Keterangan:
T: Wartawan
J: Jubir I Deplu
Jubir I Deplu:
KTT Khusus Pemimpin ASEAN mengenai Dampak
Gempa Bumi dan Tsunami yang akan diadakan di
Jakarta tanggal 6 Januari 2005 mendatang, jika
rekan-rekan setuju, saya akan membagi Press
Briefing ini ke dalam 2 sesi. Yang pertama,
mengenai informasi tentang KTT itu sendiri,
dan kedua mengenai hal-hal yang berkaitan dengan
Media Arrangement, pengaturan media coverage
pada KTT itu sendiri.
Special ASEAN Leaders Meeting on Aftermath
of Earthquake and Tsunami akan diselenggarakan
di Jakarta, khususnya di JCC pada tanggal 6
Januari 2005 mendatang. Hingga saat ini, kita
telah mengundang sejumlah negara, dari seluruh
negara ASEAN telah diundang dan bahkan telah
ada konfirmasi praktis dari seluruh negara ASEAN
akan hadir kepala negaranya dan kepala pemerintahannya,
meskipun masih ada yang harus dikonfirmasikan
pada hari ini.
Di samping itu, kita mengundang beberapa negara
non-ASEAN antara lain China, Jepang, Korea Selatan
telah diundang. Juga India, Sri Lanka dan Maladewa
sebagai tiga negara yang juga menjadi korban.
Selain itu, ada Australia, Selandia Baru, Amerika
Serikat, Kanada, Uni Eropa dan Komisi Eropa.
Dari negara-negara yang kami sebut tadi yang
sudah konfirmasi hingga sore hari ini adalah
kehadiran Premier China, PM Jepang, PM Korea,
Menlu India, Menlu Sri Lanka, Presiden Maladewa,
PM Australia, PM New Zealand, Menlu AS dan Gubernur
Florida Jeff Bush, dan juga menteri yang mewakili
EU Presidency yaitu Luxemburg.
Di samping itu kita juga mengundang sejumlah
organisasi internasional yang kunci, terutama
PBB, dan bahkan kali ini kita akan menjadi tuan
rumah bagi kedatangan Sekjen PBB Bapak Kofi
Annan. Kemudian kita juga telah memperoleh konfirmasi
kehadiran Dirjen WHO, bahkan beliau telah di
sini dan pagi hari ini beliau telah mengadakan
pertemuan dengan Menlu. Kemudian kehadiran Executive
Director UNICEF, President Director World Bank,
Presiden ADB (Asian Development Bank) dan tentunya
juga wakil dari ASEAN Secretariat.
Di samping itu, ada sejumlah negara yang dikategorikan
sebagai negara peninjau, observer yang telah
diundang dan akan hadir pada tingkat Menteri
antara lain Belanda, Denmark, Inggris. Khusus
mengenai Inggris bukan hanya sebagai negara
Inggris tetapi juga sebagai Presiden G-8. Kemudian
ada Norwegia, Swedia, dan Timor Leste juga termasuk
negara-negara peninjau yang akan mengirimkan
wakil pada tingkat Menteri.
Selanjutnya mengenai program of work saya ingin
sampaikan bahwa besok tanggal 5 Januari akan
mulai diadakan pertemuan informal SOM yaitu
pejabat tinggi, sifatnya sangat informal karena
ini merupakan KTT yang sifatnya khusus, sehingga
tidak ada rangkaian persiapan seperti yang lazimnya,
tetapi tetap akan ada pertemuan informal SOM
yang diselenggarakan besok pada pukul 3 sampai
5 sore di Hotel Mulia. Kemudian juga ada informal
dinner oleh para menteri yang diundang oleh
Menteri Luar Negeri Bapak Hassan Wirajuda.
Sementara, kegiatan utama Konferensi adalah
pada hari Kamis 6 Januari 2005. Intinya akan
dimulai pada pukul 09.00 pagi hari kamis. Dimulai
dengan Opening Remarks oleh Bapak Presiden.
