Keterangan:
SBY: Presiden RI
W: Wartawan
SBY:
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
selamat sore, salam sejahtera untuk kita semua.
Saudara-saudara para wartawan yang saya hormati,
saya akan memberikan penjelasan kepada Saudara
dalam bahasa Indonesia [mengenai] hasil dari
Konferensi Internasional yang baru saja berakhir.
Setelah saya sampaikan ini, saya akan menjawab
satu-dua pertanyaan Saudara, dan bagi wartawan
asing telah kita siapkan terjemahannya yang
nanti akan dibagikan kepada Saudara.
Sore ini Pertemuan Khusus Para Pemimpin ASEAN
mengenai Dampak Gempa Bumi dan Tsunami, Special
ASEAN Leaders Meeting on Aftermath of
Earthquake and Tsunami, telah berakhir dengan
lancer dan saya kira mencapai sasaran yang sama-sama
kita harapkan.
Pertemuan ini dihadiri oleh 15 Kepala Negara/Pemerintahan,
Menteri dari 12 negara, termasuk 9 pengamat
internasional dan 9 organisasi internasional.
Kehadiran dari sekian banyak pemimpin dari seluruh
dunia, meskipun pemberitahuan yang begitu mendadak,
menunjukkan tingginya tingkat solidaritas dan
kebersamaan dalam menghadapi bencana alam yang
begitu besar yang terjadi di kawasan Asia.
Perlu Saudara ketahui bahwa Indonesia sebagai
tuan rumah dan penyelenggara Konferensi ini
hanya memiliki waktu kurang lebih 5 hari, dan
tentu saya sebagai Presiden, tidak terhenti
di dalam mengendalikan langkah-langkah penanggulangan
bencana setiap hari sambil mempersiapkan Konferensi
ini.
Sejak awal dipahami sepenuhnya bahwa pertemuan
ini merupakan pertemuan darurat yang dimaksudkan
untuk menghasilkan Program Aksi yang konkrit
dan transparan guna membantu masyarakat di kawasan
Samudera Hindia yang tertimpa bencana. Jadi,
bukan hanya commitments, tetapi yang kita perlukan
adalah concrete actions. Dan saya kira para
wartawan tadi mengikuti jalannya diskusi, statement,
termasuk Joint Declaration bahwa kita telah
masuk kepada wilayah actions dan bukan hanya
commitments.
Untuk me-review apa yang telah kami laksanakan
tadi bahwa pertemuan hari ini diisi dengan diskusi
ekstensif mengenai rencana kerja yang merupakan
sesi utama dari pertemuan ini. Dalam pertemuan
telah diutarakan banyak prakarsa dan inisiatif,
di antaranya adalah ide-ide tentang apa yang
harus dilakukan, apa yang perlu dikoordinasikan,
bagaimana mengurangi beban negara-negara yang
tertimpa bencana, bagaimana mencegah jatuhnya
jumlah korban yang besar pada bencana alam serupa
di waktu yang akan datang, bagaimana peran PBB
dan organisasi internasional lainnya, apa langkah-langkah
yang diperlukan untuk menjamin kesinambungan
dana yang diperlukan dan bagaimana ini
merupakan hal yang pentingmengembangkan
sistem peringatan dini yang efektif bagi kawasan,
early warning system.
Setelah melalui diskusi yang konstruktif, para
Pemimpin telah dapat menghasilkan suatu deklarasi,
saya kira bisa dibagikan segera setelah ini,
yaitu Declaration on Actions to Strengthen Emergency
Relief, Rehabilitation and Reconstruction on
the Aftermath of Earthquake and Tsunami Disaster
of 26 December 2004.
