KEDUTAAN BESAR REPUBLIK INDONESIA
EMBASSY OF THE REPUBLIC OF INDONESIA
8 Darwin Avenue, Yarralumla, Canberra, A.C.T. 2600
AUSTRALIA
Tel. +612 6250 8600, Fax. +612 6273 6017

 


 

 

KONFERENSI PERS

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
DR. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO

SETELAH PERTEMUAN KHUSUS PARA PEMIMPIN ASEAN
MENGENAI DAMPAK GEMPA BUMI DAN TSUNAMI

Jakarta Hilton Convention Center, 6 Januari 2005

Keterangan:

SBY: Presiden RI

W: Wartawan

SBY:

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, selamat sore, salam sejahtera untuk kita semua. Saudara-saudara para wartawan yang saya hormati, saya akan memberikan penjelasan kepada Saudara dalam bahasa Indonesia [mengenai] hasil dari Konferensi Internasional yang baru saja berakhir. Setelah saya sampaikan ini, saya akan menjawab satu-dua pertanyaan Saudara, dan bagi wartawan asing telah kita siapkan terjemahannya yang nanti akan dibagikan kepada Saudara.

Sore ini Pertemuan Khusus Para Pemimpin ASEAN mengenai Dampak Gempa Bumi dan Tsunami, Special ASEAN Leaders’ Meeting on Aftermath of Earthquake and Tsunami, telah berakhir dengan lancer dan saya kira mencapai sasaran yang sama-sama kita harapkan.

Pertemuan ini dihadiri oleh 15 Kepala Negara/Pemerintahan, Menteri dari 12 negara, termasuk 9 pengamat internasional dan 9 organisasi internasional. Kehadiran dari sekian banyak pemimpin dari seluruh dunia, meskipun pemberitahuan yang begitu mendadak, menunjukkan tingginya tingkat solidaritas dan kebersamaan dalam menghadapi bencana alam yang begitu besar yang terjadi di kawasan Asia.

Perlu Saudara ketahui bahwa Indonesia sebagai tuan rumah dan penyelenggara Konferensi ini hanya memiliki waktu kurang lebih 5 hari, dan tentu saya sebagai Presiden, tidak terhenti di dalam mengendalikan langkah-langkah penanggulangan bencana setiap hari sambil mempersiapkan Konferensi ini.

Sejak awal dipahami sepenuhnya bahwa pertemuan ini merupakan pertemuan darurat yang dimaksudkan untuk menghasilkan Program Aksi yang konkrit dan transparan guna membantu masyarakat di kawasan Samudera Hindia yang tertimpa bencana. Jadi, bukan hanya commitments, tetapi yang kita perlukan adalah concrete actions. Dan saya kira para wartawan tadi mengikuti jalannya diskusi, statement, termasuk Joint Declaration bahwa kita telah masuk kepada wilayah actions dan bukan hanya commitments.

Untuk me-review apa yang telah kami laksanakan tadi bahwa pertemuan hari ini diisi dengan diskusi ekstensif mengenai rencana kerja yang merupakan sesi utama dari pertemuan ini. Dalam pertemuan telah diutarakan banyak prakarsa dan inisiatif, di antaranya adalah ide-ide tentang apa yang harus dilakukan, apa yang perlu dikoordinasikan, bagaimana mengurangi beban negara-negara yang tertimpa bencana, bagaimana mencegah jatuhnya jumlah korban yang besar pada bencana alam serupa di waktu yang akan datang, bagaimana peran PBB dan organisasi internasional lainnya, apa langkah-langkah yang diperlukan untuk menjamin kesinambungan dana yang diperlukan dan bagaimana –ini merupakan hal yang penting—mengembangkan sistem peringatan dini yang efektif bagi kawasan, early warning system.

Setelah melalui diskusi yang konstruktif, para Pemimpin telah dapat menghasilkan suatu deklarasi, saya kira bisa dibagikan segera setelah ini, yaitu Declaration on Actions to Strengthen Emergency Relief, Rehabilitation and Reconstruction on the Aftermath of Earthquake and Tsunami Disaster of 26 December 2004.

