Paparan Duta Besar Luar Biasa Dan Berkuasa Penuh
Indonesia Untuk Australia
Sudjadnan Parnohadiningrat
Didepan Civitas Akademika
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

9 Februari 2002

Yang Terhormat Bapak Prof. Dr. Achmad Mursyidi, Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Yang Terhomat Dekan Fisip Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Yang Terhormat Bapak Bapak dan Ibu Ibu Civitias Akademika
Dan Saudara-saudara sekalian

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh,

1. Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kesempatan yang diberikan untuk berada di sini diantara Bapak, Ibu dan Saudara civitas akademika Universitas Muhammadiyah Yogyakarta guna menyampaikan perkembangan hubungan bilateral antara Indonesia dengan Australia, dan berbagai tantangan yang kita hadapi dalam membina hubungan antara kedua bangsa.

2. Hubungan bilateral antara Indonesia dan Australia secara dinamis mengalami pasang surut pada setiap tahapannya. Pada suatu masa hubungan kedua negara khususnya tingkat formal antara pemerintah berjalan dengan "mesra" namun dilain waktu hubungan keduanya berjalan dalam suasana tegang, saling menyalahkan dan penuh dengan retorika pertentangan. Naik turunnya hubungan ini tidak dapat disimpulkan dengan secara simplistik merujuk kepada berkuasanya salah satu partai di Australia sebagai penyebabnya. Sulit disimpulkan secara apriori bahwa misalnya di bawah Partai Buruh maka hubungan kedua negara akan mesra atau dibawah partai Liberal-Nasional hubungan bilateral berlangsung dengan pertentangan-pertentangan. Hubungan yang sempat berada di titik terendah yang terjadi ketika Australia dibawah koalisi Partai Liberal - Nasional tahun 1999 yang lalu, juga tidak dapat dijadikan sebagai kesimpulan bahwa dibawah partai tersebut hubungan kedua negara akan selalu berlangsung dengan tegang dan penuh dengan pertentangan.

3. Indonesia dan Australia memang sudah ditakdirkan untuk menjadi dua negara yang bertetangga. Secara geografis kedua negara ini berdekatan, namun secara kultural kedua bangsa ini sangat berbeda. Namun demikian dari segi kepentingan nasional terutama bagi Indonesia, dapat dikatakan bahwa Australia memiliki potensi diberbagai bidang seperti ekonomi, pendidikan, perdagangan, politik, pertahanan, ilmu pengetahuan dan terknologi yang dapat digali oleh pihak Indonesia.

4. Dari pengertian kontemporer mengenai diplomasi nampaknya menjadi "tetangga yang baik" merupakan pilihan yang lebih tepat dan lebih memberi peluang bagi pencapaian kepentingan-kepentingan nasional di berbagai bidang tersebut. Meskipun demikian pendekatan seperti ini tidak berarti bahwa Indonesia harus selalu "mengiyakan" apa yang diminta atau menyetujui apa yang menjadi pandangan negara tetangga itu. Dalam hubungan bilateral dengan Australia, prinsip-prinsip realisme dan pragmatisme dapat menjadi landasan yang berkesinambungan bagi kebijakan luar negeri Pemerintah Indonesia. Diplomasi yang dilakukan dengan jujur dan lugas atas dasar prinsip-prinsip saling menghormati dan saling menguntungkan tetapi tetap dengan mengutamakan kepentingan nasional diharapkan akan dapat menempatkan Indonesia dalam posisi yang kuat dalam berhubungan dengan negara tetangga itu.

5. Dilain pihak bagi Australia, Indonesia dengan segala permasalahan yang dihadapi, juga memiliki berbagai potensi yang dapat memberikan keuntungan di berbagai bidang. Australia sebagai "Bangsa Barat" yang berada di Selatan sejak 100 tahun yang lalu ketika negara Federal ini mulai terbentuk, secara tradisional terus memelihara hubungan-hubungan yang secara politis dan strategis beraliansi dengan Amerika Serikat maupun Eropa. Proses integrasi Australia kedalam masyarakat bangsa-bangsa mempunyai kecenderungan tradisional seperti itu. Namun demikian faktor letak geografis dan perhitungan-perhitungan strategis yang mencakup sumber daya manusia, sumber-sumber keuangan, logistik dan sebagainya secara alamiah membatasi bentuk-bentuk aliansi Australia dengan negara-negara itu. Oleh karena faktor-faktor itu Indonesia selamanya menjadi faktor strategis yang selalu diperhitungkan oleh Australia untuk menentukan bagi pilihan-pilihan kebijakan luar negeri mereka dalam proses integrasinya kedalam masyarakat antar bangsa.

