|
800 ANAK ACEH RAYAKAN HARI ANAK NASIONAL
Banda Aceh - Sebanyak 800 anak dan remaja dari berbagai wilayah binaan
lembaga internasional, World Vision, di Provinsi Aceh, merayakan Hari
Anak Nasional (HAN) dengan menggelar berbagai kegiatan kreatifitas anak
pada 23 hingga 24 Juli 2007.
Penasehat Pendidikan World Vision, Benedictus Ulahayanan, di
Banda Aceh, Sabtu (21/07), menyatakan kegiatan HAN tersebut dipusatkan
di Lamno, Kabupaten Aceh Jaya dan Banda Aceh.
Disebutkan, HAN merupakan hari yang penting bagi anak-anak di
Aceh, sehingga perlu diperingati untuk memberi kesepatan bagi mereka
merayakan prestasi dan mengekspresikan diri mereka sendiri melalui cara
yang kreatif.
Selain itu, kegiatan HAN juga menjadi suatu momentum bagi
masyarakat untuk mengingat kembali betapa anak itu berharga dan perlu
dilindungi, ungkapnya.
Disebutkan, di Lamno, lebih dari 370 anak dan remaja turut
berpartisipasi dalam serangkaian acara bertema "Kembangkan Potensi dan
Kreatifitas Anak Lamno".
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Remaja Lamno (Remada) dan
Pusaka Indonesia, dengan dukungan dari lembaga kemanusiaan World Vision
yang berfokus pada anak.
Serangkaian kegiatan, seperti lomba lukis, olah raga, karya tulis,
drama, ataupun tarian, telah diselenggarakan sejak tanggal 16 Juli lalu,
melibatkan seluruh sekolah di Lamno mulai dari tingkat TK sampai SMU.
Perayaan puncak diadakan di lapangan TNI Lamno, tanggal 23 Juli
2007, yang menampilkan berbagai kegiatan kreatif anak lainnya.
Benedictus menyatakan, peringatan HAN merupakan yang ketiga
kalinya dilaksanakan di Lamno. Bila sebelumnya World Vision kerap
mendampingi berbagai penyelenggaraan kegiatan anak di wilayah itu, kali
ini, perayaan HAN dirancang sepenuhnya oleh para remaja dampingan World
Vision di Lamno.
Ini merupakan titik awal positif yang menunjukkan langkah mandiri
para remaja Lamno dalam upaya mengembangkan bakat dan potensi yang
mereka miliki, ujarnya.
"Kami harus mulai mandiri, harus berdiri sendiri dan jangan
tergantung dengan LSM, karena mereka tidak akan lama di sini," demikian
alasan yang disampaikan Sri Wahyuni, wakil ketua panitia, mengenai
keinginan Remada menjadi penyelenggara HAN.
Kesempatan ini juga akan digunakan sebagai ajang untuk
mensosialisasikan hak-hak dari anak dan untuk anak.
Sebanyak 30 remaja yang terlibat dalam perayaan ini berasal dari
berbagai desa dan tergabung dalam Remada, kelompok remaja, yang selama
dua tahun terakhir dibina oleh World Vision dalam rangka memulihkan
kondisi anak dan remaja pasca tsunami dan menciptakan anak dan remaja
yang tangguh.
Sementara itu, di Banda Aceh, World Vision bekerja sama sama
dengan sejumlah LSM lainnya seperti International Relief Committee,
Islamic Relief, dan Ibrahim Naim Foundation, akan mengadakan perayaan
hari anak bersama di Taman Budaya pada 24 Juli 2007.
Perayaan itu akan melibatkan peserta anak-anak berkebutuhan khusus untuk
berkreasi dan bermain dengan cara dan kemampuan yang unik. Mereka akan
menampilkan pertunjukan kesenian seperti bermusik, menari serta
memajangkan hasil kerajinan mereka antara lain lukisan pada kaos,
katanya.
"Dengan mengikutsertakan anak-anak dengan kebutuhan khusus ini,
kami berharap mereka semakin memiliki rasa percaya diri berjumpa dengan
teman-teman sebaya dan juga masyarakat yang terlibat disini. Anak-anak
dapat saling menghargai meskipun mereka berbeda secara fisik dengan
berbagai hasil karya masing-masing," kata panitia di Banda Aceh, Benni.
Perayaan tersebut merupakan puncak dari serangkaian kegiatan yang
diadakan oleh World Vision dalam rangka meningkatkan kesadaran
masyarakat akan pentingnya hak anak.
Pada Jumat (20/7), World Vision juga mengadakan sebuah lokakarya
bertemakan isu anak di Aceh Community Centre (ACC), Banda Aceh, sebagai
bagian dari peringatan HAN. Lokakarya yang dibagi menjadi dua tema (Kode
Etik dan Kebijakan Perlindungan Anak dan Diskusi Kekerasan Seksual
terhadap Anak) ini dihadiri oleh 38 perwakilan orang tua dan 24 remaja.
Sebelumnya, sebanyak tujuh anak Aceh turut bergabung dengan 99
anak binaan World Vision lainnya yang berasal dari 30 kabupaten di
sejumlah provinsi untuk menghadiri Forum Anak Nasional yang diadakan di
Jakarta pada tanggal 8-14 Juli lalu.
Anak-anak itu berasal dari wilayah yang didukung World Vision di
Provinsi Aceh, Jakarta, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah,
Nusa Tenggara Timur dan Papua.
Dalam kesempatan tersebut, mereka sempat melakukan dialog dengan
Menteri Pendidikan Nasional, Bambang Soedibyo di kantornya di Jakarta
(11/7). Selain bertemu dengan Mendiknas, anak-anak tersebut juga
berkesempatan menimba ilmu dari sejumlah pakar di berbagai bidang,
seperti psikolog Frieda Simangunsong dan guru manajemen dan kepemimpinan,
Anugerah Pekerti.
Mereka juga menampilkan kreasinya di panggung kreativitas saat
penutupan acara tanggal 14 Juli lalu.
World Vision telah bekerja di Indonesia sejak tahun 1960, dan
memulai programnya di Aceh dua hari setelah tsunami melanda provinsi ini.
World Vision merupakan lembaga kemanusiaan Kristen yang berupaya
untuk membawa perubahan berkelanjutan pada kehidupan anak, keluarga dan
masyarakat yang hidup dalam kemiskinan, tanpa membedakan latarbelakang
agama, ras, suku, atau gender (Antara, 21/07/07).
|