|
Presiden RI:
Alhamdulillah, kita bersama-sama bersyukur
ke hadirat Allah SWT, karena ridlo Allah,
akhirnya yang sangat kita cintai Sdr. Budiyanto
dan Sdr. Meutya Hafid, telah kembali dengan
selamat dan berjumpa dengan yang sangat
disayangi dan kembali berada di tengah-tengah
kita, di tengah keluarga besar bangsa Indonesia
yang terus berdoa siang dan malam agar mereka
segera dibebaskan dan kembali dengan selamat
ke Indonesia. Atas nama pemerintah, atas
nama rakyat Indonesia, tentu disamping bersyukur
ke hadirat Tuhan YME, saya juga mengucapkan
terima kasih dan penghargaan kepada semua
pihak yang telah dengan ikhlas, dengan gigih,
berbuat sesuatu untuk menyelamatkan dan
membebaskan kedua wartawan kita yang sangat
saya cintai ini. Pertama-pertama saya ingin
mengucapkan terima kasih kepada Menteri
Luar Negeri, termasuk Dubes RI di Amman,
penghubung kita di Baghdad, Sdr. Triyono
dari Tim Krisis, dan seluruh jajaran termasuk
dari BIN yang atas nama pemerintah telah
bekerja keras, dengan diplomasi dan melaksanakan
semua upaya.
Yang kedua, saya berterima
kasih kepada pihak Metro TV, sahabat-sahabat
dari Metro TV yang peduli dan berusaha.
Oleh karena itu saya memberikan penghargaan
dan terima kasih. Juga kepada tokoh-tokoh
lain, ulama kita, saudara-saudara kita,
baik di Indonesia maupun di Timur Tengah
yang berdoa, menyampaikan seruan, menyampaikan
statement dengan berbagai cara agar
Meutya dan Budyanto bisa selamat dan bebas
dan kembali kepada keluarga dan saudara-saudaranya
di Indonesia.
Atas semua itu saya ucapkan
terima kasih dan penghargaan. Tanpa kerjasama,
tanpa kegigihan kita semua, tidak selancar
ini, tidak seberhasil ini dalam kita mengemban
tugas yang mulia ini. Ini menunjukkan, seberat
apapun masalah yang dihadapi oleh bangsa
kita, kalau kita bersatu, kalau kita bersama,
insya Allah selalu ada jalan keluar. Aceh
juga demikian, berat, besar bencana itu,
tapi karena bangsa Indonesia memiliki kesetiakawanan
yang tinggi, solidaritas yang tinggi, Alhamdulillah
kita dapat bersama-sama
mengatasi bencana di Aceh. Sekarang Alhamdulillah
keadaan sudah semakin baik dan menunggu
proses rekonstruksi yang akan kita lakukan.
Demikian juga yang menimpa
kedua saudara kita ini. Saya mengajak kita
semua untuk memetik hikmah dan pelajaran,
dan bagaimana kita memandang ke depan. Tugas
wartawan sering berhadapan dengan resiko
dan bahaya, apalagi di daerah konflik baik
di tanah air maupun di luar negeri. Tapi
jangan sampai dengan adanya episode ini
melunturkan keberanian, semangat, dan kegigihan
dari rekan-rekan wartawan untuk melakukan
tugas jurnalistiknya. Wartawan juga menjadi
bagian penting dari upaya menegakkan kebenaran,
misi kemanusiaan, bahkan dalam pengembangan
demokrasi di negara kita. Teruslah berjuang,
teruslah berprofesi, untuk kepentingan kita
semua.
Pelajaran yang kedua, memang
untuk daerah-daerah tertentu, Aceh, Irak,
dan lain-lain, saya minta rekan-rekan wartawan
memahami resiko, ancaman, yang bisa datang.
Kalau pemerintah memberikan warning
lebih berhati-hati, waspada, lakukan komunikasi,
semata-mata karena kami ingin melindungi,
mengayomi, memproteksi rekan-rekan semua.
Itu kewajiban pemerintah, bukan karena pemerintah
rewel, tetapi seperti itu. Tetapi
manakala ada bahaya, pemerintah bertanggung
jawab, sebagaimana dilakukan dengan yang
lain, untuk menyelamatkan, melindungi dan
membebaskan. Inilah pelajaran besar yang
kita petik bukan hanya untuk Meutya dan
Budyanto tapi untuk semu teman-teman wartawan
agar pelajaran berharga ini bisa ditarik
intisarinya untuk bagaimana mengembangkan,
menjalankan profesi yang mulia di masa yang
akan datang.
