![]() |
|
|
KEDUTAAN BESAR REPUBLIK INDONESIA |
|
|
TRANSKRIP WAWANCARA |
|
|
R: Radio (Pewawancara:
Roswita Nimpuno Khayat)
IC: Terima kasih. R: Dan terima kasih banyak atas kesempatan ini, karena banyak sekali yang ingin saya tanyakan. IC : Silakan-silakan. R: Dan kebetulan saya berusaha menghubungi masyarakat Indonesia di South Australia tetapi sayang sekali karena konfirmasi kunjungan Bapak itu datangnya baru akhir minggu yang lalu, jadi tidak begitu banyak pertanyaan. Tetapi ada 1 orang yang menelpon saya tadi, dan ada sedikit perasaan, mungkin uneg-uneg lah barangkali dalam rangka Pemilu, bahwa mungkin informasi tentang Pemilu tidak begitu aktif disebarluaskan kepada masyarakat Indonesia di South Australia. Seperti Bapak ketahui saya lama di Melbourne, dan di Melbourne karena kita mempunyai Konjen, KPU itu dipegang oleh masyarakat yang sesepuh yang sudah lama disana, sedangkan disini dipegang oleh mahasiswa pasca sarjana yang mungkin tidak terus menerus disini. IC : OK. Yang bisa saya sampaikan adalah KPU itu dan kemudian subsidiary bodies adalah independen dari Pemerintah. Jadi saya sangat sayangkan sekali. Ini adalah merupakan pesta rakyat, seharusnya rakyat lebih care begitu ya katakanlah mempublikasikan kegiatan mereka. Tapi saya kira juga seperti Ibu katakan bahwa karena Konsulat Jenderal tidak ada di sini barangkali sehingga mereka kurang publikasi. R: Kurang publikasi barangkali. Kembali kepada soal Pemilu. Para pengamat di Australia mengatakan bahwa Pemilu kali ini di Indonesia, mengakibatkan Susilo Bambang Yudhoyono menduduki peringkat teratas. Dan itu, menurut pengamat Australia dikatakan, disebabkan oleh karena caranya beliau berkampanye. The way he campaigned. Nah saya ingin menanyakan pendapat Bapak, karena sebetulnya apakah menurut Bapak hasil Pemilu di Indonesia bisa ditentukan oleh cara seseorang calon berkampanye seperti misalnya halnya di Australia? IC : Tentu saja salah satu hal yang bisa mempengaruhi hasil Pemilu adalah cara seseorang berkampanye. Tapi yang lebih penting lagi adalah appealing. Artinya tampilan fisik biasanya lebih menonjol dikalangan masyarakat Indonesia. Saya tidak yakin apakah hanya semata-mata karena itu, tapi mungkin juga karena program yang ditawarkan walaupun banyak orang mengatakan, bahwa orang Indonesia tidak terlalu perhatikan program, tapi mungkin program yang berkaitan dengan kestabilan, kemajuan ekonomi, menarik perhatian orang. R: Mungkin kita bisa kembali sedikit, bahwa Megawati Soekarnoputri dalam kampanyenya yang lalu, itu selalu menonjolkan berbagai program, tetapi pada akhirnya kita tidak begitu jelas melihat program itu sendiri. Bagaimana komentar Bapak tentang itu? IC : Kembali lagi ya di sistem politik kita, kadang-kadang personality itu sangat mempengaruhi. Dan dalam konteks Presiden Megawati Soekarnoputri karena dia adalah putri dari Proklamator kita, mungkin ini juga adalah salah faktor kuat, yang membuat beliau itu ..mereka mengatakan bahwa fenomena kemenangan katakanlah kemenangan kedua dari SBY itu merupakan defies logic kata sementara orang Australia. Tapi saya katakan, saya kira itu biasa-biasa saja dalam pengertian apa, sebagai anak dari seorang proklamator ini masih sellable di masyarakat kita. R: Ya…betul. Dan SBY sebetulnya dikatakan bahwa mungkin salah satu plusnya adalah bahwa istrinya beragama Kristen. Tetapi kalau kita melihat hasil Pemilu kemarin, itu kebanyakan suara datangnya justru dari daerah-daerah