Saya mencatat, Saudara-saudara, dalam pertemuan
hari ini para Pemimpin menunjukkan perhatian
dan komitmen yang besar untuk mendukung upaya
menolong negara, bangsa, masyarakat yang tertimpa
bencana alam ini. Saya akan menggarisbawahi
beberapa hal penting yang telah disepakati dalam
pertemuan ini, seperti tercantum dalam Deklarasi
yang ada pada Saudara:
Para Pemimpin menyadari pentingnya untuk melaksanakan
koordinasi yang lebih baik, better coordination,
dan menjamin semua kontribusi dan bantuan dapat
didistribusikan secara efektif dan berkelanjutan.
Bantuan tersebut harus benar-benar disalurkan
kepada para korban.
Para Pemimpin juga menyadari perlunya dilakukan
upaya-upaya untuk mencegah jatuhnya korban yang
lebih besar dalam bencana alam seperti ini di
waktu yang akan datang.
Untuk mencapai tujuan tersebut, para Pemimpin
selanjutnya sepakat untuk mengambil langkah
untuk mencegah jatuhnya korban yang lebih besar
dalam bencana alam seperti ini di waktu yang
akan datang.
Untuk mencapai tujuan tersebut, para Pemimpin
selanjutnya sepakat untuk mengambil langkah
untuk mencegah jatuhnya korban yang lebih besar
dalam bencana alam seperti ini di waktu yang
akan datang.
Untuk mencapai tujuan tersebut, para Pemimpin
selanjutnya sepakat untuk mengambil langkah-langkah
konkrit, khususnya dalam 3 hal: pertama, bantuan
darurat, emergency relief; kedua, rehabilitasi
dan rekonstruksi; ketiga, pencegahan dan penanggulangan.
Dalam hal bantuan darurat, emergency relief,
para Pemimpin menyadari perlunya segera dilakukan
upaya mobilisasi sumberdaya untuk memenuhi kebutuhan
darurat para korban bencana, termasuk komitmen
untuk meningkatkan koordinasi dan kerjasama
upaya pemulihan secara nasional maupun internasional
guna menjamin efektivitas penyaluran bantuan.
Para Pemimpin meminta Perserikatan Bangsa-Bangsa
agar memobilisasi dukungan masyarakat internasional
dan meminta Sekretaris Jenderal PBB untuk menunjuk
Wakil Khusus atau Special Representative guna
mendorong koordinasi di antara negara-negara
donor, organisasi internasional, dan LSM dan
membantu pemerintah di negara-negara yang tertimpa
bencana. Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan
mendengar langsung usulan dari para pemimpin
dunia tadi.
Berkaitan dengan fase rehabilitasi dan rekonstruksi,
para Pemimpin telah meminta kepada World Bank,
Asian Development Bank, Islamic Development
Bank, dan institusi-institusi keuangan internasional
lainnya untuk menyediakan dana yang dibutuhkan
bagi kelangsungan dan kesinambungan program-program
rehabilitasi dan rekonstruksi.
Pertemuan ini menyepakati pula pembentukan
suatu partnership atas permintaan negara yang
bersangkutan dengan melibatkan negara-negara
donor dan negara-negara di kawasan serta institusi
keuangan internasional untuk mendukung program
nasional masing-masing. Pertemuan ini juga meminta
World Bank untuk memimpin partnership tersebut.
Para Pemimpin menyambut baik dan mendukung
inisiatif dari beberapa negara guna mengurangi
hutang luar negeri dari negara-negara yang tertimpa
bencana dalam rangka meningkatkan kapasitas
nasionalnya, sehingga negara-negara tersebut
dapat lebih memusatkan perhatiannya pada upaya
rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana.
Sehubungan dengan upaya pencegahan dan penanggulangan,
para Pemimpin mendukung sepenuhnya inisiatif
ASEAN untuk membangun suatu mekanisme regional
dalam mencegah dan menanggulangi bencana di
antaranya melalui pengaturan kesiagaan, standby
arrangement, yang memanfaatkan personil militer
dan sipil dalam operasi bantuan bencana. Pusat
Bantuan Kemanusiaan ASEAN, atau yang disebut
ASEAN Humanitarian Assistance Center dan Jaringan
Komunikasi dan Informasi Bencana ASEAN, atau
ASEAN Disaster Information Sharing and Communication
network.
