|
PRESIDEN: ANAK WAJIB DIBERI HAK
PENDIDIKAN DAN PENGASUHAN
Jakarta
- Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta para pejabat negara dan
pejabat pemerintah daerah terus melakukan pembinaan dan memberi hak
pendidikan, pengasuhan, serta kesehatan anak demi masa depan generasi di
masa datang.
Hal itu diungkapkan oleh Presiden dalam acara puncak peringatan
Hari Anak Nasional 2007, yang dipusatkan di Aula Rama Sinta, Taman
Impian Jaya Ancol, Jakarta, Minggu (22/07).
Dalam acara bertema "Saya Anak Indonesia yang Sejati, Mandiri,
dan Kreatif: Tubuhku Sehat Jiwaku Kuat, Siap Menjadi Pemimpin Masa Depan"
itu, Presiden didampingi oleh Ibu Ani Yudhoyono dan sejumlah menteri
seperti Menpora, Mensos, MenPAN.
"Pemberian pendidikan, pembinaan, dan hak pengasuhan - termasuk
pemenuhan anggaran yang dibutuhkan - merupakan kewajiban semua pihak,
bukan saja Pemerintah Pusat tapi juga Pemda," kata Presiden.
Kepala Negara mengaku bangga banyak juga anak Indonesia yang
saat ini justru memperoleh penghargaan di bidang ilmu pengetahuan, dan
memberi nama baik bagi bangsa dan negara.
"Prestasi anak Indonesia tidak kalah cerdas dengan anak-anak
bangsa lain. Untuk itu anak-anak harus memiliki tekad kuat menuju masa
depan yang lebih baik, mencintai negeri, belajar mandiri, serta kreatif,"
katanya.
Menpora Adyaksa Dault, yang juga ketua panitia peringatan Hari
Anak Nasional 2007, mengatakan periode anak-anak adalah "masa emas"
dalam pertumbuhan perjalanan manusia sebagai penghubung antara dunia
saat ini dan masa datang.
"Itu sebabnya negara wajib memberi hak-hak atas kehidupan yang
layak bagi anak Indonesia," katanya, "Kehidupan penuh kegembiraan, kasih
sayang, keceriaan, terhindar dari segala kekerasan dan diskriminasi."
Presiden dalam kesempatan itu juga melakukan perbincangan jarak
jauh dengan anak-anak di Aceh dan daerah paling timur Indonesia - Papua.
Alfred Demianus Mayor, misalnya, didampingi Gubernur Papua,
Barnabas Suebu menanyakan penyebab dihilangkannya pemberian makanan
tambahan kepada murid-murid Sekolah Dasar.
"Kami juga meminta perhatian pemerintah agar membangun asrama di
dekat sekolah agar bisa tinggal di sana tanpa menghabiskan waktu untuk
pulang-pergi ke rumah," ujar Alfred yang mengenakan pakaian adat.
Berbeda dengan rekannya itu, Desi Kokorule, meminta pemerintah
membedakan standar nilai kelulusan ujian nasional Papua dengan daerah
lain.
"Kami meminta pemerintah membebaskan biaya pendidikan khususnya
di Papua, di mana sangat dirasakan berat oleh orang tua kami," kata Desi
dengan suara tersendat menahan tangis.
Presiden mengakui dalam penetapan mekanisme ujian nasional masih
ada kekurangan, namun tujuan ujian nasional adalah agar mutu pendidikan
Indonesia makin baik dibanding negara lain.
Sementara itu Kevin Maulana pelajar asal Aceh sempat menanyakan
daerah asal dan kehidupan Presiden Yudhoyono pada masa kecil.
"Saya ingin jadi presiden seperti bapak," ujar Kevin, disambut
tepuk tangan peserta peringatan Hari Anak Nasional 2007.
Presiden menjawab, "SBY dilahirkan dan menghabiskan masa kecil
di Pacitan, Jawa TImur. Saya berasal dari keluarga biasa-biasa saja,
pas-pasan, namun saya banyak belajar seni, olahraga, puisi, musik, dan
tentunya giat beribadah."
Seakan mengajak atau berpesan kepada anak-anak yang hadir dalam
acara tersebut, Presiden meminta agar anak-anak tekun rajin belajar,
patuh kepada orang tua dan guru, serta menghindari hal-hal negatif
seperti narkoba (Antara, 23/07/07).
|