seperti misalnya Banten, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sumatra Selatan. Jadi jelas tidak karena istrinya orang Kristen dan dengan demikian dia bisa lebih merenggut suara dari masyarakat Kristen di Indonesia ya. IC: Kadang-kadang orang katakanlah men-second guest rakyat Indonesia seolah-olah mereka tidak educated begitu. Tapi saya kira mereka sekarang sudah bisa membedakan apakah itu berkaitan dengan agama atau tidak agama, saya kira mereka lebih melihat kepada masa depan. Dan melihat hasil yang sekarang ini, kita melihat sebagian misalnya di Canberra. Pada Pemilu yang lalu, PDIP itu menang. Tapi Pemilu sekarang ini adalah justru PAN yang menang. Jadi orang sudah bisa memilih, menjatuhkan pilihan dengan pertimbangan tidak berkaitan dengan hal-hal yang bersifat primordial. R: Sekarang mungkin pertanyaan yang berikut adalah bahwa….saya di Bali kira-kira sebulan yang lalu. Saya di Indonesia sebulan dan kita itu banyak ngobrol dengan rakyat kecil. Itu ada yang mengatakan Indonesia itu tidak akan maju kembali Bu kalau tidak kalau Presidennya itu bukan dari ABRI. Karena kita perlu seorang yang tegas, katanya. Ibu Megawati itu seperti seorang Ibu. Meskipun anaknya merengek dia bilang tidak tidak tidak, tapi akhirnya kan ya namanya Ibu, akhirnya iyalah ambil saja. Kita itu perlu seorang yang berlatar belakang militer. IC: Well mungkin itu benar, itu mungkin itu benar. Tapi jangan lupa juga, bahwa sistem politik yang baru saja kita tinggalkan, meletakkan Presiden kita pada situasi yang sangat sulit. 2 presiden kita di-impeach. Dengan demikian ketakutan itu ada pada Presiden dalam hal ini Presiden Megawati Soekarnoputri. Nah sekarang sistem itu sudah kita robah, Dimana mandatnya datang langsung dari rakyat. Jadi siapapun yang akan terpilih apakah itu Ibu Mega atau Pak SBY nanti akan terpilih, mereka sudah tidak takut lagi dengan Parlemen sehingga dengan demikian mereka bisa mengambil tindakan-tindakan yang bersifat tegas seperti yang didambakan oleh rakyat kita. R: Dan ini mungkin baru untuk yang pertama kalinya kita itu memilih presiden. Bagaimana menurut Bapak kemajuan dalam hal ini bahwa kita itu bisa memilih seorang Presiden. IC : Begini ya, Kadang-kadang orang under-estimate juga. Seolah-olah kita kita kurang melakukan kemajuan dalam bidang demokrasi Saya ingin mengingatkan, Duta Besar David Ritchie Duta Besar Australia untuk Indonesia, beberapa hari yang lalu mengatakan Indonesia luar biasa. Kurang dari 7 tahun kita sudah mencapai tingkat maturity yang sungguh luar biasa dibandingkan dengan negara-negara lain. Bahkan dia katakan Australia membutuhkan lebih dari 100 tahun untuk mencapai tingkat maturity yang mereka nikmati sekarang ini. Kita less than 10 years. R: Dan mungkin ya mungkin ini hanya sebagai dari saya pribadi bahwa mungkin demokrasi ada demokrasi dan demokrasi. Demokrasi ada barat itu belum tentu akan berhasil di negara kita. IC : Ya begini …yang penting adalah, Demokrasi kita itu home ground. Dia tidak invented by foreign element. Seperti dalam kasus Haiti, Panama, Afghanistan, Irak. Karena itu dipaksakan nilai itu dipaksakan kepada societies-nya mereka. Kalau kita tidak. Kita itu datang, memang gerakan itu datang gerakan demokratisasi itu datang dari rakyat kita sendiri. Dengan demikian saya kira ada perbedaan yang sangat mendasar bahwa kita nanti akan lebih maju daripada yang bisa dibayangkan orang sekarang ini. R: Saya rasa kita sudah maju kok, kita