|
Jakarta, 14 Agustus 2008 – Menko Perekonomian Sri Mulyani Indrawati mengatakan
optimis bahwa tingkat pertumbuhan yang tinggi dapat dipertahankan sepanjang
tahun 2008. Hal itu disampaikannya menanggapi pengumuman Badan Pusat
Statistik (BPS) hari ini mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia
triwulan II tahun 2008. BPS mengumumkan bahwa Produk Domestik Bruto (PDB)
pada triwulan II-2008 mencapai 6,4% (y-o-y) dibandingkan
dengan triwulan yang sama tahun 2007. Sedangkan secara kumulatif
pertumbuhan ekonomi semester I-2008 dibandingkan dengan semester I-2007
juga sebesar 6,4%.
Pertumbuhan
Ekonomi dalam Triwulan II-20088 tumbuh di atas perkiraan banyak pihak
Menko Sri Mulyani menjelaskan
bahwa terlepas dari perkembangan ekonomi global yang melambat dan diliputi
ketidakpastian, perekonomian Indonesia mampu tumbuh dalam tingkat yang
mengesankan. Laju pertumbuhan kuartal II-2008 itu menjadikan ekonomi
Indonesia tumbuh lebih dari 6 persen selama 8 trilwulan
berturut-turut. Sektor non-migas dimana sebagian besar masyarakat
Indonesia bergantung hidupnya tumbuh sekitar 7 % sejak triwulan II-2006.
Sedangkan pada triwulan II-2008, PDB Non-Migas tumbuh 6,9
% sedikit lebih cepat dari triwulan I/2008 sebesar 6,8%.

Survey yang diselenggarakan oleh
Reuters beberapa hari lalu menunjukkan prakiraan analis dan ekonom di 13
perusahaan bank dan sekuritas untuk pertumbuhan kuartal II-2008 dan
semester I-2008 masing-masing dengan 6,1% dan 6,0%.
BPS menjelaskan bahwa selain
sektor pengangkutan dan komunikasi, maka pertumbuhan pada triwulan II-2008
terutama terjadi dalam sektor non-tradable (konstruksi, utilitas dan
perdagangan) yang telah menjadi sumber pertumbuhan ekonomi selama 10 tahun
terakhir. Menko Sri Mulyani menyambut gembira pertumbuhan sektor
pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan pada semester I-2008 yang
disebutnya sebagai membanggakan karena mencapai 5,3%. Beberapa
sektor yang memproduksi barang seperti sub sektor pangan, perkebunan,
industri elektronik, industri kendaraan roda dua dan roda empat juga
mengalami ekspansi selama semester I-2008.

Ke depan, sektor tradable
diharapkan dapat juga menjadi motor pertumbuhan karena berdasarkan
pengalaman di masa lalu sektor ini telah menjadi andalan dalam penciptaan
lapangan kerja dan penurunan tingkat kemiskinan. Pelbagai kebijakan telah
dikeluarkan seperti pemberian insentif fiskal bagi investasi (PP 1/2007),
penetapan Batam, Bintan dan Karimun sebagai kawasan Ekonomi Khusus dan
kemungkinan perluasannya di daerah lain serta
perbaikan iklim investasi secara umum.
Sumber
pertumbuhan makin seimbang
Seperti
yang diperkirakan, permintaan domestik mengalami perlambatan dibandingkan
triwulan I/2008. Perlambatan ini terutama terjadi dalam konsumsi masyarakat
dari 5,7 persen (triwulan I/2008) menjadi
5,3% (triwulan II/2008). Perlambatan pertumbuhan ini merupakan dampak dari
kenaikan harga makanan – dimana inflasi makanan mencapai lebih dari 15 %
dalam triwulan II 2008, dan sebagian disebabkan karena dampak kenaikan
harga BBM.
Sementara
itu, konsumsi bukan makanan di luar dugaan masih cukup kuat. Diduga, dampak
kenaikan harga komoditas telah memberikan dampak terhadap kenaikan daya
beli sebagian pelaku ekonomi – produser atau trader – yang pada gilirannya
mendorong ekspansi permintaan barang-barang bukan makanan. Ekspansi ini
juga merefleksikan pula dan konsisten pola transformasi struktural yang
menyertai kenaikan pendapatan per kapita dan penurunan tingkat kemiskinan.
Kenaikan pendapatan per kapita akan lebih mendorong peningkatan konsumsi
bukan makanan dibandingkan konsumsi makanan. Perkembangan ini juga
konsisten dengan data-data mikro seperti
penjualan sepeda motor, barang-barang elektronik dan konsumsi listrik rumah
tangga yang cenderung meningkat.


Investasi bersama-sama Ekspor
Netto dan Konsumsi memberikan kontribusi yang makin seimbang dibandingkan
pola pertumbuhan beberapa tahun lalu yang lebih banyak tergantung pada
ekspansi konsumsi dan ekspor. Kontribusi investasi dan ekspor netto (ekspor
minus impor) terhadap laju pertumbuhan PDB meningkat dalam semester I/2008
meningkat menjadi masing-masing 41 persen dan 14 persen dari
masing-masing 35 persen dan 8 persen dalam tahun 2007. Sementara peranan
konsumsi masyarakat terhadap laju pertumbuhan semester I/2008 menurun
menjadi 42 persen dari 52 persen (2007).


