|
LOWONGAN BAGI TKI PROFESIONAL DI LUAR NEGERI MAKIN MENINGKAT
Jakarta - Tenaga Kerja Indonesia (TKI) terdidik dan terlatih yang
dibutuhkan di luar negeri pada masa mendatang semakin banyak,
mengalahkan kebutuhan jumlah TKI tak terdidik dan tak terlatih
seperti yang bisa dipenuhi Indonesia selama ini.
"Sekarang ini tenaga kerja Indonesia yang ditempatkan ke luar negeri
masih didominasi sektor domestik. Ke depan akan terbalik, tenaga
kerja yang terdidik dan terlatih semakin besar porsinya dalam
mengisi lowongan kerja di luar negeri," kata Ketua Asosiasi
Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (Apjati) Husein Alaydrus di
Jakarta, Senin (14/05).
Ia mengatakan, saat ini total ada 3,7 juta TKI di luar negeri di
mana sekitar 600 ribu di antaranya ditempatkan pada 2006 dan 46,4
persen di antaranya adalah tenaga trampil (skilled) dan sangat
trampil (high skilled) dengan perolehan penghasilan yang
besar.
"Itu berarti hampir 1,7 juta TKI kita itu "skilled"
(terlatih) dan bekerja secara formal di berbagai sektor seperti
kesehatan, minyak dan gas, petrokimia, garmen, elektronik,
konstruksi, perhotelan, atau perkebunan. Bukan saja di sektor
domestik atau informal seperti PRT (Pembantu Rumah Tangga), "
katanya.
Tahun 2007, ujarnya, ditargetkan 750 ribu TKI lagi ditempatkan ke
berbagai negara di dunia dengan porsi tenaga terdidik dan terlatih
yang semakin besar. Negara yang memiliki banyak lowongan untuk
tenaga kerja Indonesia baik "skilled" dan "unskilled" adalah
Malaysia dan negara-negara di Timur Tengah seperti Emirat Arab,
Qatar, Bahrain, Arab Saudi, dan Kuwait. Penempatan TKI juga
dilakukan ke negara-negara Asia seperti Hongkong dan Taiwan, Jepang,
juga Australia hingga negara-negara Eropa, AS hingga Kanada.
Sementara itu, eksekutif STIKes Binawan, praktisi pengirim TKI
terdidik dan terlatih ke luar negeri, Sofyan, mencontohkan, di
sektor kesehatan saja dunia membutuhkan sekitar dua juta tenaga
kerja profesional keperawatan.
"Namun paling-paling kita hanya mampu menyediakan 8.000 perawat saja
yang telah teregistrasi secara internasional. Belum lagi di
sektor-sektor lain yang juga membutuhkan tenaga profesional tetapi
kita hanya bisa memenuhi sekian persen saja," katanya. Soal mengapa
banyak lowongan bagi tenaga profesional di luar negeri yang tak
terisi TKI, menurut dia, tak semua yang mendaftarkan diri sebagai
TKI profesional mampu melalui berbagai seleksi yang juga sudah
terstandar, tetapi banyak juga yang berkualitas tinggi lebih senang
bekerja di tanah air meski penghasilannya kecil (Antara, 14/05/07).
--- |