|
Yang
terhormat para pemimpin redaksi dan insan
media massa,
Bapak-bapak,
Ibu-ibu, dan para undangan yang saya hormati,
Assalaamualaikum Warahmatullaahi
Wabarakaatuh,
Selamat pagi dan salam
sejahtera bagi kita semua,
Pertama-tama, saya ucapkan
selamat datang di Departemen Luar Negeri.
Mengawali tahun 2005 ini, sebagaimana biasa
kita lakukan setiap tahun, kita lakukan
refleksi tahun 2004 dan proyeksi tahun 2005
di bidang politik luar negeri. Saya ingin
mengutip ungkapan yang diadaptasi dari pidato
William Faulkner ketika menerima Hadiah
Nobel bidang literatur tahun 1950 bahwa
dalam menghadapi tantangan, manusia
tidak hanya mampu bertahan tetapi juga mampu
mengatasinya; karena berbeda dari mahluk
hidup lainnya, manusia memiliki jiwa dan
semangat untuk peduli terhadap sesama, berkorban
untuk sesama, dan berjuang bersama-sama.
Bangsa Indonesia menutup
tahun 2004 dalam suasana duka akibat gempa
bumi dan tsunami pada hari Minggu pagi tanggal
26 Desember. Bencana itu tidak hanya memporakporandakan
kehidupan manusia di ujung Barat Indonesia,
tetapi juga di beberapa negara lain di tepian
Samudra Hindia. Bangsa Indonesia dan warga
dunia lainnya telah menumpahkan perhatian,
solidaritas, dan bantuan kepada para korban
bencana. Sekjen PBB bahkan mengatakan bahwa
it is an unprecedented disaster
which requires unprecedented response.
Karena itu yang kita saksikan adalah respon
dunia yang luar biasa besarnya. Karena itu
kita laksanakan diplomasi kemanusiaan.
Hanya dalam tempo 11 hari
setelah terjadi bencana, lebih dari 27 pemimpin
negara dan organisasi internasional bersidang
di Jakarta dalam KTT khusus ASEAN tanggal
6 Januari. Ini menunjukkan semangat kerja
sama internasional yang luar biasa untuk
membantu Indonesia menanggulangi bencana,
baik untuk tanggap darurat maupun rehabilitasi
dan rekonstruksi serta juga upaya mitigasi
dan peringatan dini di masa depan. Dengan
KTT, maka komitmen-komitmen itu dinyatakan
pada tingkat tertinggi dan karenanya akan
lebih terjamin realisasinya.
Jelas tercermin reservoir
of goodwill masyarakat internasional
terhadap Indonesia. Tentu kita berterimakasih
dan menghargai uluran tangan dan itikad
baik bangsa-bangsa lain membantu kita. Tentunya
kita juga sadari bahwa tanggung jawab terbesar
ada di pundak bangsa kita; untuk segera
menyelesaikan dengan baik dan tuntas langkah-langkah
tanggap darurat, untuk segera mulai merehabilitasi
dan merekonstruksi Aceh dan Sumatra Utara,
serta untuk mulai membangun kapasitas dalam
peringatan dini dan mitigasi bencana.
Dalam masa tanggap darurat
ini, menyadari demikian besar dan luasnya
kerusakan akibat bencana, sejak awal kita
menyambut baik uluran tangan bangsa-bangsa
lain yang mengirimkan dana, barang, tenaga
relawan dan profesional, hingga peralatan
dan personil militer. Terbukti bahwa bantuan
itu telah sangat bermanfaat, termasuk bagi
upaya menjangkau wilayah-wilayah yang sempat
terputus jalur transportasinya.
Menjadi proses pembelajaran
bagi masyarakat kita bahwa kehadiran pasukan
militer asing ternyata tidak berarti harus
memunculkan sensitifitas yang berlebihan,
karena kehadiran mereka adalah untuk membantu
kita melakukan operasi kemanusiaan. Sebenarnya
ini bukan sesuatu yang baru, karena kita
sendiri juga langsung mengirimkan pasukan
TNI untuk membantu ketika terjadi bencana
gempa bumi di Iran pada tanggal 26 Desember
2003.
Memasuki minggu ke-tiga,
jalur-jalur transportasi darat, laut, dan
udara sudah mulai terbuka. Bahkan, di sebagian
wilayah bencana, masyarakat telah mulai
menata kembali kehidupan mereka. Sementara
itu, mobilisasi sumber-sumber daya termasuk
sejumlah besar bantuan sukarela dari masyarakat
di seluruh penjuru negeri terus berlangsung.
Dengan daya mampu kita yang terus meningkat,
kita harapkan secara bertahap dapat mengurangi
kebutuhan akan bantuan tanggap darurat.
Kiranya wajar saja apabila nanti setelah
tiga bulan kita akan mampu menangani tanggap
darurat secara mandiri dan bertanggungjawab.
Tantangan berat juga akan
kita hadapi dalam jangka menengah dan panjang,
yaitu rehabilitasi dan rekonstruksi. Pembangunan
fisik sangat penting untuk segera dilakukan.
Tetapi tidak kalah pentingnya adalah menata
kembali kehidupan masyarakat. Kita sebagai
bangsa tidak punya pilihan lain kecuali
harus mau dan mampu melakukannya; dengan
kerja keras, kebersamaan, dan tanggung jawab.
Kita bersyukur karena kondisi
kita sekarang sudah jauh lebih baik dibandingkan
masa-masa awal setelah krisis moneter tahun
1997. Situasi keamanan sudah jauh lebih
baik. Stabilitas politik dan demokrasi sudah
semakin mantap. Berbagai indikator makro
ekonomi menunjukkan tanda-tanda perbaikan.
