![]() |
||
|
PIDATO
|
||
|
Assalamu'alaikum warrahmatullahi
wabarakatuh Saudara-saudara, dan Pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan berkah dan rahmat-Nya kepada kita semua, sehingga dapat berkumpul pada pagi hari ini untuk memperingati Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke-58, hari yang sangat bersejarah bagi seluruh rakyat Indonesia. Sungguh suatu karunia yang patut kita syukuri, ketika Soekarno dan Hatta didukung oleh segenap pendiri dan pejuang bangsa, pada tanggal 17 Agustus 1945 memproklamirkan kemerdekaan Indonesia yang merupakan puncak perjuangan anak-anak bangsa untuk melepaskan diri dari tangan penjajah. Perjuangan para pendahulu bangsa tersebut baik di medan pertempuran, maupun di medan diplomasi, sungguh melelahkan dan memakan korban jiwa dan harta-benda yg tidak ternilai harganya. Atas jasa mulia mereka itulah, kita saat ini mampu berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah, dengan bangsa-bangsa merdeka lainnya. Sudah seharusnyalah kita - sebagai generasi penerus - melanjutkan perjuangan mereka sebagai wujud rasa terima kasih atas jasa-jasa mulia para pejuang kemerdekaan tersebut. Saudara-saudara sebangsa dan setanah air, Terbebas dari bangsa-bangsa penjajah, ternyata tidak segera melicinkan jalan sejarah kebangsaan Indonesia, terbukti dengan munculnya serangkaian pergolakan yang beraroma ideologi dan sektarian dan yang sungguh meluluh-lantakkan hati nurani rakyat Indonesia adalah meletusnya Tragedi Nasional 1965 dimana sejumlah putera terbaik bangsa gugur demi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tampaknya perjalanan kita untuk mencapai cita-cita nasional, yaitu masyarakat adil dan makmur serta sejahtera lahir dan bathin tidaklah semudah yang dibayangkan. Era stabilisasi politik semu di bawah pemerintahan Orde Baru ternyata menimbulkan dampak negatif yang tidak kurang pula parahnya dan menjerumuskan Indonesia ke jurang krisis ekonomi di penghujung tahun 1997 yang kemudian memicu pecahnya krisis multidimensional berkepanjangan, termasuk pecahnya kembali konflik-konflik sektarian di sementara kawasan. Namun patut disyukuri bahwa krisis multidimensional dimaksud menciptakan peluang bagi munculnya era reformasi dan demokratisasi di bumi nusantara - dimana nilai-nilai perlindungan serta pemajuan hak asasi manusia yang sesungguhnya secara holistik memang terkandung di dalam falsafah bangsa 'Pancasila', kembali memainkan peran sentral di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Krisis multidimensional dan konflik-konflik sektarian tersebut memang telah menelan korban jiwa dan harta benda yang tidak ternilai harganya. Saya yakin bahwa pengorbanan itu akan lebih memperkuat rasa persatuan dan saling penghargaan diantara sesama kita yang sungguh majemuk ini. Itulah sesungguhnya makna luhur dari semboyan nasional kita: 'Bhinneka Tunggal Ika'. Saudara-saudara sebangsa dan setanah air, Dalam hal penyelesaian di Aceh, setelah gagalnya serangkaian perundingan dengan pihak pemberontak bersenjata Aceh di Tokyo, 18 Mei 2003, Pemerintah RI memutuskan untuk melakukan operasi terpadu guna mempertahankan keutuhan wilayah NKRI dan untuk menghindarkan terus jatuhnya korban di tengah-tengah rakyat sipil. Operasi terpadu ini meliputi operasi kemanusiaan, operasi penegakan hukum, operasi pemulihan pemerintahan daerah, dan operasi militer. Untuk keperluan itu, pemerintah telah menyediakan dana sebesar Rp 200 milyar yang ditujukan, antara lain, untuk: pembangunan kembali prasarana dan sarana, terutama sekolah-sekolah yang dibakar oleh para pemberontak, penyediaan bahan makanan pokok, obat-obatan dan keperluan anak-anak sekolah. Pemerintah RI sudah pula bertekad, segera seusai konflik di Aceh, konflik di Papua akan segera dituntaskan antara lain dengan berupaya menyempurnakan paket otonomi khusus, menciptakan ketertiban umum dan hukum, termasuk melakukan berbagai investigasi kasus-kasus pelanggaran hak asasi manusia di wilayah tersebut. Khusus yang menyangkut para pelanggar hak asasi tersebut, pemerintah bertekad membawa mereka ke depan pengadilan untuk menerima hukuman yang setimpal. Prioritas lain yang tak kalah pentingnya adalah upaya penegakan hukum yang berkeadilan, termasuk pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme serta terorisme yang akhir-akhir ini mengganggu stabilitas keamanan nasional dan menurunkan citra Indonesia di mata dunia. Untuk itulah, Undang-Undang No.: 15/2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme dikeluarkan oleh pemerintah guna mengatasi ancaman terorisme tersebut. Pemerintah juga telah memutuskan untuk menjalin kerjasama dengan negara-negara sahabat - termasuk Australia - khususnya di dalam penyelidikan bom Bali, Oktober 2002, yang telah berhasil membongkar jaringan yang terlibat di dalam tindakan biadab tersebut. Keterlibatan aparat kepolisian negara-negara sahabat di dalam penyelidikan bom Bali tersebut menunjukkan keseriusan pemerintah untuk membasmi terorisme hingga ke akar-akarnya. Saudara-saudara yang saya hormati, Terlepas dari peristiwa pemboman Bali dan Hotel Marriot di Jakarta baru-baru ini, 'outlook' perekonomian cukup menggembirakan. Pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2003 ini diperkirakan akan mencapai sekitar 4% dan pada tahun yang akan datang diperkirakan mencapai 5%. Sementara itu, nilai tukar rupiah menguat cukup signifikan hingga berada pada kisaran Rp. 8500/US dollar dan telah pula dinobatkan sebagai salah-satu 'the best performing currencies' di dunia. Beberapa hari yang lalu, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengeluarkan pula suatu laporan yang cukup menggembirakan bahwa pada kurun waktu tujuh bulan terakhir 'foreign direct investment' (FDI) di Indonesia meningkat sebesar 46% - kurang lebih US$4.67 milyar - dibandingkan pada periode yang sama tahun yang lalu. Seperti diketahui, selain pendapatan dari konsumsi dan ekspor, peran 'foreign direct investment' sangat menentukan untuk membantu Indonesia keluar dari krisis ekonomi yang dihadapinya. Laju inflasi juga dapat ditekan di bawah dua digit serta diperkirakan - pada penghujung tahun - akan mampu ditekan pada kisaran 6%. Perdagangan dengan beberapa negara, termasuk Australia, telah kembali meningkat dan menguntungkan Indonesia. Total perdagangan bilateral ke dua negara mencapai puncaknya tahun lalu yaitu sebesar A$ 7.3 milyar, meningkat 2.82%. Nilai ekspor Indonesia ke Australia mencapai A$ 4.2 milyar atau naik 8% dan nilai impornya dari Australia yang mencapai A$ 3.1 milyar atau turun 5%, sehingga pada tahun 2002 yang lalu necara perdagangan Indonesia dengan Australia surplus sebesar A$ 1.1 milyar. Semakin membaiknya hubungan perdagangan tersebut ditunjukkan oleh semakin meningkatnya posisi peringkat Indonesia sebagai negara sumber impor atau pasokan bagi Australia. Pada tahun 2000, Indonesia menduduki ranking ke 13 sebagai negara sumber impor Australia, sedangkan pada tahun 2002, peringkat Indonesia naik pesat menjadi ranking ke sembilan sebagai negara pemasok utama bagi Australia. Dengan cadangan devisa yang mencapai US$35 milyar, sementara pihak telah mengusulkan Indonesia untuk melepaskan diri dari program pemulihan ekonomi IMF di akhir Tahun Fiskal 2003. Hasil-hasil positif yang telah dicapai tersebut tidak terlepas dari kerja keras kita bersama dan tentu saja dengan bantuan dan pengertian negara-negara sahabat. Sementara itu, di bidang politik, Presiden Megawati Soekarnoputri berhasil mempertahankan kemajemukan kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia dengan tidak dimasukkannya pengaturan kehidupan beragama ke dalam Undang-Undang Dasar 1945. Selama kurun waktu setahun terakhir ini pula pemerintah - bekerjasama dengan DPR - berhasil mengeluarkan berbagai undang-undang untuk menstabilkan dan memperkaya kehidupan berdemokrasi di Indonesia. Undang-undang tersebut menyangkut pemilihan langsung presiden, pemberantasan tindak pidana terorisme, sistem pendidikan nasional, hak cipta dan mahkamah konstitusi. Diharapkan dengan dikeluarkannya undang-undang tersebut, jalannya roda pemerintahan akan menjadi lebih bersih, transparan, dan taat hukum demi terciptanya masyarakat yang adil dan makmur seperti yang dicita-citakan para pendiri bangsa. Saudara-saudara yang saya cintai, Sebagai perpanjangan tangan Pemerintah RI di Australia, KBRI Canberra juga berupaya memberikan kontribusinya terhadap pembangunan nasional, terutama dalam meningkatkan hubungan bilateral antara