|
ANAMINA DITUNJUK PBB SEBAGAI PENGGERAK MASYARAKAT PAPUA DI BIDANG
LINGKUNGAN HIDUP
Jakarta, Kompas - Salah satu badan PBB yang menangani program
pengembangan wilayah atau UNDP menunjuk tokoh perempuan Anamina
Bonggoibo (38) menjadi penggerak pada program penguatan kapasitas
dan potensi lokal Papua Barat.
Anamina sejak berusia 10 tahun, tepatnya tahun 1979, bersama
keluarganya mengarahkan perilaku kehidupan masyarakat Papua dari
berpindah-pindah atau merambah hutan menjadi perilaku menetap dan
berproduksi di suatu kawasan.
"Contoh dari seorang tokoh perempuan masyarakat setempat ini sangat
sederhana untuk menyampaikan tujuan program penguatan kapasitas dan
potensi lokal," kata Manajer Program Capacity 2015 in West Papua
Judith C Simbara, pekan lalu, kepada pers dalam peringatan Pekan
Lingkungan 2007 di Senayan, Jakarta.
Program penguatan kapasitas dan potensi lokal ditempuh seiring
dengan ancaman kerusakan ekologi sebagai risiko pertumbuhan kawasan
Papua Barat sekarang. Di antaranya kawasan tersebut mulai menerima
dampak pengurangan kawasan hutan untuk pembangunan salah satu
industri gas alam terbesar maupun program pembangunan lainnya
seiring dengan pertumbuhannya sebagai provinsi baru.
Menurut Judith, penguatan kapasitas dan potensi lokal melalui tokoh
perempuan Anamina diharapkan memberikan inspirasi pembangunan Papua
Barat nantinya tetap berwawasan lingkungan dan berkelanjutan.
Partisipasi dan kearifan masyarakat lokal dikedepankan sehingga
paradigma ini lebih menjamin adanya pembangunan yang bertujuan tetap
melestarikan kondisi ekologi di Papua Barat.
Setelah eksploitasi hasil hutan dari Kalimantan makin kurang
menjanjikan hasil dan kini selalu terancam bencana banjir tahunan,
kawasan Papua pun akan menyusul turut terancam. Penebangan kayu yang
merusak kawasan ekologi hutan Papua mulai mengkhawatirkan.
Anamina pada kesempatan itu menjelaskan, masyarakat Papua yang harus
hidup berpindah-pindah juga makin merusak lingkungan hutan. Dengan
hidup menetap, kemudian ditempuh cara memperoleh makanan dengan
bercocok tanam dan memetik ikan di laut, menurut dia, akan lebih
menjamin kelestarian hutan.
"Pada waktu itu ada kerinduan saya untuk membentuk suatu permukiman
dengan banyak penghuninya. Lalu, saya mulai membuka lahan untuk
tempat tinggal dan mengajak setiap orang yang melintasi tempat itu
untuk tinggal di situ," kata Anamina, yang kini berhasil
mengembangkan kawasan pantai Bakaro di Kabupaten Manokwari itu
menjadi tiga dusun dengan jumlah penduduk 360 jiwa.
Dalam perjalanan hidupnya, Anamina pun menempuh pendidikan hingga
tingkat SMA di Manokwari. Dari hasil pendidikannya itu pula, Anamina
menularkan dengan mendidik anak-anak warga Dusun Bakaro hingga
sekarang.
"Saya akhirnya berhasil mengajukan permintaan kepada pemerintah
supaya dibentuk sekolah dasar. Sejak empat tahun lalu, jadilah
sekolah dasar. Hingga sekarang sudah ada 70 murid dengan tujuh guru
di sekolah dasar tersebut," kata Anamina.
Menurut Judith, pranata sosial yang berkembang, seperti di Dusun
Bakaro yang dirintis Anamina, memiliki kearifan lokal tersendiri.
Ada kebiasaan masyarakat membunyikan peluit dengan berdiri di atas
karang pantai Bakaro. Ikan-ikan besar dan kecil kemudian berdatangan
mendekati sumber bunyi. Namun, masyarakat sepakat pula tidak
diperbolehkan menangkap ikan tersebut. (Kompas/Dirpennews, 4/6/07)
--- |