Namun kita juga sadari bahwa upaya-upaya
nasional kita untuk mengentaskan kemiskinan,
menyediakan lapangan kerja, dan memberantas
korupsi masih memerlukan pengerahan sumber-sumber
daya yang luar biasa besarnya.
Dalam konteks inilah kita
menyambut hangat uluran tangan dan itikad
baik negara-negara sahabat untuk membantu
meringankan beban kita. Dalam pembicaraan
bilateral Presiden dengan mitra-mitranya
segera setelah bencana terjadi, dalam KTT
khusus ASEAN tanggal 6 Januari yang lalu,
maupun dalam misi khusus Menlu ke empat
negara Eropa minggu lalu, jelas terdapat
itikad baik, pengertian, dan komitmen masyarakat
internasional.
Misalnya di empat negara
Eropa yang baru saja saya kunjungi, bahkan
terdapat kesan ada semacam kompetisi antara
pemerintah dan rakyat untuk masing-masing
merespon secara nyata dalam ikut menanggulangi
bencana di Aceh dan Sumatra Utara. Saya
percaya bahwa skala bencana yang demikian
besarnya dan pemberitaan yang terus menerus
oleh media massa telah langsung menggugah
rasa kemanusiaan mereka.
Saya juga percaya bahwa
tidak kurang pula besarnya solidaritas mereka
terhadap bangsa Indonesia yang sedang membangun
demokrasi. Masih hangat di ingatan publik
dunia bahwa bangsa Indonesia baru saja melakukan
rangkaian pemilu historis dan untuk pertama
kalinya memilih presiden dan wakil presiden
secara langsung.
Saya juga percaya bahwa
solidaritas itu bersandar pula pada kontribusi
positif Indonesia selama ini bagi kawasan
dan dunia pada umumnya. Yaitu Indonesia
yang tidak gemar memusuhi tetangganya tetapi
malahan berusaha membangun hubungan bertetangga
baik. Indonesia yang senantiasa aktif membangun
kerjasama kawasan dan antar-kawasan. Dan
Indonesia yang selalu berperan aktif dalam
upaya memelihara keamanan dan perdamaian
dunia.
Karena itu, berbagai inisiatif
negara-negara yang ingin membantu kita,
termasuk tawaran moratorium hutang, didasari
atas pertimbangan-pertimbangan kemanusiaan
dan politik; baik karena Indonesia sedang
mengalami bencana besar maupun karena perkembangan
Indonesia sebagai negara demokrasi baru.
Dengan kata lain, inisiatif itu adalah wujud
dari political gesture
dan humanitarian gesture
dan bukan atas pertimbangan ekonomi
keuangan semata, karena Indonesia tidak
mengalami krisis ekonomi atau moneter.
Tantangannya bagi Pemerintah
adalah bagaimana mengemas berbagai tawaran
dukungan dan bantuan itu dalam skema-skema
kerjasama yang paling efektif, efisien,
dan bermanfaat langsung. Dengan begitu,
kita bisa punya ruang bernafas agar program-program
prioritas Kabinet Indonesia Bersatu juga
dapat terus dijalankan. Jadi, pendekatan
kita perlu bersifat komprehensif dengan
mempertimbangkan skema-skema seperti moratorium
hutang, hibah, pinjaman lunak, konversi
hutang, dan fasilitasi perdagangan.
Beban utang luar negeri
kita memang sangat berat. Beban biaya pembayaran
hutang publik, pokok dan bunganya, untuk
tahun 2005 sekitar US$ 7,2 Milyar dan diantaranya
sekitar US$ 4,6 Milyar merupakan cicilan
pembayaran hutang kepada Paris Club. Paris
Club adalah kelompok 19 negara yang sidang-sidangnya
tidak dihadiri oleh negara peminjam manapun,
termasuk Indonesia. Jadi, pendekatan yang
dapat dilakukan adalah kepada negara-negara
anggota secara individual dan bukan pada
forum Paris Club itu sendiri.
Dari negara-negara yang
dikunjungi, nampak kemauan yang kuat untuk
membantu, termasuk dukungan mereka bagi
moratorium hutang kita dengan persyaratan
yang ringan. Patut diketahui, ada beberapa
ketentuan dari Paris Club yang selama ini
berlaku dalam pemberian moratorium hutang,
yaitu: pengambilan keputusan secara konsensus;
prinsip comparability of treatment,
yang berarti kemudahan-kemudahan yang diberikan
oleh Paris Club juga layak diberlakukan
pada kreditor lainnya termasuk commercial
lenders dan, karena itu, potensi tafsiran
pasar yang bisa negatif terhadap kerangka
pengaturan moratorium itu; serta berlakunya
program IMF.
Sebagaimana telah luas
diberitakan, pada tanggal 12 Januari, Paris
Club mengadakan pertemuan. Kita ketahui
adanya variasi posisi anggota-anggota Paris
Club, dari mulai pandangan apakah moratorium
ini merupakan cara yang efektif untuk membantu
Indonesia, perbedaan pandangan mengenai
perlu atau tidak perlu bunga dikenakan terhadap
cicilan yang pembayarannya ditangguhkan,
hingga berapa besar nilai dari hutang yang
perlu ditangguhkan pembayarannya.
Mengenai berapa besar nilai
moratorium itu, akan tergantung pada berapa
dana yang diperlukan untuk rehabilitasi
dan rekonstruksi, yang penilaiannya diserahkan
kepada Bank Dunia dan IMF. Karena itulah,
yang diputuskan Paris Club tanggal 12 Januari
adalah keputusan sementara dan, sampai hasil
dari asesmen Bank Dunia selesai antara 1
sampai 3 bulan dari sekarang, mereka memang
tidak mengharapkan pembayaran cicilan dari
Indonesia.
