KEDUTAAN BESAR REPUBLIK INDONESIA
EMBASSY OF THE REPUBLIC OF INDONESIA
8 Darwin Avenue, Yarralumla, Canberra, A.C.T. 2600
AUSTRALIA
Tel. +612 6250 8600, Fax. +612 6273 6017


SAMBUTAN DUTA BESAR LB-BP RI

UNTUK AUSTRALIA DAN REPUBLIK VANUATU

PADA

UPACARA PERINGATAN HUT KE-62 KEMERDEKAAN

REPUBLIK INDONESIA

TAHUN 2007
_____________________________________________
_

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Salam sejahtera bagi kita semua.

Saudara-saudara sekalian,

Hadirin yang saya muliakan,

 

Pada hari yang berbahagia ini, sudah sepatutnya kita memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena kita semua dikaruniai rahmat dan kesehatan untuk dapat berkumpul dan memperingati saat bersejarah, yakni detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-62.

 Sudah sepatutnya pula kita menundukkan kepala dan menyatakan alhamdullilah bahwa berkat perjuangan, ketabahan dan keuletan, gema Proklamasi yang dikumandangkan 62 tahun yang lalu oleh Soekarno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia, telah mampu kita pertahankan, dan bangsa dan negara Indonesia tetap berdiri tegak bersama bangsa-bangsa lainnya di dunia.

            Pada saat yang penuh makna ini, kita perlu melakukan refleksi mengenai sejarah bangsa kita. Memang, sejarah menunjukkan bahwa perjalanan bangsa Indonesia, sejak dari masa lampau hingga saat ini, senantiasa ditandai berbagai macam kejadian dan mengalami pasang-surut yang silih-berganti. Oleh karena itu perjalanan bangsa kita yang panjang dan yang masih harus kita lalui, hendaknya dilihat dalam satu continuum kesejarahan.

Kita semua memahami bahwa di masa lampau, bangsa asing berhasil menguasai kepulauan Nusantara selama 350 tahun dengan segala penderitaan dan kesengsaraan yang diakibatkannya. Keadaan ini dimungkinkan bukan karena rakyat dan penduduknya tidak melakukan perlawanan, melainkan karena tidak adanya kesatuan dan persatuan di antara mereka.

          Dalam perkembangan selanjutnya, rakyat kita menghadapi berbagai cobaan dan ujian, termasuk perlawanan fisik terhadap tentara kolonial. Sejarah juga mencatat bahwa pergerakan-pergerakan yang bersifat nasional, atau kebangsaan, mulai tumbuh, diawali dengan pendirian Budi Utomo tahun 1908, kemudian Sumpah Pemuda tahun 1928, yang akhirnya berkulminasi dengan Proklamasi Kemerdekaan tahun 1945. Dan hal ini dimungkinkan justru karena tumbuhnya kesadaran akan persatuan dan kesatuan.

 

Saudara-saudaraku sekalian,

Hadirin yang saya hormati,

           Satu hal yang perlu kita sadari adalah bahwa Proklamasi Kemerdekaan yang bergema di seluruh Tanah Air - dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote - 62 tahun yang lalu, bukan berarti perjuangan kita sebagai bangsa telah selesai. Continuum sejarah Indonesia akan terus berlanjut.

           Di awal kemerdekaan, kita menghadapi tantangan-tantangan yang tidak ringan. Kita masih menghadapi perjuangan fisik/bersenjata melawan kaum kolonial yang mencoba menjajah kembali bangsa yang baru lahir. Tantangan ini mendapat jawaban dari seluruh rakyat Indonesia yang secara bahu-membahu dengan kekuatan militer melakukan perlawanan. Di sisi lain, kita pun menghadapi tantangan diplomasi untuk mendapatkan pengakuan internasional. Sekali lagi seluruh rakyat Indonesia secara bersatu-padu mendukung langkah-langkah yang dilakukan wakil-wakil Indonesia di berbagai fora internasional.

           Dari gambaran yang sederhana ini, jelas bahwa kesatuan dan persatuan di antara kita dapat menjadi dan harus menjadi suatu kekuatan yang dahsyat sehingga memungkinkan kita, sebagai bangsa, menghadapi berbagai tantangan dengan penuh keyakinan dan kemantapan.

