| Menimbang
: |
a. |
bahwa sejak diberlakukan
keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat sipil
yang disusul dengan pelaksanaan Operasi Terpadu, kondisi
keamanan, ketertiban dan ketentraman masyarakat, penyelenggaraan
pemerintahan serta kehidupan sosial ekonomi di Provinsi
Nanggroe Aceh Darussalam semakin menunjukkan perbaikan,
sehingga kondisi ini harus tetap dijaga dan ditingkatkan
demi tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia
yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945;
|
| |
b. |
bahwa Operasi Terpadu
yang meliputi Operasi Kemanusiaan, Operasi Pemulihan Ekonomi,
Operasi Penegakan Hukum, Operasi Pemantapan Pemerintahan,
dan Operasi Pemulihan Keamanan yang dilaksanakan selama
enam bulan keadaan darurat sipil, meskipun telah menunjukkan
perbaikan namun belum mencapai hasil yang maksimal karena
masih terganggu oleh sisa-sisa Gerakan Separatis Bersenjata
Gerakan Aceh Merdeka yang merupakan ancaman potensial
terhadap keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia;
|
| |
c. |
bahwa untuk memelihara
momentum perbaikan keadaan yang telah dicapai serta sejalan
dengan aspirasi masyarakat Aceh untuk memperpanjang darurat
sipil dan setelah mempertimbangkan dengan seksama pandangan
dan dukungan yang disampaikan dalam rapat konsultasi antara
Pemerintah dengan Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat, Pimpinan
Fraksi-Fraksi dan Pimpinan Koalisi I Dewan Perwakilan
Rakyat tanggal 17 November 2004 dipandang perlu menyatakan
perpanjangan keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat
sipil di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dengan Peraturan
Presiden.
|
| |
|
|
| Mengingat
: |
1. |
Pasal 4 ayat (1),
Pasal 10, Pasal 12, dan Pasal 28A-j Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
|
| |
2. |
Undang-Undang Nomor
23 Prp Tahun 1959 tentang Keadaan Bahaya (Lembaran Negara
Republik Indonesia tahun 1959 Nomor 139, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 1908) sebagaimana telah diubah dua kali,
terakhir dengan Undang-Undang Nomor 52 Prp Tahun 1960
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1960 Nomor 170
tambahan Lembaran Negara Nomor 2113);
|
| |
3. |
Undang-Undang Nomor
8 Tahun 1961 tentang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 3209);
|
| |
4. |
Undang-Undang Nomor
2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 2,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 4168);
|
| |
5. |
Undang-Undang Nomor
3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 3, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 4169);
|
| |
6. |
Undang-Undang Nomor
32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 4437);
|
| |
7. |
Undang-Undang Nomor
34 Tahun 2004 tentang Tentara. Nasional Indonesia (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 127, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 4439);
|
| |
8. |
Keputusan Presiden
Nomor 43 Tahun 2004 tentang Pernyataan Perubahan Status
Keadaan Bahaya dengan Tingkatan Keadaan Darurat Militer
menjadi Keadaan Bahaya dengan Tingkatan Keadaan Darurat
Sipil di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 46);
|
| |
|
|
|
|
| |
|
|
|
Menetapkan :
|
|
PERATURAN PRESIDEN
TENTANG PERNYATAAN PERPANJANGAN KEADAAN BAHAYA DENGAN TINGKATAN
KEADAAN DARURAT SIPIL DI PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM. |
|
|
|
Pasal 1
|
|
|
|
Keadaan bahaya dengan tingkatan
keadaan darurat sipil di Provinsi Nanggroe Aceh. Darussalam,
berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 43 Tahun 2004 dinyatakan
diperpanjang selama 6 (enam) bulan.
|
|
|
|
Pasal 2
|
|
|
|
Keanggotaan Badan Pelaksana Harian
Penguasa Darurat Sipil Pusat disempurnakan menjadi:
|
|
a.
|
Ketua :
|
Menteri Koordinator
Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan;
|
|
b.
|
Anggota :
|
|
| |
1.
|
Menteri
Koordinator Bidang Perekonomian;
|
| |
2.
|
Menteri
Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat;
|
| |
3.
|
Menteri
Dalam Negeri;
|
| |
4.
|
Menteri
Luar Negeri;
|
| |
5.
|
Menteri Pertahanan;
|
| |
6.
|
Menteri Sosial;
|
| |
7.
|
Menteri Hukum dan Hak Manusia;
|
| |
8.
|
Menteri Kesehatan;
|
| |
9.