Dari hasil pendekatan baik
kepada negara-negara yang dikunjungi maupun
Ketua Paris Club, terdapat pemahaman yang
baik tentang masalah seputar moratorium
hutang ini bagi negara-negara yang terkena
bencana agar itikad baik untuk membantu
tidak mempunyai efek negatif terhadap posisi
negara-negara tersebut.
Karena itu, dicapai kesepahaman
untuk mengadakan pembicaraan lebih lanjut
tentang moratorium ini. Karena itu, tidak
realistik pada tahapan ini untuk berbicara
tentang jumlah moratorium hutang sekian
milyar dan sebagainya. Karena pada akhirnya
kalaupun kondisi-kondisi atau persyaratan
itu kita terima, besarannyapun masih akan
tergantung dari hasil asesmen Bank Dunia
dan perhitungan berapa dari sumber-sumber
lain yang kita terima.
Bentuk bantuan yang paling
langsung dan lebih menguntungkan adalah
hibah. Jerman, misalnya menyediakan dana
€ 500 Juta untuk semua negara yang
terkena bencana, terutama Indonesia dan
Sri Lanka, yang terdiri dari hibah dan pinjaman
lunak. Merespon himbauan kita, Jerman bahkan
mempertimbangkan komponen hibah-nya lebih
besar.
Australia telah komitmen
membantu sebesar A$ 1 Milyar dalam bentuk
hibah dan pinjaman lunak berbunga 0% dengan
masa tenggang pembayaran (grace period)
10 tahun dan masa pembayaran 40 tahun. Jepang
telah mulai merealisasikan komitmen dengan
penandatanganan perjanjian pemberian hibah
tanggal 17 Januari sejumlah US$ 146 Juta
dan segera menyusul hibah berikutnya sejumlah
US$ 29 Juta sehingga total US$ 175
Juta yang siap untuk dimanfaatkan.
Perancis menawarkan pinjaman
lunak € 300 Juta dengan bunga 1%, masa
tenggang pembayaran (grace period)
10 tahun, dan masa pembayaran 30 tahun.
Sukar bagi Perancis untuk mengkonversi pinjaman
lunak itu menjadi hibah; karena hibah harus
diambil dari anggaran belanja tahunan negara,
sedangkan pinjaman lunak diambil dari perbendaharaan
negara. Tetapi dari pinjaman dengan persyaratan
lunak seperti itu, sesungguhnya 1/3 akan
berwujud dan berdampak seperti laiknya hibah.
Italia telah memutuskan
untuk memberikan konversi hutang kita untuk
proyek-proyek tertentu termasuk rekonstruksi
Aceh pada tahun ini senilai € 30 Juta
dan pada tahun 2006 dengan jumlah yang sama.
Skema konversi hutang ini juga telah diajukan
pada pemerintah Jerman, khususnya meningkatkan
dari pengaturan-pengaturan yang selama ini
sudah dilakukan dalam jumlah yang
lebih besar dari sebelumnya.
Sementara itu, beberapa
negara menjanjikan untuk memberikan fasilitasi
perdagangan berupa preferensi terhadap komoditi
ekspor tertentu dari Indonesia. Perancis,
misalnya, telah menyebut komoditi tekstil
dan terbuka untuk memperimbangkan komoditi
udang dan ikan Indonesia.
Sebagai tindak lanjut dari
kesepakatan KTT Khusus ASEAN, juga telah
dijajaki pembangunan sistem peringatan dini
(early warning system), baik pada tingkat
nasional yang mencakup seluruh wilayah kepulauan
nusantara maupun tingkat regional yang mencakup
seluruh negara tepian samudera Hindia. Kanselir
Jerman memberikan perhatian pribadi yang
besar untuk Jerman bisa membantu dan, karena
itu, disepakati untuk mengirim ahli-ahli
geologi Jerman ke Indonesia pada bulan Februari
2005 dan untuk mengadakan konperensi internasional
mengenai early warning system
di Indonesia pada tahun ini. Negara-negara
sahabat yang juga sangat antusias untuk
membantu pembangunan early warning system
ini adalah Perancis, Jepang, China dan Korea
Selatan.
Untuk tahun 2005 dan beberapa
tahun berikutnya, rehabilitasi dan rekonstruksi
Aceh tentu menjadi prioritas Pemerintah.
Dalam hal ini, Departemen Luar Negeri dan
seluruh Perwakilan Republik Indonesia siap
untuk bekerja keras mendukung upaya nasional
ini melalui diplomasi kemanusiaan. Bersamaan
dengan itu, kita lanjutkan pelaksanaan program-program
kerja Pemerintah menurut skala prioritasnya.
Karena pada akhirnya merupakan tanggung
jawab kita bersama sebagai bangsa untuk
membuktikan bahwa demokrasi bekerja untuk
kemaslahatan rakyat.
Saudara-saudara yang saya
hormati,
Kalau kita tengok pelaksanaan
politik luar negeri di tahun 2004, banyak
hal yang sudah kita lakukan dan kita raih.
Semua itu telah memperkuat citra Indonesia
sebagai negara yang berupaya mempertahankan
persatuan nasional dan keutuhan wilayahnya,
membangun demokrasi, meningkatkan ketertiban
dan kepastian hukum, menghormati HAM, serta
membangkitkan kembali ekonominya. Sebaliknya,
berbagai raihan nasional dalam proses demokratisasi
telah menjadi aset penting bagi politik
luar negeri yang secara konsisten berpegang
pada prinsip bebas dan aktif.
