Hubungan RI-Australia Lebih Realistik Dan Saling Memahami
Sabtu, 27 April, 2002 11:04:45 AM
Canberra, 27/4 (ANTARA)
Duta Besar RI untuk Australia Sudjadnan Parnohadiningrat mengatakan, hubungan bilateral Indonesia-Australia kini tumbuh lebih realistik dan bahkan mulai pulih kembali seperti kondisi sebelum peristiwa Timor Timur tahun 1999.
Hal itu diungkapkan Dubes Sudjadnan kepada ANTARA di Canberra, Sabtu, sesaat menjelang keberangkatannya kembali ke Jakarta untuk memulai tugas baru selaku Sekretaris Jenderal Departemen Luar Negeri di Pejambon, Jakarta.
Menurut Sudjadnan, hubungan kedua negara kini lebih realitik dan semakin dewasa
yang dilandasi dengan prinsip-prinsip pragmatisme, saling menguntungkan dan saling menghormati.
Ia mencontohkan hubungan yang dibangun kembali antara unsur pertahanan kedua negara. "Kita terus mendorong upaya menghidupkan kembali bentuk hubungan seperti yang dialami pada era sebelum peristiwa 1999 di Timtim," katanya.
"Dalam hubungan antar pertahanan kedua negara (defence to defence) sejak awal saya selalu mendorong kedua pihak untuk memulai pertemuan," ujarnya. Tentu saja pertemuan itu dimulai dalam suasana yang sangat informal dan pertukaran pandangan yang tidak mengikat tapi kemudian dilanjutkan dengan pertemuan lebih serius.
Imigran gelap
Selain hubungan dari segi pertahanan, Sudjadnan juga menyoroti sikap kedua pemerintah yang dinilai mulai mampu mengatasi permasalahan sebagaimana tercermin pada penanganan imigran gelap selama ini.
"Kedua pihak telah mampu mengubah masalah imigran gelap yang semula berpotensi sebagai pemicu konflik menjadi sesuatu yang bahkan dapat mempererat hubungan kedua negara," katanya.
Dengan adanya konferensi regional tentang imigran gelap dan penyelundupan manusia di Bali, katanya, masalah itu akhirnya dapat dipahami sebagai masalah "bersama" dan bukan sekedar masalah "kedua negara".
Hubungan yang lebih erat dan tumbuh dewasa itu tidak terlepas dari hasil saling mengunjungi kedua kepala negara serta para pejabat tinggi mereka, katanya.
Kunjungan-kunjungan itu antara lain, Presiden RI Abdurrahman Wahid (saat itu) ke Australia pada Juni tahun 2001, Perdana Menteri John Howard ke Indonesia sebanyak dua kali (Agustus 2001 dan Februari 2002) dan kunjungan Ketua MPR-RI ke Australia, katanya.
"Jika kita melihat saling kunjung yang dilakukan oleh elite/pejabat kedua negara itu
menunjukkan bahwa peningkatan hubungan cukup tajam," katanya.
Namun demikian, Sudjadnan mengakui masih adanya berbagai masalah yang dianggap belum bisa terselesaikan (pending matters) pada masa jabatannya sebagai Dubes RI untuk Australia.
Masalah tersebut, antara lain pengajaran Bahasa Indonesia bagi 1,2 juta siswa Australia serta sekitar 1.000 guru Bahasa Indonesia.
Untuk itu, diharapkan pihak perwakilan RI bisa mencari suatu "slot" siaran televisi yang akan menayangkan pengajaran Bahasa Indonesia sebagai upaya mendorong pengajaran bahasa itu di Australia.
Sebaliknya, pihak televisi Australia bisa juga mempergunakan "slot" yang sama di televisi Indonesia dalam bentuk kerangka kerjasama exchange program, ujarnya.
Masalah lain, Dubes Sudjadnan melihat masih perlunya terus diupayakan stabilisasi hubungan kedua negara sehingga mencapai tingkat yang lebih mantap.
Embassy of the Republic of Indonesia, Canberra - Australia