|
MEMANFAATKAN HUBUNGAN DENGAN
AUSTRALIA
Kunjungan Perdana Menteri Australia Kevin Rudd ke Indonesia pekan lalu
merupakan sinyal positif yang akan memperkuat hubungan kedua negara.
Indonesia mesti memanfaatkan kondisi ini untuk mendukung kepentingan
nasionalnya maupun menjaga hubungan antarnegara di kawasan Asia Pasifik.
Sebagai dua negara yang secara geografis bertetangga, Indonesia dan
Australia tak bisa mengelak untuk saling berhubungan. Selama ini,
hubungan Jakarta-Canberra mengalami pasang surut. Selain kerjasama
berbagai bidang ekonomi, politik, keamanan, sosial, budaya yang
mempererat hubungan dan kebersamaan, terdapat sejumlah masalah yang
muncul dan mengganggu.
Kebijakan luar negeri Australia yang sering berubah bersamaan dengan
perubahan pemerintahan di Canberra, bisa juga memengaruhi hubungan
Negara Kanguru itu dengan Indonesia dan negara-negara tetangganya di
Utara. Pada masa pemrintahan Perdana Menteri John Howard, hubungan
Australia dengan Indonesia menghadapi sejumlah masalah. Misalnya, akibat
kasus Timor Timur, insiden bom Bali, juga pemberian suaka kepada
sejumlah warga Papua yang lari ke Australia.
Dibanding dengan John Howard yang memimpin Australia sebelumnya, Rudd
lebih kondusif untuk membangun kerjasama dengan Indonesia. Rudd
merumuskan garis kebijakan luar negerinya dalam tiga pilar: kerjasama
dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa, kerjasama dengan Asia, dan sekutu
Amerika Serikat.
Dalam perang Irak, Rudd memutuskan untuk menarik pasukan tempurnya, tapi
masih bersedia mengirim pasukan Australia untuk melatih tentara Irak dan
menjaga perbatasan.
Dalam bidang lingkungan hidup, kebijakan Rudd pun banyak kesamaan dengan
Indonesia. Beberapa jam setelah dilantik pada 3 Desember 2007, Rudd
menandatangani Protokol Kyoto untuk upaya memerangi perubahan iklim
secara domestik dan dengan komunitas internasional. Peran dia dalam
Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa di Bali tahun lalu
pun menjadi makin penting.
Komitmen Rudd dalam mengatasi perubahan iklim kembali ia tunjukkan dalam
kunjungan ke Jakarta pekan lalu. Pemerintah Indonesia dan Australia
sepakat menjalin kerjasama secara serius untuk mengatasi dampak
perubahan iklim dan mengurangi tingkat emisi karbon di kedua negara.
Kesepakatan itu dituangkan dalam kerjasama kemitraan di bidang kehutanan
untuk mengatasi emisi karbon yang ditandatangani Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono dan Perdana Menteri Kevin Rudd.
Kerjasama bidang lingkungan ini bisa menjadi satu wahana untuk
mempererat hubungan Indonesia-Australia di masa kini dan mendatang.
Sebab, persoalan perubahan iklim telah menjadi masalah global yang
serius dan membutuhkan keterlibatan semua pihak.
Bidang keamanan dan pengawasan perbatasan tentu menjadi bidang lain yang
memerlukan kerja sama Jakarta-Canberra karena meningkatnya lalu-lintas
manusia dan benda antara kedua negara juga menimbulkan kerawanan yang
makin tinggi dan beragam.
Kerjasama bidang sosial budaya seperti pertukaran pelajar, mahasiswa,
serta misi-misi seni budaya yang telah berjalan baik selama ini mesti
diperlihara dan ditingkatkan. Pertukaran semacam ini akan meningkatkan
saling pengertian yang bisa menjembatani perbedaan antar kedua negara.
Kerjasama bidang ekonomi tentu juga harus ditingkatkan, apalagi tingkat
perdagangan dan investasi kedua negara terus naik dalam lima tahun
terakhir. Demikian juga kerja sama dalam berbagai forum regional seperti
Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik (APEC).
Karena itu, gagasan Kevin Rudd untuk membentuk Uni Asia Pasifik perlu
dipelajari. Bila bisa menjadi wahana baru yang menguntungkan, gagasan
itu layak didukung. (Editorial, Jurnal Nasional)
-00- |