KEDUTAAN BESAR REPUBLIK INDONESIA
EMBASSY OF THE REPUBLIC OF INDONESIA
8 Darwin Avenue, Yarralumla, Canberra, A.C.T. 2600
AUSTRALIA
Tel. +612 6250 8600, Fax. +612 6273 6017


PIDATO DUTA BESAR LBBP-RI UNTUK AUSTRALIA DAN VANUATU PADA UPACARA PERINGATAN HARI PROKLAMASI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA KE-63 TAHUN 2008

 CANBERRA, 17 AGUSTUS 2008

 ___________________________________________________________________

Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

Salam sejahtera untuk kita semua.

 

Saudara-saudara sekalian,

Hadirin yang saya muliakan, 

         Pada hari yang berbahagia ini, marilah kita bersama-sama memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena hanya dengan kekuasaan-Nya kita diberi kesempatan untuk dapat berkumpul dan memperingati saat-saat yang bersejarah, yakni Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-63. Rasa syukur ini patut kita panjatkan secara istimewa mengingat perjalanan 63 tahun bukanlah perjalanan yang pendek. 

Selama lebih dari enam dekade, bangsa kita telah mengalami banyak suka dan duka seiring dengan pasang-surutnya kehidupan berbangsa dan bernegara. Seraya mengucapkan syukur, sudah sepatutnya kita pun memberikan penghormatan yang tinggi kepada segenap pejuang dan pahlawan bangsa serta para pendahulu kita. Tanpa pengorbanan mereka, mustahil Indonesia akan mencapai tingkat kehidupan yang semakin maju, dewasa dan berdiri tegak bersama bangsa-bangsa lainnya. Jasa-jasa dan pengorbanan mereka harus kita balas dengan menjaga kedaulatan dan keutuhan bangsa dan negara Indonesia, serta dengan bekerja keras secara bersama untuk mewujudkan cita-cita proklamasi kemerdekaan.           

Tahun 2008 ini sangat bermakna dan merupakan tahun yang sangat simbolis bagi perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Tahun ini kita memperingati kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-63, bertepatan dengan peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional; 80 tahun Sumpah Pemuda; dan 10 tahun Reformasi. Tonggak-tonggak sejarah ini - dari tahun 1908, 1928, 1945, 1988 hingga kini - membuktikan jati-diri Indonesia sebagai bangsa yang tangguh dalam menghadapi tantangan; bangsa yang selalu optimis dan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Oleh karena itu, sejatinya tahun ini merupakan momentum yang tepat untuk menggelorakan semangat kebangkitan nasional dan optimisme bangsa. 

         Dalam 10 tahun terakhir sejak bergulirnya reformasi, bangsa Indonesia telah menjalani salah satu era yang paling transformasional dalam sejarah Indonesia modern. Indonesia telah melaksanakan reformasi yang menyeluruh di berbagai sektor, serta berhasil menjalani transisi demokrasi yang penuh tantangan sehingga menjadikan Indonesia negara demokrasi ketiga terbesar di dunia. Kita juga berhasil mengembangkan budaya politik baru yang demokratis, yang mengedepankan keterbukaan, kebebasan berpendapat, dan akuntabilitas pada rakyat. Musibah bencana Tsunami yang maha dahsyat pada tahun 2004 telah berhasil kita atasi dengan semangat solidaritas dan gotong royong. 

Dari kondisi yang terpuruk 10 tahun lalu, Alhamdulillah Indonesia kini telah berubah menjadi bangsa yang dinamis dan penuh harapan, serta berada di garis terdepan percaturan regional dan internasional. Hal ini dapat diraih berkat perjuangan, ketabahan, dan keuletan kita sebagai bangsa. 