|
Menteri Pendidikan Nasional;
|
| |
10.
|
Menteri Pekerjaan Umum;
|
| |
11.
|
Menteri Agama;
|
| |
12.
|
Menteri Perhubungan;
|
| |
13.
|
Menteri Keuangan;
|
| |
14.
|
Menteri Perindustrian;
|
| |
15.
|
Menteri Perdagangan;
|
| |
16.
|
Menteri Energi dan Sumber Daya
Mineral
|
| |
17.
|
Menteri Kelautan dan Perikanan;
|
| |
18.
|
Menteri Pertanian;
|
| |
19.
|
Menteri Kehutanan;
|
| |
20.
|
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi;
|
| |
21.
|
Menteri Negara Koperasi dan Usaha
Kecil dan Menengah;
|
| |
22.
|
Menteri Negara Komunikasi dan
Informasi;
|
| |
23.
|
Panglima Tentara Nasional Indonesia;
|
| |
24.
|
Kepala Kepolisian Negara Republik
Indonesia;
|
| |
25.
|
Jaksa Agung Republik Indonesia;
|
| |
26.
|
Kepala Badan Intelijen Negara;
|
| |
27.
|
Kepala Staf Tentara Nasional Indonesia
Angkatan Darat;
|
| |
28.
|
Kepala Staf Tentara Nasional Indonesia
Angkatan Laut;
|
| |
29.
|
Kepala Staf Tentara Nasional Indonesia
Angkatan Udara;
|
|
c.
|
Sekretaris :
|
|
| |
|
Sekretaris Menteri Koordinator
Bidang Politik, Hukum dan Keamanan.
|
|
|
|
|
Pasal 3
|
|
|
|
Keadaan bahaya dengan tingkatan
keadaan darurat sipil di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam,
dievaluasi setiap bulan.
|
|
|
|
Pasal 4
|
|
|
|
Selama keadaan bahaya dengan
tingkatan keadaan darurat sipil di Provinsi Nanggroe Aceh
Darussalam berlangsung dilakukan upaya-upaya untuk mencapai
penyelesaian yang lebih adil dan bermartabat.
|
|
|
|
Pasal 5
|
|
|
|
Selama proses hukum oleh Komisi Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi terhadap Gubernur Provinsi Nanggroe
Aceh Darussalam masih berlangsung, pelaksanaan tugas dan
kewenangan sehari-hari Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam
selaku Penguasa Darurat Sipil Daerah Provinsi Nanggroe
Aceh Darussalam dilaksanakan Menteri Koordinator Bidang
Politik, Hukum, dan Keamanan selaku Ketua Badan Pelaksana
Harian Penguasa Darurat Sipil Pusat yang dalam pelaksanaannya
dapat menugaskan salah seorang anggota Penguasa Darurat
Sipil Daerah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
|
|
|
|
Pasal 6
|
|
|
|
Dengan ditetapkan Peraturan Presiden
ini, maka seluruh kebijakan mengenai pelaksanaan Operasi
Terpadu dalam Keadaan Bahaya dengan Tingkatan Keadaan
Darurat Sipil di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dinyatakan
tetap berlangsung yang pelaksanaannya memperhatikan perkembangan
kemajuan yang telah dicapai selama berlakunya Keputusan
Presiden Nomor 43 Tahun 2004.
|
|
|
|
Pasal 7
|
|
|
|
Peraturan Presiden ini mulai berlaku
pukul 00,00 WIB tanggal 19 November 2004 untuk, jangka
waktu 6 (enam) bulan, kecuali diperpanjang atau dicabut
dengan Peraturan Presiden tersendiri.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan
Peraturan Presiden ini dengan penempatannya dalam Lembaran
Negara Republik Indonesia.
|
|
|
| |
|
|
| |
|
|
| |
|
|
Ditetapkan di Jakarta
|
| pada tanggal 18 November 2004 |
| PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
|
| ttd. |
| Dr. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO |
|
|
Diundangkan di Jakarta
|
| pada tanggal 18 November 2004 |
| MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI
MANUSIA |
|
REPUBLIK INDONESIA,
|
| ttd |
|
Dr. HAMID AWALUDDIN, SH
|
| |
|
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
TAHUN 2004 NOMOR 160.
|
| |
|
Salinan sesuai dengan aslinya
|
| Deputi Sekretaris Kabinet |
| Bidang Hukum dan |
| Perundang-undangan, |
| |
|
Nambock V. Nahattands.
|
|
| |
|
|