::
News Bulletin Archive

::

Events in Pictures
::
Economic, Trade and 
Tourism Archive
::
Visa - Consular 
::
Education and Cultural
::
Special Issues
(Aceh-Papua)
::
Speeches - Interviews
::
 Indonesian Media
::
Letters to Editor 
::
Press Release Archive
::
About the Embassy
::
Country Profile
::
Student Corner
::
Useful Links
::
Archives  

::

Indonesian Cabinet
   
 

TSUNAMI & ACEH RECONSTRUCTION

KEPPRES NO. 38 TAHUN 2005

KRISTA EXHIBITIONS - JAKARTA INTERNATIONAL EXPO 2007

Orang Utan Komodo Burung Cendrawasih - http://www.sorong.go.id/english

National Agency For Export Development

National Agency For Export Development

Announcement:
TENDER

8 Darwin Avenue, Yarralumla, ACT 2600
Tel. + 612 - 62508600  Fax. + 612 - 62736017

NEWS BULLETIN
BULETIN BERITA
       

31 Agustus  2007    

AKIBAT "TRAVEL ADVISORY", SISWA AUSTRALIA TERPAKSA BELAJAR BAHASA INDONESIA DI MALAYSIA

            Canberra - Kebijakan Canberra yang memberlakukan "travel advisory" (saran perjalanan-red.) terhadap Indonesia tidak hanya telah merugikan Indonesia tetapi juga menghambat para pelajar dan guru Bahasa Indonesia dari sekolah-sekolah Australia untuk berkunjung sehingga mereka terpaksa memilih Malaysia sebagai tempat belajar Bahasa Indonesia bagi para siswanya.

             "Saya sangat prihatin dengan terus diberlakukannya 'travel advisory' itu karena kami (murid dan guru-red.) tidak lagi bisa mengunjungi sekolah Santo Yosef di Jakarta Timur yang telah  sejak 1996 menjalin kerja sama 'sister school' (sekolah kembar) dengan Emmanus College tempat saya bekerja," kata Julie Johannes kepada ANTARA yang menemuinya seusai mengikuti upacara bendera HUT RI ke-62 di KBRI Canberra, Jumat.

            Wanita Australia yang sudah menjadi guru Bahasa Indonesia selama 10 tahun di lembaga pendidikan Katholik di Melbourne itu mengatakan, sebelum adanya "travel advisory", para siswa dan guru kedua sekolah silih berganti melakukan kunjungan namun beberapa tahun terakhir ini sekolahnya tidak lagi mengirim rombongan murid dan guru ke Sekolah Santo Yosef di Jakarta tersebut.

            "Dulu sekolah saya mengirimkan anak-anak (siswa/i) ke Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia. Tapi sejak diberlakukannya 'travel advisory', kami tidak lagi boleh membawa anak-anak ke Indonesia. Dan pada 2008, sebanyak 20 orang siswa dan dua orang guru terpaksa dikirim ke Malaysia mengingat bahasa yang digunakan di negara itu mirip-mirip Bahasa Indonesia," katanya.

            Kondisi ini sangat menyakitkan bagi dia karena guru-guru Bahasa Indonesia lainnya karena mereka sebenarnya tidak mau tetapi terpaksa "harus mau" ke Malaysia padahal mengunjungi berbagai tempat menarik di Indonesia seperti Candi Borobodur di Jawa Tengah, Pulau Bali, dan Yogyakarta, adalah pilihan yang ideal bagi para pelajar Australia yang belajar Bahasa Indonesia, katanya.

            Namun kepala sekolah takut digugat para orang tua murid jika tetap mengirimkan anak didiknya ke Indonesia karena takut terjadi sesuatu terhadap anak-anak mereka, kata guru lulusan Universitas La Trobe dan bersuamikan orang Indonesia itu.

            "Jadi 'travel advisory' itu selayaknya dicabut," kata Julie. Menjawab pertanyaan tentang apakah kondisi pengajaran Bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa asing lainnya di Australia akan lebih baik jika Partai Buruh Australia (ALP) yang naik di pemerintahan, ia mengatakan, mungkin saja akan lebih mudah membangun program pendidikan bahasa asing, termasuk Indonesia,  jika Kevin Rudd (pemimpin oposisi/ALP-red.) yang menjadi perdana menteri.