Sebenarnya dimulai dengan Minutes of Silence,
dengan mengheningkan cipta, dilanjutkan oleh
Opening Remarks oleh Bapak Presiden, kemudian
Keynote Remarks oleh Laos sebagai Ketua ASEAN,
dilanjutkan oleh Singapura selaku salah satu
negara penggagas Konferensi ini, dan oleh Sekjen
PBB
Selanjutnya akan ada presentasi oleh negara-negara
yang terkena mengalami musibah ini yaitu Indonesia,
Thailand, Myanmar, Malaysia, Sri Lanka, India
dan Maladewa masing-masing kurang sepuluh menit
mengenai apa yang telah terjadi dan rencana
mereka ke depan untuk mengatasi keadaan ini.
Selanjutnya Konferensi akan dilanjutkan dengan
format pernyataan pembacaan statement oleh negara-negara
lain yang belum menyampaikan pernyataan dan
akan berlanjut sampai kurang lebih pukul 5 sore,
di mana diharapkan pada akhir persidangan akan
ada pengesahan Joint Declaration, Deklarasi
Bersama, sebagai hasil KTT Luar Biasa ASEAN
ini.
Saya belum dalam posisi untuk mengindikasikan
isi dari Joint Declaration karena KTT-nya sendiri
belum terjadi, tetapi saya dapat menginformasikan
bahwa secara umum pendekatan kita adalah pendekatan
action oriented. Kita ingin KTT ini menghasilkan
langkah-langkah konkrit, khususnya di tiga bidang
atau tiga fase, yakni fase emergency relief
(tanggap darurat), fase reconstruction and rehabilition
dan fase terakhir yaitu mitigation and prevention.
Di bawah setiap payung fase-fase itu kita ingin
mengindentifikasi sejumlah langkah-langkah konkrit
yang akan dihasilkan oleh KTT ini.
Dari kami sepanjang yang menyangkut substansi/program
saya ingin cukupkan sekian dulu, saya tidak
ingin terlalu panjang. Kalau mungkin saya ingin
menerima beberapa pertanyaaan, sebelum kemudian
kita beranjak ke masalah administrative arrangement.
Silahkan.
T:
Beberapa waktu lalu disebutkan bahwa salah
satu yang digagas dalam Summit nanti adalah
mengenai dibentuknya early warning system dalam
hal menangani masalah bencana. Mungkin bisa
dijelaskan lebih lanjut apakah sejauh ini telah
ada poin-poin yang akan disepakati dalam Summit
nanti?
J:
Betul bahwa konsep early warning system akan
muncul di benak Indonesia. Tadi saya jelaskan
ada konsep fase emergency relief, kemudian fase
reconstruction and rehabilitation, dan yang
ketiga adalah prevention dan mitigation. Gagasan
tentang adanya early warning system kita bayangkan
akan tampil pada fase yang ketiga, prevention
and mitigation. Yang dibayangkan oleh Indonesia
adalah semacam Indian Ocean Tsunami Early Warning
System.
Tetapi, di samping yang sifatnya mencakup seluruh
kawasan atau negara-negara pantai dari Samudera
Hindia, kita juga membayangkan adanya pembentukan
berbagai kerjasama dalam kerangka ASEAN sendiri.
Saya ingin meminta teman-teman untuk mempelajari
atau melihat dokumen ASEAN tentang ASEAN Security
Community Plan of Action dan ASEAN Socio-cultural
Plan of Action. Di sana, antara lain ada konsep
ASEAN Humanitarian Assistance Center, juga ada
konsep utilizing military and civilian personnel
dalam disaster relief operation. Juga ada ASEAN
Disaster Information and Communication Network.
Ini semuanya sudah ada dalam buku ASEAN, dalam
ASEAN Socio-cultural community dan ASEAN Security
Community. Kita ingin melalui Konferensi ini
ada momentum baru untuk mendorong pembentukan
konsep-konsep tadi itu.
T:
Adanya usulan untuk pembentukan Special Fund
dalam rangka mendanai program recovery dan rehabilitasi
negara-negara yang menjadi korban tsunami, apakah
dalam Konferensi nanti [inaudible]?
