|
Assalamu'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera
bagi kita semua.
Saudara-saudara
sekalian,
Hadirin yang saya
muliakan,
Pada hari yang
berbahagia ini, sudah sepatutnya kita memanjatkan puji
dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena kita
semua dikaruniai rahmat dan kesehatan untuk dapat
berkumpul dan memperingati saat bersejarah, yakni
detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia
yang ke-62.
Sudah sepatutnya
pula kita menundukkan kepala dan menyatakan
alhamdullilah bahwa berkat perjuangan, ketabahan dan
keuletan, gema Proklamasi yang dikumandangkan 62 tahun
yang lalu oleh Soekarno dan Hatta atas nama bangsa
Indonesia, telah mampu kita pertahankan, dan bangsa dan
negara Indonesia tetap berdiri tegak bersama
bangsa-bangsa lainnya di dunia.
Pada saat yang penuh makna ini, kita perlu melakukan
refleksi mengenai sejarah bangsa kita. Memang, sejarah
menunjukkan bahwa perjalanan bangsa Indonesia, sejak
dari masa lampau hingga saat ini, senantiasa ditandai
berbagai macam kejadian dan mengalami pasang-surut yang
silih-berganti. Oleh karena itu perjalanan bangsa kita
yang panjang dan yang masih harus kita lalui, hendaknya
dilihat dalam satu continuum kesejarahan.
Kita semua
memahami bahwa di masa lampau, bangsa asing berhasil
menguasai kepulauan Nusantara selama 350 tahun dengan
segala penderitaan dan kesengsaraan yang diakibatkannya.
Keadaan ini dimungkinkan bukan karena rakyat dan
penduduknya tidak melakukan perlawanan, melainkan karena
tidak adanya kesatuan dan persatuan di antara mereka.
Dalam
perkembangan selanjutnya, rakyat kita menghadapi
berbagai cobaan dan ujian, termasuk perlawanan fisik
terhadap tentara kolonial. Sejarah juga mencatat bahwa
pergerakan-pergerakan yang bersifat nasional, atau
kebangsaan, mulai tumbuh, diawali dengan pendirian Budi
Utomo tahun 1908, kemudian Sumpah Pemuda tahun 1928,
yang akhirnya berkulminasi dengan Proklamasi Kemerdekaan
tahun 1945. Dan hal ini dimungkinkan justru karena
tumbuhnya kesadaran akan persatuan dan kesatuan.
Saudara-saudaraku
sekalian,
Hadirin yang saya
hormati,
Satu hal yang perlu kita sadari adalah bahwa Proklamasi
Kemerdekaan yang bergema di seluruh Tanah Air - dari
Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote -
62 tahun yang lalu, bukan berarti perjuangan kita
sebagai bangsa telah selesai. Continuum sejarah
Indonesia akan terus berlanjut.
Di awal kemerdekaan, kita menghadapi tantangan-tantangan
yang tidak ringan. Kita masih menghadapi perjuangan
fisik/bersenjata melawan kaum kolonial yang mencoba
menjajah kembali bangsa yang baru lahir. Tantangan ini
mendapat jawaban dari seluruh rakyat Indonesia yang
secara bahu-membahu dengan kekuatan militer melakukan
perlawanan. Di sisi lain, kita pun menghadapi tantangan
diplomasi untuk mendapatkan pengakuan internasional.
Sekali lagi seluruh rakyat Indonesia secara bersatu-padu
mendukung langkah-langkah yang dilakukan wakil-wakil
Indonesia di berbagai fora internasional.
Dari gambaran yang sederhana ini, jelas bahwa kesatuan
dan persatuan di antara kita dapat menjadi dan harus
menjadi suatu kekuatan yang dahsyat sehingga
memungkinkan kita, sebagai bangsa, menghadapi berbagai
tantangan dengan penuh keyakinan dan kemantapan.
Saudara-saudara sekalian,
Hadirin yang saya
muliakan,
Memang
corak dan sifat perjuangan bangsa Indonesia dewasa ini
sudah berubah sesuai dengan perkembangan zaman.
