
Duta Besar Republik Indonesia
Canberra ACT Australia
|
PELUANG DAN TANTANGAN
HUBUNGAN BILATERAL INDONESIA - AUSTRALIA*)
|
|
|
| |
|
|
| 1. |
Hubungan
bilateral Indonesia dan Australia tergolong hubungan
yang sangat unik, di satu sisi menjanjikan berbagai
peluang kerjasama namun di sisi lain juga penuh dengan
berbagai tantangan. Kondisi ini disebabkan oleh berbagai
perbedaan menyolok diantara kedua negara dan bangsa
bertetangga, yang terkait dengan kebudayaan, tingkat
kemajuan pembangunan, orientasi politik yang mengakibatkan
pula perbedaan prioritas kepentingan. |
| |
|
|
| 2. |
Tidak
dipungkiri, perbedaan-perbedaan tersebut akan menciptakan
berbagai masalah yang akan selalu mewarnai hubungan
kedua negara di masa-masa mendatang. Adalah naif, jika
ada yang berpendapat bahwa pada suatu titik hubungan
kedua negara akan tercipta sedemikian rupa sehingga
terbebas dari masalah. Sebaliknya data empiris menunjukkan
bahwa hubungan kedua negara memiliki kecenderungan yang
sangat fluktuatif, sehingga para pemimpin serta masyarakat
kedua negara dituntut untuk selalu siap dengan berbagai
solusi menghadapi setiap masalah yang muncul. |
| |
|
|
| II.
|
MEMBANGUN
KEMBALI SALING PERCAYA |
| |
|
|
| 3. |
Sejak
lepasnya Timor Timur dari Indonesia pada tahun 1999,
pemerintah kedua negara telah melakukan berbagai upaya
untuk mengatasi ketegangan hubungan yang ditimbulkan
dari 'campur tangan' Australia di bekas propinsi ke-27
Indonesia tersebut, dalam rangka mencapai suatu tahapan
hubungan yang sehat, dewasa, dan berkesinambungan. Buah
kerja keras ini ditandai oleh kunjungan Presiden Abdurrahman
Wahid ke Australia, bulan Juni 2001 yang diikuti oleh
kunjungan Perdana Menteri John Howard ke Indonesia,
bulan Agustus 2001. Pada kesempatan kedua kunjungan
tersebut, kedua belah pihak menggarisbawahi pentingnya
membangun rasa saling percaya dan saling pengertian
serta mengembangkan dialog guna memperkuat ikatan antar
dua bangsa. Kedua pemimpin juga menegaskan kembali keinginan
kuat untuk memperbaiki hubungan melalui berbagai kerjasama
di berbagai bidang. |
| |
|
|
| 4. |
Dalam
kunjungan ke-dua ke Indonesia (Februari 2002), Perdana
Menteri John Howard menyatakan bahwa Pemerintah Australia
akan selalu siap membantu Pemerintah RI keluar dari
krisis ekonomi sembari menegaskan dukungan penuh Pemerintah
Australia terhadap integritas dan keutuhan wilayah RI,
yang sekaligus mementahkan harapan sementara kalangan
yang mengharapkan dukungan Australia untuk memisahkan
diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Namun tidak dapat dipungkiri bahwa segelintir individu
di berbagai belahan dunia, dan kemungkinan juga di Australia,
beranggapan dan berharap agar Papua serta Aceh lepas
dari Indonesia, tanpa menyadari dampak politis dan instabilitas
keamanan yang akan ditimbulkan, terutama untuk kawasan. |
| |
|
|
| 5. |
Pemerintah
Australia menaruh perhatian besar terhadap setiap perkembangan
yang terjadi di Indonesia. Salah-satu indikatornya adalah
kedatangan Perdana Menteri John Howard bersama beberapa
Kepala Negara/Pemerintah negara sahabat pada tanggal
19 - 20 Oktober 2004 dalam rangka menghadiri pelantikan
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sesuatu yang baru
pertama kalinya terjadi sepanjang sejarah Indonesia.
