Assalamu’alaikum
warrahmatullahi wabarakatuh
Salam sejahtera untuk kita semua,
Saudara-saudara se-bangsa dan se-tanah air,
para undangan yang saya hormati,
Puji-syukur
ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kita
mampu berkumpul pada hari yang bersejarah ini
untuk memperingati Hari Ulang Tahun Proklamasi
Kemerdekaan Republik Indonesia ke-60, 17
Agustus 2005.
Tepat
enam puluh tahun yang lalu, atas nama seluruh
bangsa Indonesia, Soekarno dan Hatta,
memproklamasikan kemerdekaan Indonesia
membebaskan bangsa dari tangan-tangan kotor kaum
penjajah yang telah menodai kesucian bumi
nusantara dengan tindakan-tindakan yang tidak
berperi-kemanusiaan yang luka-lukanya sampai
saat ini tertoreh dalam di lubuk hati-sanubari
bangsa. Setelah menolak keberadaan Republik
Indonesia secara hukum dan membiarkan bangsa
Indonesia menunggu selama 60 tahun, baru hari
ini Pemerintah Belanda meminta maaf atas
kejahatan kemanusiaan yang dilakukannya terhadap
bangsa Indonesia.
Namun,
kenyataan bahwa Indonesia pernah menderita di
bawah cengkeraman rejim penjajahan Belanda dan
Jepang tidak perlu berlarut-larut disesalkan.
Penderitaan tersebut telah menjadi bagian dari
perjalanan panjang bangsa Indonesia menuju masa
depan yang lebih bermartabat dan cerah dimana
setiap warga-negara memiliki kesempatan sama
untuk berkiprah terlepas dari latar-belakang
sosial, agama, suku, dan rasnya.
Jalan
untuk mencapai masa depan yang sejahtera, aman,
dan berkeadilan tersebut sungguh penuh dengan
tantangan. Diperlukan tekad yang bulat dari
seluruh komponen bangsa untuk mewujudkannya.
Tidaklah mengherankan jika Pemerintah RI
menetapkan tema yang tepat bagi peringatan Hari
Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan RI ke-60
tahun 2005, yaitu: ‘Dengan
Semangat Proklamasi 17 Agustus 1945, Kita
perkokoh persatuan dan kebersamaan, menuju
indonesia yang aman, adil, demokratis dan
sejahtera’.
Sungguh,
tanpa kebulatan tekad segenap komponen bangsa,
Indonesia tidak akan mampu merebut dan meraih
kemerdekaan dari tangan bangsa-bangsa penjajah
tersebut. Tidak kalah pentingnya, persatuan dan
kesatuan bangsa juga sangat diperlukan untuk
meneruskan perjuangan para pendiri negara
mempertahankan kelangsungan hidup Indonesia
sebagai suatu negara-bangsa serta dalam rangka
memajukan kesejahteraan rakyat seperti yang kita
idam-idamkan bersama.
Serangkaian
cobaan berat melanda Indonesia segera setelah
memproklamasikan kemerdekaannya.
Pemberontakan-pemberontakan, baik yang bersifat
sektarian maupun yang bernuansa regionalisme dan
ideologi silih-berganti bermunculan, berpuncak
pada terjadinya tragedi nasional G-30-S/PKI pada
tahun 1965. Alhamdullilah, bersandarkan pada
nilai-nilai luhur Pancasila, kita mampu
mengatasi tantangan-tantangan tersebut secara
tuntas, walaupun kita masih menghadapi masalah
pelik di Aceh dan Papua. Patut kita syukuri
bahwa warisan sejarah di Timor Timur telah mampu
pula kita lalui bersama.
Kita
berharap bahwa itikad baik Pemerintah RI untuk
menyelesaikan
konflik berkepanjangan di Aceh dan Papua
akan segera pula berbuah.
Seperti
diketahui bersama pada tanggal 15 Agustus 2005
yang lalu, Pemerintah RI dan kelompok
separatisme Aceh telah sepakat untuk kembali
bertemu di Helsinki dan menanda-tangani nota
kesepakatan mengakhiri konflik yang telah
memakan korban jiwa dan harta-benda tidak kecil
tersebut. Para pemimpin pemberontak Aceh
menyatakan dapat menerima kedaulatan nasional
Indonesia atas Tanah Rencong dan bersepakat
untuk kembali membangun wilayah yang dilanda
konflik tersebut sesuai dengan aspirasi
penduduknya di bawah naungan Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI).
