KEDUTAAN BESAR REPUBLIK INDONESIA
EMBASSY OF THE REPUBLIC OF INDONESIA
8 Darwin Avenue, Yarralumla, Canberra, A.C.T. 2600
AUSTRALIA


DEPARTMENT OF FOREIGN AFFAIRS
REPUBLIC OF INDONESIA

PRESS RELEASE

No. 63/PR/IX/2004


INDONESIA BERHAK JADI ANGGOTA TETAP DEWAN KEAMANAN

 

Di tengah perdebatan tentang perluasan keanggotaan dan komposisi Dewan Keamanan PBB, Indonesia mengatakan berhak atas keanggotaan tetap Dewan. "Sebagai demokrasi terbesar ke-tiga di dunia, negara dengan jumlah penduduk terbesar ke-empat, bangsa dengan jumlah penduduk Muslim terbesar, negara yang memiliki keanekaragaman yang luar biasa, dan sebagai negara anggota yang memiliki jejak rekam sangat baik dalam berpartisipasi pada berbagai inisiatif perdamaian PBB, Indonesia memiliki konstituen global yang penting di Dewan Keamanan", kata Dr. Hassan Wirajuda, Menteri Luar Negeri Indonesia, di hadapan Sidang Majelis Umum PBB ke-59 di New York, Senin pagi, 27 September 2004.

Dr. Wirajuda melanjutkan dengan menambahkan alasan-alasan mengapa Indonesia berhak atas keanggotaan di Dewan Keamanan. Indonesia telah berpartisipasi dalam lebih dari 30 misi penjaga perdamaian, sejak tahun 1957 di Timur Tengah. Dewasa ini, pasukan dan pengamat militer Indonesia sedang bertugas di misi-misi perdamaian di Congo, Sierra Leone, Liberia, dan Georgia. Indonesia sangat dikenal sebagai negara pendiri dan anggota yang aktif di Gerakan Non-Blok, G-77, G-15, D-8 dan Organisasi Konperensi Islam. Di kawasan Asia Tenggara, Indonesia telah memberikan kontribusi kunci dalam penyelesaian konflik terutama di Kamboja dan Filipina Selatan. Indonesia terus membangun perdamaian dan stabilitas di kawasan, bersama anggota-anggota ASEAN dan negara-negara lainnya.

Reformasi Perserikatan Bangsa-Bangsa termasuk Dewan Keamanan harus dilakukan secara komprehensif, dengan membuatnya lebih demokratis dalam hal prosedur dan representasi agar lebih merefleksikan realitas geopolitik dewasa ini. Indonesia akan merepresentasikan suara negara berkembang yang bekerja keras tidak hanya untuk pembangunan ekonomi tetapi juga untuk demokratisasi. Indonesia akan merepresentasikan suara Islam moderat.

Klaim Indonesia ini dikemukakan tepat satu minggu setelah pemilu langsung presiden dilaksanakan pada tanggal 20 September, yang melibatkan 125 juta pemilih dan 575 ribu TPS yang tersebar di sekitar 6 ribu pulau berpenghuni. Pemilu ini adalah kegiatan politik yang ke-tiga yang dilakukan Indonesia dalam kurun waktu 6 bulan, setelah sebelumnya melaksanakan pemilu legislatif dan pemilu presiden putaran pertama. Para pengamat internasional telah memuji pemilu Indonesia sebagai damai, jujur, dan demokratis.

Sukses Indonesia dalam melaksanakan tiga pemilu itu merupakan titik puncak dari proses transisi dari pemerintahan otoriter menjadi demokrasi sepenuhnya. Dan sukses itu telah mengakhiri perdebatan tentang apakah Islam dan demokrasi bisa berjalan seiring.

Mengenai terorisme, meskipun terjadi serangan di Jakarta pada tanggal 9 September yang baru lalu, Indonesia tetap teguh pada komitmennya untuk melawan terorisme. Indonesia juga tetap teguh pada keyakinannya bahwa perjuangan melawan terorisme bisa kita menangkan. "Tetapi koalisi global untuk mengalahkan terorisme harus bersifat inklusif; harus bersifat multilateral dan demokratis; harus memberdayakan kaum moderat dunia; dan harus mengatasi akar permasalahan terorisme," kata Menteri Luar Negeri Indonesia.

Dr. Wirajuda juga tetap pada pendiriannya bahwa tidak ada satu demokrasi yang aman tanpa jaminan dari suatu lingkungan yang demokratis pada tingkat global. Lingkungan yang demikian tidak bisa diciptakan dengan tindakan unilateral. Sebaliknya, demokrasi pada tingkat global hanya dapat dikembangkan dengan cara-cara demokratis melalui lembaga-lembaga multilateral seperti PBB. Jadi, terdapat keperluan mendesak untuk memberdayakan PBB agar dapat bekerja sebagai alat multilateral yang efektif.

PBB sendiri membutuhkan dukungan pada tingkat regional. Dalam hal ini, ASEAN berusaha untuk mengembangkan kemitraan yang kuat dengan PBB. Kemitraan ini akan tumbuh subur ketika ASEAN berevolusi menjadi satu Komunitas pada tahun 2020. Sebagai Komunitas Keamanan, ASEAN akan sepenuhnya bertanggungjawab atas keamanan dan stabilitas politiknya. Sebagai Komunitas Ekonomi dan Sosial-budaya, ASEAN akan menjadi kekuatan bagi pembangunan dan integrasi sosial di kawasan Asia Pasifik.

ASEAN sedang membuka jaringan kerja ke segala arah: di kawasan Asia Pasifik, di Amerika Latin, dan di Eropa. Juga, suatu kemitraan strategis baru antara Asia dan Afrika akan segera terwujud dengan Indonesia menjadi tuan rumah KTT Asia Afrika pada bulan April 2005. KTT itu akan menghormati satu tonggak bersejarah dalam semangat hubungan internasional yang lebih seimbang yaitu Konperensi Asia Afrika tahun 1955 di Bandung.

Indonesia memiliki visi bahwa jaringan kerja organisasi-organisasi regional, dalam kemitraan dengan PBB, akan menjadi bentuk akhir dari multilateralisme.



 

Jakarta, 27 September 2004


Embassy of Indonesia, Canberra - Australia