sekarang putar lagu sebentar ya Pak.. IC : Silakan- silakan Music (Sepanjang Jalan Kenangan) ... R: The Indonesian Language Program on 5 EBI and my very Special Guest is His Excelency The Ambassador of Indonesia Mr. Imron Cotan. R: Bapak Cotan, yang menjadi tamu kita pada sore hari ini, Mmm Yang ingin sekarang saya bahas mungkin adalah hubungan Australia-Indonesia. Karena sebagian anggota masyarakat Indonesia yang menetap cukup lama di sini. Untuk kami yang barangkali tidak bisa pulang karena anak di sini dan cucu di sini, sehingga kita ada.. ada ikatan yang menahan kita di sini. Sekarang ini menjadi agak susah untuk lebih memperkenalkan Indonesia kepada masyarakat Australia. Misalnya dalam hal Pendidikan. Beberapa tahun yang lalu itu hampir semuanya universitas di Australia mengajar Bahasa Indonesia. Dan Departemen Pengkajian Indonesia sendiri itu besar sekali. Sekarang ada banyak sekali universitas yang jurusan bahasa Indonesia tutup. Demikian pun di Sekolah-sekolah Menengah, karena minatnya kurang, dan minat itu selalu ada kaitannya dengan hubungan politik. Jadi tentu saja bagi kita yang ada disini kita selalu ingin untuk lebih mempromosikan karena dengan istilah tentu saja tak kenal maka tak sayang. IC : Betul R: Bagaimana kita bisa lebih mempromosikan pendidikan Indonesia dan bahasa Indonesia di Australia? IC : Jadi begini, Saya kira ini merupakan salah satu sebab dari berhentinya program LOTE (Language Other Than English) yang distop oleh pemerintah Federal beberapa tahun yang lalu. Akibatnya adalah minat kepada bahasa maupun budaya kita berkurang. Nah saya berencana dalam waktu dekat akan bertemu dengan Pemerintah Federal, dalam hal ini Menteri Pendidikan Brendan Nelson, untuk kembali mencoba menghidupkan program ini. R: Tapi kalau Bapak katakan LOTE itu hanya dalam bahasa Indonesia, karena bahasa China … IC : Ada 4 (empat) R: itu tetap berkembang.. IC : Ya ada empat bahasa dalam program LOTE itu adalah Korea, Jepang, China, dan Indonesia. Dan kita sudah sebenarnya sudah memberikan alasan bahwa itu adalah mempunyai dampak negatif terhadap hubungan kedua negara. Tapi harap diingat ada dua tracks dalam konteks hubungan kedua negara. First track itu berkaitan dengan G to G, Pemerintah ke Pemerintah dan kemudian P to P, Rakyat ke Rakyat. Nah harap diingat pada tahun yang lalu, kita menerima kurang lebih seribu pejabat dari mulai Menteri sampai tingkat paling rendah dari Indonesia yang berkunjung kemari. Artinya apa, hubungan kedua negara pada tingkat pemerintah itu sangat baik, terutama setelah peristiwa Bom Bali. Tapi pada tingkat rakyat ke rakyat memang kita perlu melakukan improvement dalam pengertian apa,…Banyak orang Indonesia yang melihat Australia ini terlalu dekat dengan Amerika, sehingga dengan demikian dikonfronkan dengan Indonesia sebagai lawan dalam tanda petik. Demikian juga orang Australia melihat Indonesia itu dengan ancaman terorisme ini, seolah-olah Indonesia itu next week meng-invade Australia, padahal kenyataannya, pertama kita tidak punya intention untuk itu, kedua kita tidak punya kemampuan untuk melakukannya. Jadi saya kira kita perlu menjembatani pada tingkat rakyat jelata, kita perlu melakukan katakanlah upaya-upaya ekstra agar kedua rakyat ini bisa mengerti, bahwa secara geografis, Indonesia dan Australia itu harus bekerjasama karena tetangga paling dekat. R: Tetapi itu sudah kita ketahui berpuluh-puluh tahun. Hanya kelihatan sekali bahwa dalam mungkin dalam 