Saya mencatat, Saudara-saudara, dalam pertemuan hari ini para Pemimpin menunjukkan perhatian dan komitmen yang besar untuk mendukung upaya menolong negara, bangsa, masyarakat yang tertimpa bencana alam ini. Saya akan menggarisbawahi beberapa hal penting yang telah disepakati dalam pertemuan ini, seperti tercantum dalam Deklarasi yang ada pada Saudara:

Para Pemimpin menyadari pentingnya untuk melaksanakan koordinasi yang lebih baik, better coordination, dan menjamin semua kontribusi dan bantuan dapat didistribusikan secara efektif dan berkelanjutan. Bantuan tersebut harus benar-benar disalurkan kepada para korban.

Para Pemimpin juga menyadari perlunya dilakukan upaya-upaya untuk mencegah jatuhnya korban yang lebih besar dalam bencana alam seperti ini di waktu yang akan datang.

Untuk mencapai tujuan tersebut, para Pemimpin selanjutnya sepakat untuk mengambil langkah untuk mencegah jatuhnya korban yang lebih besar dalam bencana alam seperti ini di waktu yang akan datang.

Untuk mencapai tujuan tersebut, para Pemimpin selanjutnya sepakat untuk mengambil langkah untuk mencegah jatuhnya korban yang lebih besar dalam bencana alam seperti ini di waktu yang akan datang.

Untuk mencapai tujuan tersebut, para Pemimpin selanjutnya sepakat untuk mengambil langkah-langkah konkrit, khususnya dalam 3 hal: pertama, bantuan darurat, emergency relief; kedua, rehabilitasi dan rekonstruksi; ketiga, pencegahan dan penanggulangan.

Dalam hal bantuan darurat, emergency relief, para Pemimpin menyadari perlunya segera dilakukan upaya mobilisasi sumberdaya untuk memenuhi kebutuhan darurat para korban bencana, termasuk komitmen untuk meningkatkan koordinasi dan kerjasama upaya pemulihan secara nasional maupun internasional guna menjamin efektivitas penyaluran bantuan. Para Pemimpin meminta Perserikatan Bangsa-Bangsa agar memobilisasi dukungan masyarakat internasional dan meminta Sekretaris Jenderal PBB untuk menunjuk Wakil Khusus atau Special Representative guna mendorong koordinasi di antara negara-negara donor, organisasi internasional, dan LSM dan membantu pemerintah di negara-negara yang tertimpa bencana. Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan mendengar langsung usulan dari para pemimpin dunia tadi.

Berkaitan dengan fase rehabilitasi dan rekonstruksi, para Pemimpin telah meminta kepada World Bank, Asian Development Bank, Islamic Development Bank, dan institusi-institusi keuangan internasional lainnya untuk menyediakan dana yang dibutuhkan bagi kelangsungan dan kesinambungan program-program rehabilitasi dan rekonstruksi.

Pertemuan ini menyepakati pula pembentukan suatu partnership atas permintaan negara yang bersangkutan dengan melibatkan negara-negara donor dan negara-negara di kawasan serta institusi keuangan internasional untuk mendukung program nasional masing-masing. Pertemuan ini juga meminta World Bank untuk memimpin partnership tersebut.

Para Pemimpin menyambut baik dan mendukung inisiatif dari beberapa negara guna mengurangi hutang luar negeri dari negara-negara yang tertimpa bencana dalam rangka meningkatkan kapasitas nasionalnya, sehingga negara-negara tersebut dapat lebih memusatkan perhatiannya pada upaya rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana.