Para Pemimpin juga berkomitmen untuk meningkatkan
pendidikan publik, kesadaran dan partisipasi
masyarakat dalam mencegah dan menanggulangi
bencana. Saya sungguh gembira bahwa pertemuan
ini telah sepakat untuk mendukung usulan pembentukan
suatu sistem peringatan dini di kawasan, seperti
Regional Tsunami Early Warning Center di Samudera
Hindia.
Sebagaimana dimaklumi, pembentukan fasilitas
ini sangat penting untuk mencegah korban jiwa
jikalau bencana alam terjadi lagi di waktu yang
akan datang, meskipun kita berdoa insya Allah
tidak terjadi lagi.
Dengan demikian, alhamdulillah pertemuan darurat
internasional ini telah membuahkan kesepakatan-kesepakatan
yang konkrit yang dilakukan secara kolaboratif
dan terkoordinasi yang menjawab berbagai kebutuhan
yang bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan jangka
pendek, tetapi juga jangka menengah dan jangka
panjang.
Dapat saya sampaikan bahwa di sela-sela Konferensi
ini, bahkan mulai tadi malam, saya juga telah
melakukan sejumlah pertemuan bilateral dengan
para Pemimpin Negara dan organisasi internasional,
yaitu dengan Malaysia, Amerika Serikat, Korea
Selatan, China, Australia, Myanmar, Singapura,
dan Jepang. Pada kesempatan tersebut mereka
pada umumnya menyampaikan pledge bantuan kepada
negara-negara kawasan yang terkena bencana,
termasuk Indonesia. Segera setelah konferensi
pers ini, saya juga akan bertemu dengan Sekretaris
Jenderal PBB, delegasi Uni Eropa, dan Menlu
Inggris.
Negara-negara lain yang terkena bencana juga
melaksanakan pertemuan bilateral dengan negara-negara
lain dalam rangkaian Konferensi ini atau di
sela-sela Konferensi Internasional ini.
Duabelas hari setelah bencana tsunami berlalu,
kita semua masih berjuang mengatasi kehancuran
dan kerusakan yang terjadi. Dalam waktu yang
tidak terlalu lama, segala upaya bantuan darurat
ini akan segera berakhir dan negara-negara yang
terkena bencana alam ini akan melanjutkan upaya
jangka panjang untuk rehabilitasi dan rekonstruksi,
di mana selain membutuhkan biaya yang besar,
waktu yang lama, dan tentunya juga sumberdaya
dalam arti umum yang lebih besar lagi dibandingkan
tahapan bantuan darurat.
Langkah kita ke depan masih panjang dan banyak
hal yang harus kita lakukan. Tetapi tentu, Saudara-saudara,
pertemuan hari ini merupakan awal yang baik
dan tentunya kita bersyukur bahwa terbangun
suatu solidaritas dan kerjasama global yang
insya Allah secara konkrit akan dapat membantu
secara signifikan semua negara yang terkena
bencana alam ini.
Sebagai penutup perkenankan saya untuk menegaskan
kembali besarnya apresiasi kita atas perhatian
luar biasa serta bantuan dan solidaritas yang
telah ditunjukkan oleh masyarakat internasional
kepada semua negara yang mengalami musibah bencana
alam ini. Saya percaya, Saudara-saudara, bahwa
musibah bencana alam ini telah menyatukan kita,
masyarakat global, dan di negara kita, kita
menyaksikan betapa kita bersatu dalam kesetiakawanan,
dalam solidaritas nasional untuk bersama-sama
mengatasi musibah ini.
Tentunya kita mengambil pelajaran yang besar
dari bencana alam ini dan kita akan terus melangkah
ke depan untuk memulihkan kembali keadaan, membangun
kembali daerah yang kena bencana untuk kembali
normal dan bangkit, baik secara ekonomi maupun
dalam aspek kesejahteraan yang lain.
