|
MENDAG DAN KANSAI YAMAMOTO DORONG INTERNASIONALISASI BATIK
Tokyo -
Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengadakan pertemuan dengan
perancang busana internasional asal Jepang, Kansai Yamamoto, guna
membicarakan upaya promosi batik dan kain khas Indonesia lainnya menjadi
salah satu ciri atau ikon internasional dalam dunia fashion global.
Hal itu
dikemukakan Mari Pangestu kepada Antara di Tokyo, usai melakukan
pertemuan dengan perancang busana terkenal Jepang tersebut. Pembicaraan
juga melibatkan tokoh dunia hiburan kondang, Tantowi Yahya, agar bisa
menciptakan pola pertunjukan dan kegiatan lainnya sesuai selera pasar
internasional. "Kami membicarakan bagaimana batik dan kain-kain
Indonesia lainnya bisa berbicara di tingkat dunia. Upaya
menginternasionalisasi batik ini untuk menunjukkan potensi ekonomi
kreatif Indonesia," kata Mari.
Mari
Pangestu bersama Tantowi Yahya diundang secara khusus oleh Kansai
Yamamoto untuk menyaksikan berbagai koleksi busana yang dipamerkan di
Museum Edo Tokyo, pada Minggu (29/6) lalu.
Yamamoto
juga menyatakan pujiannya yang tinggi terhadap batik dan kain-kain
Indonesia, sehingga sangat memungkinkan untuk menjadikan batik sebagai
pakaian dunia. "Indonesia memiliki berbagai bahan pakaian yang unik dan
tidak terdapat di Jepang, sehingga kelangkaan ini bisa menjadi modal
utama memperkenalkan batik di forum dunia,' kata Yamamoto yang
mengenakan batik hasil disainnya sendiri.
Perancang
busana nyentrik itu terkenal karena telah membawa tradisi dan busana
Jepang kepada tingkat kontemporer dan desain international sejak 1970.
Hasil rancangannya banyak diminati selebiriti dunia seperti John Lennon
dan David Bowie. Menteri dan Yamamoto juga membicarakan persiapan acara
"super show" di Bali bulan Desember mendatang, berupa peragaan busana
yang diwarnai atraksi kolosal yang unik ciri khas Yamamoto.
Ekonomi
Kreatif
Menteri
Perdagangan lebih jauh menjelaskan mengenai keterkaitan
internasionalisasi batik dengan kebijakan ekonomi kreatif yang dapat
mendorong ekspor dan perdagangan Indonesia. 'Upaya ini juga terkait
dengan perjanjian Economic Partnership Agreement (EPA) yang berlakunya
efektif 1 Juli , sebagai wujud membangun kreatifitas ekonomi Indonesia
yang kini amat diperlukan," katanya.
Seperti
telah diketahui, cetak biru ekonomi kreatif diluncurkan Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono Juni 2008. Ekonomi kreatif terdiri atas 14 sektor
termasuk fesyen, desain dan kerajinan. Sektor lainnya adalah arsitektur,
film, video dan fotographi, musik, seni pertunjukan, dan barang-barang
antik.
"Sekarang
tantangannya utama adalah bagaimana mengunakan dasar warisan budaya dan
kreatifitas bangsa untuk bisa dikembangkan menjadi nilai ekonomi baru,
termasuk membuatnya trend kontemporer, fungsional dan mempunyai pasar,
tapi tetap berciri Indonesia," ujarnya. (Antara, 30/6/08)
-00- |