Selama perjalanan 62 tahun, kita pernah mengalami
pasang-surut dalam kehidupan berbangsa dan bernegara
yang ditandai dengan penerapan berbagai sistem
pemerintahan. Kita pernah menjalankan sistem demokrasi
liberal, kita pernah menganut demokrasi parlementer,
kita pernah mencoba sistem demokrasi terpimpin bahkan
demokrasi yang dibangun dengan sistem otoriter sekalipun.
Namun kesemuanya ini telah menimbulkan
persoalan-persoalannya sendiri.
Masih segar dalam
ingatan kita bahwa di penghujung tahun 1997 bangsa
Indonesia terkena dampak dari krisis ekonomi yang
melanda Asia yang kemudian memicu pecahnya krisis
multidimensional berkepanjangan di tanah air, termasuk
pecahnya kembali konflik-konflik sektarian di sementara
daerah.
Namun hikmah yang
dapat dipetik dari kejadian dan pengalaman tersebut
adalah mendorong terjadinya reformasi sebagai upaya
menata kembali kehidupan berbangsa dan bernegara dan
mentransformasikan Indonesia sebagai negara yang
demokratis, menghormati hak asasi manusia, berkeadilan
dan berkesejahteraan.
Tidak dapat disangkal bahwa permasalahan dan tantangan
yang kita hadapi sekarang memang sangat complex yang
mencakup segala aspek kehidupan. Kita masih perlu
memantapkan ketahanan pangan dan memberdayakan ekonomi
masyarakat. Kita pun menghadapi masalah keterbelakangan
dan kemiskinan serta pengangguran. Pendidikan dan
kesehatan masyarakat masih memerlukan perbaikan.
Perbaikan infrastruktur yang selama ini terabaikan,
penting bagi pengembangan perekonomian, dan lain
sebagainya.
Memang saat ini
dapat dicatat adanya kemajuan-kemajuan, a.l. pelaksanaan
PILKADA yang aman, termasuk di Aceh dan Papua;
pelaksanaan otonomi daerah yang berjalan baik dan
semakin kuatnya lembaga-lembaga kenegaraan yang
mendukung kehidupan berdemokrasi; pertumbuhan ekonomi
sebesar 6,3% per tahun dan pendapatan per kapita yang
naik sebesar 50%; dan meningkatnya investasi asing
sebesar 7% pada semester pertama tahun ini. Namun masih
banyak aspek-aspek lain yang perlu mendapat perhatian.
Kiranya pesan yang diamanatkan oleh para pendiri bangsa
yang dituangkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945
tetap relevan, yakni mewujudkan suatu masyarakat yang
adil dan makmur. Upaya ini merupakan tanggung jawab kita
sebagai penerus yang juga merupakan ungkapan terima
kasih, rasa hormat dan penghargaan kita kepada para
perintis dan para pejuang yang telah mengorbankan bukan
saja harta-benda melainkan juga jiwa-raga mereka. Oleh
karena itu perjuangan pencapaiannya terletak di pundak
kita masing-masing demi melanjutkan continuum
sejarah bangsa Indonesia.
Memperhatikan tantangan yang berat itu, saya ingin
mengajak saudara-saudara sekalian untuk bersatu-padu dan
secara bahu-membahu membantu upaya Pemerintah
menanggulangi tantangan-tantangan yang kita, sebagai
bangsa, hadapi bersama, sejalan dengan tema utama Hari
Ulang Tahun Republik Indonesia tahun ini, yaitu :
“DENGAN SEMANGAT
PERSATUAN DAN ETOS KERJA, KITA PERCEPAT PERTUMBUHAN
EKONOMI DAN PENANGGULANGAN KEMISKINAN UNTUK MEWUJUDKAN
KEADILAN DAN KESEJAHTERAAN BAGI RAKYAT INDONESIA”
karena persatuan
dan kesatuan bangsa merupakan kekuatan kita yang perlu
dijaga, ditingkatkan dan dimantapkan.