Ketiga pemilu yang kita
selenggarakan di tahun 2004, telah dipuji,
dihargai, bahkan dikagumi oleh bangsa-bangsa
lain. Sebagai Menlu, saya banyak menikmati
ungkapan-ungkapan positif dari mitra-mitra
saya di seluruh penjuru dunia. Tentunya
ini sangat membesarkan hati karena, sebaliknya,
Menlu juga adalah orang pertama yang biasanya
harus menghadapi kritik atau protes dari
orang lain.
Tetapi yang paling penting
adalah bahwa rangkaian pemilu itu telah
bermuara pada pergantian pemerintahan secara
damai dan demokratis, yang mencerminkan
adanya proses pendewasaan politik kita
yang enam tahun lalu sama sekali tak terbayangkan
oleh sebagian masyarakat internasional.
Saya masih ingat berbagai ramalan suram
dan doomsday scenario. Pemilu 1999
diramalkan bakal kacau bahkan sampai pertumpahan
darah; nyatanya tidak. Sidang Istimewa MPR
2001 diramalkan bakal bermuara pada instabilitas
dan bentrokan massal; Alhamdulillah tidak
terjadi. Saya percaya bahwa semua itu adalah
berkat rahmat Allah SWT, kesadaran para
pemimpin negara, dan kesabaran rakyat kita.
Dengan sukses rangkaian
pemilu 2004, praktis kita telah tepiskan
keragu-raguan tentang masa depan Indonesia.
Tetapi itu bukan berarti lantas kita lengah
dan bisa berleha-leha. Sebaliknya, tantangan
kita sekarang adalah membuktikan bahwa democracy
works.
Selain itu, demokrasi merupakan
aset bagi politik luar negeri kita. Kita
harus mencerminkan demokrasi itu di kawasan
sekitar kita. Karena itu, kita aktif membangun
demokrasi di ASEAN.
Upaya pemulihan ekonomi
kita pun telah mulai menampakkan hasil.
Laju pertumbuhan tahun lalu mencapai 5%
dan tahun ini diharapkan bisa mencapai 5,5%.
Cadangan devisa kita stabil pada jumlah
sekitar US$ 35 Milyar bahkan lebih
tinggi dari periode ketika tingkat pertumbuhan
ekonomi kita lebih tinggi. Inflasi dapat
terus kita tekan dalam 1 digit. Defisit
anggaran terkendali. Dan nilai tukar Rupiah
relatif stabil untuk jangka waktu yang sudah
cukup lama.
Namun untuk menarik investasi,
kita perlu melakukan pembenahan institusional
di bidang-bidang seperti kepastian hukum,
perpajakan, kepabeanan, dan tenaga kerja.
Inilah yang sedang dilakukan Pemerintah.
Diplomasi terus mendukung upaya ini melalui
bidang-bidang garapan yang memang ada di
luar, seperti promosi investasi dan perdagangan,
pariwisata, hutang luar negeri, dan alih
teknologi.
Di bidang keamanan, ancaman
dan gangguan terorisme masih menjadi masalah.
Setelah serangan bom Bali 12 Oktober 2002
dan bom Marriott 5 Agustus 2003, pada 12
September 2004 kembali terjadi serangan
bom di Jalan Rasuna Said, Jakarta, di muka
Kedutaan Besar Australia. Kita kembali berduka
karena tewasnya puluhan korban. Namun harus
diakui bahwa kemampuan kita dalam penanganan
pasca serangan bom kini jauh lebih baik.
Ini tidak lepas dari berbagai mekanisme
kerjasama internasional yang telah kita
bangun dalam tiga tahun belakangan ini.
Kita bahkan telah mampu
berbagi pengalaman kepada negara-negara
lain. Dalam hal ini, bersama Australia,
kita telah mensponsori Konperensi Regional
Tingkat Menteri tentang Kontra-Terorisme
di Bali, Februari 2004. Salah satu hasil
nyata konperensi adalah berdirinya Jakarta
Center for Law Enforcement Cooperation
yang diresmikan tanggal 3 Juli 2004.
Membangun kepolisian, intelijen,
dan aparat penegakan hukum memang sangat
penting untuk mengatasi terorisme. Namun
untuk jangka menengah dan panjang, keberhasilan
kita akan sangat ditentukan oleh keberhasilan
memberdayakan kaum moderat atau empowering
the moderates. Sudah banyak yang dilakukan
untuk mengurusi sisi piranti keras dan aparat;
namun justru rakyat yang sebenarnya merupakan
unsur terpenting dari kampanye melawan terorisme
hampir tidak tersentuh.
Oleh karena itu, Departemen
Luar Negeri bekerjasama dengan Pengurus
Besar Nahdlatul Ulama telah menyelenggarakan
International Conference of Islamic Scholars
di Jakarta, Februari 2004. Kemudian, bersama-sama
Pemerintah Australia dan Pengurus Pusat
Muhammadiyah, Pemerintah Indonesia menyelenggarakan
Regional Dialogue on Interfaith Cooperation
di Yogyakarta, Desember 2004. Salah satu
tindak lanjut dari dialog antar-agama tersebut
adalah rencana pendirian Yogyakarta Center
for Cultural and Religious Dialogue
pada tahun 2005 ini. Berikutnya, dialog
antar-agama dan kebudayaan akan juga disponsori
oleh Indonesia bersama beberapa negara lain
dalam konteks Asia-Europe Meeting
(ASEM), rencananya di Bali pada bulan Juni
2005.