Kunjungan tersebut merupakan kunjungan ke-sembilan John
Howard selama menjadi Perdana Menteri Australia. |
| |
|
|
| 6. |
Selain
pemerintah, berbagai kalangan di Australia juga menaruh
perhatian besar kepada Indonesia yang terlihat dari
berbagai sorotan masyarakat, terutama kalangan media
terhadap Indonesia. Penyebab utamanya, antara lain:
pertama, Indonesia dipandang sebagai negara besar, sekaligus
tetangga terdekat Australia, sehingga setiap perkembangan
yang terjadi di Indonesia selalu diikuti dan berdampak
(positif atau negatif) terhadap Australia; kedua, 31%
rakyat Australia menganggap Indonesia sebagai ancaman
terbesar seperti yang ditemukan oleh hasil survei 'the
Australian Strategic Policy Institute' tahun 2001 dan
kembali dipublikasikan pada tahun 2004 menjelang penyelenggaraan
pemilihan umum Australia (9 Oktober 2004). Berkembangnya
isu-isu sensitif antara kedua negara saat itu, antara
lain Timor Timur, kasus migran gelap Kapal Tampa dan
beberapa kasus serupa yang menggunakan Indonesia sebagai
batu loncatan menuju Australia serta merebaknya tindakan
terorisme yang memanipulasi ajaran Islam yang berpuncak
pada serangan 11 September 2001 di New York disusul
peledakan bom Bali, Hotel JW Marriot (2003), dan Kuningan
(2004), seolah-olah memberikan 'pembenaran' terhadap
hasil survei tersebut; dan, ketiga, media Australia
memiliki beban 'psikologis' atas tewasnya 5 (lima) wartawannya
di Balibo, Timor Timur (1975) yang menurut mereka dilakukan
Kopassus, walaupun serangkaian penyelidikan yang dilakukan
oleh Australia telah membantah tuduhan tersebut. Ketiga
faktor di atas akan selalu mempersulit (inhibit) upaya-upaya
Indonesia untuk membangun dan meningkatkan hubungan
bilateral dengan Australia (Sherman Report). |
| |
|
|
| III. |
PERKEMBANGAN
POLITIK DALAM NEGERI AUSTRALIA |
| |
|
|
| 7. |
Pemilu
Federal Australia baru saja usai, yang diselenggarakan
pada tanggal 9 Oktober 2004 untuk memilih 150 anggota
majelis rendah (House of Representatives) dan sebagian
(40) anggota majelis tinggi (Senate). Sekitar 13 juta
masyarakat pemilih telah menggunakan hak pilihnya pada
pemilu tersebut, yang menghasilkan 87 kursi untuk kubu
PM John Howard/Koalisi Partai Liberal - Nasional (mayoritas),
sedangkan Partai Buruh (Oposisi) hanya memperoleh 60
kursi. Dengan demikian PM John Howard kembali mengukuhkan
dirinya sebagai Perdana Menteri Australia untuk masa
jabatan ke-4 (2004-2007). Sedangkan di Senate, Partai
Koalisi juga menguasai mayoritas dengan 39 kursi dari
76 kursi yang tersedia, sementara Partai Buruh hanya
mendapatkan 28 kursi. |
| |
|
|
| 8. |
Dibandingkan
dengan hasil Pemilu 10 November 2001, Koalisi Partai
Liberal-National menguasai 82 kursi dan Partai Buruh
65 kursi untuk House of Representative. Sementara untuk
Senate, Koalisi Partai Liberal-National menguasai 35
kursi sedangkan Partai Buruh 28 kursi. Koalisi Partai
Liberal-National berhasil meningkatkan perolehan kursinya,
5 kursi di House of Representatives dan 4 kursi di Senate,
sehingga menguasai mayoritas suara di kedua kamar parlemen
tersebut. Sudah dapat dipastikan bahwa pemerintahan
John Howard akan semakin percaya diri dalam merumuskan
dan menjalankan kebijakan-kebijakannya dalam negeri
dan luar negerinya, karena proses pengambilan keputusan
di kedua lembaga legislatif tersebut tidak akan mendapatkan
tentangan yang berarti dari partai oposisi. |
| |
|
|
| 9. |
Sementara
itu, kegagalan partai oposisi di bawah kepemimpinan
Mark Latham untuk memenangkan pemilu Australia 2004
dapat ditinjau dari dua sisi. Dari sisi Partai Buruh,
faktor utamanya adalah disebabkan ketidakmampuannya
meyakinkan para pemilih bahwa Partai Buruh juga 'a credible
economic manager', sementara para pemilih memahami benar
bahwa partai pemerintah telah berhasil membawa Australia
ke tingkat kesejahteraan dan perekonomian yang sangat
mapan saat ini. Faktor kegagalan lainnya adalah program