Right after this press conference, I will issue
the statement in English. We are still making
copies of them and will distribute them to you
later, right after this press conference.
Apakah ada pertanyaan, untuk wartawan nasional?
W:
[inaudible] dan kedua, apakah akan ada perbaikan
struktur koordinasi di Aceh setelah konferensi
ini. I ask the President two questions. One,
what does he consider as the most important
follow up and second, whether there will be
improvement in the structure and coordination
in Aceh. Thank you.
SBY:
Terima kasih Bapak Siagian. Pertama, secara
nasional kita akan segera melaksanakan konsolidasi
dan kemudian berangkat dari Konferensi hari
ini, maka apa yang kita lakukan secara nasional
di satu sisi kita melaksanakan langkah-langkah
domestik yang tidak boleh terhenti, memobilisasi
semua yang kita miliki dengan sebaik-baiknya
dan tentunya dengan kerjasama internasional
ini kita pastikan bahwa itu merupakan paduan
dari apa yang kita laksanakan.
Pada tingkat regional, tentu kami juga akan
mengadakan koordinasi dengan negara-negara sahabat
setelah ini, sehingga langkah-langkah kerjasama
menjadi lebih efektif lagi.
Pada tingkat dunia, kita meminta tentunya Perserikatan
Bangsa-Bangsa dan forum internasional lain untuk
melakukan langkah-langkah nyata ke depan, dan
Indonesia akan mengirimkan utusannya untuk menjadi
bagian dalam perencanaan konkrit agar semua
yang menjadi komitmen hari ini betul-betul dapat
diwujudkan sesuai dengan tahapan dan rencana
yang ada.
Kedua, betul sebenarnya, tanpa Konferensi inipun
koordinasi akan terus menerus dilakukan. Saya
memahami bahwa dalam suasana yang sulit, absennya
alat komunikasi, kerusakan yang besar, lumpuhnya
pemerintahan pada awal bencana, kapasitas terbatas
dari bandara yang ada, terbatasnya sarana transport
baik darat, laut, maupun udara, besarnya pengungsi
dan lain-lain kadang memang semua yang diharapkan
tidak segera dapat diwujudkan. Ditambah barangkali
koordinasi yang masih belum efektif.
Dan oleh karena itulah, sebelum Konferensi
inipun kita terus menerus mengefektifkan koordinasi,
baik pada tingkat nasional: pemerintah dengan
civil society, pada tingkat daerah: antar aparat,
pemerintah dengan lembaga swadaya masyarakat.
Pendek kata, dengan Konferensi inipun kerjasama
atau koordinasi nasional kita tingkatkan, tetapi
juga kerjasama dan koordinasi antar negara juga
akan kita tingkatkan.
W:
Pak Presiden, pertanyaan dari saya, pertama,
saya ingin ketegasan dari pemerintah Indonesia
apakah dalam Paris Club nanti akan meminta penundaan
pembayaran hutang ataupun debt rescheduling?
Kedua, saya ingin tahu apakah pemerintah bermaksud
mengangkat status darurat sipil di Aceh untuk
memperlancar rebuilding efforts? Ketiga, bagaimana
dalam pandangan Bapak upaya untuk merehabilitasi
kepemilikan-kepemilikan swasta, masyarakat yang
kehilangan dokumentasinya atas properti yang
hancur di Aceh dan Sumatera Utara? Terima kasih.