Seperti yang telah sering
saya katakan, di samping demokrasi, maka
Islam moderat merupakan aset politik luar
negeri kita yang sangat kuat. Sebagai negara
dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di
dunia, kita mempunyai tanggung jawab dan
kepentingan untuk menampilkan wajah Islam
yang sebenarnya yaitu Islam yang
rahmatan lil alamiin.
Saudara-saudara yang saya
hormati,
Pada kesempatan ini saya
perlu berbagi cerita tentang pertemuan saya
dengan Bapak Dr. Susilo Bambang Yudhoyono,
ketika itu Presiden terpilih, di kediaman
beliau di Cikeas pada sore hari tanggal
16 Oktober 2004. Ini penting untuk diceritakan
karena saya, sebagai diplomat profesional
yang menjabat sebagai Menlu pada kabinet
sebelumnya, telah diberi kesempatan untuk
menjelaskan kebijakan dan langkah-langkah
pelaksanaan politik luar negeri selama periode
2001 hingga 2004. Di pihak lain, Presiden
terpilih menjelaskan visi dan misi pemerintahan
beliau termasuk di bidang politik luar negeri.
Dari dialog tersebut, kata kunci yang saya
catat adalah continuity.
Berbeda dari masa-masa
sebelumnya, ketika GBHN disahkan oleh MPR
untuk dilaksanakan oleh Presiden sebagai
mandataris MPR, maka kini platform politik
yang diusung sejak masa kampanye oleh Presiden
yang dipilih langsung oleh rakyat merupakan
acuan pokok bagi program kerja pemerintahannya.
Artinya, kebijakan politik luar negeri sebagai
bagian integral dari kebijakan pemerintah
berkewajiban mendukung pencapaian tujuan-tujuan
nasional yang pokok-pokoknya adalah Indonesia
yang aman dan damai, Indonesia yang demokratis
dan adil, dan Indonesia yang sejahtera.
Untuk itu, Presiden memperkenalkan konsep
keniscayaan kerjasama internasional
dalam hubungan antar bangsa.
Di lingkungan terdekat,
ASEAN tetap merupakan pilar utama politik
luar negeri kita. Bali Concord II
yang disepakati para pemimpin ASEAN pada
KTT Bali, Oktober 2003, merupakan komitmen
politik untuk mentransformasikan ASEAN dari
kumpulan negara yang bekerjasama ke arah
integrasi penuh kawasan. Dalam hal ini,
pada tahun 2020 diharapkan ASEAN Community
dapat diwujudkan yang terdiri dari
tiga pilar yang sejajar dan seimbang, yaitu:
ASEAN Security Community, ASEAN
Economic Community, dan ASEAN Socio-Cultural
Community.
Dalam tiga tahun belakangan
ini, tumbuh a new sense of activism
di ASEAN. Cerminannya adalah tingginya intensitas
saling kunjung pada tingkat kepala negara
dan pemerintahan di antara anggota ASEAN.
Selain itu, ASEAN kini mampu mengorganisir
KTT khusus dalam suasana darurat dan waktu
yang sangat singkat seperti yang
dilakukan pada waktu KTT SARS di
Bangkok, 2003, dan baru-baru ini KTT Pasca
Gempa dan Tsunami di Jakarta. Aktifisme
baru itu pula yang memungkinkan ASEAN dalam
waktu satu tahun mampu menuntaskan penyusunan
rencana-rencana aksi untuk ketiga pilar
ASEAN Community, beserta penjabarannya
untuk jangka pendek dan menengah dalam Vientiane
Action Plan.
Satu proses yang sudah
mulai berjalan di bawah Rencana Aksi ASEAN
Security Community adalah penyusunan
Piagam ASEAN, yang merupakan upaya kodifikasi
berbagai standar maupun kesepakatan bersama
mengenai norma-norma berperilaku baik yang
selama ini sudah tercermin di berbagai dokumen
strategis ASEAN.
Selain itu, Indonesia akan
mempelopori penyusunan ASEAN Mutual Legal
Assistance Agreement, ASEAN Convention
on Counter Terrorism, dan ASEAN Extradition
Treaty, serta pembentukan ASEAN Defence
Ministers Meeting dan ASEAN Maritime
Forum. Terkait dengan hasil KTT Tsunami
6 Januari, upaya pengaturan penggunaan militer
untuk penanggulangan bencana dan pembentukan
ASEAN Humanitarian Assistance Center
akan diprioritaskan.
Dalam dua tahun belakangan
ini, enam negara di luar ASEAN yaitu China,
India, Jepang, Pakistan, Rusia, dan Korea
Selatan telah melakukan aksesi terhadap
Traktat Persahabatan dan Kerjasama (TAC
1976). ASEAN juga mendorong negara-negara
lain termasuk Australia dan Selandia Baru
untuk melakukan aksesi. Dengan demikian,
semakin bertambahlah jumlah negara yang
terikat pada norma-norma berperilaku baik
dalam hubungan antar-negara di kawasan.
Tentunya ini merupakan kontribusi yang signifikan
bagi stabilitas kawasan.
ASEAN yang reaching
out telah mengintensifkan kerjasama
dengan negara-negara mitra wicara. Dalam
hal ini, mekanisme ASEAN + 3, dengan China,
Jepang, dan Korea Selatan, terus menguat
dan meluas. Sementara itu, guliran ke arah
komunitas Asia Timur juga semakin kuat.
Sejak awal, Indonesia tidak pernah menolak
gagasan tentang komunitas Asia Timur. Hal
ini mengingat komunitas yang dibayangkan
itu akan memiliki besaran ekonomi yang luar
biasa dan berpotensi besar untuk
menguntungkan negara-negara di kawasan.
