KEDUTAAN BESAR REPUBLIK INDONESIA
EMBASSY OF THE REPUBLIC OF INDONESIA
8 Darwin Avenue, Yarralumla, Canberra, A.C.T. 2600
AUSTRALIA
Tel. +612 6250 8600, Fax. +612 6273 6017


SIARAN PERS

KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN

REPUBLIK INDONESIA

Gedung Utama, Departemen Keuangan, Jl. Lapangan Banteng Timur  No.2-4 Jakarta 10710

Tel: (021) 351-1178    Fax: (021) 351-1186    Website: http://www.ekon.go.id 

MENKO PEREKONOMIAN OPTIMIS TINGKAT PERTUMBUHAN PEREKONOMIAN YANG TINGGI DAPAT DIPERTAHANKAN SEPANJANG TAHUN 2008

 

Jakarta, 14 Agustus 2008 – Menko Perekonomian Sri Mulyani Indrawati mengatakan optimis bahwa tingkat pertumbuhan yang tinggi dapat dipertahankan sepanjang tahun 2008. Hal itu disampaikannya menanggapi pengumuman Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan II tahun 2008. BPS mengumumkan bahwa Produk Domestik Bruto (PDB) pada triwulan II-2008 mencapai 6,4% (y-o-y) dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun 2007. Sedangkan secara kumulatif pertumbuhan ekonomi semester I-2008 dibandingkan dengan semester I-2007 juga sebesar 6,4%.

Pertumbuhan Ekonomi dalam Triwulan II-20088 tumbuh di atas perkiraan banyak pihak

Menko Sri Mulyani menjelaskan bahwa terlepas dari perkembangan ekonomi global yang melambat dan diliputi ketidakpastian, perekonomian Indonesia mampu tumbuh dalam tingkat yang mengesankan. Laju pertumbuhan kuartal II-2008 itu menjadikan ekonomi Indonesia tumbuh lebih dari 6 persen selama 8 trilwulan berturut-turut.  Sektor non-migas dimana sebagian besar masyarakat Indonesia bergantung hidupnya tumbuh sekitar 7 % sejak triwulan II-2006. Sedangkan pada triwulan II-2008, PDB Non-Migas tumbuh 6,9 % sedikit lebih cepat dari triwulan I/2008 sebesar 6,8%.

Survey yang diselenggarakan oleh Reuters beberapa hari lalu menunjukkan prakiraan analis dan ekonom di 13 perusahaan bank dan sekuritas untuk pertumbuhan kuartal II-2008 dan semester I-2008 masing-masing dengan 6,1% dan 6,0%.

BPS menjelaskan bahwa selain sektor pengangkutan dan komunikasi, maka pertumbuhan pada triwulan II-2008 terutama terjadi dalam sektor non-tradable (konstruksi, utilitas dan perdagangan) yang telah menjadi sumber pertumbuhan ekonomi selama 10 tahun terakhir.  Menko Sri Mulyani menyambut gembira pertumbuhan sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan pada semester I-2008 yang disebutnya sebagai membanggakan karena mencapai 5,3%. Beberapa sektor yang memproduksi barang seperti sub sektor pangan, perkebunan, industri elektronik, industri kendaraan roda dua dan roda empat juga mengalami ekspansi selama semester I-2008.

 

Ke depan, sektor tradable diharapkan dapat juga menjadi motor pertumbuhan karena berdasarkan pengalaman di masa lalu sektor ini telah menjadi andalan dalam penciptaan lapangan kerja dan penurunan tingkat kemiskinan. Pelbagai kebijakan telah dikeluarkan seperti pemberian insentif fiskal bagi investasi (PP 1/2007), penetapan Batam, Bintan dan Karimun sebagai kawasan Ekonomi Khusus dan kemungkinan perluasannya di daerah lain serta perbaikan iklim investasi secara umum.

Sumber pertumbuhan makin seimbang

Seperti yang diperkirakan, permintaan domestik mengalami perlambatan dibandingkan triwulan I/2008. Perlambatan ini terutama terjadi dalam konsumsi masyarakat dari  5,7 persen (triwulan I/2008) menjadi 5,3% (triwulan II/2008). Perlambatan pertumbuhan ini merupakan dampak dari kenaikan harga makanan – dimana inflasi makanan mencapai lebih dari 15 % dalam triwulan II 2008, dan sebagian disebabkan karena dampak kenaikan harga BBM.  

Sementara itu, konsumsi bukan makanan di luar dugaan masih cukup kuat. Diduga, dampak kenaikan harga komoditas telah memberikan dampak terhadap kenaikan daya beli sebagian pelaku ekonomi – produser atau trader – yang pada gilirannya mendorong ekspansi permintaan barang-barang bukan makanan. Ekspansi ini juga merefleksikan pula dan konsisten pola transformasi struktural yang menyertai kenaikan pendapatan per kapita dan penurunan tingkat kemiskinan. Kenaikan pendapatan per kapita akan lebih mendorong peningkatan konsumsi bukan makanan dibandingkan konsumsi makanan. Perkembangan ini juga konsisten dengan  data-data mikro seperti penjualan sepeda motor, barang-barang elektronik dan konsumsi listrik rumah tangga yang cenderung meningkat. 

 

Investasi bersama-sama Ekspor Netto dan Konsumsi memberikan kontribusi yang makin seimbang dibandingkan pola pertumbuhan beberapa tahun lalu yang lebih banyak tergantung pada ekspansi konsumsi dan ekspor. Kontribusi investasi dan ekspor netto (ekspor minus impor) terhadap laju pertumbuhan PDB meningkat dalam semester I/2008 meningkat menjadi  masing-masing 41 persen dan 14 persen dari masing-masing 35 persen dan 8 persen dalam tahun 2007. Sementara peranan konsumsi masyarakat terhadap laju pertumbuhan semester I/2008 menurun menjadi 42 persen dari 52 persen (2007).

