|
Perancang busana Batik ternama Indonesia, Adjie
Notonegoro dari House
of Adjie, telah menyelenggarakan pagelaran busana (fashion show) “Batik,
Heritage of Indonesia” pada tanggal 4 Mei 2007
bertempat di Playhouse, Canberra Theatre Centre. Kegiatan public
diplomacy ini yang diselenggarakan bekerjasama dengan
Kedutaan Besar RI di Canberra dimaksudkan untuk
mempromosikan Batik Indonesia, yang merupakan salah satu
kekayaan budaya bangsa Indonesia, kepada masyarakat luas
Australia serta untuk membuka peluang pasar bagi produk
Batik dan tekstil Indonesia di Australia.
Antusiasme dan sambutan masyarakat Australia,
khususnya di Canberra, tampak dari pengunjung yang hadir
yang berjumlah lebih dari 600 orang dan berasal dari
berbagai kalangan. Sejumlah Duta Besar/High
Commissioners dan Korps Diplomatik, para pejabat
Pemerintah Australia, para pengusaha boutique,
pemerhati fashion, pengusaha retail pakaian
jadi, masyarakat umum Australia dan masyarakat Indonesia
memenuhi ruang Playhouse Theatre.
Adjie menampilkan koleksi yang terdiri dari lima
buah kebaya modern terbuat dari bahan lace dipadankan dengan kain songket; lima buah kebaya klasik terbuat
dari bahan velvet dan
silk dengan
padanan kain Batik; sepuluh gaun Batik haute
couture (evening
gown); sebuah kebaya pengantin tradisional; dan dua
gaun pengantin (bridal
gown) dan diperagakan oleh 10 orang model dari
Indonesia. Dua model pria warga Australia juga ikut
memperagakan kemeja Batik rancangan Adjie, yakni Mannix
Foster dan Stephan Kennedy, untuk menunjukkan bahwa Batik
juga serasi untuk dikenakan oleh masyarakat Australia.
Penampilan gaun Batik haute
couture memperlihatkan bahwa kain Batik tidak hanya
digunakan sebagai padanan dengan kebaya atau sebagai kain
sarung yang biasa dikenakan sebagai busana nasional
Indonesia untuk acara-acara tertentu saja, melainkan dari
kain Batik dapat pula dirancang menjadi sebuah gaun malam
yang mewah dan menawan (adi busana).
Acara pagelaran yang diselingi dengan tarian klasik
“Gending Sriwijaya” dari Palembang dan tari
“Saman” dari Aceh yang dibawakan oleh Sanggar Tari
Isti di Canberra, telah memikat seluruh pengunjung. Kebaya
modern yang dipadu dengan kain songket, oleh Adjie
ditaburkan dengan payet. Penaburan payet dilakukan secara
manual dan disesuaikan dengan warna bahan kebaya dan kain
songket itu sendiri. Pemasangan/penaburan payet khususnya
pada bahan songket memerlukan waktu sampai dua bulan
lamanya. Sementara itu, bahan kebaya klasik yang
ditampilkan dihiasi dengan bordir (hand embroidered) yang terbuat dari benang emas atau silver.
Pagelaran busana ini juga dirangkaikan dengan
pameran bertempat di lobby
Playhouse menyajikan berbagai bahan/kain Batik,
peralatan membuat Batik, presentasi powerpoint
mengenai proses pembuatan Batik secara terus-menerus,
berbagai jenis produk furniture dan kerajinan khas Indonesia dari Java Style Warehouse di Canberra dan beragam brosur mengenai Batik,
kerajinan dan furniture
Indonesia yang difasilitasi oleh Atase Perdagangan KBRI
Canberra. Digelar pula berbagai kain Batik dan peralatan
membatik yang diperoleh atas dukungan Atase Pendidikan dan
Kebudayaan KBRI Canberra maupun dari koleksi pribadi para
staf KBRI Canberra serta Sanggar Tari Isti.
Acara yang berlangsung
selama dua jam diakhiri dengan Adjie Notonegoro
menyerahkan seperangkat gaun pengantin rancangannya kepada
Australian National Gallery yang diwakili oleh Ms. Lucie Folen, Curator
Asian Art. Gaun pengantin warna putih yang terbuat
dari chiffon dan
organza dengan
padanan kain Batik tersebut akan menambah koleksi tekstil
Indonesia yang dimiliki National Gallery. Acara ditutup dengan cocktail function bagi pengunjung untuk berinteraksi dengan
perancang Adjie Notonegoro sekaligus menikmati beragam
hidangan kecil khas Indonesia dan melihat-lihat pameran.
Para pengunjung menyatakan sangat terkesan atas koleksi
Adjie yang ditampilkan malam itu dan mengagumi bahwa Batik
dapat menjadi sebuah busana
yang sangat indah. Seorang pengunjung bahkan
menegaskan pihaknya telah membuka usaha impor Batik.
Selain jajaran KBRI
Canberra, acara ini telah melibatkan partisipasi aktif
dari berbagai pihak. Dukungan Garuda Indonesia, Altelindo
(perusahaan IT Indonesia), Java
Style Warehouse (perusahaan Australia/importir furniture
kayu dan kerajinan Indonesia), Indocafé Canberra
(restoran Indonesia), Indomedia (tabloid masyarakat
Indonesia di Australia) dan Kabelvision (pay-tv
Indonesia) telah turut mensukseskan
penyelenggaraannya. Peran Dharma Wanita Persatuan KBRI
Canberra dan Persatuan Pelajar Indonesia-Australia (PPIA)
Canberra juga sangat besar dalam kegiatan ini.
Sebelum pagelaran, Helen Musa, Arts
Editor dari the Canberra Times, mengadakan wawancara dengan Adjie Notonegoro
mengenai acara “Batik,
Heritage of Indonesia.” Berita yang diturunkan dalam
the Canberra Times
edisi 3 Mei 2007 telah semakin memperluas pemberitaan
tentang kegiatan ini. Sementara Adjie sendiri
berkesempatan untuk menjadi guest lecturer di Faculty of
Design di Canberra Institute of Technology (CIT) dan
School of Art di Australian National University (ANU) yang
dikoordinasikan oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI
Canberra. Presentasi di kedua universitas tersebut telah
mendapat perhatian mendalam dan dimaksudkan sebagai upaya
pengenalan Batik kepada mahasiswa Australia, khususnya
yang mendalami tekstil, sekaligus untuk menunjukkan bahwa
Indonesia memiliki banyak ragam budaya yang sangat unik
dan memiliki nilai estetika yang tinggi.
Perwakin Canberra, 8
Mei 2007
---------------------
|