           Saudara-saudara sekalian,

Hadirin yang saya muliakan,

          Memang corak dan sifat perjuangan bangsa Indonesia dewasa ini sudah berubah sesuai dengan perkembangan zaman.

         Selama perjalanan 62 tahun, kita pernah mengalami pasang-surut dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang ditandai dengan penerapan berbagai sistem pemerintahan. Kita pernah menjalankan sistem demokrasi liberal, kita pernah menganut demokrasi parlementer, kita pernah mencoba sistem demokrasi terpimpin bahkan demokrasi yang dibangun dengan sistem otoriter sekalipun. Namun kesemuanya ini telah menimbulkan persoalan-persoalannya sendiri.

Masih segar dalam ingatan kita bahwa di penghujung tahun 1997 bangsa Indonesia terkena dampak dari krisis ekonomi yang melanda Asia yang kemudian memicu pecahnya krisis multidimensional berkepanjangan di tanah air, termasuk pecahnya kembali konflik-konflik sektarian di sementara daerah.

Namun hikmah yang dapat dipetik dari kejadian dan pengalaman tersebut adalah mendorong terjadinya reformasi sebagai upaya menata kembali kehidupan berbangsa dan bernegara dan mentransformasikan Indonesia sebagai negara yang demokratis, menghormati hak asasi manusia, berkeadilan dan berkesejahteraan.

            Tidak dapat disangkal bahwa permasalahan dan tantangan yang kita hadapi sekarang memang sangat complex yang mencakup segala aspek kehidupan. Kita masih perlu memantapkan ketahanan pangan dan memberdayakan ekonomi masyarakat. Kita pun menghadapi masalah keterbelakangan dan kemiskinan serta pengangguran. Pendidikan dan kesehatan masyarakat masih memerlukan perbaikan. Perbaikan infrastruktur yang selama ini terabaikan, penting bagi pengembangan perekonomian, dan lain sebagainya.

Memang saat ini dapat dicatat adanya kemajuan-kemajuan, a.l. pelaksanaan PILKADA yang aman, termasuk di Aceh dan Papua; pelaksanaan otonomi daerah yang berjalan baik dan semakin kuatnya lembaga-lembaga kenegaraan yang mendukung kehidupan berdemokrasi; pertumbuhan ekonomi sebesar 6,3% per tahun dan pendapatan per kapita yang naik sebesar 50%; dan meningkatnya investasi asing sebesar 7% pada semester pertama tahun ini. Namun masih banyak aspek-aspek lain yang perlu mendapat perhatian.

           Kiranya pesan yang diamanatkan oleh para pendiri bangsa yang dituangkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 tetap relevan, yakni mewujudkan suatu masyarakat yang adil dan makmur. Upaya ini merupakan tanggung jawab kita sebagai penerus yang juga merupakan ungkapan terima kasih, rasa hormat dan penghargaan kita kepada para perintis dan para pejuang yang telah mengorbankan bukan saja harta-benda melainkan juga jiwa-raga mereka. Oleh karena itu perjuangan pencapaiannya terletak di pundak kita masing-masing demi melanjutkan continuum sejarah bangsa Indonesia.

            Memperhatikan tantangan yang berat itu, saya ingin mengajak saudara-saudara sekalian untuk bersatu-padu dan secara bahu-membahu membantu upaya Pemerintah menanggulangi tantangan-tantangan yang kita, sebagai bangsa, hadapi bersama, sejalan dengan tema utama Hari Ulang Tahun Republik Indonesia  tahun ini, yaitu :
 

“DENGAN SEMANGAT PERSATUAN DAN ETOS KERJA, KITA PERCEPAT PERTUMBUHAN EKONOMI DAN PENANGGULANGAN KEMISKINAN UNTUK MEWUJUDKAN KEADILAN DAN KESEJAHTERAAN BAGI RAKYAT INDONESIA”

 

karena persatuan dan kesatuan bangsa merupakan kekuatan kita yang perlu dijaga, ditingkatkan dan dimantapkan.