6. Dengan mempertimbangkan konstelasi seperti itu dalam berhubungan dengan Australia, Indonesia sebenarnya mempunyai "leverage" untuk tetap pada posisi yang sederajat, seimbang dan tidak menjadi objek bagi kepentingan unilateral Australia. Dengan demikian diplomasi "multitracks" yang dilandasi dengan sikap jujur, lugas dan transparan yang dikemukakan dimuka adalah pilihan terbaik dalam hubungan bilateral dengan Australia.

7. Dengan landasan kebijakan seperti itu yang tentunya diaplikasikan berdasarkan serangkaian pengalaman sejarah yang dikemas dalam konteks diplomasi kontemporer yang dipenuhi dengan berbagai kesepakatan, konvensi, serta kaidah-kaidah yang berlaku secara umum diharapkan masalah-masalah yang timbul diantara kedua negara selalu dapat diselesaikan tanpa merugikan masing-masing pihak. Dalam kaitan ini pencapaian kepentingan timbak balik yang saling menguntungkan mengharuskan agar beberapa "luka lama" dihapuskan atau diletakkan dalam konteks sejarah sehingga menjadi bagian dari hubungan masa kini secara proporsional. Masalah Timor Timur yang "sangat melukai" yang sudah diputuskan untuk menjadi bagian dari proses sejarah masa lalu bangsa Indonesia, apabila dilihat sebagai salah satu variable dalam politik luar negeri Indonesia terhadap Australia, dewasa ini juga harus mulai diperhitungkan secara proporsional dalam konteks pelaksanaan prinsip-prinsip realisme dan pragmatisme seperti dikemukakan terdahulu.

8. Saat ini justru Indonesia dan Australia perlu bekerjasama dengan Timor Timur untuk membantu membangun negara baru tersebut. Sekali lagi kerjasama ini adalah dalam kerangka pencapaian kepentingan - kepentingan nasional yang konstekstual sejalan dengan perkembangan lingkungan strategis global maupun regional dan perkembangan - perkembangan politik, ekonomi, pertahanan, sosial dan budaya ditingkat nasional. Akan lebih menguntungkan bagi Indonesia untuk mempunyai tetangga Timor Timur yang sejahtera dan damai dari pada memiliki tetangga sebuah negara kecil yang miskin, mengalami banyak kesulitan dan "hostile" terhadap Indonesia. Dalam kerangka pencapaian kepentingan nasional sejalan dengan perkembangan kawasan tersebut, ketiga negara Indonesia, Timor Timur dan Australia, sudah sepakat untuk mengadakan suatu pembicaraan trilateral di Bali bulan Februari 2002, sebagai langkah awal menuju kerjasama yang diinginkan.

9. Dewasa ini isyu lain yang menjadi penting dalam hubungan bilateral ialah adanya beberapa kelompok tertentu dari Australia yang mempunyai perhatian terhadap kelompok separatis terutama di Propinsi Papua. Beberapa dari mereka mencoba untuk memperlakukan isyu Papua sebagai isyu perlindungan dan penegakan HAM yang antara lain terkait dengan pelaksanaan "rights to self-determination" serta hak-hak lain dari orang Papua yang dilanggar oleh negara. Kelompok-kelompok ini menginginkan ditanganinya isyu Papua dengan melalui tahapan-tahapan yang melibatkan dukungan internasional yang diinspirasi oleh proses memerdekakan Timor Timur. Dalam menangani isyu ini KBRI secara proaktif terus berupaya memberikan pengertian mengenai keabsyahan masuknya Propinsi Papua dalam wilayah Indonesia. Selain itu argumentasi yang sejalan dengan komitmen RI dibidang perlindungan dan penegakan HAM terus disampaikan kepada publik. Berbagai perkembangan upaya pemerintah di Papua untuk meyakinkan mereka bahwa pemerintah Indonesia akan mempertahankan Propinsi Papua sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia "at all cost" juga terus disampaikan kepada berbagai pihak di Australia.

10. Dalam berbagai forum antara lain telah dijelaskan perkembangan yang menyangkut persetujuan pemberian Otonomi luas kepada Propinsi Papua sejak Oktober 2001 lalu sebagai cara terbaik untuk menyelesaikan berbagai masalah sosial, politik dan ekonomi yang terjadi di Papua. Berkembangnya Propinsi Papua yang merupakan bagian NKRI, yang terlepas dari konflik dalam jangka panjang akan dapat menjadi pintu gerbang timur bagi negara-negara Pasifik Selatan yang memberikan manfaat bagi Papua maupun negara-negara Pasifik Selatan itu sendiri.

