|
21.
PENGAJARAN BAHASA INDONESIA, INVESTASI JANGKA PANJANG AUSTRALIA
Canberra-
Penggalakan pengajaran Bahasa Indonesia di Australia akan menjadi
investasi jangka panjang negara itu untuk menjaga stabilitas, memperkuat
dan memperluas hubungan kedua negara karena tanpa menguasai bahasa sulit
bagi warga negara itu untuk lebih mengenal karakteristik Indonesia, kata
seorang linguis ANU.
"Sebenarnya,
tidak ada pilihan banyak buat Australia untuk mengenal baik Indonesia
kecuali melalui penguasaan bahasanya. Bagi peneliti Australia misalnya,
bagaimana mungkin mereka bisa melakukan riset tentang Indonesia dengan
baik jika tidak menguasai bahasanya," kata Ida Baharuddin Major
kepada ANTARA di Canberra, Jumat (30/03).
Pakar
dan pengajar Bahasa Indonesia Universitas Nasional Australia (ANU) itu
mengemukakan pandangannya menjawab pertanyaan tentang peran bahasa dalam
memperkuat hubungan Indonesia-Australia.
Indonesia
merupakan negara di Asia Tenggara yang terbesar dan terdekat jaraknya
dengan Australia. Kedua negara sudah ditakdirkan Tuhan hidup bertetangga
sehingga keduanya tidak memiliki pilihan lain kecuali membangun hubungan
yang baik kendati keduanya memiliki perbedaan sejarah, tingkat ekonomi,
sosial dan budaya, katanya.
"Australia
lebih dekat ke Asia daripada Eropa. Dan Indonesia adalah negara terbesar
di Asia Tenggara dan terdekat dengan Australia. Sebenarnya Australia tidak
ada urusan dengan Eropa, kecuali Inggris," katanya.
"Semua
ini bisa dilihat dari fakta bahwa Australia bahkan berhubungan dengan
negara-negara kecil di sekitarnya, seperti Fiji. Dengan negara kecil saja
Australia punya hubungan, apalagi dengan Indonesia sebagai salah satu
negara Asia yang besar, baik dilihat dari kepentingan perdagangan maupun
pertahanan. Nah, bahasa memegang peranan penting di sini," kata Ida.
Menurut
dia, minat warga negara Australia untuk mempelajari Bahasa Indonesia tetap
ada namun sangat dipengaruhi oleh situasi dan kondisi Indonesia. Bahasa
Indonesia juga tetap diajarkan di berbagai tingkat pendidikan di negara
berpenduduk lebih dari 20 juta jiwa dengan Produk Nasional Bruto (GNP)
mencapai 835 miliar dolar Australia (setara dengan 603 miliar dolar AS)
itu, kata Ida.
Pengajar
Bahasa Indonesia yang merampungkan pendidikan akademiknya di sejumlah
universitas di Australia ini lebih lanjut mengatakan, ia kini mengajar 12
orang di ANU yang umumnya mereka adalah akademisi bergelar doktor.
"Jumlah
mereka yang belajar Bahasa Indonesia di ANU naik turun. Tapi, jumlah
antara 12 hingga 25 orang per kelas," kata Ida, putri Sumatera Barat
yang bersuamikan orang Australia itu.
Di
luar ANU, terdapat sedikitnya enam kursus Bahasa Indonesia yang
diselenggarakan oleh perorangan baik orang Australia maupun orang
Indonesia yang menikah dengan orang Australia, kata Ida yang telah
mengajar bahasa Indonesia sejak 1980-an di berbagai kota di Australia itu.
Sementara
itu, terkait dengan pentingnya penguasaan bahasa asing, Komite Keamanan
dan Intelijen Parlemen Federal Australia dalam laporannya tentang
rekrutmen dan pelatihan oleh badan intelijen Australia baru-baru
menyimpulkan bahwa "keahlian berbahasa umumnya telah diabaikan selama
bertahun-tahun di Australia".
Padahal,
menurut laporan komite itu sebagaimana dikutip Majalah "About the
House" (majalah terbitan DPR Australia edisi 29, Desember 2006:56),
kebijakan bahasa nasional akan menjadi investasi jangka panjang bagi masa
depan Australia dan akan memberikan manfaat bagi dinas intelijen dan
kepentingan negara itu secara keseluruhan.
Terpengaruh
krismon
Atase
Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Canberra, R.Agus Sartono, yang dihubungi
secara terpisah mengatakan, pengajaran Bahasa Indonesia di Australia
seharusnya tidak menyurut hanya karena Indonesia mengalami krisis ekonomi
beberapa tahun lalu.
"Kecenderungan
pengajaran Bahasa Indonesia bagi siswa di sini menurun sejak kita
mengalami krisis ekonomi. Namun, pandangan ini salah karena hasil riset
Price Water House Cooper baru-baru ini justru menunjukkan bahwa ekonomi
Indonesia pada 2050 akan sangat maju dan lebih besar dari Jerman,"
katanya.
Jika
penelitian ini benar adanya, para siswa Australia yang belajar Bahasa
Indonesia sekarang inilah yang akan ikut "menikmati kue besar ekonomi
Indonesia" tahun 2050 karena mereka saat itu berusia 40 tahun-an,
kata Agus (Antara, 30/03/07).
|