Kita
patut bersyukur, seperti yang saya sampaikan di
beberapa kesempatan bahwa diturunkannya bencana
tsunami oleh Tuhan YME ternyata membawa angin
perubahan dan perdamaian bagi bangsa Indonesia,
terlepas dari tidak terhitungnya jumlah korban
baik jiwa maupun harta-benda yang diakibatkan
oleh bencana alam dimaksud.
Saudara-saudara se-bangsa dan
se-tanah air,
Patut
pula kita syukuri bersama – terlepas dari
dampak negatif yang diakibatkannya – krisis
multi-dimensional yang melanda Indonesia yang
dipicu oleh krisis ekonomi pada tahun 1997 juga
telah mengantarkan Indonesia ke suatu tatanan
kehidupan berkebangsaan yang lebih bermartabat
dimana nilai-nilai demokrasi diagungkan serta
hak-hak asasi manusia dimajukan dan
dilindungi.
Kebebasan
berserikat dan mengemukakan pendapat juga
dihargai. Kadang-kala terkesan hiruk-pikuk dan
berlebihan. Namun, saya sepenuhnya percaya bahwa
untuk menjadi suatu negara demokrasi yang matang
kita memang harus melalui tahapan-tahapan
krusial tersebut.
Tahun
2004 yang lalu Indonesia telah berhasil
membuktikan dirinya sebagai negara demokrasi
sejati dengan menyelenggarakan serangkaian
pemilihan umum yang benar-benar transparan,
langsung, adil, bersih, dan aman serta
melibatkan lebih dari seratus dua puluh lima
juta orang untuk memilih tidak hanya para
anggota parlemen, tetapi juga pimpinan tertinggi
nasional kita. Terpilihnya Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla
secara langsung oleh rakyat memberikan mandat
dan kepercayaan yang tinggi bagi pemerintah
untuk menjalankan roda pemerintahan secara
mantap dan efektif yang memang diperlukan untuk
mengatasi tantangan-tantangan yang dihadapi
bangsa.
Segera
setelah terpilih, pemerintah pimpinan Presiden
Yudhoyono mencanangkan tiga agenda utama yakni: pertama, menciptakan Indonesia yang aman dan damai; kedua,
mewujudkan Indonesia yang adil dan demokratis
dengan melanjutkan reformasi di bidang politik
dan hukum; dan, ketiga,
meningkatkan kesejahteraan seluruh rakyat
Indonesia, seperti yang telah tuangkan dalam
Instruksi Presiden Nomor : 7/2005 mengenai
Rencana Pembangunan Jangka Menengah untuk 2004
– 2009. Ketiga agenda tersebut terkesan
sederhana, namun membutuhkan kebulatan tekad,
ketekunan dan kesabaran agar benar-benar mampu
diwujudkan.
Agenda
pemerintah di bidang kesejahteraan rakyat
seluruhnya ditujukan bagi pemenuhan hak-hak
dasar rakyat, terutama penyediaan sandang,
pangan, papan, rasa aman, pendidikan dan
kesehatan.
Untuk
mencapai tujuan tersebut, Presiden Yudhoyono
memperkenalkan ‘triple
strategy’, yakni: pertama,
mendorong pertumbuhan melalui peningkatan
investasi dan ekspor; kedua, menggerakkan kembali sektor riil untuk penciptaan
lapangan kerja yang lebih luas; dan, ketiga,
melakukan revitalisasi pertanian dan ekonomi
pedesaan untuk mengurangi kemiskinan.
Perekonomian Indonesia diharapkan dapat secara
rata-rata tumbuh sebesar 6.6% setiap tahun
selama lima tahun ke depan, dengan target
penurunan tingkat pengangguran dari 9.5% pada
tahun 2003 menjadi 5.1% pada tahun 2009 dan
penurunan angka kemiskinan dari 16.6% pada tahun
2004 menjadi 8.2% pada tahun 2009. Pemerintah
yakin bahwa angka-angka tersebut dapat dicapai
mengingat kegiatan pembangunan dan ekonomi kini
telah didukung oleh fondasi sistem politik,
sosial dan hukum yang kokoh.
