irak waktu itu masih ditutup untuk umum.

Presiden RI: Saya pernah jalan dari Amman ke Baghdad, lewat rute itu juga tahun 1999. Jadi saya bisa membayangkan 10 jam sekali jalan, 10-11 jam kembali ke Amman. Ini Pak Marty Natalegawa juga terus berbicara untuk meng-appeal semua pihak.

Meutya: Terima kasih banyak, Pak Marty.

Presiden: Tim berapa orang? Dua, ya?

Meutya: Tim yang dipimpin Bapak Triyono yang akhirnya juga membebaskan kami dari sana, Terima Kasih Pak. Karena sungguh kami tidak menyangka, Pak, bayangkan 8 hari tinggal di dalam gua di tengah gurun pasir, yang kami lihat hanya pasir. Itu pun kalau kami sedang boleh keluar dari gua. Ketika kami keluar, kami dengar bahwa perhatian jutaan rakyat begitu besar, justru itu yang membuat saya sangat terharu. Justru kami lebih terharu atau lebih tersentuh ketika kami di luar daripada ketika kami di dalam. Dan banyak sekali cerita-cerita dari teman-teman Metro bahwa mereka begitu perhatian kepada kami, orang tua saga, Pak Surya Paloh, menjemput langsung di perbatasan?

Presiden RI: Berapa hari di sana?

Surya Paloh: 4 hari, Pak.

Presiden RI: SMS masih jalan?

Meutya: Tidak bisa, Pak, kami putus komunikasi karena semua diambil oleh mereka, sampai kami dibebaskan baru dikembalikan.

Presiden RI: Baik, jadi sekali lagi Bapak dan Ibu, anak-anak, kita syukuri, karena Allah lah semuanya. Manusia berusaha, Allah yang bisa membebaskan semuanya.

Surya Paloh: Ijinkan saya Bapak Presiden, Bapak Menteri Luar Negeri, Bapak Menseskab, dari Deplu, Bapak Marty, kawan-kawan semua, orang tua Meutya dan Budyanto, kawan-kawan dari Pers. Saya bersama kedua jurnalis kami sekali lagi menghaturkan penghargaan, penghormatan, yang setinggi-tingginya kepada Pemerintah RI, khususnya kepada Bapak Presiden, yang telah begitu luar biasa mengambil inisiatif, memerankannya, dan mengikuti terus perkembangan penyanderaan. Saya pikir inilah kunci penyelesaian permasalahan, Pak. Kita tidak bisa membayangkan kalau negeri ini memiliki Kepala Negara yang tidak merespon tuntutan untuk mengklarifikasi siapa warga negaranya. Tapi kita tidak berhadapan dengan situasi itu. Sekali lagi terima kasih Bapak Presiden. Terimalah salam dan hormat kami sekali lagi atas semua perhatian dan dukungan terhadap saudari Meutya dan Budiyanto.

Presiden RI: Baik, saya kira supaya mereka segera bisa bertemu dengan pihak keluarga, Meutya dan Budiyanto, sekali lagi kami bersyukur, bangga, bahagia bisa menyelesaikan masalah ini dengan bijak dan baik. Terima kasih.

Assalamualaikum Warahmatullohi Wabarokatuh.


EMBASSY OF THE REPUBLIC OF INDONESIA
8 Darwin Avenue, Yarralumla, Canberra, A.C.T. 2600
AUSTRALIA
Tel. +612 6250 8600, Fax. +612 6273 6017