|
FEDC DUKUNG PEMASARAN BUAH-BUAHAN KE UNI EROPA
Surabaya - Guna
membantu pengembangan industri buah Indonesia, baik produk segar maupun
olahan agar lebih kompetitif di pasar ekspor Uni Eropa, kini telah
terbentuk "Fruit Export Development Centre" (FEDC).
Hal itu diungkapkan
Senior Executive Perkumpulan Ekonomi Indonesia-Jerman (EKONID), Junni
Saraswati, saat tampil sebagai narasumber pada seminar bertajuk "Uni
Eropa Pasar Potensial Yang Tetap Harus Dijaga" di Surabaya, Selasa
(15/08).
Menurut Junni,
pembentukan FEDC merupakan satu diantara bantuan UE dalam meningkatkan
neraca perdagangan ke dua negara.
Selain itu, eksportir
buah Indonesia dapat mengetahui pasar komoditi tersebut di Uni Eropa.
Dengan
bergabungnya negara-negara Eropa menjadi Uni Eropa, yakni sebanyak 27
negara, potensi ekspor ke sana semakin tinggi, terutama untuk
produk-produk pertanian.
Bahkan,
negara-negara di kawasan Uni Eropa saat ini semakin banyak membutuhkan
produk-produk pertanian seperti buah-buahan segar.
Uni Eropa,
katanya, merupakan pasar yang menjanjikan. Berdasarkan data 2005,
sekitar 50 persen impor buah di dunia atau 74,5 juta ton, ke Uni Eropa.
Tingginya
permintaan buah-buahan segar itu, diantaranya dipicu pula oleh banyaknya
imigran ke Uni Eropa.
Standar hidup masyarakat di sana juga tinggi, selaras dengan perdapatan
perkapita masyarakatnya sudah mencapai 20 ribu euro per tahun, sedangkan
Indonesia masih sekitar 3.900 dolar AS.
Apalagi, keinginan
masyarakat Uni Eropa kini semakin beragam. Mereka tidak mau lagi
menggunakan produk pertanian yang masih menggunakan rekayasa genetik,
termasuk produk pertanian yang menggunakan pestisida. "Masyarakat Uni
Eropa yang berjumlah sekitar 495 juta, juga menekankan pada 'ecolabeling'
serta 'social labeling'," ujarnya.
Benahi
Kelemahan
Sementara itu, Wakil
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jatim, Agus Hariyadi, disela
kesempatan itu mengakui bahwa peluang untuk memasarkan produk ke Uni
Eropa cukup besar.
Berdasarkan data,
ekspor nonmigas Jatim pada 2006 sebesar 9,02 miliar dolar AS, sedangkan
Januari hingga Mei 2007 ekspor nomigas Jatim (berdasar data sementara)
sebesar 2,76 miliar dolar AS atau meningkat dibandingkan periode yang
sama 2006 sebesar 2,2 miliar dolar AS.
Dari ekspor nomigas
Jatim itu, 91 persen diantaranya merupakan kontribusi manufaktur,
delapan persen kontribusi sektor pertanian dan 0,31 persen dari sektor
pertambangan.
Sedangkan dari
ekspor nonmigas Jatim itu, ekspor ke Uni Eropa pada 2006 sebesar 1,16
miliar dolar AS, sedangkan Januari-Mei 2007 sebesar 0,71 miliar dolar
AS. Ekspor Jatim ke Uni Eropa dalam empat tahun terakhir mengalami
surplus rata-rata 377,89 juta dolar AS.
Pada bagian lain
Agus Hariyadi juga berharap, penggarapan pasar luar negeri yang intensif
juga dibarengi dengan pembenahan kelemahan-kelemahan di dalam negeri,
seperti perlunya peningkatan kualitas produk, kelancaran berproduksi,
terpenuhinya infrastruktur seperti gas dan listrik.
Jika keduanya bisa sinkron
dan bersinergi, maka upaya meningkatkan pasar ekspor Jatim ke berbagai
negara di dunia bisa tercapai (Antara, 14/08/07). |