Pengalaman sejarah menunjukkan bahwa pertentangan antar
suku, ras, golongan dan agama, hanya akan menimbulkan
malapetaka dan membawa bangsa ke jurang kehancuran.
Penting bagi kita untuk menghayati semangat “Bhinneka
Tunggal Ika” dan kita amalkan dalam kehidupan berbangsa
dan bernegara. Keragaman suku dan perbedaan adat
istiadat justru harus menjadi modal dasar menuju bangsa
beradab, adil dan makmur.
Saudara-saudara
se-Bangsa dan se Tanah Air,
Sebelum mengakhiri
sambutan ini saya ingin menyinggung sedikit tentang
perkembangan hubungan bilateral RI-Australia yang saat
ini dalam kondisi yang baik dan semakin kuat.
Sebagaimana selalu saya utarakan dalam berbagai
kesempatan, bahwa saling pengertian akan tumbuh jika
terjadi interaksi di antara kita. Dan dalam beberapa
bulan terakhir ini, telah terlaksana beberapa kegiatan
saling kunjung dan pertukaran antara pejabat pemerintah,
anggota parlemen, akademisi, wartawan, dosen, guru dan
lain sebagainya sehingga telah semakin mendekatkan kedua
bangsa dan negara kita. Bahkan terakhir, PM Australia
telah berkunjung ke Bali untuk bertemu Presiden RI,
meskipun ada “Travel Advisory” dari pemerintah Australia
sendiri.
Patut dicatat pula dalam upaya peningkatan hubungan
kedua negara adalah penandatanganan Persetujuan Kerangka
Kerjasama Keamanan, atau lebih dikenal sebagai Lombok
Treaty, pada tanggal 13 November 2006. Dalam Persetujuan
ini kedua negara sepakat a.l. untuk melakukan kerjasama
di bidang pertahanan, penegakan hukum,
counter-terrorism, intelligence, keamanan laut dan
keselamatan udara yang dilandasi prinsip-prinsip
kesetaraan, saling menguntungkan, saling menghormati dan
mendukung kedaulatan, integritas wilayah, kesatuan
nasional dan kemerdekaan politik masing-masing.
Akhirnya, kepada saudara-saudara sekalian yang hadir di
sini, saudara-saudara - termasuk saya sendiri -
merupakan sebagian kecil bangsa Indonesia yang beruntung
memperoleh kesempatan untuk menimba ilmu pengetahuan,
belajar dan hidup di negara yang lebih maju. Oleh sebab
itu kita harus memanfaatkan waktu ini sebaik-baiknya
untuk kemudian menunjukkan tanggung jawab kita dalam
mengisi kemerdekaan yang telah dengan susah payah dan
penuh pengorbanan diperjuangkan oleh para pendahulu kita.
Memang tantangan
kita ke depan tidak ringan. Mempertahankan kemerdekaan
masa kini bukan saja berarti mencegah penjajahan dalam
arti fisik, yakni diduduki oleh bangsa lain, tetapi
penjajahan kini dapat terjadi dalam berbagai berbentuk
seperti kooptasi pemikiran, penguasaan aset ataupun
penguasaan kekuatan ekonomi negara.
Karenanya, kita
perlu bekerja keras menanggulangi kemisikinan melalui
peningkatan ilmu dan teknologi. Saya meyakini bahwa
pendidikan adalah krusial dalam strategi memberantas
kemiskinan, karena kemiskinan pada dasarnya disebabkan
kurangnya akses terhadap informasi; dan ini bersumber
pada rendahnya kualitas pendidikan. Untuk itu, kita
harus jujur kepada diri kita sendiri, dan harus berani
melakukan koreksi terhadap ketidaktahuan (ignorance).
“Dirgahayu Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia
Terima kasih.
Wassalamu'alaikuam
warahmatullahi wabarakatuh.
Canberra, 17
Agustus 2007
T.M. Hamzah
Thayeb
Duta Besar
LB-BP
---------------------
|