Indonesia dengan Australia berdasarkan prinsip 'equal footing, mutual respect and mutual benefit'. Saya sungguh merasa berbahagia hubungan kedua bangsa telah kembali membaik. Dukungan atas keutuhan wilayah NKRI yang secara tegas disampaikan oleh PM John Howard dalam berbagai kesempatan, sungguh sangat dihargai. Ditanda-tanganinya pernyataan bersama 'the 6th Australia - Indonesia Ministerial Forum', Jakarta, Maret 2003, yang antara lain menegaskan kesediaan Pemerintah Australia untuk mengambil seluruh langkah-langkah yang diperlukan untuk mendukung pengakuannya terhadap kedaulatan wilayah NKRI, terutama di Aceh dan Papua, merupakan salah-satu tonggak yang amat bermakna bagi pembangunan hubungan bertetangga baik diantara kedua negara paska-Timor Timur. Dokumen yang sama juga menegaskan bahwa Pemerintah Australia akan menyusun suatu 'pola tindak' (a code of conduct) untuk mencegah penyalah-gunaan dananya oleh organisasi-organisasi non-pemerintah Australia yang beroperasi di Indonesia untuk mendukung gerakan-gerakan separatisme di Papua dan Aceh. Sudah dapat dipastikan, kesepatan-kesepakatan tersebut akan mendorong peningkatan hubungan bilateral Indonesia - Australia ke tahapan yang lebih sempurna, terlepas dari adanya perbedaan kultur diantara kedua negara. Sementara di bidang pertahanan, kedua pemerintah terus membina hubungan dan kerjasama di bidang militer, antara lain melalui program tukar-menukar para perwira muda/menengah angkatan bersenjata kedua negara dengan tujuan disamping untuk meningkatkan pengetahuan, tetapi yang lebih penting lagi adalah menciptakan rasa saling-pengertian diantara sesama mereka, sehingga akan melancarkan kerjasama pertahanan kedua negara di masa mendatang. Tidak kalah pentingnya adanya keeratan kerjasama aparat kepolisian kedua negara, terutama di bidang intelijen seperti yang telah digambarkan di atas, telah mampu menguak peristiwa pemboman Bali yang merengut jiwa sekitar 200 orang. Baru-baru ini, kepolisian Australia juga telah telah menyumbangkan empat kapal patroli kepada kepolisian Indonesia untuk kelancaran pengungkapan berbagai tindak kejahatan di perairan Indonesia. Saudara saudara sebangsa dan setanah air. Sejalan dengan tema utama HUT RI tahun ini, yaitu 'DENGAN SEMANGAT 17 AGUSTUS 1945 KITA GALANG PERSATUAN DAN KESATUAN UNTUK TEGAKKAN TATANAN DEMOKRASI DALAM KEHIDUPAN BERMASYARAKAT, BERBANGSA DAN BERNEGARA', saya ingin pula menggunakan kesempatan ini untuk mengajak saudara-saudara sekalian untuk sepenuhnya bahu-membahu membantu upaya-upaya pemerintah untuk memelihara, menjaga dan meningkatkan persatuan dan kesatuan bangsa. Sejarah telah menunjukkan bahwa pertentangan antar suku, ras, golongan dan agama, hanya akan membawa bangsa ke jurang kehancuran. Seharusnyalah perbedaan yang terdapat diantara kita, dijadikan modal dasar untuk tidak hanya mempererat persatuan dan kesatuan bangsa, tetapi juga untuk mencapai kemajuan dan kemakmuran bersama. Kiranya tepat pula apabila saya menggunakan kesempatan ini untuk menghimbau seluruh rekan sekerja untuk senantiasa meningkatkan kinerja dalam rangka memberikan pelayanan kepada masyarakat Indonesia di Australia serta sungguh-sungguh bekerja demi peningkatan hubungan Indonesia - Australia. Kepada para pelajar dan mahasiswa gunakanlah kesempatan yang berharga ini untuk meningkatkan pengetahuan di bidang-bidang studi yang dipilih. Terdapat sekitar 20.000 mahasiswa Indonesia yang saat ini belajar di Australia. Mereka telah memberikan kontribusi tidak hanya bagi pengembangan budaya, tetapi juga ekonomi nasional Australia. Saya berharap agar para mahasiswa Indonesia tidak hanya mampu memperkaya khasanah keilmuan institusi-institusi pendidikan Australia, tetapi juga mampu mentransfer ilmu pengetahuan dan teknologi Australia ke bumi nusantara bagi kesejahteraan ibu pertiwi. Saya juga ingin menghimbau anggota masyarakat Indonesia lainnya di Australia, agar turut menciptakan suasana kondusif bagi tercapainya tujuan-tujuan mulia di atas. Saudara-saudara sebangsa dan setanah air, Ijinkanlah saya menutup sambutan ini dengan menyerukan: 'Dirgahayu Republik Indonesia, Sekali Layar Terkembang, Surut Kita Berpantang. Maju Terus Pantang Mundur'. Wassalamu'alaikuam warrahmatulahi wabarrakatuh.
|
||