Pidato Menteri Luar Negeri RI
Dr N Hassan Wirajuda
Pada
Peresmian Center for East Asian Cooperation Studies dan
Seminar "Prospek dan Tantangan dalam Pengembangan
Masyarakat Ekonomi Asia Timur: Beberapa Pilihan Kebijakan".
Jakarta, 30 Agustus 2004

 

Hadirin sekalian yang saya hormati,

Assalamu `alaikurn Warahmatullahi Wabarakatuh,
        Salam sejahtera bagi kita semua

Dengan mengucap syukur kepada Tuhan Y.M.E, perkenankanlah saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besamya kepada para undangan yang telah meluangkan waktu untuk menghadiri peresmian Center for East Asian Cooperation Studies (CEACoS) pada hari ini yang kemudian akan dilanjutkan dengan seminar bertemakan "Prospek dan Tantangan dalam Pengembangan Masyarakat Ekonomi Asia Timur: Beberapa Pilihan Kebijakan".

Suatu kehormatan bagi saya untuk meresmikan CEACoS sebagai lembaga masyarakat yang menjadi focal point pengkajian serta pusat informasi kerjasama regional Asia Timur. CEACoS diharapkan dapat menjadi salah satu mitra yang aktivitasnya dalam tataran people to people yang akan bersinergi dengan kegiatan Departemen Luar Negeri di level government to government dalam kerangka diplomasi menyeluruh atau yang sering saya kemukakan sebagai total diplomacy.

Hadirin yang saya hormati,

Kerjasama regional yang dibina dalam ASEAN telah melahirkan situasi yang kondusif di kawasan bagi pembangunan ekonomi, politik, dan sosial budaya masing-masing anggotanya. Sebagai hasilnya, meski berbeda-beda dalam tahap pembangunan ekonominya, masyarakat negara-negara anggota ASEAN telah menikmati keamanan, perdamaian, dan kenaikan taraf hidup yang cukup signifikan. Dinamika yang ditawarkan ASEAN tidak saja membawakan kemajuan bagi para anggotanya, namun telah pula menarik minat negara-negara di luar kawasan untuk berinteraksi dalam forum dialog dan kerjasama dengan ASEAN. Kecenderungan bagi kemitraan regional yang lebih erat didorong pula oleh tantangan-tantangan era globalisasi yang dapat teratasi secara lebih efektif jika melalui kerjasama dan kemitraan.

Dalam konteks ini kita dapat melihat bagaimana forum ASEAN+3 (ASEAN plus negara-negara Jepang, Korea Selatan, dan China) yang secara formal berdiri atas keperluan praktis untuk mengatasi krisis financial Asia pada waktu itu telah bertransformasi menjadi wadah kerjasama pada berbagai bidang. Kesinambungan komitmen pada regionalisme di Asia Timur tampak dari proses pembentukan infrastruktur institusional bagi kerjasama yang melalui kesepakatan para pemimpin negara-negara di kawasan seperti tercermin mulai dari ASEAN+3 Summit yang pertama kali di Kuala Lumpur, Desember 1997 hingga ASEAN+3 Summit ketujuh di Bali bulan Oktober 2003. Pada pertemuan yang terakhir ini beberapa negara bahkan mengajukan pandangan agar proses ASEAN+3 dikembangkan lebih lanjut menuju pembentukan Komunitas Asia Timur yang lebih integratif.

Bagi negara-negara ASEAN dan Asia Timur Laut sendiri, pendalaman dan perluasan kemitraan tidak saja imperatif dari sudut sosial-ekonomi tapi juga bermakna strategis dari sisi politik dan keamanan. Terbukti bahwa melalui resources pooling yang dijembatani forum ASEAN+3, penanganan krisis finansial 1997 menjadi lebih efektif dibandingkan jika masing-masing entitas bergerak sendiri-sendiri tanpa koordinasi. Begitu pula saat wabah SARS mengancam kawasan, para pemimpin ASEAN-China segera bertemu di Bangkok tahun 2003 untuk menyelaraskan langkah-langkah yang ditempuh. Pengalaman-pengalaman di atas memperdalam kesadaran kita semua akan pentingnya upaya bersama dan pembangunan kerangka kerjasama yang solid untuk mewadahi kerjasama regional Asia Timur. Tantangan dan perubahan yang berlangsung demikian cepat dalam era globatisasi saat ini mau tak mau mengharuskan upaya-upaya bersama yang lebih terpadu.

Dengan titik tolak pada Proses ASEAN+3, kita berbagi pandangan bahwa evolusi regionalisme Asia Timur melalui langkah-langkah yang bertahap akan menuju suatu struktur integratif dalam jangka panjang. Langkah awal ke arah tersebut tentu saja harus dimulai dari peningkatan rasa saling percaya antar entitas yang terlibat dengan mendahulukan implementasi rencana kerjasama yang lebih mudah dan tidak sensitif. Dalam hal ini dapat dikemukakan suatu pandangan bahwa interdependensi yang terbentuk dalam jalinan kerjasama ekonomi regional dapat menjadi salah satu wahana efektif, paling tidak untuk mencegah eskalasi potensi konflik.