Dengan segala perubahan mendasar ini, kita tetap melestarikan jati-diri bangsa kita, yang tercermin dalam empat pilar: Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika.  Kita harus terus berpegang teguh pada keempat pilar itu yang merupakan landasan utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Saudara-saudara sekalian,

Hadirin yang saya muliakan, 

Tantangan yang dihadapi untuk mewujudkan Indonesia yang aman, damai, adil, demokratis dan sejahtera memang tidak mudah dan kompleks. Untuk mewujudkan tujuan mulia tersebut, ada tiga syarat fundamental yang harus kita bangun dan miliki. Pertama, kita harus menjaga dan memperkuat kemandirian kita, karena kemandirian adalah dasar dari kekuatan, ketahanan dan kemampuan kita untuk terus maju sebagai bangsa. Indonesia harus maju dengan sumber daya yang dimiliki, baik sumber daya alam, sumber daya manusia, infrastruktur, teknologi, pengalaman membangun, warisan sejarah dan berbagai potensi lainnya. 

Kedua, Indonesia harus memiliki daya saing yang makin tinggi. Dalam era globalisasi yang sarat dengan persaingan dan tantangan, meskipun sesungguhnya terbuka peluang dan kerjasama, bangsa yang menang dan unggul adalah bangsa yang produktif, inovatif, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, cerdas mengambil peluang, serta berani menghadapi perubahan. 

Syarat terakhir adalah Indonesia harus mampu membangun dan memiliki peradaban bangsa (civilization) yang mulia. Untuk itu, kita perlu terus mempertahankan nilai, jati diri dan karakter bangsa kita yang luhur dan terhormat. Kita perlu terus meningkatkan semangat dan ethos kerja sebangai bangsa yang kuat dan gigih, dan bukan bangsa yang lemah dan mudah menyerah. Dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah, kita dituntut untuk selalu mengedepankan cara-cara damai, beradab dan demokratis. 

         Seperti bangsa-bangsa lainnya, bangsa Indonesia dewasa ini tengah menghadapi tantangan-tantangan berat, yakni krisis pangan, krisis energi, dan ancaman resesi ekonomi global. Sebagai bagian dari sistem perekonomian dunia, Indonesia tentunya tidak dapat mengelak dari dampak global tersebut. Di dalam negeri, kita pun masih menghadapi masalah keterbelakangan dan kemiskinan, serta pengangguran. Pendidikan, kesehatan masyarakat dan kondisi infrastruktur masih memerlukan perbaikan. 

         Dengan memetik pelajaran dari pengalaman dan sejarah perjalanan bangsa, insya’ Allah bangsa Indonesia akan mampu mengatasi berbagai cobaan dan tantangan berat yang menghadang. Sejak 100 tahun yang lalu, bangsa Indonesia telah menjadi bangsa yang berkemampuan, “Bangsa Yang Bisa!”. Dengan kemampuan dan semangat tersebut, Indonesia bisa merubah nasibnya, bisa bersatu, bisa mengusir penjajah, bisa meraih dan mempertahankan kemerdekaan, serta bisa mengatasi berbagai tantangan sejarah. 

Dari gambaran tersebut, jelas bahwa kemauan, sikap pantang menyerah, persatuan dan kesatuan, serta keuletan merupakan kekuatan dahsyat yang mampu mengatasi berbagai tantangan, termasuk mengatasi masalah krisis energi dan pangan dunia yang sedang kita hadapi.  

Meskipun masih menghadapi beragam permasalahan dan tantangan ke depan yang semakin berat, kita wajib bersyukur atas kemajuan-kemajuan yang telah dicapai. Stabilitas sosial, politik dan keamanan dalam kehidupan masyarakat semakin kuat; pelaksanaan otonomi daerah yang berjalan baik; semakin kuatnya lembaga-lembaga kenegaraan yang mendukung kehidupan berdemokrasi; tingkat pertumbuhan ekonomi yang stabil di atas 6% selama tujuh triwulan berturut-turut, bahkan Produk Domestik Bruto pada triwulan kedua tahun 2008 telah mencapai 6,4% di tengah perkembangan ekonomi global yang melambat dan diliputi oleh ketidakpastian. 