J:
Betul. Anda ketahui tanpa adanya pembentukan
Special Fund pun dalam kenyataanya hari demi
hari kita telah melihat adanya mobilisasi dana
dan daya sumber daya dari negara yang pledges-nya
telah diterima oleh PBB. Yang kita ingin lakukan
melalui proses Konferensi ini adalah memastikan
agar sumber daya dan sumber dana yang telah
terkumpul ini atau paling tidak dijanjikan ini,
benar-benar direalisasikan dengan cara sesuai
dengan kebutuhan negara-negara yang mengalami
musibah. Jadi jangan sampai ada ketidakserasian
antara yang dijanjikan dan diberikan oleh negara-negara
donor dengan yang dibutuhkan oleh negara-negara
yang membutuhkan. Oleh karena itu timing dari
Konferensi ini sangat strategis karena kita
yang terdepan untuk memastikan segala bentuk
kepedulian ini benar-benar diwujudkan dalam
bentuk yang sesuai dengan kebutuhan kita dan
negara-negara yang mengalami musibah ini .
I hadnt spoken in English just now, I
am not sure whether I need to say a few words.
Mohon ijin saya menyampaikan beberapa kalimat
dalam bahasa Inggris kepada rekan-rekan yang
tidak berbahasa Inggris.
I was just saying very briefly just now giving
an outline about the program that we will have
for 6 January 2005. I have mentioned the countries
that have been invited namely ASEAN countries,
and also from the Plus Three countries --Japan,
South Republic of Korea, and China-- and also
other countries such as the US, New Zealand,
Australia, the European Union, the European
Union Presidency, and of course the UN Secretary
General will be there. This is a sort of great
[honor] that we welcome the presence of the
Secretary General.
We have now a head of us an intensive program
of activities on 6 January, beginning with obviously
Opening Statement by Indonesia as the chair/host
of the Meeting, and we will hear presentations
by the countries affected by the Tsunami, namely
three ASEAN countries --Indonesia, Malaysia,
Myanmar-- and also we will hear presentations
by India, Sri Lanka and the Maldives on the
situation.
We plan to have a Joint Declaration adopted
as the result of the Summit. The Joint Declaration
is obviously sealed to be worked out, but the
basic approach that we will be adopting is an
action oriented results. This is not one of
those gatherings which result in fine words,
good intentions, and yet not actually delivered.
We are now at this time still witnessing and
likely to witness for many months to come great
hardship and it would be responsible of us to
convene a summit which results only in nice
words. So, we are making sure that the outcome
will be action oriented in terms of emergency
relief, reconstruction and rehabilitation, and
mitigation and prevention of recurrence of such
disaster in the future.
Ada pertanyaan lagi.
T:
Is the emphasis right now on prevention or
on the [inaudible]?
J:
Obviously at this time the emphasis is on the
emergency relief. And it can only be that because
we are seeing in all this areas situation of
extreme hardship. But what Indonesia is doing
by having this Conference and by having these
three elements, presented in a level of playing
fields, now having emergency relief program,
rehabilitation and reconstruction and prevention
and mitigation, discussed all on at the same
time, we want to be sure that the international
concern, attention and the like on this conference
go beyond the normal emergency faced spirit.
So there should be a medium and long term interest
and concern to ensure those affected by this
tragedy continue to be assisted down the years.
We were informed actually earlier today that
the earthquake and Tsunami on 26 December took
place exactly one year after the Bam earthquake
in Iran. And we remember then how that particular
earthquake also generated a great deal international
sympathy and out boring of support and various
commitment and pledges.
We would like to learn from the experience
of how the international community responded
to the Bam earthquake to make sure for example
that various pledges that we have been hearing
just now on the occasion of the Tsunami disaster
actually is realized. Thats why it is
very important for the countries of the region
and those immediately affected be the one actually
defining what actually needed, not only for
now but also in the medium and long term as
well.
T:
How long will the conference actually last?
J:
Just one day.
T:
Sebelum SOM mungkin ada meeting antara [inaudible]?