Investasi yang tumbuh 15,4% dan 12,8% dalam triwulan I dan triwulan II 2008
mengakibatkan rasio investasi terhadap PDB meningkat menjadi 23,3 % dalam
semester I 2008.

Yang menggembirakan pertumbuhan
investasi terjadi untuk setiap komponen, terutama investasi permesinan.
Pertumbuhan investasi dalam permesinan mempunyai korelasi kuat terhadap
peningkatan PDB dan ekspansi ekspor di masa mendatang. Perbaikan investasi
tersebut tidak terlepas dari perbaikan iklim investasi yang dilakukan
sebagai bagian dari Reformasi Ekonomi yang tertuang dalam Inpres 6/2007 dan
Inpres 5/2008. Sebagai contoh, pemerintah telah melakukan penyederhaan
prosedur dalam pendirian perusahaan yang diharapkan dapat memotong jumlah
hari dari 104 hari (survey IFC 2007) menjadi
sekitar 20 hari. Implementasi di lapangan sudah menunjukkan hasil yang
menggembirakan. Misalnya jumlah hari menyelesaikan pendirian PT membaik
dari waktu ke waktu. Sebelumnya, dibutuhkan waktu sebulan untuk mendapatkan
pengesahan Departemen Hukum dan HAM, per Juni 2008 berdasarkan monitoring
Kantor Menko Perekonomian, dari ribuan permohonan yang masuk 95% telah bisa
diselesaikan kurang dan sama dengan 7 hari. Perbaikan lebih lanjut
diharapkan akan dapat terimplementasikan dengan pembentukan Pelayanan
Terpadu Satu Pintu (PTSP) baik di tingkat propinsi maupun daerah.
Ekspor
tumbuh lebih cepat walaupun permintaan global melamban
Peningkatan laju pertumbuhan
ekspor selama semester I tidak terlepas dari ekspansi investasi yang mulai
pulih kembali sejak triwulan 4/2006. Data mikro menunjukkan
peningkatan ekspor bukan hanya terjadi dalam komoditas primer dan energi
tetapi juga pada kelompok ekspor manufaktur. Percepatan pertumbuhan ekspor
dalam triwulan II ini menunjukkan ekspor ini makin beragam jenisnya dan makin terdiversifikasi tujuannya. Akibatnya
walaupun pertumbuhan ekonomi di negara-negara OECD melambat, ekspor
Indonesia tetap melaju pesat.
Fenomena ini menunjukkan, hambatan
yang dialami oleh Indonesia terletak pada pada sisi penawaran khususnya
dalam pembangunan infrastruktur. Pemerintah menempuh berbagai cara untuk
mendorong ekspansi kapasitas infrastruktur. Pertama, dengan menaikkan
anggaran belanja untuk pembangunan infrastruktur telah dilakukan
menggunakan ruang gerak anggaran (fiscal space) yang tersedia akibat
penyesuaian harga BBM tahun 2005 dan 2008. Kedua, Pemerintah juga
menyediakan jaminan baik eksplisit maupun implisit sehingga memungkinkan
BUMN seperti PLN atau swasta (IPP dan Operator Jalan Tol) dapat membangun
dan mengoperasikan infrastruktur dengan berbagi resiko dengan pemerintah.
Ketiga, pemerintah mendorong partisipasi swasta dalam membangun dan
mengoperasikan infrastruktur dengan melakukan demonopolisasi BUMN. Oleh
karena itu semua UU dalam bidang infrastruktur diamandemen sehingga membuka
kesempatan bagi swasta. Sebagian di antaranya sudah diimplementasikan.
Prospek
dan tantangan
Harga minyak dan komoditas yang
cenderung menurun akan mengurangi tekanan bagi rumah tangga dan sektor
bisnis di Indonesia. Diharapkan secara bertahap konsumsi rumah tangga akan
pulih kembali. Dengan harga yang lebih stabil, daya beli riil rumah tangga
miskin dan setengah miskin akan terjaga khususnya dalam memasuki bulan Ramadhan
dan Lebaran. Sangat boleh jadi, dalam semester II/2008 permintaan aggregat
yang dipengaruhi oleh hari-hari besar keagamaan akan kembali pulih dan
tumbuh seperti tren semester II/2007.
Sementara itu, Menko Sri Mulyani
menjelaskan bahwa seperti biasa Belanja Pemerintah meningkat pada paruh
kedua setiap tahun. Memperhatikan laju pertumbuhan impor barang modal yang
masih kuat dan pertumbuhan kredit perbankan, maka diprakirakan pertumbuhan
investasi selama semester II/2008 akan tetap tinggi. Apalagi sebagian besar
dari belanja modal akan terjadi dalam akhir triwulan III dan triwulan IV
2008.
Namun laju pertumbuhan ekspor
netto diperkirakan akan melamban, terutama akibat penurunan harga
komoditas. Keadaan ini diperkuat pula oleh belum adanya tanda-tanda pulih perekonomian
negara-negara industri.
Dengan memperkirakan tren
tersebut, Menko Perekonomian Sri Mulyani memperkirakan laju pertumbuhan
semester II/2008 akan di tingkat yang kurang-lebih sama dengan semester I.
Dengan demikian, secara keseluruhan laju pertumbuhan ekonomi sepanjang
tahun 2008 akan berada antara 6,2-6,4 persen.
|