konservasi hutan di negara bagian Tasmania yang ditawarkan
oleh partai oposisi yang mengedepankan 'environment-friendly
policy' dipersepsikan oleh para pemilih akan menciptakan
pengangguran besar-besaran di sektor kehutanan yang
merupakan tulang punggung perekonomian di negara bagian
tersebut. Kebijakan partai oposisi tersebut dimanfaatkan
oleh partai pemerintah dengan memperkenalkan program
konservasi hutan tanpa harus mempengaruhi lapangan kerja
di bidang kehutanan untuk masyarakat Tasmania. |
| |
|
|
| 10. |
Dari
sisi partai pemerintah, John Howard berhasil menonjolkan
kemampuannya dalam menjaga keamanan nasional (security
credentials) di mata para pemilih, terutama di dalam
penanganan kasus-kasus terorisme. Keterlibatan Australian
Federal Police (AFP) dalam penyelidikan Bom di Kuningan
(di depan Kedutaan Besar Australia di Jakarta) telah
turut memperkuat 'security credentials' partai pemerintah
tersebut seperti yang ditunjukkan oleh hasil polling
pendapat yang dilakukan segera setelah Bom Kuningan.
Faktor lainnya adalah 'economic credentials' Partai
Koalisi dalam mengelola perekonomian Australia yang
semenjak pemerintahan John Howard (1996) berhasil mengubah
anggaran belanja defisit (periode pemerintahan Partai
Buruh sebelumnya) menjadi surplus. Pemerintahan John
Howard juga berhasil mengendalikan tingkat suku bunga
dan inflasi pada level yang relatif rendah, sekaligus
menekan angka pengangguran. Dalam masa kampanye, partai
pemerintah sangat menonjolkan keberhasilan tersebut
sekaligus melancarkan 'scare campaign' dengan menyatakan
bahwa jika Partai Buruh memerintah, maka tingkat suku
bunga akan menjadi tinggi. |
| |
|
|
| IV.
|
ISU-ISU
SENSITIF YANG POTENSIAL MENGGANGGU HUBUNGAN |
| |
|
|
| 11. |
Walaupun di masa lalu, Indonesia memiliki hubungan yang
sangat dekat dengan Australia di bawah kepemimpinan
Partai Buruh tidak berarti hubungan bilateral kedua
negara menjadi buruk di bawah pemerintahan Partai Koalisi.
Patut diakui, orientasi pemerintahan John Howard yang
cenderung mengedepankan aliansinya dengan Amerika Serikat
dan lebih pragmatis dalam mencapai kepentingan nasionalnya,
kadang kala dipandang kurang sensitif dan terkesan menjaga
jarak oleh negara-negara di kawasan. Penolakan Australia
untuk mengaksesi 'Treaty of Amity and Cooperation ASEAN'
(TAC) adalah salah-satu contoh, dengan alasan penandatanganan
perjanjian tersebut akan mencegah Australia untuk menunaikan
kewajibannya di pakta ANZUS (tidak saling-serang dengan
negara-negara penandatangan TAC, termasuk China, India,
Pakistan, Russia, dan Jepang, mitra wicara ASEAN), disamping
akan mencegah Australia mengecam pelanggaran-pelanggaran
hak asasi manusia di negara-negara ASEAN, khususnya
Myanmar. Sementara anggota ASEAN memandang bahwa aksesi
TAC oleh Australia merupakan 'a positive gesture' yang
akan mempertinggi tingkat kepercayaan ASEAN terhadap
Australia. Pada dasarnya prinsip-prinsip yang terkandung
di dalam TAC juga tercermin di dalam Piagam Perserikatan
Bangsa Bangsa (PBB) seperti, antara lain, prinsip 'non-interference'
dan penggunaan cara-cara damai dalam memecahkan setiap
permasalahan yang timbul diantara negara-negara penandatangan
TAC. |
| |
|
|
| 12. |
Doktrin
'pre-emptive strikes' yang dispekulasikan media-massa
akhir-akhir ini sebagai alasan keengganan Pemerintah
Australia untuk menandatangani TAC mengemuka ketika
PM John Howard kembali menyinggung masalah tersebut
dalam kampanye pemilu Australia yang lalu. Dalam salah-satu
suatu wawancara radionya, menjelang keberangkatan menuju
Laos untuk menghadiri 'Commemorative Summit' (30 November
2004), Perdana Menteri John Howard menegaskan kembali
bahwa 'pre-emptive strikes' akan dilakukan sebagai pilihan
terakhir untuk mempertahankan diri dari 'imminent attack
if the country involved were not taking action to prevent
the threat…. That is a simple statement of fact, but
I don't anticipate for a moment it is going to occur'.