            Dalam pandangannya, Kevin Rudd yang mampu berbahasa Mandarin dan lulusan Fakultas Studi Asia Universitas Nasional Australia (ANU) akan memberikan lebih banyak dana bagi pengajaran bahasa asing, khususnya Asia, bagi sekolah-sekolah di negara itu.

            Pada masa pemerintahan Paul Keating (dari ALP-red), terdapat pendanaan cukup besar yang disediakan pemerintah dan dikenal dengan sebutan "NALSAS Funding" bagi mendukung pengajaran bahasa asing di lembaga-lembaga pendidikan di Australia, katanya.

            Dengan dana itu, banyak sekolah mampu membayar para pemain yang terlibat dalam pertunjukan seni budaya dan pengajaran pencak silat misalnya, namun anggaran tersebut dihentikan Pemerintahan Perdana Menteri John Howard sejak beberapa tahun lalu sehingga pihak sekolah memiliki uang yang cukup untuk membiayai program-program semacam pertunjukan seni budaya itu, kata Julie.

            Apa yang menjadi kegelisahan Julie Johannes juga dirasakan Nasrin Zaher, guru Bahasa Indonesia di Norwood Secondary College.

            Guru wanita asal Afghanistan yang pernah belajar di SMA 10 Bandung dari Desember 1998 hingga Januari 1999 itu mengatakan, "travel advisory" telah menghambat sekolah untuk mengirim para siswanya ke Indonesia.

            "Pihak sekolah tidak boleh membawa siswa-siswanya ke Indonesia sehingga 10 orang murid di sekolah kami terpaksa pergi ke Malaysia untuk belajar Bahasa Indonesia," kata guru yang belajar Bahasa Indonesia secara formal selama delapan tahun, termasuk empat tahun di Universitas Deakin Australia, itu.

            Terlepas dari kendala yang ada, Nasrin yang kini mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia, geografi dan sejarah di kolese yang berlokasi di daerah Ringwood Melbourne itu mengatakan tidak sedikit siswa di sekolahnya yang memilih Bahasa Indonesia di antara beberapa bahasa asing yang ditawarkan sebagai mata pelajaran pilihan.

            Ia mengatakan, insiden bom Bali tahun 2002 dan 2005 , ancaman terorisme, dan tidak adanya dana yang cukup bagi studi-studi Asia di universitas-universitas sering menjadi faktor yang menyulitkan bagi mereka untuk mempromosikan pentingnya belajar Bahasa Indonesia.

            James Sheeran, siswa kelas 12 The Kimore International School Victoria, mengaku memilih Bahasa Indonesia daripada Bahasa China sebagai mata pelajaran pilihan bahasa asing di sekolahnya karena ibu dan kakaknya pernah belajar Bahasa Indonesia.

            "Setidaknya mereka bisa membantu saja dalam belajar," kata James yang mengaku bercita-cita masuk Fakultas Hukum ANU sambil terus belajar Bahasa Indonesia jika lulus dari sekolahnya.

            Ia mengatakan, pada 2006, ia sempat belajar di kelas dua SMA Al Azhar Jakarta untuk membantunya belajar Bahasa Indonesia.

            "Dua minggu itu adalah pengalaman yang menarik, tapi banyak teman saya (siswa Al Azhar) yang justru lebih suka berbicara dalam Bahasa Inggris kepada saya. Untungnya, di kelas, komunikasi harus dalam Bahasa Indonesia," katanya. (Antara, 17/8/07)

 
Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN)

Events in Pictures:
Kunjungan Kenegaraan Presiden RI ke Australia. >>>

Events in Pictures:

Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN)
Joint Commission of the Australian-Indonesian Partnership for Reconstruction and Development, Canberra, Australia. >>>

Anda adalah pengunjung web site kami yang ke :

free hit counters

sejak 25 Januari  2006


U.U. No. 12 Tahun 2006
Tentang
Kewarganegaraan R.I.

Upacara Bendera HUT RI ke-61

Resepsi Diplomatik HUT RI ke-61

 

 
 

Kawasan Berikat Nusantara
Nusantara Bonded Zone
 

Video Stream *
(56Kbps, DSL)
or Download

* To view this Video Stream, you will require Windows Media® Player.
 
 
 
Account Balance:
"Indonesia Tsunami Relief Fund"

 

INDONESIAN EMBASSY - CANBERRA, AUSTRALIA