Tahun
2004, GDP Indonesia mencapai 5.13% melebihi
target yang ditetapkan semula, yaitu sebesar
4.8%, sementara pada kwartal pertama tahun 2005
pertumbuhan ekonomi Indonesia meningkat sebesar
6.35% dibandingkan dengan periode yang sama pada
tahun 2004. Stabilitas makro ekonomi Indonesia
juga mampu dipertahankan, meskipun terjadi
tekanan sebagai akibat ketidakpastian nilai
tukar US dollar dan harga minyak mentah dunia
terus meningkat, cenderung tidak
terkendali.
Kepercayaan
internasional terhadap Indonesia juga meninggi.
Beberapa ‘international
rating agencies’, antara lain S&P
telah menaikkan peringkat Indonesia menjadi B+
pada April 2005 dari semula B pada Oktober 2004,
sedangkan Fitch
telah memperbaiki peringkat nilai rupiah
menjadi BB- pada April 2005 dari semula B+ pada
Oktober 2004. Terakhir, angka stok indeks pada
minggu kedua Agustus sebesar 1.153,969 dengan
volume perdagangan sebesar 1,25 milyar dan nilai
1,7 trilliun rupiah pada Bursa Saham Jakarta
menunjukkan kepercayaan pasar yang luar biasa
terhadap Indonesia di bawah kepemimpinan
Presiden Yudhoyono. Februari 2005, Indonesia
juga telah dikeluarkan dari daftar ‘non-cooperating
countries’ bagi pemberantasan pencucian
uang.
Di
tengah-tengah upaya sungguh-sungguh kita
membangun kembali bangsa dari keterpurukan
ekonomi, Pemerintah RI juga telah bertekad bulat
untuk memberantas korupsi. Komisi Pemberantasan
Korupsi (KPK) bersama-sama dengan
instansi-instansi terkait lainnya telah dan
sedang menangani sejumlah kasus yang melibatkan
tokoh-tokoh yang dulunya tidak tersentuh hukum.
Masih terngiang di telinga kita ketika Presiden
Yudhoyono mencanangkan gerakan anti-korupsi
segera setelah terpilih sebagai pemimpin bangsa
seraya berjanji secara pribadi akan memimpin
gerakan tersebut, guna memenuhi rasa keadilan
masyarakat yang memang telah lama merindukan
Indonesia yang terbebas dari praktek-praktek
korupsi, kolusi, dan nepotisme.
Oleh
karena itu tidak mengherankan di bidang hukum
dan keadilan sosial, pemerintah menetapkan
pemberantasan korupsi sebagai agenda utama,
bersama-sama dengan pencegahan dan penindakan
pelanggaran hak asasi manusia berat,
pemberantasan penyelundupan, pembalakan hutan
dan penangkapan ikan liar, serta penanggulangan
kejahatan narkotika dan kejahatan jalanan.
Di
bidang politik, pemerintah bertekad untuk
memperkuat lembaga-lembaga politik, menciptakan
proses politik yang semakin transparan dan
bertanggung-jawab, mendorong partisipasi politik
yang semakin luas, serta meneruskan proses
reformasi di tubuh TNI/Polri, dan mendorong
institusi-institusi negara lainnya untuk lebih
professional serta tidak melibatkan diri dalam
kegiatan-kegiatan politik praktis seperti yang
terjadi di masa lampau.
Saudara-saudara se-bangsa dan
se-tanah-air,
Kinerja
pemerintah yang baru seumur jagung tersebut
telah tampak membuahkan hasil dan diharapkan
mampu memacu semangat bangsa Indonesia untuk
terus memperbaiki diri di tengah-tengah
ketidak-pastian masa depan politik dan ekonomi
global. Pertumbuhan pesat ekonomi China serta
perkembangan politik di Saudi Arabia, Irak, dan
Afghanistan terus dipantau secara seksama oleh
pemerintah untuk mengantisipasi dampak negatif
yang mungkin muncul, terutama jika dikaitkan
dengan ketidak-pastian harga minyak dunia
akhir-akhir ini.