Namun, Indonesia berpendapat bahwa proses
guliran ini perlu dikelola secara hati-hati
oleh ASEAN; apalagi kini ASEAN perlu fokus
pada upaya ke arah ASEAN Community
pada tahun 2020.
Pada KTT ASEAN di Vientiane,
November 2004, telah diputuskan untuk menyelenggarakan
KTT Asia Timur (East Asia Summit)
di Kuala Lumpur pada tahun 2005. Untuk menindaklanjuti
keputusan tersebut, para Menlu ASEAN akan
membicarakan hal ini pada pertemuan retreat
bulan Februari 2005 di Filipina. Sejumlah
hal yang masih memerlukan pengkajian mendalam
antara lain mengenai masalah partisipasi,
hubungan dengan KTT ASEAN+3, tujuan dan
lingkup kegiatan, serta perlunya mempertahankan
ASEAN yang di belakang kemudi.
Kehadiran Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono pada KTT Vientiane telah
menegaskan kembali komitmen Indonesia pada
pengembangan kerjasama ASEAN ke arah integrasi
kawasan. Pada kesempatan itu pula, Presiden
telah berkesempatan melakukan pertemuan-pertemuan
bilateral secara intensif dengan mitra-mitra
beliau.
Sebelumnya, Presiden juga
hadir pada KTT APEC di Chile, Oktober
2004. Pada kesempatan itu Indonesia menegaskan
kembali komitmen untuk liberalisasi perdagangan
di kawasan Asia Pasifik sesuai dengan Deklarasi
Bogor 1994. Satu catatan penting adalah
bahwa topik-topik diskusi dalam KTT APEC
adalah sejalan dengan upaya-upaya yang sedang
dilakukan Pemerintah di dalam negeri, seperti
kampanye anti korupsi, good governance,
dan transparansi.
Khusus mengenai masalah
korupsi, memang terasa sekali posisi Indonesia
yang sangat tidak menguntungkan karena berdasarkan
berbagai survei dinyatakan sebagai salah
satu negara terkorup. Apalagi pada KTT APEC
mendatang di Korea Selatan, pemberantasan
korupsi telah disepakati sebagai tema utama.
Saudara-saudara yang saya
hormati,
Indonesia juga terus membangun
struktur-struktur kerjasama dengan negara-negara
tetangga di kawasan Timur kita. Pertama,
Tripartite Consultation antara Indonesia,
Australia dan Timor Leste. Ke-dua, partisipasi
Indonesia sebagai mitra wicara dalam Pacific
Islands Forum (PIF). Ke-tiga, South
West Pacific Dialogue (SwPD),
yang beranggotakan Australia, Filipina,
Indonesia, Papua Nugini, Selandia Baru dan
Timor Leste.
Pendekatan kepada negara-negara
Pacific Islands Forum perlu semakin
intensif dilakukan. Dalam kaitan ini, terasa
sekali kebutuhan akan sarana-sarana pendukung
diplomasi seperti pemberian bantuan teknik
yang sebetulnya tidak harus berbiaya
mahal. Misalnya, beasiswa seni dan budaya
Indonesia bagi mahasiswa negara-negara SwPD
telah terbukti berhasil baik. Demikian pula
bantuan alat-alat pertanian kepada negara
tertentu di kawasan juga telah sangat dihargai.
Dalam hal ini, Departemen Luar Negeri berencana
untuk membentuk satu direktorat yang khusus
menangani kerjasama teknik.
Dalam dua tahun belakangan
ini, kita juga aktif membangun jembatan
kerjasama Asia Afrika. Kita melihat potensi
pengembangan kerjasama dan interaksi yang
masih terbuka lebar di antara 105 negara
Asia dan Afrika, dengan jumlah penduduk
sekitar 4,3 milyar. Ironis, bahwa ketika
kita mengembangkan hubungan ke segala penjuru
melintasi Pasifik melalui APEC
dan SwPD, dengan Eropa melalui ASEM,
bahkan dengan Amerika Latin melalui FEALAC
justru jembatan yang melintasi
Samudra Hindia absen. Bencana tsunami kemarin
ini seolah mengingatkan kita bahwa secara
alamiah Samudra Hindia justru menghubungkan
kita.
Padahal, modal politik
yang kuat sudah dibangun Konperensi Asia
Afrika di Bandung tahun 1955. Beberapa pemimpin
Afrika dan Asia yang sudah saya temui sangat
menghargai Semangat Bandung sebagai sumber
inspirasi perjuangan meraih kemerdekaan
dan dianggap masih relevan dalam menghadapi
tantangan di masa kini dan masa depan. Karena
itu gagasan kita untuk menyelenggarakan
KTT Asia Afrika pada bulan April 2005 untuk
membangun kemitraan strategis baru kedua
benua, yang dirangkaikan dengan upacara
peringatan 50 tahun KAA 1955, telah mendapat
sambutan hangat dan dukungan dari negara-negara
Asia dan Afrika.
Langkah-langkah persiapan
substansi kemitraan strategis baru Asia
Afrika telah dilakukan melalui pertemuan
AASROC I di Bandung, Juli 2003, pertemuan
kelompok kerja tingkat menteri di Durban,
Maret 2004, dan pertemuan AASROC
II di Durban, Agustus 2004, yang dikosponsori
Indonesia dan Afrika Selatan.
Sehubungan dengan suasana
keprihatinan pasca bencana, terdapat pemikiran
untuk mempertimbangkan kembali waktu pelaksanaan
KTT Asia Afrika yang dijadwalkan tanggal
21 dan 22 April 2005 di Jakarta dan upacara
peringatan 50 tahun KAA di Bandung tanggal
23 April 2005. Saya berpendapat bahwa KTT
perlu dilaksanakan sesuai jadwal dan undangan
yang telah kita kirimkan. Mungkin saja acara-acara
yang bernuansa bukan kerja seperti gala
dinner dapat disesuaikan menjadi
working dinner.
