|
15.
DUBES RI HADIRI PERINGATAN DUA TAHUN GUGURNYA TENTARA
AUSTRALIA DI NIAS
Canberra
- Duta Besar RI untuk Australia dan Vanuatu, TM Hamzah Thayeb, Senin
(02/04), menghadiri peringatan dua tahun tragedi jatuhnya helikopter Sea
King di Amandraya, Pulau Nias, Sumatera Utara (Sumut), yang menewaskan
sembilan dari 11 tentara negara
itu saat mereka menjalani misi kemanusiaan di kabupaten tersebut 2 April
2005.
Juru
Bicara KBRI Canberra, Dino Kusnadi, mengatakan, peringatan yang
berlangsung dari pukul 09.00 hingga 10.30 waktu Canberra itu dihadiri para
tentara yang selamat beserta keluarganya, anggota keluarga prajurit yang
gugur, Menteri Pertahanan Australia Brendan Nelson, Kepala Staf AL
Laksamana Madya RE Shalders, dan Kepala Staf AU Marsekal GD Shepherd AO.
Sembilan
prajurit Australia itu gugur akibat helikopter milik Kapal AL Australia,
HMAS Kanimbla, yang mereka tumpangi jatuh ketika melaksanakan misi
kemanusiaan guna membantu ribuan warga Nias yang merana akibat gempa bumi
dahsyat.
Kesembilan
personil Angkatan Bersenjata Australia yang gugur dalam tugas itu adalah
Letnan Matthew Peter Davey, Letnan Matthew Philip Goodall, Letnan Paul
John Kimlin (pilot), Letnan Jonathan Curlewis King (co-pilot), Stephen
Craig Slattery, Scott Bennet (personil AL), Kepala Skuadron Paul McCarthy,
Letnan Penerbang Lynne Rowbottom, dan Sersan Wendy Jones (personil AU).
Gempa
bumi itu terjadi beberapa bulan setelah bencana tsunami (gelombang laut
besar) menyapu sebagian Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Sumut
tanggal 26 Desember tahun 2004. Dalam bencana di NAD itu, ratusan ribu orang
meninggal dan hilang. Ratusan personil Angkatan Bersenjata Australia,
termasuk mereka yang gugur dan luka-luka dalam tragedi jatuhnya Sea King
di Nias itu, beberapa bulan sebelumnya telah bertugas di NAD guna membantu
para korban bencana Tsunami.
Pemerintah
Australia termasuk di antara sedikit negara sahabat yang langsung
memberikan bantuan kemanusiaan konkrit sejak awal bencana Tsunami 2004 dan
gempa dahsyat Nias terjadi 2005 terjadi.
"Dipastikan,
Indonesia tidak akan pernah melupakan aksi mereka yang tak menghiraukan
diri mereka sendiri. Pengorbanan mereka itu telah semakin mendekatkan
hubungan Indonesia dan Australia. Pengorbanan mereka akan senantiasa
mengingatkan kita bahwa nasib kedua bangsa akan selalu saling terkait,"
kata Duta Besar RI untuk Australia dan Vanuatu, TM Hamzah Thayeb.
Dubes
Hamzah Thayeb lebih lanjut mengatakan, misi kemanusiaan yang dijalankan
para prajurit itu merupakan pekerjaan mulia yang dilakukan secara
profesional dan penuh keberanian. Mereka sangat memahami bahwa pekerjaan
itu selalu membawa risiko tinggi.
"Berbicara
dari relung hati yang paling dalam dan atas nama seluruh bangsa Indonesia,
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, mereka gugur dalam
kehormatan, kehormatan dari pengorbanan tertinggi, kehormatan dari sebuah
tindakan yang tak menghiraukan diri untuk menolong mereka yang menderita
dan membutuhkan pertolongan," katanya mengutip pernyataan Presiden
Yudhoyono saat berkunjung ke Australia dua tahun lalu.
"Kami
menghormati dan menundukkan kepala kepada para pejuang kemanusiaan besar
ini. Kami berdoa bagi mereka dan senantiasa berharap kekuatan diberikan
kepada sanak keluarga dan handai taulan mereka," katanya.
Bagi para prajurit yang luput dari tragedi itu, bangsa Indonesia
juga senantiasa mengingat mereka dan tindakan mulia mereka.
"Anda
semua telah melakukan pelayanan besar kepada Indonesia dan kami tidak
mampu berucap terima kasih lebih dari cukup," katanya. Pemerintah
Indonesia memberikan medali penghargaan tertinggi yang diberi nama "Satya
Lencana Kebaktian Sosial" kepada mereka yang gugur dan luka-luka
dalam misi tersebut.
Komitmen Australia untuk
senantiasa bersama Indonesia di saat sulit terus terpelihara ketika
bencana bertubi-tubi menghantam Indonesia sejak 2004 hingga 2007 (Antara,
02/04/07).
|