11. Masalah lain yang dewasa ini masih "mengganggu" hubungan bilateral kedua negara ialah mengenai imigran gelap. Masalah ini sebenarnya bukan masalah yang dihadapi dua negara saja tetapi merupakan masalah internasional. Indonesia merasa perlu agar masalah ini segera ditangani secara kolektif oleh negara-negara yang terlibat yaitu negara asal, negara transit, negara tujuan dan organisasi internasional yang mempunyai mandat menangani masalah-masalah pengungsi dan imigrasi (UNHCR dan IOM dll).

12. Salah satu ilustrasi mengenai isyu imigran gelap yang mengganggu hubungan Indonesia dan Australia antara lain ialah kasus imigran gelap yang ditampung di KM Tampa bulan Juni tahun lalu yang telah dijadikan komoditas politik dalam negeri oleh Partai Koalisi. Pada saat terjadinya peristiwa tersebut, popularitas PM Howard sebenarnya dapat dikatakan sudah sangat rendah dilakangan politisi maupun rakyat Australia pada umumnya. Namun dengan menggunakan isyu imigran gelap ini kembali popularitas PM Howard terangkat sehingga mampu menggalahkan saingannya pada pemilu Federal bulan November 2001 lalu. Dalam kaitan ini KBRI Canberra menyampaikan beberapa penyesalan karena telah dilakukannya "blame-game policy" dan digunakannya "megaphone diplomacy" oleh Pemerintah Liberal yang oleh Indonesia dinilai "unhealthy" dalam pembinaan hubungan bilateral. Kepada pemerintah PM Howard berkali kali Menlu RI dan Dubes RI telah menyampaikan sikap kurang suka atas digunakannya Indonesia sebagai bagian dari kampanye politik. Dengan sikap tegas dan lugas seperti ini dirasakan telah terdapat perubahan dalam sikap pemerintah Australia dalam isyu imigran gelap ini.

13. Dengan dasar pertimbangan bahwa masalah imigran gelap ini adalah masalah internasional, Indonesia berupaya untuk dapat menyelesaikan masalah tersebut dengan menyelenggarakan "Regional Conference on people Smuggling, People Trafficking and Related Transnational Crime" pada tingkat Menteri di Bali pada tanggal 27-28 Februari 2002. Indonesia dan Australia akan bertindak sebagai pimpinan dan tuan rumah konferensi regional tersebut yang akan dihadiri oleh sekitar 35 negara yaitu negara asal imigran, negara transit dan negara tujuan akhir. Beberapa Organisasi Internasional yang terkait juga akan diundang dan diharapkan konferensi ini akan dapat menghasilkan suatu kesepakatan untuk secara kolektif negara-negara peserta mengangani masalah imigran gelap ini.

14. Terorisme pengeboman Gedung WTC dan Pentagon di Amerika pada tanggal 11 September 2001 lalu telah memunculkan tantangan-tantangan namun sekaligus juga peluang baru bagi hubungan internasional secara luas dengan beberapa dampak yang dirasakan di Australia. Terorisme telah menjadi isyu internasional yang hangat yang oleh sebagian orang Australia dihubungkan dengan Islam dan negara-negara yang mayoritas berpenduduk Islam.

15. Hubungan bilatreral antara Australia dan Indonesia juga terpengaruh akibat peristiwa tersebut. Sebagai negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam maka terjadi pemberitaan yang menyangkutkan bangsa Indonesia dengan peristiwa teror tersebut. Beberapa penjelasan telah diberikan kepada masyarakat Australia mengenai hal tersebut, namun dalam hal ini situasi di dalam negeri sangat mempengaruhi upaya-upaya penjelasan tersebut. Membangun citra Indonesia yang baik, aman dan menarik baik bagi wisatawan maupun bagi investor asing pada dasarnya adalah upaya bersama ditingkat nasional dan diluar negeri yang terkait dengan perkembangan-perkembangan domestik.

16. Dalam kancah politik regional, Indonesia terus berusaha melakukan berbagai kerjasama regional dengan Australia dan beberapa negara kawasan. West Pacific Dialogue yang merupakan ide baru dari kerjasama regional yang digagaskan akan menyertakan Indonesia, Australia, Selandia Baru, Timor Timur, Philipina, dan Papua New Guinea, dewasa ini sedang dikembangkan oleh pemerintah Indonesia.