Perlunya KTT dilaksanakan,
terutama mengingat Asia-Afrika adalah satu
dari building blocks yang sedang
kita tata untuk menampilkan peran diplomasi
Indonesia secara utuh. Aktifnya kita membangun
kerjasama di kawasan ASEAN, Asia Timur,
Pasifik Barat Daya, dan kini Asia-Afrika,
justru merupakan nilai penting dan kontribusi
kita bagi stabilitas dan perdamaian dunia
yang jelas dihargai bangsa-bangsa
lain.
Saudara-saudara yang saya
hormati,
Saya ingin secara singkat
merujuk beberapa isu penting yang diperkirakan
masih akan kita tangani di tahun 2005. Pertama
adalah masalah Palestina yang terus mendapat
perhatian besar, sebagaimana tercermin dari
kehadiran Presiden pada acara penghormatan
terakhir kepada almarhum Presiden Yasser
Arafat di Kairo, November 2004. Pasca pemilu
9 Januari, kita telah menyampaikan ucapan
selamat kepada Mahmoud Abbas yang terpilih
sebagai Presiden Palestina. Kita mendukung
pemerintah dan kepemimpinan baru Palestina
serta menegaskan kembali kesediaan untuk
meningkatkan hubungan bilateral kedua negara.
Pemerintah Indonesia kembali
menegaskan dukungan terhadap perjuangan
sah bangsa Palestina untuk memperoleh Tanah
Air mereka sendiri berdasarkan visi dua
negara, Palestina dan Israel, yang hidup
berdampingan secara damai dalam batas-batas
wilayah yang aman dan diakui masyarakat
internasional. Dalam kaitan ini, Pemerintah
Indonesia mendesak agar proses perdamaian
Timur Tengah dapat dituntaskan dan agar
road map yang digagas oleh kuartet
AS, Rusia, Uni Eropa dan PBB dapat diimplementasikan
secara konsisten.
Ke-dua, Irak.
Kita sangat prihatin atas situasi keamanan
di Irak. Kita juga terus mendorong penyerahan
kedaulatan sepenuhnya kepada bangsa Irak,
sesuai dengan resolusi DK PBB No.1546 (2004).
Kita akan mengamati dari dekat pelaksanaan
pemilu yang direncanakan tanggal 30 Januari.
Ke-tiga,
reformasi PBB. Indonesia menyambut baik
prakarsa Sekjen PBB membentuk High-Level
Panel on Threat, Challenges,
and Change untuk tampil dengan sejumlah
rekomendasi agar PBB benar-benar dapat lebih
berperan sesuai kebutuhan jaman. Laporan
Panel yang berjudul A More Secure
World: Our Shared Responsibility
antara lain mengusulkan reformasi Dewan
Keamanan agar lebih demokratis dan merefleksikan
realitas geopolitik masa kini, termasuk
melalui peningkatan jumlah anggota tetap.
Dalam konteks inilah, Sidang
Majelis Umum PBB ke-59 bulan September 2004
sudah diwarnai perdebatan mengenai perluasan
keanggotaan Dewan Keamanan PBB. Perdebatan
semacam ini sesungguhnya pernah menghangat
pada awal tahun 1990-an, di mana Indonesia
telah aktif menyuarakan perlunya reformasi
Dewan Keamanan termasuk penetapan kriteria
untuk negara yang pantas masuk sebagai anggota
tetap baru.
Mencermati arah perkembangan
perdebatan Sidang Majelis Umum ke-59, Indonesia
mengajukan klaim atas kepantasannya dalam
keanggotaan tetap Dewan. Klaim ini juga
ternyata diakui oleh negara lain, seperti
Australia dan Timor Leste. Kita masih perlu
melihat lebih lanjut arah perdebatan tentang
reformasi DK PBB ini. Sementara itu, Indonesia
juga tengah mencalonkan diri sebagai anggota
tidak tetap DK PBB untuk periode 20072008,
yang pemilihannya akan dilaksanakan pada
tahun 2006.
Ke-empat
adalah gagasan Sekjen PBB membentuk Commission
of Experts untuk menilai proses peradilan
dan rekonsiliasi di Indonesia dan Timor
Leste berkaitan dengan pelanggaran berat
HAM di Timtim tahun 1999. Sejak awal kita
menolak gagasan Sekjen ini karena hanya
akan membuka luka lama dan undermine
hubungan bilateral yang terbina dengan baik
dalam tiga tahun belakangan ini. Pada tanggal
14 Desember 2004, di Tampak Siring, para
pemimpin kedua negara menyepakati untuk
membentuk Commission of Truth and Friendship
sebagai alternatif dari COE gagasan Sekjen
PBB.
Menindaklanjuti kesepakatan
para pemimpin itu, Menlu RI dan Menlu Timor
Leste telah menemui Sekjen PBB di New York
tanggal 21 Desember dan Menlu Amerika Serikat
tanggal 22 Desember. Kemudian, Menlu RI
telah pula menemui Menlu Belanda selaku
Ketua Uni Eropa di Den Haag tanggal 24 Desember
2004.