Saya kira itulah yang dapat
saya sampaikan, syukur kita, terima kasih
saya, dan mudah-mudahan ini pelajaran yang
bisa kita petik bersama. Saya kira akan
menjadi bagian penting dalam biografi dalam
sejarah kalian berdua suatu saat untuk menulis
riwayat hidup. Dan tentunya kami lebih bersyukur
karena orang tua, keluarga, anak tentunya
lebih bersyukur, lebih berbahagia, terutama
bagi Meutya dan bagi Budiyanto.
Sekian, Assalaamualaikum
Warrahmatullahi Wabarakatuh.
Sekarang boleh mau cerita
apapun.
Meutya: Sebelumnya
kembali rasanya tidak cukup, entah berapa
kali saya harus mengucapkan terima kasih
kepada Bapak Presiden, karena betul-betul
yang diminta oleh mereka yang kami sebut
sebagai Mujahidin adalah pernyataan dari
Bapak. Reaksi cepat dari Bapak sungguh membantu
sekali proses penyelamatannya, sampai mereka
berkata kepada kami betapa sayangnya Presiden
kalian kepada anda. Kemudian ada statement-statement,
bantuan-bantuan dari berbagai pihak, juga
rekan-rekan dari media, tidak hanya media
di Indonesia tapi juga asing, sehingga mereka
sampai bingung dan bertanya kenapa negara
begitu sayang kepada kalian. Dan kami tersentuh,
bahwa solidaritas dari bangsa kita tidak
pernah luntur sampai sekarang walaupun begitu
banyak masalah yang sudah kita lalui bersama.
Ketika kami ditahan tidak
pernah bercucuran air mata seperti ini.
Walaupun sebelum tidur kadang-kadang ada
air mata yang keluar. Tapi kami begitu terharu
ketika kami keluar, ketika kami dengar semua
pihak membantu, baik rekan pers, pemerintah,
semua tokoh-tokoh
politik dan agama. Sampai kami bingung begitu
banyak nama yang disebut membantu kami termasuk
juga petinggi-petinggi sunni di Irak.
Sehingga kami menangis terharu bukan karena
penyanderaan tapi terharu bahwa kita benar-benar
bisa bersatu. Itu pelajaran terbesar yang
bisa kita dapatkan dari sini. Mungkin Mas
Budyanto ingin menambahkan.
Budiyanto:
Terima kasih. Jadi sekali lagi yang harus
disampaikan adalah ucapan terima kasih kepada
Bapak Presiden, rakyat Indonesia, semua
pihak, masyarakat Indonesia, pers dan semuanya
sehingga mempercepat kami keluar. Betul
yang disampaikan Meutya, yang ditunggu-tunggu
adalah reaksi cepat dari Presiden, dan waktu
itu setelah mendengar kabar sudah ada kabar
dari Presiden kami berdua langsung menangis
sesenggukan. Karena memang itulah yang kami
butuhkan dan memang itulah yang menjadi
tuntutan mereka. Memang untuk ke depan ada
suatu hikmah yang harus saya ambil. Saya
menempatkan posisi saya sebagai tamu, jadi
karena mereka dari awal sudah ada sinyal
ke arah yang baik akhirnya saya mencoba
menjadi tamu yang baik. Jadi kami berdua
praktis tidak disentuh siapa pun, barang-barang
kita tidak diambil sesen pun. Itu yang membuat
kita menjalani proses penyekapan kita dengan
sabar sampai tahap pelepasan.
Kita mencoba menyatu dan
berinteraksi dengan mereka. Kita mencoba
membuat sebuah aktifitas baru, men-service
mereka kadang-kadang, kita coba membuat
teh untuk mereka, kita mencuci untuk mereka,
walaupun tangannya dingin. Dengan segala
aktifitas itulah mereka mulai melihat sebuah
kebersamaan. Dan itulah saya pikir ke depan
bahwa dalam kondisi panik, pressure,
tertekan, kita mencoba menjadi tamu yang
baik. Setelah itu kita terapkan di situ,
ternyata itulah yang menjadi jawaban dan
kita akhirnya bisa bertemu dengan Bapak
Presiden.
Presiden RI: Berapa lama
dalam penahanan mereka yang betul-betul
bersama mereka itu?
Budiyanto: Tujuh
hari di kamp, karena itu jaraknya cukup
jauh, kita ditaruh di padang pasir. Jarak
dari padang pasir, kita keluar dari situ
membutuhkan waktu kira-kira satu jam, kemudian
sebelum pelepasan kita sempat tidur semalam
di satu tempat. Jadi kira-kira 8 malam.