17. Dialog ini diharapkan akan menguntungkan bagi seluruh pesertanya dan bagi Indonesia dialog ini sama sekali bukan untuk menggerogoti kekuatan ASEAN. Indonesia dapat menggunakan dialog ini sebagai media untuk mengambil keuntungan bagi kerjasama dan pembangunan untuk wilayah Indonesia Bagian Timur, kerjasama dengan wilayah Pasifik Selatan. Dengan pendekatan-pendekatan yang dilakukan secara wajar namun terarah dialog ini dapat digunakan untuk mendapatkan dukungan terhadap integritas wilayah Republik Indonesia terutama dalam menghadapi kelompok separatis di Propinsi Papua. Bagi Australia, West Pacific Dialogue ini akan dapat menjadi media untuk lebih berperan aktif dalam masalah strategis dan keamanan Asia terutama setelah kegagalannya masuk ASEM dan ASEAN + 3.

 

Bapak, Ibu dan Saudara yang saya hormati,

18. Meskipun hubungan antar pemerintah kedua bangsa dapat dikatakan mengalami pasang surut tetapi hubungan-hubungan pribadi, budaya, pendidikan dan kerjasama ekonomi antara kedua bangsa tetap berjalan baik. Hubungan-hubungan ini dapat dikatakan tidak terpengaruh meskipun secara politis hubungan kedua negara sempat berada di titik terendah beberapa tahun lalu.

19. Saat ini dari seluruh pelajar / mahasiswa asing yang berjumlah 188.000, terdapat sekurangnya 17.626 orang Indonesia yang tengah mendapatkan pendidikan di Australia dimana sekitar 629 orang (4 %) diantaranya adalah penerima beasiswa dari Pemerintah Australia untuk mengambil program master dan doktor di berbagai jurusan dan universitas. Setiap tahunnya seluruh mahasiswa Indonesia tersebut mengeluarkan sekitar Aus $ 400 juta sementara pemerintah Australia menyediakan dana sebesar Aus $ 16.25 juta bagi para penerima beasiswa tersebut.

Catatan : Dalam skema kerjasama bantuan beasiswa ini besar kemungkinan civitas akademika Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dapat pula mengambil manfaatnya.

20. Para pelajar dan mahasiswa Indonesia yang pernah belajar di Australia merupakan potensi untuk dapat menjadi "agen" dalam mengupayakan hubungan yang stabil antara Australia dan Indonesia. Mereka merupakan "net work" yang dapat memperkenalkan nilai-nilai bangsa Australia baik dari segi mutu pendidikan, kebebasan yang bertanggung jawab, ketaatan pada hukum, penghargaan hak-hak individu, kebersamaan komunal dan lain lain. Begitupula sebaliknya, dari mereka tentu Australia juga mendapatkan banyak informasi yang positif mengenai Indonesia. Keuntungan seperti ini tidak dapat dihitung dalam jumlah uang secara nominal.

21. Perdagangan juga merupakan bagian penting hubungan bilateral yang potensial untuk dimanfaatkan bangsa Indonesia. Australia, yang secara geografis dekat dan tingkat perekonomiannya lebih baik, adalah pangsa pasar yang cukup besar bagi produk Indonesia mulai dari produk makanan olahan, kerajinan tangan/industri kecil, tekstil, sepatu, furniture, produk kertas sampai dengan kayu lapis. Nilai perdagangan kedua negara pada periode Januari - Oktober 2001 mencapai total US $ 2,95 milyar, dengan kenaikan sebesar 12,47 % dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2000. Perhitungannya adalalah bahwa nilai ekspor Indonesia mencapai US $ 1.54 milyar dengan kenaikan sebesar 17,85 % dibandingkan tahun sebelumnya sementara itu import dari Australia mencapai US $ 1,41 milyar dengan kenaikan sebesar 7.1 % jika dibandingkan dengan peiode yang sama tahun 2000. Dengan demikian nilai perdagangan Indonesia mengalami surplus sebesar US $ 137 juta sampai dengan bulan Oktober 2001.

22. Hubungan-hubungan perdagangan tersebut bersifat "mutually complimentary" dengan hubungan-hubungan di bidang lain. Dewasa ini terdapat lebih kurang 400 pengusaha besar Australia yang mempunyai hubungan bisnis dengan Indonesia yang sebagian besar diantaranya telah mendatangkan keuntungan di kedua pihak. Investasi dibidang pertambangan merupakan kegiatan bisnis Australia yang cukup besar di Indonesia.