Sekjen PBB bersikeras untuk
melanjutkan gagasannya dengan alasan adanya
kewajiban untuk menyampaikan laporan kepada
Dewan Keamanan. Meskipun, pada pertemuan
dengan Presiden RI tanggal 6 Januari di
Jakarta, Sekjen PBB menyatakan bahwa dengan
adanya inisiatif Indonesia dan Timor Leste
tentang CTF maka terms of reference
COE akan disesuaikan sehingga dapat mendukung
CTF. Demikian pula, mengingat bencana yang
sedang dialami Indonesia, maka pihaknya
mempertimbangkan untuk menyesuaikan waktu
pelaksanaan COE.
Namun demikian, kita tetap
akan melanjutkan prakarsa CTF sebagai alternatif
COE. Dalam hal ini, terms of reference
CTF rencananya akan dirampungkan pada minggu
ke-empat Januari bersama-sama Menlu Timor
Leste.
Saudara-saudara yang saya
hormati,
Dalam tiga tahun belakangan
ini, Deplu telah bukan saja terus berusaha
menyempurnakan organisasi dan memperbaiki
kinerja dalam penanganan masalah TKI dan
perlindungan warga, tetapi bahkan juga telah
merubah corporate culture-nya. Dengan
tema kepedulian dan keberpihakan, seluruh
Perwakilan Republik Indonesia punya kewajiban
untuk melakukan langkah-langkah perlindungan
warga tanpa pandang bulu.
Dalam tiga tahun ini sudah
jauh berubah sikap, pola kerja, dan tingkat
ketanggapan untuk merespon kasus-kasus perlindungan
warga. Meskipun masalah TKI dan perlindungan
warga umumnya bersumber dari persoalan di
dalam negeri. Tetapi faktanya, tuntutan
masyarakat terhadap perlindungan WNI di
luar negeri memang terus meningkat. Sebaliknya,
upaya peningkatan perlindungan yang jelas
sudah nampak hasilnya cenderung dianggap
taken for granted. Misalnya, Keberhasilan
KBRI Singapura memberikan bantuan hukum
dan melalui lobby sehingga seorang TKI yang
terancam hukuman mati bisa diringankan hukumannya
menjadi hanya beberapa tahun penjara, karena
terbukti bersalah, sama sekali tidak mendapat
apresiasi dari masyarakat.
Atau, keberhasilan Deplu
yang dalam waktu beberapa hari dapat membebaskan
dua WNI yang disandera di Irak, Casingkem
dan Istiqomah. Karena dokumen-dokumen kedua
WNI itu aspal, maka untuk menetapkan identitas
mereka sebenarnya beberapa pejabat Deplu
turun langsung ke beberapa daerah, mulai
Banten, Sukabumi, Banyuwangi, Malang, dan
Indramayu. Sementara instansi yang menjadi
sumber masalah pemalsuan identitas tampak
tenang-tenang saja.
Tetapi berbagai hal yang
kita lakukan itu memang bukanlah untuk memperoleh
pujian. Semua itu adalah wujud tanggung
jawab profesi diplomatik dan pelaksanaan
mandat konstitusi.
Saudara-saudara yang saya
hormati,
Dari tanggal 13 hingga
17 Desember 2004, diadakan Rapat Kerja Para
Kepala Perwakilan dan Pimpinan Departemen
Luar Negeri di ruangan ini. Tema pokoknya
adalah General Check-Up, sehingga
kami dapat mengetahui persis kondisi dan
kesiapan kami dalam melaksanakan tugas dan
misi yang dibebankan oleh negara.
Dengan bangga saya bisa
katakan bahwa setelah menjalani benah
diri selama tiga tahun belakangan
ini, maka kami sampai pada kesimpulan bahwa
mesin diplomasi kita sudah jauh lebih siap
dan tangguh. Tidak lama kemudian, ternyata
mesin diplomasi itu menghadapi ujian yang
berat yaitu ketika dalam waktu hanya 5 hari
harus dapat mempersiapkan KTT Khusus ASEAN
Pasca Gempa dan Tsunami. Ternyata kita mampu,
baik sisi persiapan teknis dan logistik
maupun substansinya, dan KTT telah mencapai
hasil-hasil yang sangat memuaskan.
Tentu kami di Deplu sangat
puas, meskipun itu berarti melewati malam
pergantian tahun dengan bekerja di kantor.
Tetapi, kami sadar sepenuhnya bahwa upaya
benah diri adalah upaya yang harus dilakukan
terus menerus dengan selalu memperbaiki
dan meningkatkan daya mampu dan daya juang
kita. Oleh karena itu, bagi Deplu, tema
reformasi birokrasi yang diusung Kabinet
Indonesia Bersatu merupakan momentum pendorong
bagi upaya benah diri yang memang sudah
kami lakukan dalam tiga tahun belakangan
ini.
Dalam rapat kerja tersebut,
kami juga menjabarkan program-program kerja
Kabinet ke dalam program-program kegiatan
diplomasi di pusat dan di perwakilan
sehingga diharapkan upaya diplomasi dapat
benar-benar mendukung pencapaian program
kerja Kabinet.
Saudara-saudara yang saya
hormati,
Sebagai penutup, saya perlu
menekankan kembali pentingnya kemitraan
antara Deplu dan kalangan media massa sebagaimana
telah terjalin selama ini. Melalui kemitraan
tersebut, kita telah mampu menampilkan keutuhan
fakta dan kejernihan opini yang memenuhi
kebutuhan masyarakat akan informasi khususnya
masalah-masalah internasional. Kemitraan
dengan media massa merupakan bagian dari
format total diplomacy yang menuntut
adanya keterpaduan langkah dari seluruh
komponen bangsa agar mampu mendorong pelaksanaan
politik luar negeri bebas aktif yang secara
efektif mencapai sasaran-sasaran nasional.
Jakarta, 19 Januari
2005
===
|