Perang
melawan terorisme yang masih menggunakan
pendekatan simptomatik seraya mengabaikan
penanganan akar penyebabnya, diperkirakan akan
terus berlanjut sampai batas waktu yang tidak
dapat ditentukan. Masyarakat dunia dipaksa untuk
menyesuaikan diri dengan situasi paska-Bom
London dan Bom Madrid dimana segelintir
ekstrimis yang mengatas-namakan Islam telah
secara membabi-buta membunuh orang-orang yang
tidak bersalah.
Untuk
itu, saya ingin menggunakan kesempatan ini untuk
menghimbau seluruh komponen masyarakat Indonesia
di Australia dan Vanuatu untuk sepenuhnya
mematuhi aturan hukum dan perundang-undangan
yang berlaku di kedua negara bersahabat
tersebut.
Khusus
bagi ummat Islam Indonesia, saya ingin
mengingatkan bahwa berdasarkan ajaran agama yang
kita anut adalah wajib hukumnya mematuhi
peraturan perundang-undangan yang berlaku di
negara dimana kita menetap, terlepas dari apakah
kita setuju atau tidak setuju dengan kebijakan
tertentu dari pemerintah yang berkuasa di negara
dimaksud.
Saudara-saudara
se-bangsa dan se-tanah-air,
Pada
kesempatan yang berbahagia ini, perkenankan saya
secara singkat menyinggung perkembangan hubungan
bilateral Indonesia – Australia.
Hubungan
bilateral kedua negara bertetangga semakin
berkembang sebagai akibat tekad bulat Presiden
Yudhoyono dan PM John Howard untuk memperat tali
persahabatan. Kehadiran PM Howard dalam upacara
pelantikan Presiden RI, Oktober 2004, merupakan
suatu titik penting di dalam upaya meningkatkan
rasa saling menghargai dan saling mempercayai
diantara kedua bangsa.
Bencana
tsunami, Desember 2004, telah pula membuka
peluang bagi Australia untuk membuktikan dirinya
sebagai mitra sejati Indonesia di dalam
menghadapi kesulitan setelah berhasil secara
bersama mengatasi ancaman kejahatan lintas
batas, terutama, pencucian uang, terorisme dan
migran gelap.
Kunjungan
historik Presiden Yudhoyono, April 2005, kembali
menegaskan arti strategis kemitraan Indonesia
dan Australia. Pada kesempatan tersebut kedua
pemimpin menanda-tangani kesepakatan prinsip
untuk menciptakan suatu ‘strategic
partnership’ antara Indonesia dan
Australia yang akan dipergunakan sebagai pedoman
di dalam memandu hubungan Indonesia –
Australia di masa mendatang di tengah-tengah
ketidak-pastian situasi politik dan ekonomi
global. Kesepakatan untuk merundingkan ‘strategic
partnership’ tersebut dilandasi oleh
kepercayaan bahwa tidak akan tercipta perdamaian
dan kesejahteraan di kawasan tanpa kerjasama
erat antara Indonesia dan Australia.
Keyakinan
itu pula yang mendorong Indonesia untuk
mendukung sepenuhnya partisipasi dan integrasi
Australia ke dalam jejaring kerja kawasan,
termasuk dalam East Asia Summit yang akan
diselenggarakan tahun ini di Malaysia.
Penanda-tanganan ASEAN Treaty of Amity and
Cooperation (TAC) sungguh melegakan, karena
telah menghapuskan keragu-raguan negara-negara
ASEAN atas konsep ‘pre-emptive
strikes’ yang dianut oleh Pemerintah
Australia.
Perdagangan
barang kedua negara juga menunjukkan
perkembangan yang menggembirakan. Pada tahun
2004 Indonesia menikmati surplus perdagangan
barang sekitar US$463 ribu, dengan ekspor
Indonesia ke Australia sekitar US$3.7 milyar,
sedangkan impor Indonesia dari Australia sebesar
US $3.2 milyar. Sementara itu total investasi
Australia di Indonesia pada tahun 2004 sebesar
US$ 481.2 juta menunjukkan peningkatan yang
hampir empat kali lipat dibandingkan dengan
tahun sebelumnya sebesar US$ 129 juta. Bagi
Indonesia, Australia adalah investor ketujuh
terbesar dengan nilai keseluruhan sekitar US$4
milyar.
Di
bidang pertahanan dan keamanan, pemerintah kedua
negara terus membina hubungan dan kerjasama.