10 …15 tahun terakhir ini, hubungan itu menjadi renggang. IC : Ya itu lagi kembali kepada persepsi sebenarnya. Persepsinya adalah kalau kita bicara mengenai Indonesia dan rakyat Indonesia secara umum. Saya kasih contoh misalnya Ibu, Beberapa bulan yang lalu saya di-assign untuk merekrut diplomat muda untuk Departemen Luar Negeri. Dari 6000 calon peserta, kita ambil 100. Tapi dari 6000 itu 95% mempunyai rasa sentimen anti Australia, padahal mereka itu seharusnya supposed to be the very best of our society. Oleh karena itu saya berfikir, ada yang salah, ada yang salah. Mereka katakan bahwa orang Australia atau Australia bersikap arrogant dan ingin meng-impose values upon us ke sana. R: Tapi memang betul kan Pak? IC : Saya kira tidak. Itu persepsi, kembali kepada persepsi…Karena kedekatan Australia kepada akhir-akhir ini kepada Amerika katakanlah itu..memberikan….kepada rakyat kita bahwa…mereka itu ingin meng-impose…menekan kita dari segi value….padahal itu tidak betul…sebaliknya…Ketika saya pertama sekali datang kemari,….saya minta istri saya belajar mengenai budaya Australia…Pertanyaan pertama dari gurunya yang suppose to be very well educated ..dia katakan apakah anda muslim…Istri saya mengatakan ..Ya Saya Muslim…Oh.. of course.. if you are not a moslem,...certainly your husband cannot become an Ambassador…Itukan suatu pernyataan yang katakanlah maaf saja …itu uneducated..Padahal pada saat yang bersamaan 75% staf senior saya adalah Kristen dan bahkan Deputi saya sekarang adalah seorang Kristen. Pejabat termuda pada tingkatnya di seluruh Embassy Indonesia di seluruh dunia. Jadi agama, itu sebenarnya tidak ada perannya…terhadap perkembangan karir seseorang..tapi…gambaran mereka…karena Islam ini merupakan sesuatu yang menakutkan, mereka melihat saya sebagai Duta Besar hanya bisa menjadi Duta Besar kalau saya seorang Islam…padahal itu tidak betul…Jadi perlu ada pendidikan lah..Pendidikan di kedua belah pihak, bahwa kita ini bertetangga, kita perlu lebih memahami masing-masing budaya kita, dan satu-satunya cara adalah melalui pendidikan bahasa. Dan sayangnya mereka tutup…program itu 2 tahun yang lalu. R: Betul..Bagaimana mungkin juga media…media Australia sangat berperan dalam hal ini… IC : Ohh ya, Media..tentu saja media selalu memberikan kontribusi apakah itu bersifat positif ataupun negatif. Tapi kita juga harus mengakui, media Indonesia itu kadang-kadang lebih bagus dalam tanda petik, dalam arti mereka lebih bebas. Itu juga memberikan kontribusi. Kadang-kadang turut memperkeruh suasana. Oleh karena itu saya ingin sekali….ya.. kesempatan-kesempatan seperti ini selalu saya manfaatkan untuk bertemu dengan mereka, memberikan katakanlah pengertian bahwa Those Indonesians are not as bad as they perceived and vice versa as well. R: Apakah mereka pernah mengatakan kepada Bapak….….…Ambassador. IC : Ohh ya ..ya ..itu bagian daripada tugas saya untuk memberikan penerangan kepada mereka, bahwa orang Indonesia itu sama descent-nya dengan orang Australia ...pagi-pagi kita bangun…kita ingin dapat descent, breakfast, ..bukan kita pergi mencari seseorang itu untuk katakanlah disakiti dan kemudian kembali lagi ke rumah begitu. Tapi saya kira kita ini Indonesia is a peace loving country. R: Memang betul. Misalnya dalam hal perdagangan…hubungan dagang antara kedua negara… IC : Hubungan dagang kedua negara….Ibu mungkin terkejut,…kalau saya katakan tugas saya utama disini adalah di bidang politik. Karena