Sehubungan dengan upaya pencegahan dan penanggulangan, para Pemimpin mendukung sepenuhnya inisiatif ASEAN untuk membangun suatu mekanisme regional dalam mencegah dan menanggulangi bencana di antaranya melalui pengaturan kesiagaan, standby arrangement, yang memanfaatkan personil militer dan sipil dalam operasi bantuan bencana. Pusat Bantuan Kemanusiaan ASEAN, atau yang disebut ASEAN Humanitarian Assistance Center dan Jaringan Komunikasi dan Informasi Bencana ASEAN, atau ASEAN Disaster Information Sharing and Communication network.

Para Pemimpin juga berkomitmen untuk meningkatkan pendidikan publik, kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam mencegah dan menanggulangi bencana. Saya sungguh gembira bahwa pertemuan ini telah sepakat untuk mendukung usulan pembentukan suatu sistem peringatan dini di kawasan, seperti Regional Tsunami Early Warning Center di Samudera Hindia.

Sebagaimana dimaklumi, pembentukan fasilitas ini sangat penting untuk mencegah korban jiwa jikalau bencana alam terjadi lagi di waktu yang akan datang, meskipun kita berdoa insya Allah tidak terjadi lagi.

Dengan demikian, alhamdulillah pertemuan darurat internasional ini telah membuahkan kesepakatan-kesepakatan yang konkrit yang dilakukan secara kolaboratif dan terkoordinasi yang menjawab berbagai kebutuhan yang bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek, tetapi juga jangka menengah dan jangka panjang.

Dapat saya sampaikan bahwa di sela-sela Konferensi ini, bahkan mulai tadi malam, saya juga telah melakukan sejumlah pertemuan bilateral dengan para Pemimpin Negara dan organisasi internasional, yaitu dengan Malaysia, Amerika Serikat, Korea Selatan, China, Australia, Myanmar, Singapura, dan Jepang. Pada kesempatan tersebut mereka pada umumnya menyampaikan pledge bantuan kepada negara-negara kawasan yang terkena bencana, termasuk Indonesia. Segera setelah konferensi pers ini, saya juga akan bertemu dengan Sekretaris Jenderal PBB, delegasi Uni Eropa, dan Menlu Inggris.

Negara-negara lain yang terkena bencana juga melaksanakan pertemuan bilateral dengan negara-negara lain dalam rangkaian Konferensi ini atau di sela-sela Konferensi Internasional ini.

Duabelas hari setelah bencana tsunami berlalu, kita semua masih berjuang mengatasi kehancuran dan kerusakan yang terjadi. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, segala upaya bantuan darurat ini akan segera berakhir dan negara-negara yang terkena bencana alam ini akan melanjutkan upaya jangka panjang untuk rehabilitasi dan rekonstruksi, di mana selain membutuhkan biaya yang besar, waktu yang lama, dan tentunya juga sumberdaya dalam arti umum yang lebih besar lagi dibandingkan tahapan bantuan darurat.

Langkah kita ke depan masih panjang dan banyak hal yang harus kita lakukan. Tetapi tentu, Saudara-saudara, pertemuan hari ini merupakan awal yang baik dan tentunya kita bersyukur bahwa terbangun suatu solidaritas dan kerjasama global yang insya Allah secara konkrit akan dapat membantu secara signifikan semua negara yang terkena bencana alam ini.

Sebagai penutup perkenankan saya untuk menegaskan kembali besarnya apresiasi kita atas perhatian luar biasa serta bantuan dan solidaritas yang telah ditunjukkan oleh masyarakat internasional kepada semua negara yang mengalami musibah bencana alam ini. Saya percaya, Saudara-saudara, bahwa musibah bencana alam ini telah menyatukan kita, masyarakat global, dan di negara kita, kita menyaksikan betapa kita bersatu dalam kesetiakawanan, dalam solidaritas nasional untuk bersama-sama mengatasi musibah ini.

Tentunya kita mengambil pelajaran yang besar dari bencana alam ini dan kita akan terus melangkah ke depan untuk memulihkan kembali keadaan, membangun kembali daerah yang kena bencana untuk kembali normal dan bangkit, baik secara ekonomi maupun dalam aspek kesejahteraan yang lain.