Patut dicatat, Indonesia didukung oleh sejumlah negara-negara
ASEAN telah menyatakan penolakan tegas atas kebijakan
tersebut dan pada tahun 2002 ketika pertama kali konsep
tersebut dikemukakan oleh pemerintah Australia telah
mendapatkan jaminan dari Menteri Luar Negeri Alexander
Downer bahwa negaranya tidak akan mengirimkan pasukan
komando ke Indonesia untuk secara langsung menumpas
kelompok-kelompok teroris disamping karena bertentangan
dengan prinsip kedaulatan negara, juga dipandang merupakan
tindakan agresi terhadap suatu negara berdaulat. |
| |
|
|
| 13. |
Dapat
dikatakan bahwa pada dasarnya Australia cenderung memperkuat
hubungan secara bilateral dengan negara-negara ASEAN
daripada memperkuat kerjasama di dalam kerangka kerja
organisasi regional atau multilateral, seperti yang
terlihat dalam kasus invasi Irak yang keputusannya mengesampingkan
PBB. Baru-baru ini pemerintah Australia juga mengusulkan
penandatanganan sebuah perjanjian bilateral luas dengan
Indonesia (umbrella agreement) mencakup segala aspek
kerjasama yang mampu disepakati oleh kedua negara, tidak
semata-mata bidang keamanan seperti yang diulas luas
oleh media masa akhir-akhir ini. Australia telah memiliki
perjanjian sejenis dengan Thailand. |
| |
|
|
| V. |
UPAYA
MENGUBAH PELUANG KONFLIK MENJADI KERJASAMA |
| |
|
|
| 14. |
Saat
ini, paling tidak terdapat dua isu yang memerlukan perhatian
khusus pemerintahan kedua negara, yaitu ancaman terorisme
dan imigran gelap. Ancaman terorisme sejauh ini telah
berhasil dimanfaatkan untuk meningkatkan kerjasama,
antara lain dengan penandatanganan 'Memorandum of Understanding
on Counter Terrorism' yang antara lain meliputi kegiatan
tukar-menukar informasi intelijen, menghidupkan kembali
kerjasama dan pengembangan kemampuan antara agen penegak
hukum. Bahkan pada bulan Februari 2004, Indonesia dan
Australia bersama-sama menyelenggarakan 'Ministerial
Conference on Counter Terrorism' yang dihadiri para
menteri negara-negara kawasan. Salah satu hasil konkret
yang disepakati adalah pendirian 'Jakarta Center for
Law Enforcement Cooperation' (JCLEC) yang tujuan utamanya
adalah untuk meningkatkan kemampuan operasional para
petugas penegak hukum di kawasan guna memerangi transnational
crime, khususnya terorisme. |
| |
|
|
| 15. |
Keengganan
Indonesia menjadi bagian 'Pacific Solution' dalam menyelesaikan
masalah migran gelap mendorong penyelenggaraan 'Bali
Regional Ministerial Conference on People Smuggling,
Trafficking in Persons and Related Trans-national Crime'
tahun 2002 dan 2003 yang disponsori oleh Indonesia dan
Australia disusul dengan penyelenggaraan 'Regional Ministerial
Conference on Combating Money Laundering and Terrorist
Financing' tahun 2002. Seperti diketahui, Australia
menggunakan Papua New Guinea dan Nauru untuk menampung
para pengungsi gelap yang akan menuju Australia dengan
cara memberlakukan 'exclusive immigration zones' terhadap
beberapa pulau terluarnya yaitu pulau Christmas, kepulauan
Cocos, dan pulau Ashmore Reef (September 2001), sehingga
para pencari suaka yang mendarat di pulau-pulau tersebut
belum dapat meng-klaim bahwa mereka telah berada di
wilayah keimigrasian Australia. Dengan cara demikian,
pemerintah Australia merasa 'berhak' mengirimkan para
pencari suaka tersebut ke negara lain, dalam hal ini
Papua New Guinea dan Nauru. Perkembangan positif juga
terlihat dengan kesepakatan kedua negara untuk mencari
berbagai upaya guna meningkatkan kerjasama di bidang
pertahanan dan keamanan. Tukar-menukar kunjungan para
perwira tinggi kedua negara berlangsung secara berkelanjutan,
sementara sejumlah personil TNI mengikuti berbagai program
pendidikan di Australia untuk memperdalam pengetahuan
mereka. |
| |
|
|
| VI.