ekonomi kita, kerjasama ekonomi dan perdagangan kita, tanpa kita pun dia sudah berkembang dengan baik. Tahun lalu itu volume perdagangan kita itu kurang lebih 6 milyar Australian dollars. Surplus Indonesia satu milyar. Jadi dari segi ekonomi, saya nggak bisa complain. Tapi tentu saja kita harus meningkatkan terus, supaya perdagangan itu semakin membaik Tapi, ada tidak ada pemerintah, perdagangan itu cenderung meningkat terutama setelah krisis ekonomi pada tahun 97 yang lalu. R: Apakah tidak agak pincang, bahwa lebih banyak bahan atau product Indonesia yang masuk Australia daripada product Australia masuk ke Indonesia? IC : Dari segi saya itu menguntungkan Bu,…karena kita surplus 1 milyar…Jadi itu tidak mengganggu national reserve kita. Jadi saya justru berharap kita semakin banyak mengekspor kemari, mengimpor lebih sedikit, dari perspektif Pemerintah. Karena itu akan mengganggu kalau terlalu…balance nya terlalu timpang…surplusnya di pihak Australia, itu akan mengganggu national reserve kita….sementara kita masih lemah. R: Apa yang dilakukan Pemerintah Indonesia sekarang untuk lebih menggalakkan investasi Australia di Indonesia? IC : Harap dicatat, ada 400 companies Australia sekarang beroperasi di Indonesia. Tidak satupun diantara mereka yang meninggalkan Indonesia ketika ada krisis. Artinya apa, memang kita memerlukan..yang namanya Foreign Direct Investment. Foreign Direct Investment ini akan membantu pertumbuhan ekonomi kita. Saya berharap, setelah situasi politik kita nanti menjadi stabil, Pemilihan Presiden dimana Presidennya nanti akan solid dan kuat, saya berharap bahwa investment baru akan datang dari Australia. R: Apa yang bisa dilakukan di Australia Selatan, karena Australia Selatan sedang betul-betul menggiatkan bidang perdagangannya? IC : Yang kami sedang bicarakan dalam kunjungan ini ada beberapa komoditi yang kita lihat, misalnya dari pihak kita tentulah furnitures, dari pihak mereka tentulah paper products, kemudian cattles, dan kemudian juga kapas, dan kemudian ada beberapa dairy products…Yang ingin kita tingkatkan adalah justru satu atau dua industri disini sedang mengalami kesulitan. Kita menghimbau kepada mereka, Daripada factory-nya itu remains idle, kenapa tidak dipindahkan ke Indonesia, yang marketnya luar biasa besar, apalagi pertumbuhan ekonomi kita diperkirakan akan mencapai kurang lebih 5% pada akhir tahun ini. R: Tapi mungkin yang menjadi hambatan adalah keadaan keamanan di Indonesia sekarang ini. IC : Nah ini yang saya katakan tadi, apabila kita sudah mendapatkan Presiden yang mendapat mandat langsung dari rakyat, tentunya dia akan menjadi Presiden yang sangat kuat dan tidak takut akan di-impeach oleh Parlemen. Dengan demikian dia akan mampu menciptakan stabilitas dan pematuhan hukum yang lebih baik dibandingkan Presiden-Presiden yang lalu. R: And you're still listening to 5EBI and our Special Guest.this evening is His Excelency The Indonesian Ambassador to Australia Mr. Imron Cotan. Music…. R: Dan Tamu Khusus kita hari ini, Bapak Duta Besar Indonesia Untuk Australia. R: Pak Dubes, ekonomi Indonesia yang tidak sekuat misalnya 10-15 tahun yang lalu, waktu di APEC kita berani mengeluarkan selebaran yang mengatakan dan kita mengutip waktu itu Bank Dunia yang mengatakan By the year 2020, Indonesia will be the 5th largest economy in the world. IC : Mm we still have time....to catch up… … R: Dan seperti saya katakan tadi Pak, 2 bulan yang lalu saya berada di