|
16.
TURIS TERTARIK BELAJAR GAMELAN DAN TARI BALI
Denpasar
- Sejumlah wisatawan mancanegara tertarik belajar memainkan instrumen
tradisional Bali (gamelan) yang mengiringi pementasan tari saat menikmati
liburannya di Pulau Dewata.
"Dengan
demikian kunjungan mereka ke Bali, berfungsi ganda, yakni sebagai
pelancong serta belajar tabuh dan tari bali," tutur Ketua Sanggar Tri
Pusaka Sakti Batuan, Gianyar, I Nyoman Budi Artha, SSn, MSi di Denpasar,
Senin.
Ia
mengatakan, wisatawan manca-negara yang tertarik pada seni dan budaya Bali
awalnya hanya coba-coba, namun lambat laun mengarah pada profesional,
seperti halnya perkumpulan kesenian "Bali Sekar Jaya" di Amerika
Serikat dan "Sekar Jepun' di Jepang.
Sebanyak
delapan wisman yang terdiri atas lima warga negara Jepang dan tiga dari
Amerika Serikat, belajar tari bali selama liburan dua minggu di Bali.
Budi
Artha menjelaskan, wisman yang memiliki semangat dan kesung-guhan
mendalami tabuh dan tari bali, belajar selama tiga sampai empat jam per
hari, dalam kurun waktu dua minggu cukup mampu mengenal dasar-dasar
gamelan dan tari bali.
"Mereka
di negaranya memang berprofesi sebagai seniman atau pelaku teater dan
keahliannya itu dikombina-sikan dengan penguasaan tabuh dan tari bali,"
ujar Budi Artha yang juga alumnus Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar
yang mengelola sanggar tabuh dan tari Bali di tempat kelahirannya, sekitar
15 km timur Denpasar.
Budi
Artha, seniman muda yang kreatif menggarap kreasi baru, baik tabuh maupun
tarian itu, mendidik seniman-seniman asing yang tertarik belajar tabuh dan
tari bali, disamping mencetak generasi muda Bali untuk mendalami warisan
seni budaya leluhur-nya.
"Selama
dua minggu turis belajar di Bali cukup mampu menguasai dasar-dasar tari
dan tabuh, kemampuan itu kembali disempurnakan saat berlibur ke Bali tahun
berikutnya.
Ia
menjelaskan, setiap bulan ada saja wisatawan mancanegara yang belajar
tabuh dan tari bali, seiring dengan jumlah kunjungan turis ke Pulau Dewata,
kata Budi Artha yang sering memimpin tim kesenian Bali meng-adakan lawatan
ke mancanegara.
Ketua
Sanggar Bona Alit Gianyar, Anak Agung Alit juga mengungkapkan hal senada,
bahwa wisatawan manca-negara yang mempunyai latarbelakang penguasaan
dibidang seni, selain belajar tabuh dan tari bali juga sering melakukan
pementasan bersama dengan seniman lokal.
Kolaborasi
memadukan kedua unsur dari seni yang berbeda, meskipun per-siapannya cukup
singkat, yang dilakukan menjelang turis itu meninggalkan Bali. Kegiatan
kolaborasi itu, biasanya berlanjut saat seniman dari luar negeri tersebut
kembali lagi berkunjung ke Bali, seperti yang dilakukan oleh 20 mahasiswa
dan dosen dari Universitas Seni Hongkong (Hongkong University Of Art).
Mereka
pernah mengadakan kolaborasi di Banjar Bono, Gianyar dengan didukung
seniman dari lima sanggar tabuh dan tari di Gianyar. Hal yang sama juga
pernah dilakukan mahasiswa asing yang sedang mendalami olah tabuh dan tari
bali di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.
Mereka
memadukan unsur musik maupun tari yang satu sama lainnya saling berbeda,
namun dengan kemasan sedemikian rupa menjadi pementasan yang cukup unik
dan menarik, hingga mampu menarik perhatian masyarakat penonton.
Selain
itu 17 seniman asal Jepang, Amerika Serikat bersama sekitar 150 seniman
Bali pernah melakukan pergelaran kolaborasi seni bertajuk "Fajar
Kreasi", menampilkan perpaduan antara seni budaya Bali, Jepang dan
Amerika (Antara, 02/04/07).
|