Serangkaian kegiatan yang bersifat ‘confidence-building
measures’, diselenggarakan, antara lain:
tukar-menukar para perwira angkatan bersenjata
kedua-belah pihak; saling kunjung para pejabat
tinggi militer dari seluruh matra; latihan
bersama antar-matra: serta kerjasama antara
institusi kepolisian kedua negara dalam
menanggulangi terorisme. Perbaikan dan
peningkatan hubungan kedua angkatan bersenjata
ditandai oleh kunjungan Panglima TNI ke
Australia, 30 Juni – 1 Juli 2005, yang
didahului oleh kunjungan Panglima Australian
Defence Force ke Banda Aceh dan Jakarta.
Hubungan
kedua negara pada tingkat ‘grass-root’
di bidang pendidikan dan pariwisata tidak
kalah pentingnya. Sekitar 25.000 siswa dan
mahasiswa Indonesia saat ini sedang menuntut
ilmu di Australia dan setidak-tidaknya turut
memberikan kontribusi sekitar A$750 juta/tahun
kepada perekonomian Australia. Sementara sekitar
250.000 siswa dan mahasiswa Australia saat ini
mempelajari bahasa Indonesia, beberapa
diantaranya berada di tengah-tengah kita pagi
ini. Patut dicatat bahwa mulai tahun 2005
Pemerintah Australia akan meningkatkan bantuan
jumlah beasiswa menjadi 600 pelajar
Indonesia.
Meskipun
Pemerintah Australia masih mempertahankan ‘travel
warnings’ yang menganjurkan
warga-negaranya untuk menangguhkan ’non-essential
travels’ ke Indonesia, hal tersebut tidak
menghalangi lebih dari 310 ribu masyarakat
Australia pada tahun 2004 untuk datang
berkunjung ke Indonesia. Terjadi peningkatan
sekitar 90% dibanding tahun 2003 yang lalu.
Hal
tersebut konsisten dengan keyakinan saya pribadi
yang menganggap bahwa melakukan perjalanan
wisata di kehidupan yang setiap hari semakin
kompetitif ini adalah esensial, untuk
menyembuhkan keletihan mental dan mengembalikan
semangat kerja.
Saudara-saudara
se-bangsa dan se-tanah air,
Kita
patut bergembira bahwa hubungan bilateral
Indonesia – Vanuatu juga mengalami perbaikan
yang cukup signifikan. Berkat upaya-upaya
berkesinambungan dan konsisten KBRI Canberra di
dalam mengukuhkan tali persahabatan, Pemerintah
dan rakyat Vanuatu secara bertahap menyadari
bahwa isyu separatisme di Papua seyogyanya tidak
menghalangi kedua negara menjalin tali kerjasama
di seluruh bidang.
Kunjungan
Menteri Luar Negeri dan Presiden Vanuatu secara
berturut-turut ke Indonesia (2004) telah mampu
menghilangkan rasa curiga negara Pasifik
tersebut terhadap itikad baik Indonesia. Misi
kebudayaan yang dilancarkan oleh KBRI Canberra
beberapa waktu yang lalu juga mendapat sambutan
hangat serta dihadiri hampir oleh seluruh
jajaran Pemerintah Vanuatu, terutama Presiden
Mataskelekele dan Perdana Menteri Ham
Lini.
Dewasa
ini, ruang gerak para pendukung pemberontak
Papua juga semakin mengecil di Vanuatu dan
diharapkan dalam waktu tidak terlalu lama
upaya-upaya mereka untuk membakar sentimen dan
solidaritas Melanesia untuk mencapai tujuan hina
mereka akan pudar, mengingat Indonesia juga
memiliki populasi ras Melanesia yang secara
kuantitatif jauh melampaui jumlah penduduk
negara-negara Melanesia di kawasan Pasifik.
Dibandingkan
dengan potensi yang dimiliki masing-masing
negara, volume perdagangan Indonesia – Vanuatu
masih relatif kecil, sekitar US$ tujuh juta.
Untuk itu, Pemerintah RI bertekad untuk
menjajaki peluang-peluang bisnis yang ada dan
berupaya memperkuat penetrasi produk-produk
Indonesia di pasar Vanuatu dan negara-negara
sekitarnya.