|
HUBUNGAN
AKAR RUMPUT |
| |
|
|
| 16. |
Terlepas dari masalah-masalah yang mengandung potensi
konflik di atas, hubungan antara kedua masyarakat dalam
berbagai bidang tetap tinggi, seperti dalam bidang pendidikan,
budaya, dan perdagangan. Hal tersebut merupakan aset
penting dalam hubungan kedua negara yang perlu terus
dipupuk dan dikembangkan, sehingga diharapkan akan memainkan
peran penting dalam peningkatan hubungan kedua negara.
Upaya bersama Indonesia dan Australia untuk saling tukar
para pemimpin akar rumput, termasuk para pemimpin agama,
telah dirintis beberapa tahun terakhir ini. Prakarsa
untuk menyelenggarakan 'interfaith dialogue', Yogya
6 - 7 Desember 2004 yang lalu, yang melibatkan para
pemimpin agama negara-negara ASEAN, Australia, New Zealand,
Papua Nugini, dan Timor Leste merupakan salah-satu contoh
konkrit untuk membina saling pengertian diantara bangsa
seraya memberdayakan kalangan moderat di seluruh agama
yang terlibat di dalam dialog tersebut. |
| |
|
|
| 17. |
Di
sektor pendidikan, terdapat sekitar 25.000 mahasiswa
Indonesia yang saat ini belajar di Australia dan sebagian
diantaranya adalah penerima beasiswa Pemerintah Australia,
melalui AusAID. Mahasiswa Indonesia non-AusAID menyumbang
sekitar 750 juta A$ per tahun bagi perekonomian Australia,
sementara beasiswa yang disediakan Australia bagi mahasiswa
Indonesia bernilai 16,25 juta A$ per tahun. Tentunya
kelak di kemudian hari diharapkan para mahasiswa Indonesia
yang menuntut ilmu di Australia tersebut akan menularkan
pemahaman mendalam mereka mengenai Australia di Indonesia,
apalagi jika sebagian diantara mereka memegang posisi
kunci di berbagai institusi, baik pemerintah maupun
swasta di Indonesia. |
| |
|
|
| 18. |
Patut
pula dicatat, terdapat sekitar 250.000 pelajar/mahasiswa
Australia yang mempelajari bahasa Indonesia sebagai
bahasa kedua. Jika jumlah mereka digabungkan dengan
jumlah masyarakat Australia yang sudah menguasai bahasa
Indonesia tentunya akan cukup signifikan untuk memberikan
pengaruh positif bagi peningkatan saling pengertian
di antara kedua bangsa. |
| |
|
|
| VII.