           Pengalaman sejarah menunjukkan bahwa pertentangan antar suku, ras, golongan dan agama, hanya akan menimbulkan malapetaka dan membawa bangsa ke jurang kehancuran. Penting bagi kita untuk menghayati semangat “Bhinneka Tunggal Ika” dan kita amalkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Keragaman suku dan perbedaan adat istiadat justru harus menjadi modal dasar menuju bangsa beradab, adil dan makmur.

Saudara-saudara se-Bangsa dan se Tanah Air,

        Sebelum mengakhiri sambutan ini saya ingin menyinggung sedikit tentang perkembangan hubungan bilateral RI-Australia yang saat ini dalam kondisi yang baik dan semakin kuat. Sebagaimana selalu saya utarakan dalam berbagai kesempatan, bahwa saling pengertian akan tumbuh jika terjadi interaksi di antara kita. Dan dalam beberapa bulan terakhir ini, telah terlaksana beberapa kegiatan saling kunjung dan pertukaran antara pejabat pemerintah, anggota parlemen, akademisi, wartawan, dosen, guru dan lain sebagainya sehingga telah semakin mendekatkan kedua bangsa dan negara kita. Bahkan terakhir, PM Australia telah berkunjung ke Bali untuk bertemu Presiden RI, meskipun ada “Travel Advisory” dari pemerintah Australia sendiri.

          Patut dicatat pula dalam upaya peningkatan hubungan kedua negara adalah penandatanganan Persetujuan Kerangka Kerjasama Keamanan, atau lebih dikenal sebagai Lombok Treaty, pada tanggal 13 November 2006. Dalam Persetujuan ini kedua negara sepakat a.l. untuk melakukan kerjasama di bidang pertahanan, penegakan hukum, counter-terrorism, intelligence, keamanan laut dan keselamatan udara yang dilandasi prinsip-prinsip kesetaraan, saling menguntungkan, saling menghormati dan mendukung kedaulatan, integritas wilayah, kesatuan nasional dan kemerdekaan politik masing-masing.  

           Akhirnya, kepada saudara-saudara sekalian yang hadir di sini, saudara-saudara - termasuk saya sendiri - merupakan sebagian kecil bangsa Indonesia yang beruntung memperoleh kesempatan untuk menimba ilmu pengetahuan, belajar dan hidup di negara yang lebih maju. Oleh sebab itu kita harus memanfaatkan waktu ini sebaik-baiknya untuk kemudian menunjukkan tanggung jawab kita dalam mengisi kemerdekaan yang telah dengan susah payah dan penuh pengorbanan diperjuangkan oleh para pendahulu kita.

Memang tantangan kita ke depan tidak ringan. Mempertahankan kemerdekaan masa kini bukan saja berarti mencegah penjajahan dalam arti fisik, yakni diduduki oleh bangsa lain, tetapi penjajahan kini dapat terjadi dalam berbagai berbentuk seperti kooptasi pemikiran, penguasaan aset ataupun penguasaan kekuatan ekonomi negara.

Karenanya, kita perlu bekerja keras menanggulangi kemisikinan melalui peningkatan ilmu dan teknologi. Saya meyakini bahwa pendidikan adalah krusial dalam strategi memberantas kemiskinan, karena kemiskinan pada dasarnya disebabkan kurangnya akses terhadap informasi; dan ini bersumber pada rendahnya kualitas pendidikan. Untuk itu, kita harus jujur kepada diri kita sendiri, dan harus berani melakukan koreksi terhadap ketidaktahuan (ignorance).

           “Dirgahayu Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia

Terima kasih.

 Wassalamu'alaikuam warahmatullahi wabarakatuh.

 Canberra, 17 Agustus 2007

  

     T.M. Hamzah Thayeb

        Duta Besar  LB-BP
 
--------------------- 


Media inquiries : contact the Information Officer of the Embassy at + 612 62508642

EMBASSY OF THE REPUBLIC OF INDONESIA
8 Darwin Avenue, Yarralumla, Canberra, A.C.T. 2600
AUSTRALIA
Tel. +612 6250 8600, Fax. +612 6273 6017