Saudara-saudara
se-bangsa dan se-tanah air,
Sebelum
mengakhiri sambutan ini, ijinkanlah saya
menyinggung secara singkat tentang keputusan
Premerintah RI untuk memberikan penghargaan
kepada para personil Australian Defence Force
(ADF) yang telah mengorbankan jiwa-raga mereka
dalam operasi kemanusiaan di Pulau Nias. Seperti
diketahui, sembilan personil ADF telah
mengorbankan jiwa mereka untuk operasi
kemanusiaan di Nias dan dua lainnya yaitu:
Leading Seaman Shane Robert Warburton dan
Corporal Scott Andrew Nichols, mengalami
luka-luka cukup parah.
Ladies
and gentlemen,
Distinguished
guests,
A
few minutes ago, following the instruction of
President Susilo Bambang Yudhoyono, I have had
the honor to bestow upon Leading Seaman Shane
Robert Warburton dan Corporal Scott Andrew
Nichols of the Australian Defence Force (ADF),
the Medal of Honor ‘Satya Lancana Kebaktian Sosial’ for outstanding services they
have rendered to those who had been severely
affected by the recent earthquake in Nias.
We
also continuously mourn the untimely demise of
the other nine outstanding Australian men and
women in uniform during the same operation whose
family members had been personally consoled by
President Susilo Bambang Yudhoyono and also
accorded the same Medal of Honor by the
Indonesian government.
This
incident – tragic as it is – has yet served
as a strong reminder that in time of need
Australians have always come to our rescue.
We
will forever be grateful for the act of
compassion that ADF have shown to our people. I
would humbly ask Deputy Chief of Navy Rear
Admiral Max Hancock and Air Vice Marshall Tony
Austin representing Deputy Chief of Royal
Australian Air Force to once again convey our
sincere gratitude to the Australian Commander of
Defence Force Air Marshall Angus Huston for the
ADF’s priceless contribution in helping us
overcome the devastating impacts caused by the
natural disasters that recently hit Indonesia.
Saudara-saudara
se-bangsa dan se-tanah air,
Sebelum
mengakhiri sambutan ini, saya ingin menghimbau
segenap anggota masyarakat Indonesia umumnya dan
para staf KBRI Canberra pada khususnya, untuk
terus bahu-membahu membantu meningkatkan
kesejahteraan bangsa dan negara yang sama-sama
kita cintai ini.
Perbedaan
agama, suku, ras dan golongan tidak harus
mencegah kita bekerja bersama untuk mencapai
tujuan mulia tersebut. Sumber-daya dan dana
Pemerintah RI masih sangat terbatas, sehingga
tanpa bantuan seluruh komponen bangsa akan sulit
untuk mencapai kemajuan berarti.
Di
tengah-tengah kesulitan dan keterbatasan sumber
dana tersebut serta setelah secara gigih
memperjuangkannya ke Jakarta dalam kurun waktu
setahun terakhir, dengan bangga saya mengumumkan
sebagai ‘hadiah
perpisahan’ bahwa Pemerintah RI telah
setuju untuk memberikan tunjangan kemahalan
sebesar 14% bagi kita semua. Sungguh tidak
besar, apalagi penghasilan para staf KBRI
Canberra tidak pernah mengalami kenaikan
setidak-tidaknya 15 tahun terakhir di
tengah-tengah kenaikan biaya hidup yang tidak
terkendali, inflasi dan fluktuasi nilai dolar
Australia terhadap rupiah.
Terimalah
kenaikan sederhana itu dengan rasa syukur dan
rasa suka-cita.
Sebaliknya,
saya menuntut agar seluruh staf Perwakilan RI
se-Australia meningkatkan semangat pengabdian
mereka kepada bangsa dan negara, terutama dalam
melayani anggota masyarakat yang membutuhkan
bantuan.
Saudara-saudara
se-bangsa dan se-tanah air,
Ijinkanlah
saya menutup sambutan ini dengan menyerukan: ‘Dirgahayu
Republik Indonesia, Sekali Merdeka Tetap
Merdeka’.
Wassalamu’alaikum warrahmatulahi wabarrakatuh.
Canberra,
17 Agustus 2005
Imron
Cotan
Duta
Besar LBBP-RI
Media inquiries
: contact the Information Officer of the Embassy
at + 612 62508642