|
SEMANGAT "BHINNEKA TUNGGAL IKA" JADI MODAL MENUJU INDONESIA BERADAB
Canberra - Duta
Besar RI untuk Australia dan Vanuatu, TM Hamzah Thayeb, mengatakan
keragamanan suku dan adat instiadat harus menjadi modal dasar menuju
bangsa Indonesia yang beradab, adil dan makmur sehingga sangat penting
bagi seluruh rakyat terus menghayati semangat "Bhinneka Tunggal Ika" dan
menerapkannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
"Pengalaman sejarah
menunjukkan bahwa pertentangan antar suku, rasa, golongan dan agama
hanya akan menimbulkan malapetaka dan membawa bangsa ke jurang
kehancuran," katanya dalam sambutan pada upacara peringatan HUT ke-62
Kemerdekaan RI di Canberra, Jumat pagi (17/08).
Dubes Thayeb lebih
lanjut mengatakan, dikuasainya kepulauan Nusantara oleh penjajah selama
350 tahun dengan beragam penderitaan dan kesengsaraan yang diakibatnya
itu juga dimungkinkan bukan karena rakyat dan penduduk Indonesia tidak
melakukan pelawanan, melainkan karena "tidak adanya kesatuan dan
persatuan di antara mereka."
Namun, keberhasilan
para pejuang dan pendiri bangsa yang panjang memproklamirkan kemerdekaan
62 tahun lalu tidak boleh disikapi sebagai akhir dari perjuangan karena
"continuum" sejarah Indonesia akan terus berlanjut dengan segala
dinamikanya, katanya. Di awal kemerdekaan, bangsa Indonesia juga
mengalami banyak tantangan yang tidak ringan akibat keinginan penjajah
untuk kembali menguasai Nusantara namun seluruh rakyat Indonesia secara
bersatu-padu mendukung langkah-langkah para wakil Indoneia di berbagai
fora internasional.
"Dari gambaran
sederhana ini, jelas bahwa kesatuan dan persatuan di antara kita dapat
menjadi dan harus menjadi suatu kekuatan yang dahsyat sehingga
memungkinkan kita sebagai bangsa menghadapi berbagai tantangan dengan
penuh keyakinan dan kemantapan," katanya.
Dalam bagian lain
sambutannya, Dubes Thayeb sempat menyinggung tentang perkembangan
hubungan bilateral RI-Australia yang dinilainya berada dalam "kondisi
yang baik dan semakin kuat."
"Saling pengertian
akan tumbuh jika terjadi interaksi di antara kita. Dan dalam beberapa
bulan terakhir ini, telah terlaksana beberapa kegiatan saling kunjung
dan pertukaran antara pejabat pemerintah, anggota parlemen, akademisi,
wartawan, dosen, guru dan lain sebagainya sehingga telah semakin
mendekatkan kedua bangsa dan negara kita," katanya.
Bahkan, Perdana
Menteri John Howard telah berkunjung ke Bali untuk bertemu Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono dalam upaya kedua pemimpin memperkuat hubungan
kedua bangsa kendati Pemerintah Australia sendiri memberlakukan "travel
advisory" (saran perjalanan) kepada warga negaranya yang ingin
berkunjung ke Indonesia.
Upaya meningkatkan
hubungan kedua bangsa juga mencapai kemajuan yang ditandai dengan
ditandatanganinya Perjanjian Lombok pada 13 November 2006.
Dalam persetujuan
itu, kedua negara sepakat melakukan kerja sama di bidang pertahanan,
penegakan hukum, kontra terorisme, intelijen, keamanan laut dan
keselamatan udara yang dilandasi prinsip-prinsip kesetaraan, saling
menguntungkan, saling menghormati dan mendukung kedaulatan, integritas
wilayah, kesatuan nasional dan kemerdekaan politik masing-masing,
katanya.
Upacara bendera yang
berlangsung di halaman tengah KBRI Canberra itu dihadiri sekitar 150
orang. Para diplomat dan staf KBRI Canberra, anggota masyarakat
Indonesia di Canberra, empat siswa SMA dan 30-an mahasiswa Australia
dari Akademi Angkatan Bersenjata Australia (ADFA) yang sedang belajar
Bahasa Indonesia berbaur dalam barisan yang rapi.
Dalam upacara
bendera itu, Sekretaris I/Juru Bicara KBRI Canberra, Dino R. Kusnadi,
menerima Satya Lencana Karya Satya 10 tahun dari Presiden RI.
Setelah itu, pada
Jumat sore, diselenggarakan resepsi diplomatik di rumah kediaman Dubes
Thayeb, dan pada Sabtu siang hingga sore (18/8), digelar acara temu
masyarakat Indonesia di tempat yang sama dengan berbagai pertunjukan
seni dan budaya Indonesia (Antara, 17/08/07). |