Right after this press conference, I will issue the statement in English. We are still making copies of them and will distribute them to you later, right after this press conference.

Apakah ada pertanyaan, untuk wartawan nasional?

W:

[inaudible] dan kedua, apakah akan ada perbaikan struktur koordinasi di Aceh setelah konferensi ini. I ask the President two questions. One, what does he consider as the most important follow up and second, whether there will be improvement in the structure and coordination in Aceh. Thank you.

SBY:

Terima kasih Bapak Siagian. Pertama, secara nasional kita akan segera melaksanakan konsolidasi dan kemudian berangkat dari Konferensi hari ini, maka apa yang kita lakukan secara nasional di satu sisi kita melaksanakan langkah-langkah domestik yang tidak boleh terhenti, memobilisasi semua yang kita miliki dengan sebaik-baiknya dan tentunya dengan kerjasama internasional ini kita pastikan bahwa itu merupakan paduan dari apa yang kita laksanakan.

Pada tingkat regional, tentu kami juga akan mengadakan koordinasi dengan negara-negara sahabat setelah ini, sehingga langkah-langkah kerjasama menjadi lebih efektif lagi.

Pada tingkat dunia, kita meminta tentunya Perserikatan Bangsa-Bangsa dan forum internasional lain untuk melakukan langkah-langkah nyata ke depan, dan Indonesia akan mengirimkan utusannya untuk menjadi bagian dalam perencanaan konkrit agar semua yang menjadi komitmen hari ini betul-betul dapat diwujudkan sesuai dengan tahapan dan rencana yang ada.

Kedua, betul sebenarnya, tanpa Konferensi inipun koordinasi akan terus menerus dilakukan. Saya memahami bahwa dalam suasana yang sulit, absennya alat komunikasi, kerusakan yang besar, lumpuhnya pemerintahan pada awal bencana, kapasitas terbatas dari bandara yang ada, terbatasnya sarana transport baik darat, laut, maupun udara, besarnya pengungsi dan lain-lain kadang memang semua yang diharapkan tidak segera dapat diwujudkan. Ditambah barangkali koordinasi yang masih belum efektif.

Dan oleh karena itulah, sebelum Konferensi inipun kita terus menerus mengefektifkan koordinasi, baik pada tingkat nasional: pemerintah dengan civil society, pada tingkat daerah: antar aparat, pemerintah dengan lembaga swadaya masyarakat. Pendek kata, dengan Konferensi inipun kerjasama atau koordinasi nasional kita tingkatkan, tetapi juga kerjasama dan koordinasi antar negara juga akan kita tingkatkan.

W:

Pak Presiden, pertanyaan dari saya, pertama, saya ingin ketegasan dari pemerintah Indonesia apakah dalam Paris Club nanti akan meminta penundaan pembayaran hutang ataupun debt rescheduling? Kedua, saya ingin tahu apakah pemerintah bermaksud mengangkat status darurat sipil di Aceh untuk memperlancar rebuilding efforts? Ketiga, bagaimana dalam pandangan Bapak upaya untuk merehabilitasi kepemilikan-kepemilikan swasta, masyarakat yang kehilangan dokumentasinya atas properti yang hancur di Aceh dan Sumatera Utara? Terima kasih.

SBY:

Pertama, inisiatif untuk sebuah moratorium hutang, apakah rescheduling, pengurangan dan lain-lain justru datang dari negara-negara donor, Inggris, Italia, Jerman, dan bahkan Perdana Menteri Koizumi dalam sambutannya tadi juga mengajak dan memelopori bagaimana sebuh moratorium hutang dilaksanakan. Dan tentunya sesungguhnya bukan berasal dari kita, dari Indonesia. Atas inisiatif yang barangkali menjadi salah satu solusi untuk Indonesia memiliki kapasitas yang lebih besar lagi dalam rehabilitasi dan rekonstruksi, tentu kita menyambut secara positif dan tentunya perlu dilaksanakan pembicaraan yang seksama, tepat, proporsional. Dengan demikian, di satu sisi bisa membantu langkah-langkah kita secara nasional mengatasi masalah ini dan di sisi lain tetap pada upaya besar kita untuk membangun ekonomi kita ke depan.