J:
Tentunya ada sejumlah pertemuan bilateral yang
sudah dirancang termasuk pertemuan Menteri Luar
Negeri nanti malam pukul 7.30 dengan Menlu AS
Collin Powell. Saya juga ketahui ada rencana
pertemuan Bapak Presiden dengan Perdana Menteri
Howard, Perdana Menteri Jepang. Selain itu saya
belum memiliki catatan pertemuan bilateral lain
yang direncanakan, tapi Anda bisa bayangkan
bahwa pada KTT seperti ini negara-negara ingin
memanfaatkan kesempatan untuk melakukan pertemuan
bilateral. Kalau Anda berkenan pada waktunya
kita akan terus meng-update di mana dan kapan
pertemuan bilateral dilangsungkan seandainya
teman-teman ingin meliput dapat melakukannya
dengan baik, insya Allah.
T:
Pak Marty, saya ingin klarifikasi mengenai
pernyataan wakil Israel [inaudible]. Pertama,
apakah pihak Israel sudah mengkonfirmasi itu
kepada Pemerintah Indonesia? Kedua, bagaimana
sikap Pemerintah Indonesia terhadap bantuan
tersebut?
J:
Tidak ada komunikasi resmi antara Indonesia
dengan yang menamakan dirinya Pemerintah Israel,
karena tidak ada hubungan diplomatik antara
kedua negara. Oleh karena itu, konsep atau wacana
tentang bantuan itu perlu dilihat dari konteks
tidak ada hubungan diplomatik. Yang bisa dikedepankan
di sini adalah mungkin bantuan doa dari mereka.
T:
[inaudible]
J:
Betul. Saya ketahui bahwa pihak PBB semula
pada tanggal 6 Januari akan mengadakan flash
appeal, pertemuan di New York untuk menggalang
dana. Tapi dengan adanya pertemuan di Jakarta,
maka mereka memberikan prioritas kepada upaya
yang dilakukan oleh negara-negara kawasan sehingga
appeal ini mungkin saya tidak bisa bicara
atas nama Sekjen PBB-- akan diutarakan pada
pertemuan di Jakarta nanti.
Tapi akan kita lihat nanti realisasinya karena
faktanya tanpa ada special fund atau special
appeal-pun telah ada pledges, janji-janji dari
masyarakat internasional. Tetapi kita memerlukan
payungnya dan bagaimana pemanfaatannya. Oleh
karena itu Konferensi internasional ini penting
untuk memberikan payung oleh dan untuk kawasan
dan negara-negara yang mengalami bencana ini
dan bukan sesuatu yang dirancang oleh pihak
luar yang mungkin ada mismatch antara kebutuhan
dan apa yang ditawarkan oleh mereka.
T:
Apakah akan dibentuk suatu institusi baru untuk
itu?
J:
Mengenai fund kita tidak bisa mendahului. Akan
dilihat bagaimana perkembangan pembahasannya
besok, apakah ada special fund, apakah ada UN
Special Representative. Tentunya kita belum
tahu apakah ada kesamaan pandangan antara negara-negara
yang mengalami musibah mengenai bagaimana cara
yang terbaik untuk mengatasi musibah itu. Mungkin
ada negara yang penekanannya tidak 100% sama
dengan negara yang lain.
T:
Pak Marty, di antara yang hadir nanti ada negara-negara
donor dan kebetulan yang menjadi korban adalah
negara berkembang. Apakah akan membicarakan
masalah debt moratorium atau debt swap? Bagaimana
posisi Indonesia terhadap tawaran-tawaran yang
berasal dari anggota Paris Club?
J:
Faktanya pasca musibah Tsunami ada sejumlah
negara atas inisiatif mereka sendiri sudah mulai
mempertimbangkan kemungkinan peringanan beban
hutang negara-negara yang mengalami musibah,
bukan atas inisiatif Pemerintah Indonesia.
Pemerintah Indonesia pada saat ini sedang mencoba
mengklarifikasi atau memperoleh informasi dari
negara-negara itu, konsep apa yang sebenarnya
mereka bayangkan untuk meringankan hutang ini.
