|
Canberra - 17 Juni 2002
Sri Sultan Hamengku Buwono X, Senin
petang (17/06/2002), membuka Balai Budaya Indonesia di komplek Kedutaan
Besar Republik Indonesia (KBRI) di Canberra sebagai bagian dari
upaya meningkatkan hubungan budaya kedua negara.
Dalam sambutannya, Sri Sultan mengatakan,
balai budaya tersebut diharapkan dapat menjadi sarana bagi generasi
muda Australia memahami secara lebih mendalam tentang Indonesia,
yang pada gilirannya dapat memperkokoh hubungan kedua negara.
Hubungan budaya dalam konstelasi
hubungan antarnegara, menurut Sri Sultan, perlu diletakkan dalam
kerangka konteks yang lebih luas. Hubungan budaya antarnegara bukan
hanya sekedar menyangkut tradisi dan seni tetapi dalam makna yang
lebih luas, yaitu merupakan transfer kemajuan dan ilmu pengetahuan.
Dalam kaitan itu, ia menekankan
pentingnya kerjasama pendidikan sebagai bagian dari hubungan budaya
kedua negara. Hadir dalam acara peresmian Balai Budaya itu antara
lain Kepala Menteri Bagian Canberra John Stanthorpe, Sekjen Deplu
Sudjadnan Parnohadiningrat serta masyarakat Indonesia di Australia.
Sementara, Kepala Menteri Canberra
John Stanthrope menggambarkan hubungan budaya Ausrtalia-Indonesia
selama ini sudah terjalin baik pada tingkat akar rumput. Diharapkan
dengan adanya hubungan budaya itu maka saling pengertian dan saling
menghormati di antara kedua pemerintahan bisa terwujud.
Ia memberikan contoh bahwa bahasa
Indonesia merupakan bahasa asing yang paling populer di sekolah
dasar sampai menengah di Australia. Itu membuktikan hubungan Indonesia
dengan Australia begitu kokoh pada tingkat masyarakat.
Senada dengan itu, Sekjen Deplu
Sudjadnan Parnohadiningrat mengharapkan pembukaan Balai Budaya Indonesia
itu bisa semakin memperkokoh hubungan kedua negara.
Balai Budaya ini dinilai penting
agar generasi muda kedua negara terlibat dalam interaksi budaya
yang menimbulkan dampak positif bagi kemajuan kedua negara, katanya.
Balai Budaya yang terletak dalam
komplek KBRI Canberra berisi berbagai benda budaya termasuk peralatan
gamelan, lukisan, satu unit becak, baju daerah serta berbagai perlengakan
budaya lain dari seluruh Indonesia.
Pengamat Indonesia dari Universitas
National Australia (ANU) Dr George Quinn kepada ANTARA mengatakan,
kunjungan Sri Sultan ke Australia dilakukan pada saat yang tepat
karena hubungan Australia dan Indonesia belum mencapai pemulihan
sekokoh dulu.
Jika ada keinginan untuk memulihkan
hubungan kedua negara seperti sedia kala (sebelum peristiwa Timor
Timur, red), perlu diupayakannya melalui hubungan budaya dari bawah
dan generasi muda, katanya.
Soal Balai Budaya, Quinn mempekirakan
balai itu akan dikunjungi banyak anak-anak sekolah dasar-menengah
Australia dan menjadi modal dasar yang baik untuk memulihkan hubungan
Indonesia-Australia pada tingkat antarpemerintah.
Mereka (anak Australia) akan
bisa merasakan secara langsung dan menjamah dengan tangan mereka
budaya Indonesia, bukan hanya melalui bacaan atau tayangan film
saja, katanya. (Antara 180602)
|