Kedua, sebenarnya tidak ada kaitan langsung atau tidak ada hal-hal yang menghalangi langkah-langkah kemanusiaan, tindakan tanggap darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi, karena status darurat sipil yang ada di Aceh. Bahkan saya menggarisbawahi ketika saya berada di Lhokseumawe, di Banda Aceh, di Meulaboh, mari kita berorientasi, berkonsentrasi pada upaya tanggap darurat, penyelamatan saudara-saudara kita, rehabilitasi dan rekonstruksi, sambil sesungguhnya saya menyerukan kepada pihak yang berbeda, terutama mereka-mereka yang mengangkat senjata, untuk mari kita jadikan momentum yang penting ini mengakhiri konflik, mencari solusi sebaik mungkin, dengan otonomi khusus yang ada, kita bersatu untuk menyelamatkan saudara-saudara kita di Aceh, memulihkan dan membangun kembali di Aceh.

Saya belum mendapat laporan dan pengamatan saya di lapangan sesungguhnya tidak perlu hambatan apapun karena status darurat sipil ini untuk langkah-langkah kemanusiaan, langkah-langkah sosial dan langkah-langkah rehabilitasi serta rekonstruksi.

Tentang warga sipil yang kehilangan propertinya dalam musibah ini, kita akan laksanakan konsolidasi, kita laksanakan inventarisasi secara utuh, tidak boleh grasa-grusu atau asal saja, tetapi cermat dengan tujuan rehabilitasi dan rekonstruksi mempertimbangkan semua aspek, termasuk saudara-saudara kita yang sangat menderita karena hilangnya tempat tinggal, properti dan lain-lain. Tentu kita akan tabah, kita rencanakan sesuai rencana utuh kita untuk rehabilitasi dan rekonstruksi.

W:

Dari pertemuan hari ini apakah sudah diketahui negara-negara mana yang menjanjikan untuk memberikan debt moratorium dan jumlahnya berapa? Kedua, untuk grant atau hibah, negara-negara mana dan jumlahnya berapa untuk negara-negara yang terkena dampak tsunami dan untuk Indonesia? Kira-kira totalnya kita dijanjikan berapa?

SBY:

Konferensi baru berakhir beberapa menit yang lalu, baru saja para pemimpin menyampaikan komitmennya, pledge-nya, bantuannya. Kita dengar tadi Perdana Menteri Jepang akan memberikan moratorium. Saya bicara dengan PM Tony Blair 2 hari yang lalu. G-8 juga paling tidak akan membahas tentang moratorium ini. Tentunya sudah ada komitmen berapa bantuan untuk negara-negara yang kena musibah, tetapi lebih baik saya minta pihak kita, dalam hal ini Kepala BAPPENAS, Menko Perekonomian untuk mengkoordinasikan secara baik, mencatat secara seksama, catatan hingga hari ini seperti apa dengan jumlah berapa yang dikontribusikan oleh negara-negara lain terhadap semua negara, karena masih akan berlanjut pertemuan itu di Eropa.

Dengan demikian, tidak tepat kalau dalam konferensi pers sekarang ini saya sudah menyatakan secara definitif gambaran moratorium itu, pledge dari negara mana saja dan jumlahnya. Tetapi saya akan sampaikan secara transparan untuk diketahui rekan-rekan wartawan, rakyat Indonesia. Ini adalah momentum yang penting bahwa satu rupiahpun, satu dolarpun harus transparan, akuntabel, dan tidak ada ruang apapun untuk terjadinya penyimpangan.

Saya mengundang civil society, masyarakat luas, Government Watch, Transparansi Indonesia, dan pihak-pihak lain untuk memastikan bahwa kontribusi dari dunia ini betul-betul diarahkan untuk membantu saudara-saudara kita yang terkena bencana, membantu rekonstruksi dan rehabilitasi.

