|
HUBUNGAN
INDONESIA – AUSTRALIA
(Artikel oleh
Anak Agung
Banyu Perwita)
”I wanted to
make it clear that having good, stable relations with Australia is a
priority for my government.”
Pernyataan
Presiden Yudhoyono saat berkunjung ke Australia, 3 April 2005, bermakna,
hubungan bilateral Indonesia dan Australia amat penting dan strategis.
Sementara itu, Kevin Rudd, PM Australia yang baru, juga berkomitmen
mengubah politik luar negeri untuk memperkokoh fondasi hubungan
bilateral Indonesia-Australia.
Dari sisi
teoretis, pergantian pemerintahan akan mendorong restrukturisasi politik
luar negeri yang lebih positif. Restrukturisasi ini juga akan
memunculkan aneka implikasi terhadap stabilitas regional dan
internasional.
Hal itu
disebabkan orientasi rezim merefleksikan nilai-nilai dasar dan
kepentingan ekonomi, sosial, dan politik dalam isu-isu yang sedang
berkembang di lingkungan domestik dan internasional.
Maka, politik
luar negeri yang diperlukan Indonesia dan Australia di masa depan adalah
kebijaksanaan yang andal, akuntabel, dan komprehensif sejalan masalah
multidimensi yang sedang dihadapi kedua negara.
Untuk itu,
Australia patut mengkaji kembali upaya-upaya yang telah dan akan
dilakukan Australia terhadap Indonesia. Aspek sensitivitas yang tinggi
dan proporsionalitas kebijakan luar negeri Australia terhadap Indonesia
patut mendapat prioritas tinggi bagi upaya memperkokoh format hubungan
bilateral yang lebih kondusif bagi kepentingan nasional kedua negara.
Dalam
kunjungan ke Australia (April 2005), Presiden Yudhoyono mengungkapkan
perlunya upaya menciptakan comprehensive partnership (CP).
Menurut Presiden Yudhoyono, CP merupakan konsekuensi logis hubungan
bilateral yang telah terangkai lama dan kini memasuki era hubungan
bilateral lebih kompleks, penuh tantangan, tetapi memiliki prospek yang
amat menjanjikan bagi hubungan kedua negara yang lebih konstruktif.
CP merupakan
kerangka kerja luas bagi kedua negara untuk lebih saling menanamkan
kepercayaan dalam merumuskan format hubungan luar negeri dan bisa
menjadi kendali bagi masa depan hubungan bilateral.
Dengan
kerangka CP, kedua negara dapat lebih menekankan kesamaan kepentingan
bersama (commonalitites of interests) ketimbang menekankan
perbedaan.
Beberapa
dimensi
Kerangka
kerjasama CP memiliki beberapa dimensi. Dimensi pertama yang patut
diprioritaskan adalah memperkuat berbagai kerjasama yang telah terbentuk.
Dalam bidang politik-keamanan, misalnya, berbagai kerjasama menangani
isu terorisme, human trafficking, dan narkoba dapat terus
dikembangkan. Dalam sosial budaya, dialog antarkepercayaan (interfaith
dialogue) dan kerja sama peningkatan kapasitas pendidikan sumber
daya manusia juga dapat terus diperkuat.
Hingga kini,
ada 25.000 mahasiswa Indonesia belajar di Australia dengan kontribusi
sekitar 750 juta dollar AS per tahun. Sementara itu, Pemerintah
Australia menyediakan sekitar 20 juta dollar AS per tahun untuk beasiswa
AusAID bagi pengajar dan peneliti Indonesia. Secara sederhana, dimensi
pertama terkait isu kerja sama yang telah dan akan dibentuk di masa
depan yang didasarkan kepentingan bersama.
Dimensi kedua
terkait keterlibatan berbagai stakeholders dalam memperkokoh
hubungan bilateral kedua negara. Hubungan bilateral tidak saja tertumpu
hubungan antaraktor pemerintah, tetapi juga harus melibatkan berbagai
aktor nonnegara lainnya. Hubungan antaraktor nonnegara akan memperkuat
jaringan kerja sama antarkedua negara yang kian luas (widening)
dan dalam (deepening). Maka, semakin kuat hubungan bilateral
Indonesia-Australia, akan ditentukan beragamnya aktor yang terlibat (multi-actors
relations).
Dimensi
ketiga, peningkatan rasa saling percaya (trust and confidence
building) antara Australia dan Indonesia. Hal ini terkait proses dan
bentuk interaksi di berbagai level kerja sama dengan banyak aktor.
Peningkatan rasa saling percaya hanya akan terjadi jika frekuensi dan
kualitas interaksi kian sering terjadi. Semakin tinggi frekuensi
interaksi yang disertai, makin dalam kualitas interaksi antarberagam
aktor, akan menghasilkan pemahaman terbentuknya CP.
Untuk
menyongsong masa depan bersama, kedua negara patut meninjau kembali
berbagai dimensi hubungan bilateral dengan mempertahankan bahkan
memperluas kerjasama; melibatkan sebanyak mungkin aktor antara Jakarta
dan Canberra; hubungan yang kian kokoh juga menuntut penggunaan aneka
macam interaksi dan instrumen diplomasi. Tampaknya ini menjadi agenda
penting kunjungan PM Kevin Rudd ke Indonesia.(Kompas, 13 Juni 2008)
-00- |