Indonesia. Tetapi waktu itu selebaran-selebaran dari Deplu Australia mengatakan: Jangan mengunjungi Indonesia…karena keadaannya begitu rawan sekarang. Dalam kunjungan itu karena kita berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain dan agak susah karena menantu saya juga orang Bule ya…jadi waktu itu mereka juga sebetulnya juga agak takut untuk pergi ke Bali. Tapi waktu kita sampai di Bali, itu untuk naik pesawat kembali ke Australia, itu pesawat semua penuh. Dan sekarang, sejak sebulan ini saya sedang mencari seats 6 orang untuk anak cucu saya dan menantu saya, dan semua flight penuh. IC : Itu lagi..merupakan suatu tanda bahwa Bali sudah kembali ke tingkat normal. Baru-baru ini mungkin 2 atau 3 bulan yang lalu, Australian Airlines meningkatkan frekuensi penerbangannya dari 3 menjadi 4 kali satu minggu..dan sekarang kita punya 3 alternatif…Garuda, Air Paradise dan Merpati. R: Qantas.. IC: Ya….ya IC : Jadi saya melihat dari segi turisme, kembali lagi ini masalah logic saja. Mengapa saya katakan demikian, karena, Indonesia itu dekat, Bali sudah dikenal, merupakan bagian dari kehidupan sebagian besar orang Australia, kalau Ibu sekarang pergi misalnya katakanlah ke Sydney atau ke Canberra, seorang apabila ingin menjual properti, dia selalu mengatakan…with a Balinese garden. R: Ya betul…Saya juga sekarang mau punya lho Pak… IC : Nah,..ini merupakan fakta…apalagi penduduk atau rakyat yang dari South Australia, Western Australia, Queensland itu lebih dekat ke kita daripada bahkan ke Melbourne atau ke Sydney. R: Betul.. IC: Jadi dari segi logic tentu saja mereka akan kembali ke Bali. Nah kembali kepada masalah travel advisory yang Ibu katakan tadi. Saya sudah diberikan janji oleh seorang pejabat katakanlah wakil Menlu mereka, bahwa dalam waktu 6 bulan mereka akan review travel advisory itu..diharapkan…nanti tidak lagi pinpointing kepada satu daerah misalnya Bali…..Kalimantan. Tetapi secara umum saja mengatakan…kalau anda travel, tidak hanya ke Indonesia..mungkin saja Malaysia, Singapore atau Israel,…mereka akan mengatakan berhati-hatilah, karena ada ..masih ada ancaman terorisme ..dan..kembali lagi kalau kita..pola hidup kita..pola perjalanan kita dipengaruhi oleh pertimbangan teroris ini, sebenarnya kita menyerah. R: Betul, tetapi sebagai Duta Besar Republik Indonesia sekarang, langkah-langkah yang Bapak ambil untuk meningkatkan hubungan kedua negara supaya kita tidak terlihat seperti kubu teroris Jemaah Islamiah… IC : Jadi itu kembali lagi saya beberapa waktu yang lalu, memberikan keterangan kepada mereka, bahwa ada baiknya, Pemerintah Australia itu tidak hanya memfokuskan kepada pendidikan yang sekuler. Nah belakangan ini Ibu ketahui bahwa mereka meningkatkan bantuan ODA (Official Development Aid). Mereka melalui AUSAID mereka dari 150,2 juta Australian dollars menjadi 168 juta Australian dollars sebagian dari itu akan digunakan untuk meningkatkan pendidikan di pesantren, madrasah, sekolah-sekolah Islam tradisional. Saya kira ini penting sekali…inilah barangkali yang bisa menunjukkan kepada mereka bahwa tentulah ada sebagian kecil dari Islam itu yang ekstrim. Ekstrimisme itu ada dimana saja. R: Betul IC : Nah melalui pendidikan inilah kami berharap katakanlah pemahaman rakyat Australia dan Pemerintah Australia terhadap Islam di Indonesia akan lebih baik dengan demikian hubungan kedua negara akan semakin lebih baik. R: Bapak Imron Cotan, terima kasih banyak. IC : Terima kasih Ibu. |
|
|
|