W:

Apakah semua bantuan dan pledge yang diberi oleh pemimpin negara dan internasional cukup untuk memenuhi kebutuhan kemanusiaan dan rehabilitasi di Aceh dan sekitarnya? Apakah Bapak yakin, karena tadi Kofi Annan juga menyinggung hal ini, bahwa yang penting saat ini adalah pledge akan dikucurkan, bukan hanya omongan, tapi benar-benar jadi?

SBY:

Yang kedua, apakah pledge yang disampaikan para pemimpin dunia hari ini betul-betul diberikan, betul-betul diwujudkan, tentu ini merupakan kredibilitas, promise is promise tentunya, dan kita harapkan ada mekanisme. Saya berharap, PBB, World Bank dan organisasi internasional lainnya, ASEAN, memastikan betul apa yang telah menjadi pledge hari ini betul-betul dapat diwujudkan. Itu yang pertama.

Yang kedua, apakah cukup? Cukup tidak cukup tentunya terpulang kepada negara masing-masing. Indonesia, kami bertanggung jawab untuk melaksanakan rehabilitasi dan rekonstruksi secara domestik. Apapun kami harus memobilisasi apa yang kami miliki karena barangkali bantuan tidak cukup lantas menghalangi upaya kami untuk mengatasi masalah dalam negeri kami. Tetapi tentunya besarnya kerusakan di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dalam hitungan angka yang cukup besar tentunya kontribusi dari masyarakat dunia sangat membantu.

Bagi saya, selaku Presiden Republik Indonesia, akan saya padukan terutama potensi dalam negeri sendiri, resources kita sendiri, untuk mengatasi masalah kami sendiri dengan kebersamaan, dan tentunya bantuan negara sahabat menjadi bagian dari itu semua.

W:

Could you shed some lights on the early warning system, how best do you think this system can be implemented and what problems do you foresee in setting up such a system in this part of the world? Thank you, Mr. President.

SBY:

The early warning system that we need is not only talking about the instrument, technology, information capability, but actually we have to prepare more. We are talking about education, we are talking about socialization, we are talking about coordination and information sharing and of course we are talking about the installation of instruments and equipment needed to make sure that in the Indian Ocean we have a mechanism, a system that can detect as early as possible the possible tsunami and quake.

I am glad to tell you that countries like China, Japan, the Republic of Korea have offered me to assist not only Indonesia but other countries that are vulnerable to the quake and tsunami to build a system that we need. That’s my view on the importance of building such kind of system. And of course Indonesia will do our best to improve our education, our system and mechanism, and also enhance our capacity for the early warning system.

W:

Bapak Presiden, bagaimana prospek kerjasama antara Indonesia dan negara-negara yang tidak ikut serta sepenuhnya dalam Konferensi ini? Apa isi pembicaraan telepon kemarin dengan Presiden Rusia Vladimir Putin? Terima kasih.

SBY:

Sebenarnya di samping para pemimpin dunia yang hadir dalam Konferensi ini banyak sekali pemimpin dunia di Eropa, Asia, di tempat lain yang juga ingin berkontribusi, ingin memberikan bantuan kepada negara-negara yang terkena bencana. Sebagai contoh, Saudara mengangkat Presiden Putin dari Rusia. Dua hari yang lalu saya melaksanakan pembicaraan telepon dengan Presiden Putin dan beliau mengatakan bahwa meskipun tidak hadir dalam Konferensi ini, tetapi beliau mengirimkan utusannya untuk memantau apa yang dibahas dalam Konferensi ini.

Negara seperti Rusia, seperti negara-negara yang lain juga ingin berkontribusi dan memberikan kerjasamanya secara proporsional. Segera setelah ini tentu harapan saya, PBB, Chairman of the ASEAN, atau saya sendiri sebagai Presiden Republik Indonesia tentu berkewajiban untuk berkomunikasi lebih lanjut dengan negara-negara lain yang juga memberikan kepeduliannya.