SBY:
Pertama, inisiatif untuk sebuah moratorium
hutang, apakah rescheduling, pengurangan dan
lain-lain justru datang dari negara-negara donor,
Inggris, Italia, Jerman, dan bahkan Perdana
Menteri Koizumi dalam sambutannya tadi juga
mengajak dan memelopori bagaimana sebuh moratorium
hutang dilaksanakan. Dan tentunya sesungguhnya
bukan berasal dari kita, dari Indonesia. Atas
inisiatif yang barangkali menjadi salah satu
solusi untuk Indonesia memiliki kapasitas yang
lebih besar lagi dalam rehabilitasi dan rekonstruksi,
tentu kita menyambut secara positif dan tentunya
perlu dilaksanakan pembicaraan yang seksama,
tepat, proporsional. Dengan demikian, di satu
sisi bisa membantu langkah-langkah kita secara
nasional mengatasi masalah ini dan di sisi lain
tetap pada upaya besar kita untuk membangun
ekonomi kita ke depan.
Kedua, sebenarnya tidak ada kaitan langsung
atau tidak ada hal-hal yang menghalangi langkah-langkah
kemanusiaan, tindakan tanggap darurat, rehabilitasi
dan rekonstruksi, karena status darurat sipil
yang ada di Aceh. Bahkan saya menggarisbawahi
ketika saya berada di Lhokseumawe, di Banda
Aceh, di Meulaboh, mari kita berorientasi, berkonsentrasi
pada upaya tanggap darurat, penyelamatan saudara-saudara
kita, rehabilitasi dan rekonstruksi, sambil
sesungguhnya saya menyerukan kepada pihak yang
berbeda, terutama mereka-mereka yang mengangkat
senjata, untuk mari kita jadikan momentum yang
penting ini mengakhiri konflik, mencari solusi
sebaik mungkin, dengan otonomi khusus yang ada,
kita bersatu untuk menyelamatkan saudara-saudara
kita di Aceh, memulihkan dan membangun kembali
di Aceh.
Saya belum mendapat laporan dan pengamatan
saya di lapangan sesungguhnya tidak perlu hambatan
apapun karena status darurat sipil ini untuk
langkah-langkah kemanusiaan, langkah-langkah
sosial dan langkah-langkah rehabilitasi serta
rekonstruksi.
Tentang warga sipil yang kehilangan propertinya
dalam musibah ini, kita akan laksanakan konsolidasi,
kita laksanakan inventarisasi secara utuh, tidak
boleh grasa-grusu atau asal saja, tetapi cermat
dengan tujuan rehabilitasi dan rekonstruksi
mempertimbangkan semua aspek, termasuk saudara-saudara
kita yang sangat menderita karena hilangnya
tempat tinggal, properti dan lain-lain. Tentu
kita akan tabah, kita rencanakan sesuai rencana
utuh kita untuk rehabilitasi dan rekonstruksi.
W:
Dari pertemuan hari ini apakah sudah diketahui
negara-negara mana yang menjanjikan untuk memberikan
debt moratorium dan jumlahnya berapa? Kedua,
untuk grant atau hibah, negara-negara mana dan
jumlahnya berapa untuk negara-negara yang terkena
dampak tsunami dan untuk Indonesia? Kira-kira
totalnya kita dijanjikan berapa?
SBY:
Konferensi baru berakhir beberapa menit yang
lalu, baru saja para pemimpin menyampaikan komitmennya,
pledge-nya, bantuannya. Kita dengar tadi Perdana
Menteri Jepang akan memberikan moratorium. Saya
bicara dengan PM Tony Blair 2 hari yang lalu.
G-8 juga paling tidak akan membahas tentang
moratorium ini. Tentunya sudah ada komitmen
berapa bantuan untuk negara-negara yang kena
musibah, tetapi lebih baik saya minta pihak
kita, dalam hal ini Kepala BAPPENAS, Menko Perekonomian
untuk mengkoordinasikan secara baik, mencatat
secara seksama, catatan hingga hari ini seperti
apa dengan jumlah berapa yang dikontribusikan
oleh negara-negara lain terhadap semua negara,
karena masih akan berlanjut pertemuan itu di
Eropa.