Pada KTT ini masalah ini mungkin akan dibahas
pula. Kita akan lihat bagaimana perkembangannya
karena relevansinya ada, dalam arti kata seandainya
ada langkah-langkah untuk meringankan beban
hutang negara-negara yang terkena musibah ini
diadakan, bisa memberikan peluang kepada mereka
untuk konsentrasi kepada masalah-masalah rekontruksi
dan rehabilitasi dengan lebih baik. Jadi memang
ada potensi linkage, tapi kita lebih dalam posisi
ingin mendengar inisiatif-inisiatif ini.untuk
kita kembangkan ke depan.
T:
Mengenai early warning system mungkin bisa
diulang dalam bahasa Inggris?
J:
The way the Indonesian Government sees the
challenges before us is to divide the responses
into three phases. The first phase is emergency
relief phase, within which we are now very much
in, the second phase is reconstruction and rehabilitation
phase, and the third phase is mitigation and
prevention.
Under the mitigation and prevention stage,
we foresee the possibility of the establishment
of a Regional Early Warning System, such as
a Regional Tsunami Warning Center in the Indian
Ocean. We are aware for example, that such an
early warning system is to be found in more
advanced states in the Pacific area. But obviously
we learn to our great cost that its absence
in the Indian Ocean area has been particularly
disadvantages to all of us. So Indonesia will
certainly be pushing for the realization of
such a Tsunami early warning center for the
Indian Ocean as a whole.
In addition to that we will be working together
with our ASEAN friends to rely some other regional
level mechanisms, which are also in line with
dealing with prevention of recurrence of such
disaster.
T:
You have the UN to organize this, you have
United States working with other countries,
you have these efforts work together. Do you
have too many people in organizing this?
J:
In a way, though, its a happy situation
because it shows that everyone is mobilized,
everyone wants to do the right thing. But, even
such a happy phenomenon can be less then advantages,
if it results in lack of coordination and mismatch
between needs and actual offers of assistance.
This is what makes this particular Conference
particularly strategic because it gives the
regional perspective, the perspective of the
affected countries to be able to share and inform
those with well intention what are the actual
situation is on the ground and what the actual
needs are so that the well intention, assistance,
offer of support actually matches the actual
needs on the ground.
I think we should not be too troubled by the
existence of the several forums, several processes
going on at the same time to address the disaster.
Its just at this time we are trying to
consolidate, to have a proper channeling of
aid, assistance, technical assistance, financial
assistance. This Conference, we hope, will be
the beginning of that cleaning up to rationalization
of the whole aid effort. It would be far more
disquieting if we were not to have this magnitude
of offer of assistance. If the international
community had not responded, then we would have
really been worried. But the situation that
you described just now is not 100% a happy one,
but is far better than if there were to be no
response at all.
T:
[inaudible}
J:
Mungkin yang kedua dulu, saya belum menyatakan
bahwa ada kesepakatan dari negara manapun juga
untuk mendanai early warning system untuk kawasan
Samudera Hindia. Ini baru gagasan Indonesia.
Ada pemikiran Indonesia agar dibentuk tsunami
early warning system untuk kawasan Indian Ocean.
Ini yang akan kita coba perjuangkan ke depan
sebagai pengalaman dari musibah yang telah kita
alami. Tetapi belum ada komitmen atau tanggapan
dari pemerintah manapun juga tentang gagasan
itu.
Khusus mengenai payung, jelas namanya Special
ASEAN Leaders meeting. Sebelum pertemuan ini
kita mengetahui ada konsep dari Amerika Serikat,
core group countries, untuk membantu penanggulangan
bencana tsunami ini, kemudian juga ada upaya
yang dilakukan dalam kerangka PBB. Ini yang
kita maksud dengan payung. Kita sekali lagi
ingin mengambil inisitif untuk memastikan adanya
keserasian antara bantuan yang ditawarkan dengan
bantuan yang sebenarnya dibutuhkan, dan yang
paling mengetahui mengenai kebutuhan itu adalah
negara-negara yang menjadi korban bencana itu
dan negara-negara kawasan. Oleh karena itulah
kita mencoba mencari keserasian, convergence,
antara dua pihak itu karena kalau tidak, walaupun
ada well intentions bisa saja terjadi ketidakefesienan
dalam penyaluran bantuan itu.