Dalam waktu dekat saya akan mengutus menteri untuk berkunjung ke Eropa untuk membahas lebih lanjut kerjasama lanjutan sesuai pula dengan kepedulian dan permintaan negara-negara sahabat tersebut.

W:

Ke depan secara konkrit apakah pemerintah sudah membuat perhitungan mengenai untung ruginya atau positif negatifnya merehabilitasi kota Banda Aceh khususnya dan mungkin kota-kota lain seperti Meulaboh dibandingkan dengan merelokasi dilihat dari berbagai aspek seperti biaya, infrastruktur maupun dari segi psikologis warganya? Terima kasih.

SBY:

Pertanyaan yang bagus. Setelah saya melihat secara seksama, ingat Saudara-saudara, hari ke-2 saya sudah berada di Lhokseumawe karena hari pertama saya di Jayapura langsung terbang sehingga saya sampai di Aceh baru hari ke-2. Kemudian hari ke-3 saya di Banda Aceh, hari ke-6 saya di Meulaboh dan di Banda Aceh. Saya terbang melalui udara dan saya mempelajari foto demi foto, laporan demi laporan, sesungguhnya yang harus kita lakukan adalah membangun kembali Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Bukan hanya sekedar memperbaiki kerusakan di Meulaboh, Banda Aceh, Lhokseumawe, Calang, dan tempat-tempat yang terkena bencana.

Oleh karena itu saya sudah memanggil para pakar dan saya akan mengajak semua, LIPI, universitas dan lain-lain untuk bersama-sama memikirkan bagaimana membangun kembali Aceh, tata ruangnya, tata kotanya, infrasturkturnya, bagaimana tempat-tempat baru lebih aman terhadap serangan tsunami ataupun earthquake.

Terbang dari Banda Aceh ke Meulaboh, garis pantai sudah berubah, jalan-jalan sudah putus, hampir jembatan semuanya rusak. Oleh karena itu, bukan hanya membangun kembali di tempat yang sama, tetapi barangkali harus dipikirkan kembali apakah bergeser kota-kota yang hendak kita bangun.

Oleh karena itu, ini tidak boleh gopoh, planning-nya harus benar, tata ruangnya harus benar, tahapannya harus benar, biayanya harus tepat. Dengan demikian, sekali kita melaksanakan rekonstruksi maka kita pastikan saudara-saudara kita di Aceh lebih memiliki jaminan keamanan terhadap bencana-bencana itu. Itulah yang sedang kami susun dan tentunya sekali lagi kami ingin melibatkan semua, kita melibatkan saudara-saudara di Aceh sendiri, LSM di Aceh, tokoh-tokoh masyarakat Aceh untuk memikirkan pembangunan kembali Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

Terima kasih, Saudara-saudara. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.



--------------------------------------------------------------------------------


Jakarta, 11 Januari 2005

Direktorat Informasi dan Media
Departemen Luar Negeri RI


EMBASSY OF THE REPUBLIC OF INDONESIA
8 Darwin Avenue, Yarralumla, Canberra, A.C.T. 2600
AUSTRALIA
Tel. +612 6250 8600, Fax. +612 6273 6017

______
Related:

- Opening Remarks by President of Republic of Indonesia: the ASEAN Leaders’ Special Meeting On Aftermath of Earthquake and TsunamiAD And North Sumatra
- Closing Remarks by President of Republic of Indonesia: the ASEAN Leaders’ Special Meeting On Aftermath of Earthquake and TsunamiAD And North Sumatra
- Declaration on Action to Strengthen Emergency Relief, Rehabilitation, Reconstruction and Prevention on the Aftermath of Earthquake and Tsunami Disaster of 26 December 2004
- Press Briefing Dr. Susilo Bambang Yudhoyono, President of the Republic of Indonesia at the Press Conference the Special ASEAN Leaders' Meeting on Aftermath of Earthquake and Tsunami