Secara lebih khusus, dialog antar negara-negara di kawasan dalam kerangka preventive diplomacy perlu terus diintensifkan terutama dalam kaitannya dengan upaya peredaan ketegangan dari persengketaan teritorial di wilayah Laut Cina Selatan, pencapaian keseimbangan regional yang sustainable, serta penanganan potential flash points lain termasuk kecenderungan perlombaan senjata, warisan luka historis, keterlibatan aktor-aktor lain dari luar kawasan, dan masalah nuklir di Semenanjung Korea. Dengan populasi sebesar sepertiga total penduduk dunia, dan posisi yang sedemikian penting dalam peta geopolitik dunia, dapat dibayangkan dampak yang akan terjadi jika stabilitas politik dan keamanan gagal diciptakan di kawasan Asia Timur.

Tantangan lain yang perlu dihadapi lebih berkaitan dengan institusionalisasi kerjasama Asia Timur itu sendiri. Salah satu pokok persoalannya adalah penciptaan struktur dan modalitas kerjasama Asia Timur di masa depan yang demokratis serta mampu menjamin kesetaraan antar - anggotanya. Maka, implementasi program untuk mempertinggi ketahanan regional dan untuk mempersempit development gap antar anggota menjadi esensial.

Lebih lanjut, kita meyakini pentingnya peran ASEAN sebagai primary driving force dalam memperkuat design kerjasama Asia Timur pada Proses ASEAN+3. Namun, apakah design kerjasama itu akan analog dengan pilar-pilar integrasi Masyarakat ASEAN dalam Deklarasi Bali Concord II sehingga diharapkan bahwa upaya implementasinya baik pada level internal ASEAN maupun ASEAN+3 akan berjalan sinergis dan saling melengkapi?

Dalam konteks ini konsolidasi ASEAN melalui upaya-upaya mempersempit development gap antar anggota, implementasi road map untuk 11 sektor prioritas integrasi, serta mobilisasi sumber-sumber daya dalam penerapan kesepakatan Initiative for ASEAN Integration (lAl) perlu terus didorong. Maka, penguatan kerjasama antara ASEAN dengan Jepang, Korea Selatan, dan China hendaknya dipandang pula sebagai bagian integral dari sifat outward looking yang melekat dalam Komunitas ASEAN.

Dalam proses yang berjalan simultan tersebut, dirasa mendesak implementasi 17 butir rekomendasi jangka pendek East Asia Study Group yang diantaranya adalah kerjasama dalam program pembangunan sumber daya manusia secara komprehensif serta peningkatan dialog antar masyarakat dalam berbagai forum (seperti Network of East Asia Think Tanks, East Asia Business Council) sebagai building blocks dari kerjasama yang diperluas. Pada saat yang sama, kita perlu pula melakukan studi menyeluruh dan mendalam atas upaya penerapan 9 butir rekomendasi jangka menengah dan panjang seperti antara lain pembentukan East Asia Free Trade Area (EAFTA) dan fasilitas pembiayaan regional, yang akan mempunyai dampak lebih besar pada masa depan Proses ASEAN+3. Selain dari itu, pemikiran-pemikiran dan gagasan besar telah banyak pula dilontarkan untuk mendapat tanggapan dan jawaban. Diantaranya adalah pertanyaan apakah widening dan deepening kerjasama dapat berjalan bersamaan atau secara bertahap, serta gagasan pembentukan suatu regional comprehensive economic partnership terlebih dahulu sebelum EAFTA. Selain itu, telah mengemuka pula pemikiran tentang perlunya pembentukan suatu regional security architecture dan regional financial architecture seperti Asian Monetary Fund dalam jangka panjang. Hal lain yang juga memerlukan pemikiran mendalam adalah pertanyaan apakah Sekretariat Kerjasama Asia Timur akan menyatu dengan Sekretariat ASEAN atau berdiri sebagai suatu lembaga terpisah. Belum lagi adanya gagasan penyelenggaraan East Asia Summit, apa konsekuensinya terhadap ASEAN+3 Summit dan peran ASEAN "in the driving seat" ?

Jawaban atas tantangan-tantangan di atas memerlukan pemikiran mendalam yang tidak saja berpijak pada situasi masa kini namun juga berdimensi jauh ke depan. Maka, diharapkan bahwa melalui kegiatan diseminasi informasi serta pengkajian mendalam aspek-aspek peningkatan kemitraan regional di kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur Laut oleh CEACoS yang akan diresmikan ini, akan menjadi salah satu jembatan bagi terwujudnya kerjasama Asia Timur yang lebih erat di masa mendatang.

Para hadirin yang terhormat,

Sebelum mengakhiri sambutan ini, perkenankan kami mengemukakan kembali harapan agar kiranya melalui diskusi yang akan diadakan setelah peresmian pada hari ini dapat diperoleh masukan-masukan konstruktif mengenai permasalahan-permasalah yang dihadapi. Melalui kesempatan ini pula diharapkan kerjasama antar berbagai pihak, khususnya para pemerhati dan pakar hubungan internasional dengan pelaksana hubungan luar negeri, kiranya dapat terus terbina dengan baik dalam suatu jejaring kerja (networking) yang erat dan langgeng.

Dengan memohon rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa, dengan ini saya resmikan Center for East Asian Cooperation Studies serta pembukaan Seminar "Prospek dan Tantangan dalam Pengembangan Masyarakat Ekonomi Asia Timur: Beberapa Pilihan Kebijakan".

Terima kasih.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

 


Embassy of the Republic of Indonesia, Canberra - Australia