23. Perolehan dari sektor perdagangan ini masih banyak yang dapat tingkatkan. Produk Indonesia banyak yang diminati di Australia. Demikian pula sebaliknya banyak produk Australia yang laku di Indonesia. Peluang bisnis ini dapat dimanfaatkan oleh para pengusaha dari kedua pihak. Australia dapat secara langsung menjadi sumber potensial bagi kerja sama pengembangan sumber daya manusia, terutama dibidang pelatihan industri dan pertanian.

24. Disamping potensi diberbagai bidang tersebut di atas, masih banyak lagi peluang yang dapat dimanfaatkan bagi kepentingan Indonesia dari Australia. Hubungan antar pribadi diantara anggota masyarakat kedua negara merupakan salah satu kunci dalam meningkatkan perolehan-perolehan dalam hubungan kedua bangsa. Untuk itu berbagai upaya ditekankan pada penanaman nilai "saling pengertian" melalui diplomasi kebudayaan yang terus dilakukan. Diplomasi kebudayaan ini diharapkan dapat menjembatani kedua bangsa dalam menyelesaikan berbagai masalah yang timbul dalam hubungan bilateral khususnya diantara kedua pemerintah. Berkaitan dengan hal tersebut, kunjungan Perdana Menteri John Howard tanggal 6-8 Februari 2002 juga akan mencakup kunjungan ke Yogyakarta. Kunjungan ini diharapkan memberikan kelengkapan hubungan kedua negara yang pada dasarnya bukan hanya hubungan antara Canberra dengan Jakarta.

25. Yogyakarta adalah salah satu pusat budaya nasional, sebuah kota pelajar yang merupakan 'melting point" generasi muda Indonesia dari seluruh suku bangsa. Diharapkan dengan kunjungan PM Howard ke Yogyakarta maka perhatian masyarakat Australia akan terfokus ke wilayah lain selain Bali dan Jakarta. Perhatian masyarakat Australia diharapkan akan terpengaruh dengan kunjungan pemimpinnya ke salah satu pusat budaya Indonesia yang sementara ini menurun karena kesan kurangnya keamanan dan sebagainya. Dengan ini diharapkan akan terjadi perubahan persepsi yang pada gilirannya akan berdampak positif terutama bagi turisme di luar Bali.

26. Dalam rangka diplomasi budaya tersebut diatas, KBRI dan seluruh Perwakilan Indonesia di Australia juga mempunyai program kebudayaan yang dirancang untuk menarik perhatian masyarakat Australia. Perwakilan-perwakilan Republik Indonesia juga aktif berpartisipasi dalam setiap kegiatan masyarakat Australia. KBRI Canberra sendiri mempunyai fasilitas gedung kebudayaan yang selama ini dimanfaatkan oleh sedikitnya 1000 pelajar Australia yang berkunjung ke fasilitas budaya tersebut setiap bulannya. Selain itu dalam beberapa festival budaya pelajar dan masyarakat Indonesia juga turut aktif terlibat. Dalam rangka diplomasi budaya ini KBRI dan Depdiknas juga melaksanakan program- program pertukaran pelajar dan mahasiswa. Diantara beberapa universitas yang mengajarkan program studi Indonesia juga berlangsung program semacam itu.

27. Seringnya kunjungan pejabat dari berbagai instansi, dan anggota dewan perwakilan rakyat dari kedua negara akhir-akhir ini juga diharapkan akan dapat membantu membangun hubungan bilateral yang makin kokoh dimasa depan. Hubungan baik antara dua pemerintah saja tidak cukup untuk membangun pengertian dan kerjasama antara dua negara. Dukungan dan keterlibatan berbagai unsur masyarakat, pelaku bisnis, dan kaum akademisi akan sangat membantu terjalinnya hubungan bilateral yang menguntungkan.

28. Secara sangat singkat saya ingin selalu menekankan pentingnya membangun hubungan baik atas dasar prinsip saling menghormati dan saling menguntungkan antara dua negara yang bertetangga. Dengan cara ini sebagai negara yang sedang berkembang Indonesia akan dapat meningkatkan kerjasama dengan negara di kawasan dan berbagi tugas dalam menciptakan kawasan yang aman, damai dan sejahtera yang pada gilirannya akan memberikan sumbangan yang berarti bagi pencapaian-pencapaian yang kongkrit bagi rakyat Indonesia.

Terima kasih atas perhatiannya.

Wassalamualaikum warahmatullahi Wabarakatuh.


-Canberra, Februari 2002-


Embassy of the Republic of Indonesia, Canberra - Australia