Dengan demikian, tidak tepat kalau dalam konferensi
pers sekarang ini saya sudah menyatakan secara
definitif gambaran moratorium itu, pledge dari
negara mana saja dan jumlahnya. Tetapi saya
akan sampaikan secara transparan untuk diketahui
rekan-rekan wartawan, rakyat Indonesia. Ini
adalah momentum yang penting bahwa satu rupiahpun,
satu dolarpun harus transparan, akuntabel, dan
tidak ada ruang apapun untuk terjadinya penyimpangan.
Saya mengundang civil society, masyarakat luas,
Government Watch, Transparansi Indonesia, dan
pihak-pihak lain untuk memastikan bahwa kontribusi
dari dunia ini betul-betul diarahkan untuk membantu
saudara-saudara kita yang terkena bencana, membantu
rekonstruksi dan rehabilitasi.
W:
Apakah semua bantuan dan pledge yang diberi
oleh pemimpin negara dan internasional cukup
untuk memenuhi kebutuhan kemanusiaan dan rehabilitasi
di Aceh dan sekitarnya? Apakah Bapak yakin,
karena tadi Kofi Annan juga menyinggung hal
ini, bahwa yang penting saat ini adalah pledge
akan dikucurkan, bukan hanya omongan, tapi benar-benar
jadi?
SBY:
Yang kedua, apakah pledge yang disampaikan
para pemimpin dunia hari ini betul-betul diberikan,
betul-betul diwujudkan, tentu ini merupakan
kredibilitas, promise is promise tentunya, dan
kita harapkan ada mekanisme. Saya berharap,
PBB, World Bank dan organisasi internasional
lainnya, ASEAN, memastikan betul apa yang telah
menjadi pledge hari ini betul-betul dapat diwujudkan.
Itu yang pertama.
Yang kedua, apakah cukup? Cukup tidak cukup
tentunya terpulang kepada negara masing-masing.
Indonesia, kami bertanggung jawab untuk melaksanakan
rehabilitasi dan rekonstruksi secara domestik.
Apapun kami harus memobilisasi apa yang kami
miliki karena barangkali bantuan tidak cukup
lantas menghalangi upaya kami untuk mengatasi
masalah dalam negeri kami. Tetapi tentunya besarnya
kerusakan di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
dalam hitungan angka yang cukup besar tentunya
kontribusi dari masyarakat dunia sangat membantu.
Bagi saya, selaku Presiden Republik Indonesia,
akan saya padukan terutama potensi dalam negeri
sendiri, resources kita sendiri, untuk mengatasi
masalah kami sendiri dengan kebersamaan, dan
tentunya bantuan negara sahabat menjadi bagian
dari itu semua.
W:
Could you shed some lights on the early warning
system, how best do you think this system can
be implemented and what problems do you foresee
in setting up such a system in this part of
the world? Thank you, Mr. President.
SBY:
The early warning system that we need is not
only talking about the instrument, technology,
information capability, but actually we have
to prepare more. We are talking about education,
we are talking about socialization, we are talking
about coordination and information sharing and
of course we are talking about the installation
of instruments and equipment needed to make
sure that in the Indian Ocean we have a mechanism,
a system that can detect as early as possible
the possible tsunami and quake.
I am glad to tell you that countries like China,
Japan, the Republic of Korea have offered me
to assist not only Indonesia but other countries
that are vulnerable to the quake and tsunami
to build a system that we need. Thats
my view on the importance of building such kind
of system. And of course Indonesia will do our
best to improve our education, our system and
mechanism, and also enhance our capacity for
the early warning system.
W:
Bapak Presiden, bagaimana prospek kerjasama
antara Indonesia dan negara-negara yang tidak
ikut serta sepenuhnya dalam Konferensi ini?
Apa isi pembicaraan telepon kemarin dengan Presiden
Rusia Vladimir Putin? Terima kasih.