T:
Tadi ada istilah dari Pak Hassan soal Angkatan
Bersenjata ASEAN dan [inaudible]. Itu atas inisiatif
siapa dan bentuknya seperti apa? Apa hanya untuk
bencana saja atau bagaimana?
J:
Sebenarnya ini inisiatif Indonesia yang sekarang
sudah tercerminkan ke dalam ASEAN Security Community
Plan of Action. Sewaktu kita memperjuangkan
ASEAN Security Community Plan of Action, termasuk
gagasan perlunya standby arrangement for utilizing
military and civilian personnel in disaster
relief operation, ada yang mempertanyakan buat
apa kita membuat semacam ASEAN standby force
untuk menanggulangi masalah humanitarian relief,
humanitarian operation, natural disaster. Inilah
contohnya.
Jadi sebenarnya dengan adanya konsep itu, syukur
alhamdulillah sudah kita miliki, sudah ada dalam
ASEAN Security Community. Dengan adanya musibah
ini, minimal kita harus memberikan tekanan yang
lebih baik terhadap konsep ini supaya kita bisa
segera realisasikan.
Jadi, di benak Indonesia adalah adanya semacam
standby arrangemen. Misalnya negara-negara ASEAN
telah menjanjikan bahwa ada sejumlah military
and civilian personnel yang setiap saat bisa
digelar sesuai kebutuhan. Seandainya tanggal
26 Desember 2004 terjadi musibah, kalau kita
telah ada konsep special arrangement ini, kita
tinggal dengan mudah mengangkat telepon, mengaktifkan
mekanisme ini dan dalam hitungan jam kita telah
bisa membayangkan adanya ASEAN humanitarian
force untuk membantu relief operation.
Tetapi sekarang kan tidak. Secara sporadic.
Singapura memberikan bantuan ke wilayah tertentu
di Aceh, negara-negara lain juga memberikan
bantuan. Tetapi seandainya itu semua telah ada,
kita punya pilihan di samping yang sifatnya
bilateral, kita telah ada standby arrangement.
Bukan standby force. Kalau standby force artinya
sudah dikumpulkan, misalnya dari Indonesia 5
orang dan dari Singapura 3 orang, semua sudah
berkumpul di satu titik. Bukan standby force
tetapi standby arrangement, pengaturan yang
telah siap. Itu yang kita maksud. Tidak intrusive.
Setiap negara telah memberikan komitmen untuk
menyiapkan trained military personnel, trained
civilian personnel, untuk menghadapi humanitarian
crisis yang setiap saat bisa dimanfaatkan bagi
negara yang menginginkannya, bukan dipaksakan
tetapi seandainya negara itu menginginkannya
bisa diminta bantuannya.
T:
Ada berapa kepala negara yang sudah confirm
akan datang ke Aceh dan apakah ide tsunami early
warning system belum sama sekali ditanggapi
oleh negara lain atau negara-negara yang menjadi
korban sudah menanggapi?
J:
Saya belum mendengar tanggapan yang sifatnya
regional, tetapi saya pernah mendengar, kalau
saya salah mohon dikoreksi, bahwa India ada
maksud untuk membangun kapasitas early warning
bagi negaranya. Tetapi maksud kami di sini adalah
yang sifatnya regional, minimal kalau sifatnya
nasional antara sistem-sistem nasional itu harus
ada semacam networking sehingga secara bertahap
terbangunlah konsep regional.
Tapi untuk memberikan wujud yang nyata bagi
konsep ini di benak kita adalah konsep center
itu sendiri. Jadi secara fisik diperlukan early
warning center untuk mengantisipasi kemungkinan
adanya tsunami di masa mendatang.
T:
[inaudible]
J:
As I was saying just now actually this idea
is already in the books, it is already in the
ASEAN Plans of action in regard to the ASEAN
Security Community Plan of Action. This is something
that already been adopted only last October
by ASEAN leaders. Because its already
an ASEAN thing, I can not single out one particular
country to be behind this concept, but simply
it is there, it is an ASEAN idea. All that needs
to be done is that we need to establish it.
Because it is already there in terms of concept
in the ASEAN Security Community Plan of Action.
By the way, that document is published and
available through in the ASEAN Secretariat office,
so you will be welcome to look at it.