Presiden RI: Terus, makanannya
gimana, disantap tiap saat, ya?
Budiyanto: Salah
satu itikad baik dari mereka, untuk makan
kita praktis tidak terlantar. Jadi mereka
menyiapkan terus sarapan pagi, kemudian
kadang-kadang siang, kadang-kadang malam,
kita siapkan. Kebersamaan adalah kita makan
bersama, minum bersama, seperti keluarga.
Meutya: Pak Bambang,
tidak ada satu pun jam makan yang terlewatkan.
Tidak ada satu sen pun barang yang mereka
ambil, dan tidak ada yang berani untuk menyentuh
kami. Khusus bagi saya, karena saya perempuan,
pemimpin mereka menyatakan bahwa siapa yang
berani menyentuh saya akan dihukum mati
di depan kami.
Presiden RI:
Ibadah terus berjalan, ya?
Meutya: bersama-sama
dengan mereka.
Presiden RI: Di perbatasan
Jordania-Irak berapa lama kemarin?
Meutya: Kami tertahan satu
malam, Pak Bambang, karena memang ada masalah
yaitu perbatasan Irak waktu itu masih ditutup
untuk umum.
Presiden RI: Saya
pernah jalan dari Amman ke Baghdad, lewat
rute itu juga tahun 1999. Jadi saya bisa
membayangkan 10 jam sekali jalan, 10-11
jam kembali ke Amman. Ini Pak Marty Natalegawa
juga terus berbicara untuk meng-appeal
semua pihak.
Meutya: Terima kasih
banyak, Pak Marty.
Presiden: Tim berapa
orang? Dua, ya?
Meutya: Tim yang dipimpin
Bapak Triyono yang akhirnya juga membebaskan
kami dari sana, Terima Kasih Pak. Karena
sungguh kami tidak menyangka, Pak, bayangkan
8 hari tinggal di dalam gua di tengah gurun
pasir, yang kami lihat hanya pasir. Itu
pun kalau kami sedang boleh keluar dari
gua. Ketika kami keluar, kami dengar bahwa
perhatian jutaan rakyat begitu besar, justru
itu yang membuat saya sangat terharu. Justru
kami lebih terharu atau lebih tersentuh
ketika kami di luar daripada ketika kami
di dalam. Dan banyak sekali cerita-cerita
dari teman-teman Metro bahwa mereka begitu
perhatian kepada kami, orang tua saga, Pak
Surya Paloh, menjemput langsung di perbatasan?
Presiden RI: Berapa
hari di sana?
Surya Paloh: 4 hari,
Pak.
Presiden RI: SMS
masih jalan?
Meutya: Tidak bisa, Pak,
kami putus komunikasi karena semua diambil
oleh mereka, sampai kami dibebaskan baru
dikembalikan.
Presiden RI: Baik, jadi
sekali lagi Bapak dan Ibu, anak-anak, kita
syukuri, karena Allah lah semuanya. Manusia
berusaha, Allah yang bisa membebaskan semuanya.
Surya Paloh: Ijinkan
saya Bapak Presiden, Bapak Menteri Luar
Negeri, Bapak Menseskab, dari Deplu, Bapak
Marty, kawan-kawan semua, orang tua Meutya
dan Budyanto, kawan-kawan dari Pers. Saya
bersama kedua jurnalis kami sekali lagi
menghaturkan penghargaan, penghormatan,
yang setinggi-tingginya kepada Pemerintah
RI, khususnya kepada Bapak Presiden, yang
telah begitu luar biasa mengambil inisiatif,
memerankannya, dan mengikuti terus perkembangan
penyanderaan. Saya pikir inilah kunci penyelesaian
permasalahan, Pak. Kita tidak bisa membayangkan
kalau negeri ini memiliki Kepala Negara
yang tidak merespon tuntutan untuk mengklarifikasi
siapa warga negaranya.
Tapi kita tidak berhadapan dengan situasi
itu. Sekali lagi terima kasih Bapak Presiden.
Terimalah salam dan hormat kami sekali lagi
atas semua perhatian dan dukungan terhadap
saudari Meutya dan Budiyanto.
Presiden RI: Baik, saya
kira supaya mereka segera bisa bertemu dengan
pihak keluarga, Meutya dan Budiyanto, sekali
lagi kami bersyukur, bangga, bahagia bisa
menyelesaikan masalah ini dengan bijak dan
baik. Terima kasih.
Assalamualaikum Warahmatullohi
Wabarokatuh.
|