SBY:
Sebenarnya di samping para pemimpin dunia yang
hadir dalam Konferensi ini banyak sekali pemimpin
dunia di Eropa, Asia, di tempat lain yang juga
ingin berkontribusi, ingin memberikan bantuan
kepada negara-negara yang terkena bencana. Sebagai
contoh, Saudara mengangkat Presiden Putin dari
Rusia. Dua hari yang lalu saya melaksanakan
pembicaraan telepon dengan Presiden Putin dan
beliau mengatakan bahwa meskipun tidak hadir
dalam Konferensi ini, tetapi beliau mengirimkan
utusannya untuk memantau apa yang dibahas dalam
Konferensi ini.
Negara seperti Rusia, seperti negara-negara
yang lain juga ingin berkontribusi dan memberikan
kerjasamanya secara proporsional. Segera setelah
ini tentu harapan saya, PBB, Chairman of the
ASEAN, atau saya sendiri sebagai Presiden Republik
Indonesia tentu berkewajiban untuk berkomunikasi
lebih lanjut dengan negara-negara lain yang
juga memberikan kepeduliannya.
Dalam waktu dekat saya akan mengutus menteri
untuk berkunjung ke Eropa untuk membahas lebih
lanjut kerjasama lanjutan sesuai pula dengan
kepedulian dan permintaan negara-negara sahabat
tersebut.
W:
Ke depan secara konkrit apakah pemerintah sudah
membuat perhitungan mengenai untung ruginya
atau positif negatifnya merehabilitasi kota
Banda Aceh khususnya dan mungkin kota-kota lain
seperti Meulaboh dibandingkan dengan merelokasi
dilihat dari berbagai aspek seperti biaya, infrastruktur
maupun dari segi psikologis warganya? Terima
kasih.
SBY:
Pertanyaan yang bagus. Setelah saya melihat
secara seksama, ingat Saudara-saudara, hari
ke-2 saya sudah berada di Lhokseumawe karena
hari pertama saya di Jayapura langsung terbang
sehingga saya sampai di Aceh baru hari ke-2.
Kemudian hari ke-3 saya di Banda Aceh, hari
ke-6 saya di Meulaboh dan di Banda Aceh. Saya
terbang melalui udara dan saya mempelajari foto
demi foto, laporan demi laporan, sesungguhnya
yang harus kita lakukan adalah membangun kembali
Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Bukan hanya
sekedar memperbaiki kerusakan di Meulaboh, Banda
Aceh, Lhokseumawe, Calang, dan tempat-tempat
yang terkena bencana.
Oleh karena itu saya sudah memanggil para pakar
dan saya akan mengajak semua, LIPI, universitas
dan lain-lain untuk bersama-sama memikirkan
bagaimana membangun kembali Aceh, tata ruangnya,
tata kotanya, infrasturkturnya, bagaimana tempat-tempat
baru lebih aman terhadap serangan tsunami ataupun
earthquake.
Terbang dari Banda Aceh ke Meulaboh, garis
pantai sudah berubah, jalan-jalan sudah putus,
hampir jembatan semuanya rusak. Oleh karena
itu, bukan hanya membangun kembali di tempat
yang sama, tetapi barangkali harus dipikirkan
kembali apakah bergeser kota-kota yang hendak
kita bangun.
Oleh karena itu, ini tidak boleh gopoh, planning-nya
harus benar, tata ruangnya harus benar, tahapannya
harus benar, biayanya harus tepat. Dengan demikian,
sekali kita melaksanakan rekonstruksi maka kita
pastikan saudara-saudara kita di Aceh lebih
memiliki jaminan keamanan terhadap bencana-bencana
itu. Itulah yang sedang kami susun dan tentunya
sekali lagi kami ingin melibatkan semua, kita
melibatkan saudara-saudara di Aceh sendiri,
LSM di Aceh, tokoh-tokoh masyarakat Aceh untuk
memikirkan pembangunan kembali Provinsi Nanggroe
Aceh Darussalam.
Terima kasih, Saudara-saudara. Assalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
--------------------------------------------------------------------------------
Jakarta, 11 Januari 2005
Direktorat Informasi dan Media
Departemen Luar Negeri RI