T:
But [inaudible] emergency response?
J:
Absolutely yes. At least, the way Indonesia
proposed it then was to have ASEAN countries
designate or commit certain civilian and military
personnel for the purpose of alleviating or
addressing emergency operation. It is not a
standby force. Standby force implies that all
these elements, all these components would be
already in one command standby position. But,
what we say is a standby arrangement. It can
be simply a paper commitment, a commitment that
has been expressed, so it can be activated,
when it is required at a short notice. That
is certainly what we have in mind as far as
Indonesia is concerned, by having this kind
of an ASEAN standby arrangement of civilian
and military personnel to deal with emergency
situations, because then we will be able to
respond quicker.
But the key word here it shall be at the request
of the country concerned, so it is not ASEAN
that imposes this arrangement or this facilities
to anyone, but if the country affected would
like to have this operation taken advantage
of, they can do so.
Thats option is not there at the moment.
Thats why we have now again a vacuum of
an ASEAN respond, we have response by Indonesia,
response by individual ASEAN countries, we even
have responses by individual countries outside
ASEAN, far outside of the region, but we do
not have an ASEAN collective capacity to respond,
and this is the capacity that we are trying
to create through this ASEAN Security Community
Plan of Action of which speaks this standby
force.
T:
Sejauh ini siapa saja pimpinan negara yang
akan datang ke Aceh?
J:
Saya harus confirm mengenai itu. Yang saya
tahu, Sekjen PBB akan ke Aceh setelah KTT. Saya
harus confirm dulu siapa dan bagaimana karena
itu sangat faktual. Saya tidak ada datanya di
depan saya.
T:
Sejauh ini ada bantuan asing yang masuk. Adakah
negara asing atau lembaga asing yang komplain
kepada Indonesia karena arrangement-nya bisa
dibilang buruk? Di Satkorlap tidak bisa cari
data apa-apa. Kita saja mencari data korban
dan lainnya tidak dapat. Dan banyak sekali bantuan
yang mungkin menumpuk atau sistem arrangement-nya
kalau kita lihat agak kacau. Apakah ada komplain?
J:
Tidak.
T:
Tadi Pak Marty katakan, Singapura bergerak
sendiri, negara lain juga bergerak sendiri.
Saya lihat itu justru lebih bagus dibandingkan
jika di-arrange oleh Satkorlap, agak kacau.
J:
Mengenai yang kedua, saya tidak ingin terlalu
ekstrim kita beranggapan bahwa seolah-olah semua
harus centralized through certain [body]. Saya
tidak ingin sama sekali meremehkan atau mengecilkan
bahwa seolah-olah yang sekarang terjadi bukan
sesuatu yang baik. Sekarang, respons pemerintah
terhadap bantuan dari masyarakat internasional
yang telah dilakukan kita sampaikan, its
been magnificent, sangat, sangat luar biasa,
unprecedented. Sekjen PBB sendiri [mengatakan],
the original catastrophe memang sifatnya unprecedented,
responsnya pun unprecedented. Saya tidak ingin
sama sekali mengecilkan itu. Its been
fantastic, its been unprecedented, and
all that. Tapi kita ingin mengkomplemen. Tadi
waktu saya bicara tentang ASEAN mechanism, sifatnya
bukan mengambil alih. Tapi untuk menopang dan
mengkomplemen. Jadi ada yang global, tapi seyogyanya
ada juga yang nasional, bilateral, dan regional.
Mengenai koordinasi ke dalam sistem nasional,
tentu akhirnya mau tidak mau harus demikian.
Kalau tidak, akan ada mismatch. Bahkan waktu
Menteri Luar Negeri bertemu dengan Dirjen WHO
tadi pagi, Dirjen WHO menyampaikan akhirnya
yang paling mengetahui dalam menangani permasalahan
adalah national government-nya dan national
government-lah yang bisa memastikan tidak adanya
mismatch antara tawaran dan kebutuhan. Akhirnya
memang kita harus mengupayakan adanya matching-nya
itu. Tapi resikonya adalah adanya bottle neck,
tapi saya tidak pernah hingga saat ini mendengar
adanya komplain dari masyarakat internasional
dan dari pemerintah negara-negara sahabat tentang
bagaimana penanganan kita dalam emergency ini
karena justru mereka memahami bahwa ini adalah
extraordinary situation. Kita mencoba cope sebaik
mungkin, tidak perfect. Tapi memang tidak ada
satu negarapun yang bisa perfect dalam menangani
situasi seperti ini. Tapi paling tidak kita
mencoba untuk lebih baik, insya Allah, ke depan.