|
KERJASAMA
EKONOMI |
| |
|
|
| 19. |
Dalam
bidang ekonomi, Australia adalah salah satu negara yang
memiliki perekonomian terbaik di dunia. Hal ini merupakan
salah satu faktor pendorong bagi Indonesia untuk meningkatkan
kerjasama guna membantu perekonomian Indonesia keluar
dari krisis sejak tahun 1997. Dalam bidang perdagangan,
terdapat beberapa sinyal positif yang menandai kemajuan
perdagangan kedua negara. Pada tahun 2003, perdagangan
Indonesia - Australia mencapai 6,7 miliar A$ (4,46 miliar
US$, meningkat 11% dibandingkan tahun 2002). Nilai ekspor
Indonesia mencapai 4,053 miliar A$ (2,65 miliar US$)
sementara nilai impor dari Australia mencapai 2,762
A$ (1,8 miliar US$). Dengan demikian pada tahun 2003
Indonesia menikmati surplus dalam perdagangannya dengan
Australia sebesar 1,291 miliar A$ (846 juta US$). Patut
pula dicatat bahwa 'Official Development Aid' (ODA)
Australia untuk Indonesia adalah A$ 160.8 juta terbesar
kedua setelah Papua Nugini yang menerima sekitar A$
300 juta. |
| |
|
|
| 20. |
Juga
perlu dicatat bahwa walaupun perekonomian Indonesia
didera krisis sejak tahun 1997, sekitar 400 perusahaan
Australia yang beroperasi di Indonesia tetap mempertahankan
roda bisnisnya dengan mitra mereka di Indonesia. Nilai
investasi perusahaan-perusahaan Australia ini cukup
berarti bagi Indonesia. |
| |
|
|
| 21. |
Belajar
dari pengalaman sejak krisis ekonomi tahun 1997, Pemerintah
RI telah menerapkan sebuah sistem ekonomi berorientasi
pasar yang kuat, dalam upaya melepaskan diri dari krisis
secara bertahap. Hasilnya dalam beberapa tahun terakhir
tingkat inflasi dan tingkat suku bunga cukup rendah,
cadangan devisa menguat, sehingga menciptakan lingkungan
yang kondusif bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Nilai
tukar rupiah terhadap US$ juga menunjukkan kecenderungan
yang semakin stabil. |
| |
|
|
| 22. |
Di
samping itu, pertumbuhan PDB Indonesia telah melampaui
perkiraan pemerintah dan kebanyakan analis, yaitu 4,1%
pada tahun 2003 dan diharapkan akan meningkat hingga
5% pada tahun 2004. Tingkat inflasi menurun drastis
dari lebih 10% pada tahun 2002 menjadi 5,1% pada akhir
tahun 2003 dan menunjukkan trend yang cukup rendah pada
tahun 2004. |
| |
|
|
| VIII. |
PENUTUP |
| |
|
|
| 23. |
Pemilihan
Presiden RI secara langsung untuk pertama kalinya pada
tanggal 20 September 2004 yang berlangsung dengan aman
dan sangat demokratis merupakan modal utama Indonesia
dalam meningkatkan pergaulannya di dunia internasional.
Prestasi tersebut mendapat pujian dunia, yang secara
nyata ditunjukkan dengan kehadiran sejumlah kepala negara
sahabat, termasuk Perdana Menteri John Howard, pada
acara pelantikan Presiden Bambang Yudhoyono pada tanggal
20 Oktober 2004. |
| |
|
|
| 24. |
Namun demikian, tantangan ke depan tidaklah kecil.
Era baru yang dibawa oleh pemerintahan baru di kedua
negara menciptakan harapan baru pula. Hadirnya Perdana
Menteri John Howard dalam pelantikan Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono merupakan suatu cerminan kuat dari
keinginannya untuk meningkatkan hubungan. Dengan dilandasi
keinginan tulus, diharapkan kedua pemimpin tersebut
mampu mengelola berbagai peluang dan tantangan yang
ada untuk semaksimal mungkin meningkatkan hubungan
bilateral berlandaskan prinsip-prinsip saling menghargai,
saling menguntungkan, serta tidak mencampuri urusan
dalam negeri masing-masing. Tanpa kerjasama yang erat
di antara kedua negara dapat dipastikan tidak akan
tercipta kestabilan dan kemakmuran di kawasan.
|
| |
|
|
| |
|
|
| |
|
Canberra, 6 Desember 2004
|
| |
|
|
| |
|
Imron Cotan
Duta Besar
|
|
|
|
|
*) Ceramah Duta Besar LB & BP RI untuk Australia
dan Vanuatu di
Universitas Negeri Jakarta, Universitas
Padjadjaran, Universitas
Gadjah Mada dan Universitas Andalas,
Desember 2004.
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|