 

Investasi yang tumbuh 15,4% dan 12,8% dalam triwulan I dan triwulan II 2008 mengakibatkan rasio investasi terhadap PDB meningkat menjadi 23,3 % dalam semester I 2008.

 

Yang menggembirakan pertumbuhan investasi terjadi untuk setiap komponen, terutama investasi permesinan. Pertumbuhan investasi dalam permesinan mempunyai korelasi kuat terhadap peningkatan PDB dan ekspansi ekspor di masa mendatang. Perbaikan investasi tersebut tidak terlepas dari perbaikan iklim investasi yang dilakukan sebagai bagian dari Reformasi Ekonomi yang tertuang dalam Inpres 6/2007 dan Inpres 5/2008. Sebagai contoh, pemerintah telah melakukan penyederhaan prosedur dalam pendirian perusahaan yang diharapkan dapat memotong jumlah hari dari 104 hari (survey IFC 2007)  menjadi sekitar 20 hari. Implementasi di lapangan sudah menunjukkan hasil yang menggembirakan. Misalnya jumlah hari menyelesaikan pendirian PT membaik dari waktu ke waktu. Sebelumnya, dibutuhkan waktu sebulan untuk mendapatkan pengesahan Departemen Hukum dan HAM, per Juni 2008 berdasarkan monitoring Kantor Menko Perekonomian, dari ribuan permohonan yang masuk 95% telah bisa diselesaikan kurang dan sama dengan 7 hari. Perbaikan lebih lanjut diharapkan akan dapat terimplementasikan dengan pembentukan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) baik di tingkat propinsi maupun daerah.

Ekspor tumbuh lebih cepat walaupun permintaan global melamban

Peningkatan laju pertumbuhan ekspor selama semester I tidak terlepas dari ekspansi investasi yang mulai pulih kembali sejak triwulan 4/2006.  Data mikro menunjukkan peningkatan ekspor bukan hanya terjadi dalam komoditas primer dan energi tetapi juga pada kelompok ekspor manufaktur. Percepatan pertumbuhan ekspor dalam triwulan II ini menunjukkan ekspor ini makin beragam jenisnya dan  makin terdiversifikasi tujuannya. Akibatnya walaupun pertumbuhan ekonomi di negara-negara OECD melambat, ekspor Indonesia tetap melaju pesat.

Fenomena ini menunjukkan, hambatan yang dialami oleh Indonesia terletak pada pada sisi penawaran khususnya dalam pembangunan infrastruktur. Pemerintah menempuh berbagai cara untuk mendorong ekspansi kapasitas infrastruktur. Pertama, dengan menaikkan anggaran belanja untuk pembangunan infrastruktur telah dilakukan menggunakan ruang gerak anggaran (fiscal space) yang tersedia akibat penyesuaian harga BBM tahun 2005 dan 2008. Kedua, Pemerintah juga menyediakan jaminan baik eksplisit maupun implisit sehingga memungkinkan BUMN seperti PLN atau swasta (IPP dan Operator Jalan Tol) dapat membangun dan mengoperasikan infrastruktur dengan berbagi resiko dengan pemerintah. Ketiga, pemerintah mendorong partisipasi swasta dalam membangun dan mengoperasikan infrastruktur dengan melakukan demonopolisasi BUMN. Oleh karena itu semua UU dalam bidang infrastruktur diamandemen sehingga membuka kesempatan bagi swasta. Sebagian di antaranya sudah diimplementasikan.

Prospek dan tantangan

Harga minyak dan komoditas yang cenderung menurun akan mengurangi tekanan bagi rumah tangga dan sektor bisnis di Indonesia. Diharapkan secara bertahap konsumsi rumah tangga akan pulih kembali. Dengan harga yang lebih stabil, daya beli riil rumah tangga miskin dan setengah miskin akan terjaga khususnya dalam memasuki bulan Ramadhan dan Lebaran. Sangat boleh jadi, dalam semester II/2008 permintaan aggregat yang dipengaruhi oleh hari-hari besar keagamaan akan kembali pulih dan tumbuh seperti tren semester II/2007.

Sementara itu, Menko Sri Mulyani menjelaskan bahwa seperti biasa Belanja Pemerintah meningkat pada paruh kedua setiap tahun. Memperhatikan laju pertumbuhan impor barang modal yang masih kuat dan pertumbuhan kredit perbankan, maka diprakirakan pertumbuhan investasi selama semester II/2008 akan tetap tinggi. Apalagi sebagian besar dari belanja modal akan terjadi dalam akhir triwulan III dan triwulan IV 2008.

Namun laju pertumbuhan ekspor netto diperkirakan akan melamban, terutama akibat penurunan harga komoditas. Keadaan ini diperkuat pula oleh belum adanya tanda-tanda pulih perekonomian negara-negara industri.

Dengan memperkirakan tren tersebut, Menko Perekonomian Sri Mulyani memperkirakan laju pertumbuhan semester II/2008 akan di tingkat yang kurang-lebih sama dengan semester I. Dengan demikian, secara keseluruhan laju pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2008 akan berada antara 6,2-6,4 persen.

 

 


Media inquiries : contact the Information Officer of the Embassy at + 612 62508642

EMBASSY OF THE REPUBLIC OF INDONESIA
8 Darwin Avenue, Yarralumla, Canberra, A.C.T. 2600
AUSTRALIA
Tel. +612 6250 8600, Fax. +612 6273 6017