If there are no further questions as far as
the substantive issue is concerned, Id
like to acknowledge especially colleagues from
the Embassies who have been very patient to
[] this whole process because we will now enter
the second part of the briefing in relation
to the actual media arrangement for the Summit
which may be of the interest to the Embassy
officials who deal with information matters
and also of the interest to our reporters colleagues.
Saya akan menjelaskan, terutama Pak Lutfi,
tentang pengaturan. Lebih baik kita jelaskan
sekarang daripada besok atau lusa, supaya tidak
bingung mengenai situasinya.
Kita akan coba jelaskan tentang Media Arrangement
untuk persiapan KTT besok. Pak Lutfi silahkan.
Lutfi Rauf:
Terima kasih, Pak Marty atas kesempatan ini.
Untuk mempersingkat waktu saya ingin menyampaikan
bahwa dari awal kita berusaha memfasilitasi
liputan media untuk Konferensi ini dan sampai
saat ini kita sudah memproses ratusan wartawan,
baik media cetak maupun elektronik. Kita juga
sudah menyampaikan Media Advisory. Saya pikir
teman-teman sudah memilikinya. Kita mengirim
secara manual maupun dalam bentuk website.
Sebagaimana dikatakan bahwa kami berusaha untuk
memfasilitasi seluas mungkin liputan ini kepada
teman-teman media. Tapi at the same time kita
perlu mengingat keterbatasan tempat di sana
sehingga diperlukan pengaturan tertentu sehingga
liputan media terhadap event ini dapat dilaksanakan
dengan baik dan efektif.
Untuk informasi teman-teman, kita pada akhirnya
akan memberlakukan media pool karena besarnya
antusiasme dan perhatian teman-teman, at the
same time keterbatasan ruangan yang ada. Oleh
karena itu, untuk Opening Ceremony, kita akan
beri akses terhadap kameraman dan fotografer.
Sementara yang lain, reporters and the rest,
bisa observe atau follow the proceeding di Media
Center yang akan kita tampilkan CCTV.
Selanjutnya, untuk lebih detil lagi, event
yang bisa diliput pada Pembukaan adalah Opening
Session, di samping journalists yang kita tentukan
bisa meng-cover lewat pool, juga bisa diikuti
lewat CCTV di Media Center yaitu mulai dari
Minutes of Silence, Opening Address by the President,
Keynote Remarks dari Laos sebagai Chair dari
ASEAN Standing Committee, Singapura dan Sekjen
PBB.
Setelah itu kita mempersilakan teman-teman
wartawan untuk mengikuti proceeding selanjutnya
yaitu presentation dari berbagai negara yang
mengalami musibah ini di media center teman-teman
sudah bisa memiliki itu at the same time teman-teman
dapat memiliki gambarnya.
Pada akhir pertemuan tidak ada liputan untuk
Closing Ceremony karena waktu sangat mepet,
tidak ada waktu untuk mengatur itu sehingga
kita akan langsung mengadakan Press Conference
yang akan dilakukan oleh Bapak Presiden di Press
Conference Room. Dalam Press Conference Room
itu terbuka secara keseluruhan, baik reporters
maupun cameramen dan photographers. Tidak ada
Media Pool karena ruangannya available.
For our dear colleagues from the Embassies,
we have also arrangement of that. We are well
aware that. We are well aware of the official
photographers and cameramen that delegation
may wish to bring in. As I mentioned earlier,
we wish to accommodate as many as we can. But,
due to the limited space available, we need
to apply pool for that.
--------------------------------------------------------------------------------
Jakarta, 7 Januari 2005
Direktorat Informasi dan Media
Departemen Luar Negeri RI