Dalam menghadapi tantangan ke depan yang semakin berat, kita perlu dan harus bersatu-padu dan secara bahu-membahu membantu upaya Pemerintah mengatasi tantangan tersebut sebagai bangsa, sejalan dengan tema utama Hari Ulang Tahun Republik Indonesia tahun ini, yaitu :  

“Dengan Semangat Proklamasi 17 Agustus 1945,

Kita Lanjutkan Pembangunan Ekonomi Menuju Peningkatan Kesejahteraan Rakyat, Serta Kita Perkuat Ketahanan Nasional Menghadapi Tantangan Global”  

Saudara-saudara sekalian,

Hadirin yang saya muliakan, 

         Sebelum mengakhiri sambutan ini, saya ingin menyinggung sekilas mengenai perkembangan hubungan bilateral Indonesia-Australia yang saat ini dalam kondisi yang baik dan semakin kuat. Upaya kedua negara untuk membangun landasan hubungan yang lebih mapan diawali dengan penandatanganan Deklarasi Kemitraan Komprehensif (Comprehensive Partnership) pada tahun 2005 antara Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan Perdana Menteri John Howard, yang menegaskan semangat kerjasama kedua negara mencakup semua bidang, termasuk peningkatan hubungan people-to-people.

Deklarasi ini kemudian ditindaklanjuti dengan penandatanganan Persetujuan Kerangka Kerjasama Keamanan, atau lebih dikenal sebagai Lombok Treaty pada tanggal 13 November 2006. Dengan Traktat ini, kedua negara sepakat untuk, antara lain, melakukan kerjasama di bidang keamanan, penegakan hukum, counter-terrorism, intelligence, keamanan laut dan keselamatan udara yang dilandasi oleh prinsip-prinsip kesetaraan, saling menguntungkan, saling menghormati dan menghormati kedaulatan, integritas wilayah, kesatuan nasional dan kemerdekaan politik masing-masing. 

Menandai pentingnya hubungan bilateral kedua negara, Perdana Menteri Australia Kevin Rudd, dalam kurun waktu kurang dari satu tahun setelah berhasil memenangkan pemilu pada akhir 2007, telah dua kali melakukan kunjungan ke Indonesia, disamping serangkaian saling-kunjung antara menteri-menteri dari kedua negara, termasuk Menteri Luar Negeri Australia pada tanggal 11-13 Agustus 2008 yang lalu. 

Memahami bahwa interaksi antar masyarakat kedua negara akan menumbuhkan saling pengertian dan memperkokoh hubungan bilateral Indonesia-Australia, kegiatan saling-kunjung dan pertukaran ini juga dilakukan oleh anggota parlemen, akademisi, wartawan, dosen, guru, dan lain sebagainya. 

Akhirnya, semoga Allah SWT melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua. Saya mengajak saudara-saudara sekalian yang hadir di sini, untuk senantiasa memperkokoh persatuan dan kebersamaan dan bersama-sama membangun bangsa dan negara Republik Indonesia demi kemajuan, keadilan dan kesejahteraan masyarakatnya. Persatuan, kebersamaan dan kecintaan kita kepada Republik Indonesia adalah kunci keberhasilan pencapaian tujuan mulia tersebut. Insya’ Allah tujuan itu dapat terwujud dengan keyakinan bahwa “Indonesia Bisa!”.

 

“Dirgahayu Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia” 

Terima kasih. 

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. 

 

Canberra, 17 Agustus 2008 

 

  T.M. Hamzah Thayeb

  Duta Besar LBBP RI
 

Media inquiries : contact the Information Officer of the Embassy at + 612 62508642

EMBASSY OF THE REPUBLIC OF INDONESIA
8 Darwin Avenue, Yarralumla, Canberra, A.C.T. 2600
AUSTRALIA
Tel. +612 6250 8600, Fax. +612 6273 6017